
Pertemuan penuh dengan ketegangan Hazim yang masih terdiam tidak berkata apa-apa hingga beberapa jam Izam menuggu. Sampai Mizuki datang dengan kabar yang sudah diberitahukan kepadanya. “Sudah aku bawa orangnya,”ucap Mizuki dengan berbisik kepada Izam. Setelah mendapatkan kabar yang baik barulah dia berkata,”Apa kamu yakin tidak ingin mengatakannya.”
“Itu...,”ucap Hazim yang kembali menutup mulutnya. Terko yang melihat hanya terdiam kerena bukan wewenangnya untuk ikut campur. “Jika itu keputusan kamu dan masih tidak ingin mengatakannya tidak masalah,”ucap Izam sambil berdiri.
“Kamu harus tahu siapa yang mengganggu harus diusir bukan yang kebetulan aku ada barang busuk yang harus kalian lihat diluar,”ucap Izam kepada Terko dan Hazim. Mereka berdua hanya terdiam mendengar apa yang dilontarkan oleh Izam. Setelah memberitahukan Izam berjalan menuju pintu keluar yang di ikuti oleh Hazim dan Terko dibelakang.
Sampai diluar mereka berdua terkejut dengan adanya Erik mantan Geng Naga Hitam yang di ikat dengan tali sedangkan Mizuki bersamanya. “Bagaimana kamu bisa tahu dan kenapa Erik ada disini,”ucap Hazim yang tidak percaya kalau Erik sudah tertangkap oleh bawahan Izam.
“Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan informasi Erik,”ucap Izam. “Aku saja sampai sekarang masih mencari orang ini diwilayahku tapi aku tidak melihat sosok Erik dimanapun aku mencari, tapi kamu bisa semudah itu mendapatkannya,”kata Hazim.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu keberadaan Erik sampai aku mendapatkan informasi daro orang lain keberadaan dia berada,”kata Izam. “Bagaimana kamu bisa tahu dari mana kamu mendapatkan informasi ini?,”kata Terko.
“Kalian tidak harus tahu aku mendapatkan informasi ini dari siapa,”kata Izam dengan tajam dengan senyum dingin.
“Lama tidak bertemu,”ucap Izam kepada Erik. “Apa mau kamu membawaku kesini, bukanya kamu sudah tahu kalua aku bukan lagi ketua Geng Naga Hitam,”kata Erik.
“Apa yang kamu katakan itu benar kamu bukan lagi ketua Geng Naga Hitam. Tapi...,”ucap Izam yang berhenti. “Kenapa tidak kamu lanjutkan,”kata Terko. “Aku lupa mau bicara apa,”ucap Izam dengan senyum dingin.
“Kita ingin membuat perjanjian perdamaian dengan kalian tunduk dibawah kekuasaan kami. Tapi sangat disayangkan ketua kalian yang baru kamu pilih menolaknya,”kata Hizam menjelaskan.
“Kalian ingin buat perjanjian perdamaian, itu mustahil,”kata Erik dengan tatapan tajam. “Mustahil,”ucap Hizam dengan senyum licik kepada Erik.
__ADS_1
“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu pilih,”bisik Izam kepada Erik yang ada didepannya sambil menepuk bahunya. Selesai dia berkata dia menyuruh Mizuki untuk mengambil dokumen yang sudah disiapkan untuk di berikan kepada Erik agar dia membaca isi dokumennya dengan jelas. Erik yang melihat dokumen yang dibawa Mizuki membuat dia bertanya-tanya apa dokumen itu. Mizuki menghampiri Izam dan memberikan dokumennya. Izam yang telah menerima dokumen dari Mizuki melihat kearah Erik. “Apa kamu ingin tahu apa isi dari perjanjian itu,”ucap Izam.
“Jika kamu ingin mengetahuinya, kamu bisa membaca isi dokumen ini,”kata Izam sambil memberikan dokumennya kepada Erik. Erik menerima dokumen yang diberikan Izam dan membuka isi dokumen perlahan dia membaca isi perjanjian. Erik yang membaca merasa kalau perjanjian yang mereka buat sangat bagus dan melihat kearah Izam. “Mungkin bisa,”ucap Erik karena meras yakin dan puas dengan isi perjanjiannya. “Tapi... akankah kalian yakin dengan ini dia akan menyetujui perjanjiannya,”kata Erik.
