
Mereka bertiga yang saling mengobrol sampai Ali dan Alex datang masuk. Tapi saat mereka didepan pintu mereka mendengar suara darai dalam yang membuat mereka berdua masuk kedalam saat posisi mereka berebutan Martin. Membuat Ali dan Alex hanya terdiam melihat mereka dengan tontonan yang sangat menari. Sampai Remon melihat kearah mereka dengan senyum ramah. “Apa yang kalian tunggu di depan situ?,”kata Remon.
Ali dan Alex berjalan kearah mereka yang suasananya berubah.”Tuan muda siap orang itu,”kata Ali.”Dia Remon adik dari Rendi, pasti kalian mengenalnya,”kata Morgan. Mereka yang datang ke depan Remon untuk memastikan apa benar dia adalah adik dari Rendi.”Apa benar dia adalah adik dari Rendi, kenapa tidak persis,”kata Alex.
“Kamu serius dengan kata kamu,”ucap Remon yang tidak suka disamakan oleh kakaknya.”Kenapa kamu ada disini bukannya mencari kakak kamu yang sudah tiada,”kata Ali.”Untuk apa aku mencari dia. Yang sekarang sedang asing bermain,”kata Remon.”Apa maksud kamu sedang bermain apa kamu tidak tahu kalau kakak kamu sudah dibunuh,”kata Alex.
Remon hanya menatap kearah Martin dan Morgan yang masih berpelukan.”Kamu belum bilang kepada mereka berdua,”ucap Remon.”Belum,”kata Martin.”Aku tidak ingin mencari masalah dengan mantan Bosku yang bersembunyi,”kata Morgan.
Ali dan Alex yang merasa bingung dengan percakapan yang mereka katakan membuat mereka bertanya-tanya.”Apa yang kalian sembunyikan. Apa yang terjadi dengan Rendi bukannya dia sudah tewas?,’kata Alex.”Jadi kalian benar tidak tahu... kasihan sekali,”ucap Remon.
“Martin apa kamu sudah mengingat semuanya,”kata Ali.”Sudah sebagian tapi tidak bisa dipaksa semuanya. Kenapa?,”kata Martin.”Aku merasa kamu berbeda saja tidak pada saat kamu terbangun setelah gelombang jiwa,”kata Alex.”Jika kamu mengingat jelaskan padaku apa yang terjadi dan kata Remon barusan,”kata Ali.
“Apa yang ingin kalian katakan,”ucap Martin.”Semuanya,”ucap Alex.”Tidak bisa aku hanya akan memberitahu kalian kalau Rendi masih hidup karena bantuan Roki dia sekarang membangun organisasi bersama Mizuki bawahan Izam. Dengan nama Organisasi Bayaran yang merekrut tentara bayaran dengan tentara mata-mata yang berkerja sama dengan organisasi yang namanya aku tidak tahu. Itu saja,”kata Martin.
“Apa maksud kamu itu saja,”kata Ali yang ingin tahu semuanya.”Bukannya sudah aku bilang hanya sebagian saja yang lainnya aku tidak ingat,”kata Martin menjelaskan.”Apa kamu serius,”kata Ali. Martin hanya menganggukkan kepalanya.”Dan dia,”kata Alex yang menuju kepada Remon.”Kenapa denganku, aku hanya ingin melihat Martin saja apa tidak boleh,”kata Remon.
__ADS_1
Sampai Remon mendapatkan pesan untuk kembali ke markas.”Tapi cukup sampai disini saja yang obrolannya aku harus kembali. Sampai jumpa kembali Martin sayang,”kata Remon yang menghilang hadapan mereka berdua. “Akhirnya dia pergi juga,”kata Morgan.”Kapan kamu melepaskan pelukannya,”kata Marin yang masih terjebak oleh pelukan Morgan.
“Aku akan melepaskannya asalkan kamu menjawab satu pertanyaanku,”kata Morgan yang berbisik.”Apa yang ingin kamu ketahui,”kata Martin.”Kalian berdua keluar,”ucap Morgan menatap Ali dan Alex.
Karena suasana yang tidak biasa mereka berdua berjalan keluar sampai pintu tertutup Morgan berkata,”Apa yang kalian lakukan tadi?.”
Martin terdiam mendengar kata dari kakaknya yang cemburu,”Tadi hanya bicara biasa saja. Apa ada masalah dengan sikap aku tadi?.” Morgan mendekatkan bibirnya didekat telinga Martin sambil berkata dengan suara kecil,”Jika tidak kenapa dia menatap kamu dengan nafsu ingin memiliki kamu.” Martin hanya terdiam dan mencoba untuk melepaskan pelukan Morgan yang erat. Tapi Morgan yang tidak ingin melepaskan pelukannya sampai Martin menjawab.”Kamu menyebalkan,”kata Martin.
