Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Perpustakaan Dunia 1


__ADS_3

Setelah hari itu Martin menambah pengawasan dan penjagaan untuk ibu dan kedua kakaknya. Apa lagi dengan apa yang dirasakan oleh Martin kalau ini semua hanya awal untuk bencana itu akan dimulai. Setelah dua minggu Ibu dan kak Mela di ijinkan pulang ke rumah. Tapi dengan kondisi yang belum pulih juga ibu dan kedua kakak masih menutup cafe untuk sementara waktu.


Di rumah mereka disambut oleh tante Melati dan Roki yang sudah datang terlebih dahulu. Tante Melati dan ibu Martin masuk beriringan bersama dan diikuti oleh kak Mola dan Kak Mela dibelakang. Sedangkan Martin dan Roki yang masih diluar untuk berbincang.”Apa kamu akan pergi lagi,”kata Roki.”Satu minggu lagi aku akan pergi menyelesaikan beberapa urusan yang belum aku selesaikan. Kenapa?,”kata Martin.


“Keluarga kamu bagaimana?,”kata Roki yang gelisa.”Aku akan menambah pengawasan dan penjagaan dari berbagai posisi. Aku ingin tahu sejak kapan kamu menyembunyikan identitas Remon dan Mui,”kata Martin dengan tajam. “Apa yang kamu maksud, aku tidak mengerti,”kata Roki yang masih menutupi kebenarannya.


Martin menghela nafas dan tersenyum dihadapannya langsung berbisik kepada dia,”Aku sudah tahu semuanya. Tapi jangan bilang kepada Izam terlebih dahulu.” Roki terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Martin.


“Ayo masuk,”ucap Martin yang berjalan masuk kedalam rumah.”Tunggu,”kata Roki dengan menahannya. Martin menoleh kebelakang,”Ada apa?.”


“Sejak kapan kamu tahu semuanya,”kata Roki dengan gelisa.”Kamu tidak bisa membohongiku atau menyembunyikan sesuatu dariku. Karena kamu adalah adik kecil dan sahabatku,”kata Martin yang tersenyum.


Martin melepaskan pegangan Roki dan masuk kedalam. Roki yang masih terdiam diri tidak bisa berkata apa-apa. Hingga akhirnya di masuk ke dalam rumah untuk bertemu tante santi dan ibunya.

__ADS_1


“Ayo sini minum dan makan ini,”kata Tante Santi yang menyambut hangat Roki.”Terima kasih tante,”kata Roki dengan ramah. Roki melihat ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat Martin.”Kamu mencari Martin,”kata kak Mola.”Iya kak,”ucap Roki yang tidak menemukan wajahnya.”Dia ada di kamar, katanya kamu tidur,”kata kak Mola.


“Aku akan kemar Martin dulu,”ucap Roki yang berdiri. Roki berjalan menuju lantai dua dimana kamar Martin berada. Tapi tidak disengaja dia melihat ekspresi wajah Martin yang menakutkan dan menekan. Membuat Roki tidak bisa masuk dan berpikir,”Apa yang sebenarnya terjadi pada Martin, kenapa sikap dia selalu berubah-ubah.”


“Masuklah,”ucap Martin yang sudah tahu kedatangan Roki ke kamarnya. Roki perlahan mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Suasana kabar yang biasa dan tenang Roki berjalan menuju kasur Martin dan duduk.


”Kata kakak Mola kamu mau tidur,”ucap Roki dengan menahan rasa yang dia rasakan. Martin melirik kearah dia dengan senyuman dan duduk di sebelah Roki.”Apa yang kamu lihat tidak harus kamu khawatirkan. Itu semua hanya frustrasinya saja kerena harus meninggalkan ibu dan kedua kakakku satu minggu,”kata Martin.


“Jika kamu tidak ingin pergi kenapa kamu paksa,”kata Roki.”Aku harus pergi sebelum terlambat,”kata Martin yang mulai berbaring di samping Roki.


Setelah Roki keluar dari kamar Martin membuka matanya,”Maaf tidak bisa mengatakannya, ini semua untuk kebaikan semuanya.” Tidak lama kemudian dia mendapatkan pesan dari pulau kalau mereka sudah menyelesaikan dunia perpustakaan.”Sudah selesai ya...,”ucap Martin yang kembali menutup mata.


