
Pertikaian yang dibuat oleh Ezan untuk membuat mereka yang keempat keluar menghasilkan musuh yang datang pada pertempuran yang sudah direncanakan oleh Ezan. Tapi Izam, Roki dan kawan penonton yang melihat permusuhan keduanya terjebak dalam pertikaian yang menginginkan nyawa Ezan. Apa yang dilakukan Ezan untuk mengalahkan musuh dari organisasi tentara militer? Akankah nyawa Ezan dalam bahaya atau musuh yang dalam bahaya dalam pertikaian yang direncanakan Ezan. Dengan kemunculan Zhain, Woli dan Kros yang datang menginginkan nyawa Ezan.
Kedua musuh yang memiliki kekuasaan tertinggi di negara J yang awalnya ingin bertarung kini berkerja sama untuk mengalahkan musuh yang sebenarnya. Izam yang membantu bawahannya melawan musuh dengan bantuan oleh anak buah Martin.
Ezan yang menghindar darai Zhain yang menyerang dari belakang hanya menghela nafas yang kemudian dia juga menyerang balik.”Kamu ingin nyawaku, jangan berharap tinggi,”ucap Ezan yang menusuk Zhain dengan sebilah pisau. Zhain yang menyadari pisau yang dipegang oleh Ezan menghindar dan hanya mendapatkan gores luka kecil yang melukai tubuhnya. Tapi Ezan yang sudah membalutkan racun dalam sebilah pisau yang dipakai hanya tersenyum dan kemudian dengan kecepatan dia menendang perut Zhain dengan kencang.
“Nikmatilah rasa sakit yang akan kamu dapatkan,”kata Ezan yang menghindar dari serangan yang lain. Ezan yang mengeluh karena banyak dari musuh yang datang kepadanya membuat dia sebal.”Kenapa kalian datang kepadaku bukan kepada dia,”kata Ezan yang kesal dengan semua yang ada.
“Diakan menginginkan nyawa kamu kenapa kamu melempar kepadaku,”kara Rendi.”Bukannya kamu harus bantu,”kata Ezan. “Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari nyawa kamu,”ucap Roki yang khawatir dengan kondisi Martin. Ezan hanya terdiam dan masih menghindar dari musuh yang datang.
“Santai sekali dirimu,”telepati batin darI Martin.”Tentu saja, bukannya tambah bagus jika mereka datang sedikit demi sedikit,”ucap Ezan. Zhain yang merasa kesal mengeluarkan pedang jiwa untuk mengalahkan Martin yang dihadapan dia. Dengan tersenyum licik dia membuat formasi penghalang untuk mereka berdua saling berdual.”Formasi penghalang hidup dan mati jiwa,”ucap Zhain dengan suara kecil.
Dalam hati Zhain yang sudah berpikiran untuk membunuh Martin dan mendapatkan jiwanya merasakan ada rasa panas dan sesak dalam tubuhnya.”Kamu membuat Formasi penghalang hidup dan mati. Apa karena kamu sebentar lagi mau mati mengaktifkannya?,”kata Ezan yang tersenyum santai. “Tapi ada bagusnya jika kamu mengaktifkannya musuh jadi berkurang aku bisa istirahat sebentar saja,”ucap Ezan yang menghela nafas.
“Kamu kira kamu bisa bersantai,”kata Zhain yang maju menyerang.”Ternyata kamu masih bisa bergerak, tapi tidak lama lagi kamu adan bersujud dihadapanku,”kata Ezan dengan dingin. “Kamu kira aku akan percaya dengan ucapan kamu,”kata Zhain yang kemudian terhenti dihadapan Martin karena merasakan hawa panas dan sesek yang semakin menusuk tubuhnya sampai dia muntah darah.
__ADS_1
“Apa ini?,”ucap Zhain yang bingung. “Kenapa dengan kamu?,”kata Ezan yang tidak tahu dengan senyum licik. “Apa yang kamu lakukan?,”kata Zhain menatap keatas dimana wajah Martin dia melihat. “Kamu bertanya kepadaku, apa tidak salah,”kata Ezan yang menghindar dari pertanyaan Zhain.
“Aku bunuh kamu,”ucap Zhain yang mencoba berdiri tapi tubuhnya tidak merespon apa yang dia inginkan. Yang kemudian dia tumbang dihadapan Martin dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan hanya rasa sakit yang dia rasakan Zhain.”Sial apa yang kamu lakukan kepada Zhain,”kata Kros yang menyerang Martin untuk menolong Zhain. Tapi Zhain yang sudah merasakan rasa sakit seluruh tubuhnya tewas saat Kros datang menolong dengan terbakarnya tubuhnya karena panas yang sudah menyalah didalam tubuh Zhain karena racun yang ada pada sebilah pisau Ezan.