“Kenapa kamu tidak berkata jujur,”ucap Morgan yang menghembuskan angin merdu ke telinga Martin. Yang membuat Martin merasa terangsang yang akhirnya Martin berkata,”Ok.. aku akan menjawab. Tapi lepaskan aku dulu bisa tidak kakak.” Morgan yang menggelengkan kepalanya,”Kamu jawab dulu.”
“Aku mengerti,”ucap Martin yang menghindar perlahan-lahan dari kakaknya. “Apa kamu baik-baik saja,”ucap Morgan yang menggantikan pertanyaan.”Aku baik-baik saja, hanya saja lukaku terbuka karena kakak,”kata Martin yang melepaskan pakaiannya. Morgan yang melihat hanya bisa menundukkan kepalanya,”Aku minta maaf.”
Martin menghela nafas dan mengulurkan tangannya. Morgan hanya melihat dengan tatapan bingung sampai Martin berkata,”Perban kak.” Barulah Morgan tersadar dengan apa yang dimaksud dan mengambil perban yang ada di loker meja sampingnya. Setelah menemukannya Morgan memberikannya kepada Martin.”Apa perlu aku bantu,”ucap Morgan yang ingin menolong.”Tidak,”ucap Martin yang bisa membalut lukanya dengan baik. Tapi saat dia ingin mengoles bagian punggungnya tangannya tidak sampai yang mengharuskannya dia meminta bantuan kakaknya yang sedang menatap.
Martin memberikan obat olesnya kepada Morgan. Morgan hanya tersenyum menerima obat oles dan membantunya mengoleskan obat tersebut di bagian tubuh punggung Martin. Setelah mengoleskan Morgan berkata,”Mana perbannya sekalian aku balutkan.” Martin hanya memberikan perban yang ada didepan dia. “Ini,”ucap Martin sambil memberikan perbannya.
__ADS_1
Morgan membalut tubuh Martin dengan perban kain sampai Bram mengetuk pintu.”Tok...tok.. Tuan apa anda ada didalam,”ucap Bram.”Iya ada apa. Masuk saja,”kata Morgan yang masih membalut luka Martin yang terbuka. Bram yang melihat terkejut dengan luka yang terbuka pada tubuh Martn.”Apa yang terjadi dengan Tuan Martin,”kata Bram yang bergegas masuk dan berjalan cepat menuju Martin. Martin hanya melirik kearah belakang yaitu Morgan. Sampai Bram tahu maksud lirikan mata Martin. “Tuan anda sebagai kakak harus menjaga adik anda dengan baik bukan menambah luka,”kata Bram yang marah kepada Morgan.
“Aku tidak sengaja, kenapa kamu yang marah,”kata Morgan melihat ke arah Bram. Yang kemudian dia memalingkan wajahnya setelah selesai membalut tubuh Martin dengan perban.”Aku tahu aku salah. Aku juga sudah minta maaf,”kata Morgan yang merasa bersalah.
“Iyalah aku sudah memaafkan kakak kok,”kata Martin yang membelai kepala kakaknya yang sedang frustasi.”Kenapa kamu mencariku,”kata Morgan mengubah suasana.”Soal pil itu tuan bagaimana,”kata Bram.
Martin melihat kearah Morgan,”Pil apa?.” Morgan menghirup udara yang sekitarnya baru dia berkata,”Setelah penyusup itu masuk ada beberapa orang yang masuk kedalam pulau menyerang penduduk yang ada di pulau tapi karena kekuatan yang kita miliki masih kurang. Ada bantuan darai orang asing yang membantu kita sebelum mereka pergi mereka memberikan kita pil penyembuh dan pil pembangkit jiwa.”
“Bukannya itu bagus kenapa gelisah,”kata Martin yang senang.”Memang bagus hanya saja orang asing itu masih tidak teridentifikasi namanya,”kata Morgan.”Jadi seperti itu dari pada memikirkan orang tersebut kenapa tidak memikirkan pil itu asli atau palsu,”ucap Martin.
“Pil yang diberikan mereka asli,”kata Morgan.”Jika itu asli terus kenapa kamu masih curiga saja. Mungkin saja memang dia orang baik,”kata Martin yang memperjelas keadaannya. “Tapi apa kamu tidak khawatir kalau pil itu bisa saja bermasalah jika kita menggunakannya,”kata Morgan yang masih waspada.
“Biarkan aku yang memeriksa apa itu ada efeknya atau tidak,”kata Martin yang mengusulkan diri.”Tapi bagaimana dengan kondisi anda Martin,”kata Bram.”Aku tidak apa-apa hanya saja aku membutuhkan kursi roda untuk pergi ketempat pil atau digendong oleh Morgan,”ucap Martin.
“Aku gendong kamu saja,”kata Morgan yang merasa senang.”Tidak.. mau,”ucap Martin yang membantah dengan keras.”Kenapa?,”ucap Morgan yang kecewa lagi.”Malas,”kata Martin yang masih tidak ingin digendong oleh Morgan karena malu.
__ADS_1