
Martin yang pergi setelah Izam. “Apa ini keputusan yang bagus untuk berpisah,”ucap Martin dalam mobil. “Apa yang kamu pikirkan,”ucap Mark. Martin menghela nafas,”Aku hanya memikirkan tentang Roki.”
“Apa yang terjadi dengan dia memangnya?,”kata Mark. “Tadi kita sempat bertengkar karena masalah kelompok,”ucap Martin.”Apa maksud kamu kecelakaan yang menimpa Tera dan Teri dan video yang dikirim ke kamu,”kata Mark.”Iya,”ucap Martin.
“Bukannya kamu sudah tahu kalau mereka baik-baik saja karena Rendi menyelamatkannya,”kata Mark.”Itu benar karena itu juga aku harus berpisah dengan dia agar dia tidak dalam bahaya bukan karena lawan kita bukan sembarangan,”kata Martin.
“Kamu itu tidak pernah berubah. Saat pertama kali kita bertemu juga sama kamu masih mengkhawatirkan orang lain dari pada kamu sendiri,”kata Mark.”Bukannya kamu sudah tahu sifat diriku,”ucap Martin.”Bagaimana dengan ibu dan kedua kakakku. Apa dia akan baik-baik saja,”kata Martin.”Tenang saja mereka akan baik-baik saja. Kebetulan aku menyuruh anak buahku yang sudah aku seleksi untuk menjaga keluarga kita,”kata Mark.
“Kapan kamu akan menikah dengan kak Mola,”ucap Martin.”Jika kamu ingin tahu nanti jika urusan kita sudah selesai. Kamu tahukan kalau kakakmu itu masih ingin dengan Ibu kamu,”kata Mark.”Aku tahu itu, jadi kamu harus menuggu lagi ya,”ucap Martin.”Senang sekali ya kamu melihat penderitaan cintaku,”kata Mark.
“Tidak juga,”ucap Martin yang menahan tawa. “Dari pada kamu memikirkan Roki, Pikirkan beberapa dokumen yang ada di samping kamu,”kata Mark. Martin membuka amplop coklat yang berisi daftar nama orang yang harus disingkirkan. Martin membuka satu demi satu lembaran kertas dan membaca dengan seksama. “Apa ini sudah semua?,”kata Martin.
“Sudah, hanya saja ada daftar nama yang masih belum di ketahui identitasnya di amplop merah,”kata Mark. Martin membuka amplop Merah yang berisi daftar nama yang belum lengkap identitasnya. Saat Martin membaca dia terkejut dengan nama yang tidak asing baginya. “Apa benar dia salah satu daftar nama yang harus kita waspadai,”kata Martin dengan senyum licik.
“Iya. Apa ada masalah,”ucap Mark.”Tidak hanya saja musuh yang kita hadapi tidak semudah yang kita bayangkan,”kata Martin melihat keluar jendela. “Kenapa dengan kamu,”kata Mark.
“Tidak ada,”ucap Martin.”Jangan bilang kamu merindukan Roki,”ucap Mark. Martin yang melihat kearah Mark. “Dari pada kamu memikirkan diriku yang tidak pasti. Kenapa kamu tidak mencari mereka bertiga yang belum kembali sampai sekarang,”kata Martin.”Ayolah biarkan mereka bersenang-senang dalam hutan belantara,”kata Mark.
“Kamu bahagia sekali melihat teman kamu sengsara karena ulah kamu yang tidak becus,”kata Martin.”Siapa juga yang membuat masalah,”kata Mark.
__ADS_1
“Apa kita akan pergi ke pulau sekarang?,”ucap Mark. Martin hanya terdiam sampai ponselnya berbunyi.”Ada apa?,”kata Mark.”Tidak ada hanya saja aku mendapatkan info kalau sebagian dari mereka sudah bergerak di ujung pulau,”ucap Martin.
“Apa mereka yakin bisa mendapatkan pulau itu,”kata Mark.”Aku rasa tidak bisa,”kata Martin.”Kenapa kamu bisa yakin, kalau mereka tidak akan bisa mendapatkan pulau itu,”kata Mark.
“Kamu ingin tahu kenapa dia tidak bisa mendapatkan pulau itu,”ucap Martin.”Tidak jadi,”ucap Mark yang tahu pikiran Martin.”Kenapa?,”ucap Martin yang melihat kearah dia dengan senyumnya.”Pati kamu akan bilang datanglah ke sana biar kamu bisa tahu apa yang terjadi di sana,”kata Mark.”Ternyata kamu tidak bodoh juga ya,”ucap Martin.
“Mentang-mentang lulus SMA kamu syok pintar ya,”kata Mark.”Kata siapa aku syok pintar. Aku memang pinta dari dulu kamu saja yang tidak tahu,”kata Martin dengan percaya diri.
