
Setelah perselisihan antara Jenderal Grata dan Martin yang berakhir dengan tewasnya Grata karena pilihan yang dia buat sendiri. Saat Jendral Grata dalam keadaan tidak berdaya hanya kata,”Siapa kamu?.” Yang muncul dari mulut Grata, Martin berjalan menuju Grata,”Itu salah kamu memilih menjadi musuhku. Aku beri tahu kamu karena sebentar lagi kamu akan pergi,”kata Martin. Saat dihadapan Grata dia mendekat dan berbisik,”Laut Merah.” Jendral Grata yang mendengar terkejut dengan nama yang disebutkan oleh Martin karena kehabisan darah dia tidak berdaya dan menghembuskan nafas terakhir dengan tersenyum.
“Sangat disayangkan dia tewas karena pilihan yang salah,”ucap Martin. Sementara di tempat lain Petra yang tidak bisa berkutip atau bergerak dengan apa yang dilihat hanya bisa terdiam. Sampai Martin melihat kearah dia dan memberikan peringatan lewat secarik kertas yang tertulis,”Beritahukan Bos kalian jika ingin hidup jangan ikut campur. Jika tidak organisasi kalian akan musnah dengan lambang Laut Merah.”
Petra mendapatkan pesan itu lewat lemparan daun yang bersamaan dengan secarik kertas yeng tertulis peringatan tersebut. Dengan sekejam Martin yang sudah menyelesaikan urusannya pergi tanpa disadari oleh Petra yang masih bersembunyi. Petra keluar dari tempat persembunyian,”Siapa dia dan lambang apa ini.”
Setelah apa yang dia dapatkan Petra pergi dari lembah bambu hijau. Metra yang sedang perjalan menuju rumah sakit dihadang oleh sekawanan orang dari organisasi Rose Black yang masih tersisa.”Lama tidak bertemu Bos,”ucap si kembar yang menyamar.”Apa mereka orang kita atau musuh,”ucap Metra yang berjalan.”Tentu saja orang kitalah Bos, masak aku tidak bawa hadiah untuk anda,”kata si kembar.”Dan ini info yang terbaru,”kata si drama.
“Si rias dimana tidak ikut dengan kalian,”kata Martin.”Dia sedang ada kerjaan karena hari ini ada pertemuan sembunyi antara semua anggota khusus Rose Black,”kata drama.”Jadi seperi itu, kalian tahukan apa yang harus kalian lakukan dengan mayat yang didalam sana,”kata Martin.
“Kami tahu Bos,”ucap Si kembar.”Jika tidak ada yang dilaporkan kita berpisah sekarang sampai semuanya sudah beres kita akan berkumpul kembali. Apa kalian mengerti,”kata Martin yang meninggalkan mereka bertiga.
Setelah semua yang direncanakan Martin berjalan dengan sukses dia kembali ke rumah sakit untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. Waktu berjalan tiga jam sampai dia sampai di rumah sakit, Martin melirik sekitar kalau semua masih sama dengan saat dia pergi dengan senyum dia masuk kedalam gedung rumah sakit.
Sampai didepan ruang kamar dia berbicara dengan Santo,”Bagaimana?.”
__ADS_1
“Semua aman terkendali tidak ada korban dan musuh sudah di interograsi dan tewas,”kata Santo yang tenang. Martin tersenyum dan memegang bahu Santo,”Kerja bagus.”
Martin masuk kedalam ruangan yang masih ada Roki dan Izam tidak lupa mereka membawa anak buah mereka dalam satu ruangan yang sama.”Apa yang sedang terjadi?.”kata Martin yang binggung.”Kenapa kamu terkejut seperti itu, pembuat masalah,”ucap Roki yang marah.”Kenapa kamu marah yang tidak jelas itu semua untuk kebaikan semuanya,”kata Martin yang berjalan menuju kasur ibunya dan memegangnya.”Ibu kapan bangun,”ucap Martin yang lemas dan menyandar di tubuh ibunya yang masih berbaring.
“Kamu dari mana?,”kata Izam.”Dari lembah bambu hijau, kenapa?,”ucap Martin. “Kamu tahu tidak kalau keluarga kamu dalam bahaya kamu masih sempat ke lembah bambu hijau. Kamu tidak punya hatikah,”kata Roki yang tajam.”Iya aku tidak memilki hati, kamu sudah puas mencaci maki aku dan memarahiku. Sementara kamu tidak tahu apa yang aku lakukan,”ucap dingin Martin dengan tajam. Roki melihat tatapan tajam Martin seketika lepas dan tidak berdaya. Sementara kakak Mola menghampiri adik lakinya dan memeluknya dengan tenang.”Kamu harus bisa tenang jangan berkata yang tidak perlu,”ucap Kak Mola. Martin mendengar kakaknya kembali tenang,”Terima kasih kakak sudah mengingtakanku.”Kak Mola tersenyum,”Kamu baik-baik saja.”