“Kamu datang terlambat,”kata Ezan yang berbalik menghancurkan formasi penghalang hidup dan mati. Setelah kematian Zhain dihadapan Kros dan bawahan yang melihat merasa marah dengan Martin yang telah membunuh Zhain.
“Zhain,”ucap Woli yang sedang berhadapan dengan Rendi.”Kamu melihat kemana, lawan kamu ada dihadapan kamu kenapa kamu melihat kawan kamu yang sudah tidak ada,”kata Rendi yang ada dibelakangnya tiba-tiba. Woli menghindar dari serangan tiba-tiba Rendi.”Sial, habis saja nyawaku melayang,”kata hati Woli. Rendi yang melihat ekspresi musuh merasa tertekan membuat dia bahagia.”Kurasa sudah waktunya,”kata hari Rendi yang sudah menyiapkan hadiah untuk musuh.
“Hati-hati,”ucap Rendi yang ada disampingnya dan menghampiri Martin.”Ezan dimana Martin sekarang,”ucap Rendi yang sudah mengetahui kembarannya sambil berbisik.”Dia ada di pulau. Kenapa kamu mencarinya?,”kata Ezan dengan santai.
“Di belakang kamu,”kata Ezan yang melihat musuh datang. Rendi yang menghindar dan menendang musuh sampai terdorong menjauh.”Pengganggu saja,”kata Rendi.”Gimana dengan dia, apa tidak kamu ladeni,”kata Ezan yang menunjuk kearah Woli.
“Dia hampir mati, untuk apa kamu ladeni,”ucap Rendi yang pergi menjauh dan membersihkan semua yang ada. Sementara Woli yang merasakan jiwanya terserap habis membuat dia cepat lelah sampai Reli datang dari belakang menghembuskan pedang kepada Woli sambil berkata,”Kamu sudah berakhir, sampai jumpa di neraka.”
Hempasan pedang Reli yang mengenai punggung Woli dengan beberapa tebasan mematikan. Woli yang tidak menyadarinya hanya bisa menerima serangan Reli dari belakang sampai serangan kedua dia bisa menghindar tapi dengan luka yang cukup parah sampai Vita melontarkan peluruh tepat di kepala Woli yang sedang menghindar.
__ADS_1
“Sketmat,”ucap Vita dari jauh. Reli yang bertarung dengan musuh juga mencari yang lain untuk dihadapi sampai Rendi datang menghampiri.”Dia sudah tewas,”ucap Rendi yang melihat kearah mayat Woli yang sudah membeku dengan banyak darah.
“Berapa banyak lagi musuh yang datang,”kata Reli. Rendi hanya menggelengkan kepalanya sampai dia melihat Izam menghampiri Roki yang sedang terdesak karena Kros lawannya.”Mau bantu,”ucap Rendi.”Tidak,”kata Reli yang mencari yang lain dan maju kerumunan yang ada didepan dia.
“Dia serius tidak mau pergi,”kata Rendi yang memegang kepala belakangnya. Izam yang membantu Roki yang sedang berhadapan dengan Kros yang tersisa. “Kamu tidak apa-apa,”kata Izam dari belakang.”Tidak hanya kekuasaan saja orang ini sangat berbeda pada umumnya,”kata Roki.
“Berbeda apa maksudmu apa?,”kata Izam yang tidak paham.”Jika memang berbeda kenapa Martin dan anak buahnya bisa mengalahkan orang tersebut,”kata Izam memperjelas.”Aku juga tidak tahu,”kata Roki yang tidak paham dengan kondisi yang ada.
“Kalian tidak paham dengan musuh sebenarnya,”kata Kros dengan senyum dingin yang mulai menyuruh anak buah mereka untuk menghadapai Izam dan Roki yang hanya kemampuan biasa. Kros yang mencari musuh lain menghilang dihadapan mereka berdua, sampai mereka melihat kearah Martin yang dihadapkan oleh Kros.”Bagaimana dia bisa sampai di sana?,”kata Roki yang mencari musuh yang tadi dia lawan.
Izam yang melihatnya juga terkejut dan bertanya bagaimana dia ada dihadapan Martin yang begitu jauh.”Kamu tolong Martin sana, biarkan aku saja yang melawan mereka disini,”kata Roki.
“Tidak bisa kamu sudah terluka,”kata Izam yang mengurungkan niatnya untuk pergi ketempat Matin yang sedang dalam bahaya.”Apa kamu gila,dia tidak tahu kalau musuh yang dia hadapi sangat berbahaya,”kata Roki yang mendorong Izam membantu Martin.
“Kalian tidak usah khawatir dengan ketua kami,”ucap anak buah Martin yang membantu mereka dalam kerumunan.
__ADS_1