“Bagaimana dengan Marko,”kata Mark.”Dia masih bermain dengan kita,”ucap Martin.”Sampai kapan kita akan bermain seperti ini,”kata Mark yang melihat ke layar ponsel.
“Ubah tujuan kita pergi ke markas rahasia sekarang,”kata Mark kepada bawahan.”Ada apa?,’ucap Martin.
Mereka berdua menuju ke gudang senjata untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana. Sampai mereka sampai Marko dan Jel sudah ada di tempat.”Apa yang terjadi?,”kata Martin yang keluar dari mobil.”Ini Bos senjata yang kita pesan sampai sekarang belum datang,”kata Jel.
“Apa kamu sudah menghubungi pihak penjual,”kata Martin.”Sudah,tapi mereka bilang sudah diantar,”kata Jel.
“Marko coba kamu datang ke tempat penjual jangan sampai mereka tidak memberikan barang yang kita inginkan. Apa kamu mengerti?,”kata Martin dengan santai.
Marko pergi ke tempat penjualan senjata. “Jel, apa yang kamu ketahui jangan diam saja,”kata Mark.”Begini bos saat aku datang tadi Marko dan beberapa orang mengambil senjata yang ada id pintu kelima di gedung,”kata Jel orang kepercayaan Mark.
__ADS_1
“Jadi dia sudah tidak sabar untuk membuat kita berselisih lagi,”kata Martin.”Apa yang kamu maksud Bos,”ucap Jel.
“Mereka sudah bergerak untuk melakukan serangan kedua,”kata Mark. Jel yang mendengarkan tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Sampai Marko menghubungi Jel yang memberitahukan kalau pesan senjata kita diambil paksa oleh pihak Izam.”Bos,”kata Jel sambil memberikan ponselnya.
Martin mengambil Ponsel dan melihat pesan yang diberikan oleh Marko.”Mark coba kamu hubungi Erik di pihak Izam. Apa mereka mengambil senjata pesanan kita,”kata Martin yang masih tenang. Mark memberitahukan Erik apa mereka mengambil senjata pesanan preman Selatan. Sampai dia mendapatkan pesan balasan kalau Izam tidak mengambil senjata pesanan mereka. Mark menggelengkan kepalanya kepada Martin. Dia hanya menghela nafas,”Jika Marko datang kalian mulailah menyerang kelompok Izam karena tidak terima kalau senjata kita diambil. Apa kalian tahu apa yang aku katakan?,”kata Martin yang tidak jelas dengan kata dia ucapkan untuk mengalihkan mata yang mengawasi.
~ ~ ~ ~ ~~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~~
Sementara di tempat Izam yang sedang sibuk dengan kematian Terko. Hanya bisa membantu keluarga yang sedang berduka karena kehilangan Terko. Sampai Erik yang menjadi anggota Geng SaNaHa juga ikut berduka atas kepergian Terko.”Bos,”ucap Erik yang mendapatkan pesan dari Mark.”Ada apa?,”kata Izam.
“Mark bertanya apa pihak kita mengambil senjata pesan milik preman selatan,”kata Erik.”Kenapa kamu bertanya seperti itu,”ucap Izam yang duduk dekat keluarga Terko.
“Mereka kehilangan senjata pesanan mereka dan kabarnya kalau pihak kita yang sudang mengambil pesanan mereka dengan paksa. Mereka sangat marah dan ingin mengambil senjata mereka ke tempat kita,”kata ErIK yang mengubah isi pesan yang diberitahukan untuk menutupi mata yang mengawasi.
“Beritahu mereka kalau kita tidak mengambil senjata mereka. Jika mereka masih keras kepala untuk datang. Kita ladeni dengan cara kita,”kata Izam. “Baik Bos,”ucap Erik yang meninggalkan Bosnya di dalam dan memberitahukan kepada Mark kalau Geng SaNaHa tidak mengambil senjata mereka.
Setelah apa yang diberitahukan Erik kepada Izam mereka menyiapkan persiapan kalau preman selatan akan datang. “Hizam,”ucap Izam.”Ada apa Bos,”kata Hizam yang mendekat.”Siapkan anak buah kita karena kita akan kedatangan tamu yang tidak diundang,”ucap Izam.”Baik bos,”kata Hizam yang didalam hati sudah tertawa.
Hizam berjalan keluar dari ruang tempat duka dan menyuruh anak buahnya untuk berkumpul karena kita akan kedatangan tamu yang tidak diundang.”Akihirnya aku bisa melihat perselisihan keduanya lagi,”ucap Hizam dalam hati.
__ADS_1