“Aku baik saja. Bagaimana dengan kakak sendiri,”kata Martin yang melirik kearah kak Mola yang dibelakangnya.”Kak baik saja karena ada bantuan teman kakak dari jauh,”ucap Kak Mola.”Aku tahu kalau kakak akan baik saja jika aku tidak ada,”kata Martin yang percaya dengan kak Mola.
“Sejak kapan kamu mengetahuinya kalau kakak bisa melakukanya,”kata Kak Mola.”Sejak di negara M aura kakak berbeda,”kata Martin.”Kamu memang adikku yang hebat,”kata kak Mola. “Kakak tidak marah dengan Martin,”ucap Roki.
“Iya aku keras kepala, puas,”ucap Martin yang cemberut. Hingga Martin bisa merasakan gerak tangan ibunya yang bergerak. Martin melirik kearah ibunya yang perlahan membuka matanya.”Ibu,”ucap Martin.
Kak Mola mendengar suara Martin menoleh kearahnya dan melihat ibunya membuka mata karena terkejut dia juga melihat kearah kak Mela. Tapi masih belum ada respon apa-apa dari kak Mela.”Aku akan panggil dokter,”ucap Izam.
Izam keluar dan memanggil dokter, setelah dokter masuk bersama dengan Izam barulah Ibu Martin di periksa.”Bagaimana dok,”kata kak Mola.”Anda tidak usah khawatir ibu anda sudah melewati masa kritis,”ucap dokter.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kakak Mela dok,”kata Martin. Ibunya yang sudah sadarkan diri melirik kearah Mela putri kesayangannya yang masih berbaring lemas.Dokter menggelengkan kepalanya yang menandakan kalau masih belum ada respon dari kak Mela.
“Anda tidak usah khawatir kakak anda akan bangun jika sudah waktunya,”ucap dokter yang memberi semangat. Setelah semua diperiksa dokter keluar dari ruangan.”Apa ibu baik saja,”kata Mola.”Ibu baik saja kalian berdua pasti sangat sedih karena ibu dan Mela,”kata Ibunya yang sedih dengan keadaan yang menimpanya.
“Ibu tidak usah khawatir aku dan kak Mola baik saja, yang penting sekarang adalah memulihkan tenaga ibu agar bisa kembali melakukan aktifitas seperti biasa dan sehat kembali,”kata Martin.”Apa tante baik saja sekarang,”ucap Roki dari belakang.”Kamu pasti Roki, tante baik saja,”kata ibu Martin.
“Cepat sembuh ya tante,”kata Izam dengan ramah.”Terima kasih nak Izam,”kata Ibunya Martin. Setelah sadarnya ibu Martin semua kembali kepada saat mereka terluka pada waktu itu. Hanya saja masih ada satu orang yang masih belum terbangun dari tidur panjangnya.”Kak Mela cepat bangun, ayo berkumpul kembali,”kata Martin disaat semua orang telah pergi meninggalkan ruangan hanya ada ibu dan Martin di ruangan.
“Kakakmu akan bangun jangan bersedih,”ucap ibunya.”Aku tahu kakak akan bangun nanti,”kata Martin.”Iya bu, Martin ingin bertanya?,”kata Martin.”Apa yang ingin kamu tanyakan,”ucap Ibunya.
“Saat itu apa yang terjadi kenapa ibu dan kak Mela terluka, jika masih ingat,”kata Martin.”Ibu juga tidak tahu apa yang terjadi waktu itu. Yang ibu ingat adalah saat orang berbaju hitam datang ada seorang yang datang lebih dulu dan dia berkata kalian akan tewas karena berurusan dengan orang salah. Ibu kira itu adalah kata biasa, sampai baju hitam datang dengan wajah yang aneh,”kata Ibunya menjelaskan.
“Wajah yang aneh seperti apa,”kata Martin. “Pucat,”kata Ibunya.”Apa Ibu masih ingat orang yang mengatakan kalau kalian dalam bahaya jika berurusan lebih jauh. Apa Ibu masih ingat wajahnya,”kata Martin.”Ibu tidak ingat hanya saja suaranya asing bagi ibu seperti bukan penduduk asli negara kita,”kata Ibunya.
“Aku sudah paham, sebaiknya ibu istirahat sekarang biar cepat sehat kembali,”kata Martin yang menyelimuti ibunya.”Kamu juga istirahat jangan kecapean,”ucap Ibunya yang menutup mata untuk istirahat.
__ADS_1