Martin yang tertidur melepaskan lelah hanya saja angin kencang datang dengan cepat saat dia beristirahat membuat dia marah dan murka.  Suara keras berjatuhan dan suara tembak di lontarakan.”Ibu...,”ucap keras kak Mela dari lantai bawah. Martin yang tertidur bangun karena suara teriakan kak Mela. Ditambah Martin tidak bisa merasakan hawa kehadiran orang yang masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Martin keluar kamar dan turun ke bawah, sampai dibawah dia melihat ibunya jatuh dengan penuh darah yang bercucuran yang membuat Martin marah. Melihat sekitar banyak pengawal yang tergeletak diluar kakak Mola, Roki dan tante Melati sedang bertarung dengan orang yang tidak dikenal.


Martin menghampiri kak Mela dan ibu yang penuh dengan luka. Martin memeriksa kondisi ibunya yang penuh dengan luka, matanya membesar dengan tajam hatinya hancur tercabik saat memeriksa kondisi ibunya yang tidak bernafas kembali. Sedangkan kak Mela yang disampingnya hanya bisa menangis.”Kak apa yang terjadi,”ucap pelan Martin sambil melihat Ibunya yang tidak bergerak.”Ada orang yang masuk dan menyerang kita dan tiba-tiba orang itu menembak ibu. Kak Mola, Roki dan Tante Melati sedang bertarung dengan orang itu diluar,”kata kak Mela menjelaskan dengan suara tangisan.


Martin berdiri dan berjalan keluar rumah yang sudah bergeletakan anak buahnya yang terluka. Santo, Putu dan Moza yang ikut bertarung kewalahan karena jumlah mereka sangat banyak dan sangat kuat. “Kalian dengar datang sekarang pelatihan lanjutan dimulai. Perburuan dimulai disini,”telepati Martin dengan anggota khusus yang ada diluar gua.


“Kamu mendengarnya,”ucap Alex. Mereka semua menganggukkan kepala dengan segera mereka membuka portal untuk sampai di tempat Martin. Portal yang dimensi ruang dan waktu, digunakan anggota khusus pada waktu mendesak. Martin yang marah menghabisi semuanya dalam hitung detik yang ada didekat dia dengan pistol yang berserakan disekitar dia.”Dor...dor...dor,”suara tembakan Martin yang mengenai semua tamu tidak diundang.


Martin berjalan melihat kak Mola yang sudah kelelahan membantu dia dengan cepat.”Kak, tidak apa-apa,”kata Martin dengan dingin karena marah. Tiba mereka semua anggota khusus yang melewati portal Alex dan Ali yang menggunakan penyamaran agar tidak ketahuan oleh Roki juga datang membantu.


“Habisi mereka semua tanpa sisa,”ucap Martin dengan tajam.”Siap,”ucap mereka semua. Semua orang yang datang mengacaukan rumah Martin di bunuh anggota khusus dengan hitungan detik. Tiba-tiba angin kencang gelombang kedua muncul dengan anggota yang lebih hebat. Semua anggota yang sudah dikalahkan mundur perlahan diganti dengan anggota kedua.”Hebat main taktik gelombang surut,”ucap Martin sambil memegang wajahnya dengan mata satu ditutup.


“Apa kalian bodoh dengan taktik ini kalian bisa mengalahkanku,”ucap Martin.”Mark, Mitra gunakan strategi formasi pembunuh. Hancurkan mereka dengan satu serangan,”kata tajam Martin. Mitra dan Mark maju ke garis depan dengan tersenyum,”Aku bisa menggunakannya.” Dengan senyum licik mereka menggunakan aura jiwa mereka berdua untuk membentuk strategi formasi pembunuh dengan hitungan detik.

__ADS_1


Dalam hitungan menit dan detik formasi diaktifkan dan menewaskan semua anggota yang melawan.”Aku menemukanku,”kata Martin yang berteleportasi menuju pimpinan mereka.”Sudah bermainnya,”kata Martin yang menghenuskan pedang kematian dengan satu tebasan maut. Membuat pimpinan mereka tewas dalam seketika, semua anggota yang tersisa di habisi oleh Alex, Morgan, Ali, Ling Yong, Lili, dan Rong Shi.


Mark yang telah selesai dengan barisan depan datang menemui Mola dan berkata,”Apa yang terjadi?.” Mola tidak berkata apa langsung memeluk Mark dan menangis sejadi-jadinya. “Morgan, Alex bereskan semuanya jangan sampai ada noda,”kata Martin yang menunduk berjalan masuk kedalam rumah untuk melihat Ibunya.


__ADS_2