“Itu hanya sebagian saja...,”kata Izam yang hendak berjalan meninggalkan mereka yang ada ditempat. “Mizuki, yang ada disini aku serahkan kepadamu. Aku harus pergi sekarang karena besok aku masih harus masuk kelas,”kata Izam sambil menaiki motor yang sudah tersedia ditempat. Mizuki hanya terdiam yang menandakan kalau dia menyanggupi perintah ketuanya. Setelah Izam pergi Terko dan Hazim mulai merencanakan agenda pertemuan Geng Naga Hitam dengan Geng SeNaHa.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Burung berkicau angin sejuk berhembus, hangat matahari menyinari pagi yang indah. Martin yang berjalan menuju sekolah bertemu dengan Roki yang tidak jauh dari persimpangan menuju gerbang sekolah. Sampai didepan pintu gerbang dan menghampiri Roki yang hendak masuk dia menyapa,”Pagi Roki.”
Sambil melambaikan tangan kepada Roki. Roki yang mendengar sapaan Martin dia membalas,”Pagi juga Martin. Dari arah belakang mereka berdua juga terdengar sapaan yang tidak asing. Mereka berdua menoleh kebelakang dan melihat Izam yang menyapa mereka berdua. “Pagi gais apa malam kalian menyenangkan,”ucap Izam. “Pagi Izam,”ucap mereka berdua dengan wajah tegang.
“Apa kamu masih marah kepadaku tiga hari yang lalu,”ucap Izam. “Tidak hanya saja kamu belum membayar utang kamu,”ucap Roki sambil mengulurkan tangannya kepada Izam.
“Sebenarnya apa yang terjadi kepada kalian apa yang kalian sembunyikan dariku,”kata Martin. “Tidak ada,”ucap Roki. Sampai Bel masuk kelas berbunyi. Mereka bertiga masuk kelas bersama seperti biasa mereka satu kelompok lagi dalam pelajaran Fisika. Setelah semua selesai mereke bertiga kembali bersama.
“Thank.. sudah mengirim pesan kepadaku tempo hari,”ucap Izam kepada mereka berdua.
“Tidak masalah,”ucap Roki “ “Tapi kalian bisa mendapatkan nomorku dari siapa,”kata Izam.
“Kalau yang itu kamu tanyakan saja kepada Martin,”kata Roki. “Kenapa kamu melihatku seperti itu,”ucap Martin kepada Izam.
__ADS_1
“Itu aku juga tidak tahu,”kata Martin yang tidak ingin memberitahukan kepada Izam.”Jika kamu tidak memberitahuku juga tidak apa-apa. Tapi terima kasih untuk pesannya,”kata Izam yang tersenyum.
“Itu tidak seberapa,”kata Martin. “Tapi saat kalian mengirim pesannya apa kalian tidak takut dengan apa yang terjadi,”ucap Izam. Roki dan Martin saling memandang satu sama lain sampai Martin berkata,”Apa yang harus ditakutkan semuanya sudah terjadi.”
“Kalian tidak takut jika aku membuat masalah dengan kalian,”kata Izam. “Kalau mau buat masalah ayo sini,”ucap Martin yang siap pada posisi bertarung.
“Sudah...sudah... aku bali dulu,”ucap Roki. Sebelum Roki meninggalkan mereka Izam berkata,”Bagaimana kalau kita bertemanan mulai sekarang?.”
Roki dan Martin hanya memandang satu sama lain dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Izam barusan. “Kamu pasti sedang bercanda,”kata Roki sambil melihat kearah Izam. “Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan,”kata Martin juga melihat kearah Izam.
“Baiklah kalau kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan,”ucap Izam.
“Jika kalian ada masalah kalian boleh datang mencariku aku siap membantu kalian,”kata Izam yang hendak meninggalkan mereka berdua. Saat Izam ingin pergi mereka berdua memegang bahu Izam,”Bukannya kita sudah menjadi teman baik. Kenapa kamu berkata aneh seperti tadi, membuat kami merinding.”
Izam tersenyum dan tetap berjalan meninggalkan mereka berdua sedangkan Roki dan Martin yang masih terdiam saling memandang. “Apa kamu percaya dengan ucapan Izam,”kata Martin. Roki hanya terdiam dan berpikir,”Mustahil untuk mempercayainya hanya dengan sebuah kata saja. Apa lagi dia mau berteman setelah mendapatkan pesan dari kita.”
“Benar juga apa yang kamu katakan,”kata Martin. “Bagaimana kalau kita tes saja Izam,”ucap Martin lagi. "Apa maksud kamu,”kata Roki yang tidak paham dengan Martin.
“Kalau dari kita memiliki masalah kita meminta bantuan kepada Izam. Jika dia membantu berati dia memang ingin berteman dengan kita tapi jika itu sebaliknya dia hanya bercanda,”ucap Martin menjelaskan.
“Boleh juga dengan apa yang kamu usulkan,”kata Roki. Setelah perbincangan mereka berdua pulang ke rumah.
__ADS_1