Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Bersiaga


__ADS_3

Suasana yang awalnya damai menjadi tegang dengan suara jam yang berbunyi,”Tik...tok....tik...tok.” Izam dan Roki yang masih di rumah sakit didatangi anak buah mereka masing-masing.”Tuan,”ucap Putra dan sekertaris Kim.”Bos,”ucap Red dan Samuel.


Izam dan Roki menoleh kebelakang dengan serentak berkata,”Kenapa kalian ke sini.”


“Kayaknya kalian ada tamu bicaralah diluar biar tenang pembicaraannya,”ucap Santo dibalik pintu. Karena mereka sadar kalau membuat keributan akan mengganggu pasien maka mereka semua keluar. Kak Mola yang tersenyum membiarkan kami keluar. Setelah mereka keluar kak Mola melihat dari balik jendela dan berpikir,”Apa waktunya menggunakan mereka.”


Karena ragu dia tidak menghubungi kelima teman Mola yang mungkin saja bisa membantu dia untuk menjaga dari jauh. Sampai dia melihat cahaya dari jauh,”Sniper.” Kak Mola keluar tapi tidak bisa karena dia masih berpikir,”Jika aku keluar mereka berdua akan dalam bahaya. Apa yang harus aku lakukan. Hanya ada jarum ini saja yang aku bawa setiap hari.”


Sampai dia mendapatkan pesan dari adiknya yang mengatakan kalau kakak harus melakukannya untuk menjaga ibu dan kak Mela. Kak Mola tersenyum dan menghubungi kelima temannya yang juga sedang berjaga tidak jauh dari Mola.”Ada sniper,”isi pesannya sambil memberikan file yang diberikan oleh adik lakinya.


~ ~ ~  ~ ~ ~ ~  ~ ~ ~  ~ ~ ~  ~ ~


Sementara Roki dan Izam yang mendapatkan infomasi yang tidak biasa menjadi khawatir.”Apa informasi yang kalian berikan itu benar,”kata Roki.”Itu benar,”ucap Putra.”Jika seperti itu maka tempat ini akan menjadi bahaya. Aku harus mengajak kak Mola dan keluarga Martin pergi dari sini,”kata Roki yang masuk. Tapi dihadang oleh Izam,”Tunggu, kamu harus berpikir tenang pada saat ini.”


“Berpikir tenang, sudah aku lakukan,”ucap Roki dengan tajam.”Kalian tidak usah khawatir,”ucap Santo yang menghampiri sampai mereka semua mendengar suara tembakan dan pecahan kaca.”Kak Mola,”ucap Roki yang berlari menuju ruangan. Santo dengan santai berjalan mengikuti mereka sampai Roki dan Izam masuk kalau ada musuh yang masuk tapi anehnya sudah dikalahkan oleh Kak Mola.


“Kak Mola ini, apa yang sedang terjadi,”ucap Roki yang tidak mempercayai apa yang sedang terjadi.”Tidak ada. Santo bereskan semua ini dan ganti kacanya sekarang,”ucap tegas kak Mola yang berubah ekspresi.

__ADS_1


“Baik Nona,”ucap Santo. Setelah semua dibereskan dan kaca diganti semua target berdatangan ingin masuk ke rumah sakit tapi mereka gagal dan sniper yang siap membunuh mereka sudah dikalahkan oleh teman Mola.


“Kak kamu bisa bertarung,”ucap Roki yang terkejut. Kak Mola hanya tersenyum,”Maaf tidak bilang kepada kamu Roki. Pasti kamu khawatir dengan tante dan Mela.”


“Tapi kamu tidak usah khawatir karena semua ini sudah direncanakan untuk membuat mereka keluar,”kata kak Mola.”Apa maksud anda,”kata Izam.”Bagaimana ya aku mengatakannya,”ucap kak Mola yang masih ragu. “Tuan,”kata Putra.Roki melirik kearah Putra,”Ada apa?.”


“Mereka sudah bergerak,”kata Putra.”Kalian tidak usah khawatir penjaga yang disuruh oleh Martin merupakan orang pilihan untuk rencana ini. Mereka akan baik-baik saja hanya saja mungkin musuh yang tidak akan baik,”kata kak Mola.


“Kenapa kakak bisa yakin dengan apa yang akan terjadi,”ucap Izam.”Apa kamu tidak merasakan suasana yang tenang tapi penuh dengan dingin yang pekat,”kata kak Mola.


Di lembah bambu Hijau Martin yang sudah datang menikmati pemandangan yang sejuk. Menunggu datangnya Jendral Grata dengan berbagai pesan yang masuk kalau mereka sudah bergerak.”Pasti kak Mola mulai bergerak juga,”ucap Martin yang tersenyum.


Sampai dari jauh Petra melihat segerombol mobi yang menuju tempat Martin,”Apa itu Jendral Grata?.” Martin yang masih santai juga merasakan kehadiran mereka yang sebagai tamu dan penonton pada hari ini.


“Akankan menjadi hari yang indah,”kata Martin yang mendengar suara langka.”Anda datang juga,”ucap Martin sambil melihat kearah mereka semua.


“Mau istirahat dulu, atau langsung ke inti pembicaraan,”ucap Martin. “Tidak usah berlama-lama,”kata Jendral Grata yang duduk di depan dia.”Apa yang ingin kamu ketahui,”ucap Martin yang masih santai.

__ADS_1


Jendral Grata yang melirik sekitar,”Apa kamu sudah memasang jebakan untuk membunuhku.” Martin yang tersenyum melihat kearah Jendral Grata.”Jebakan yang kamu maksud apa?,”kata Martin yang tidak percaya kalau Jendral Grata akan berpikiran seperti itu.


“Kamu sudah terkepung. Jelaskan maksud kamu membunuh Zimu,”kata Jendral Grata.”Apa ya...,”ucap Martin yang masih berbelit-belit. Tiba-tiba Jendral Grata membanting tangannya di meja didepannya sampai tebelah.”Kamu ingin mati,”kata Jendral Grata.


Martin melihat Jendral Grata dengan tajam,”Mati. Bukannya itu kamu.”  Karena tidak bisa menahan amarah Jendral Grata menyuruh anak buahnya untuk menyerbu Martin. Tapi Martin dengan santai menghindar semua serangan dengan elegan dan santai, seperti dia mengetahui semua pergerakan musuh.


Putra yang melihat merasa terkejut dan berpikir,”Siapa dia sebenarnya, dari organisasi mana?.” Karena semua serangan tidak bisa membunuh Martin Jendral Grata yang maju untuk bertarung dan berkelahi dengan Martin.


Martin yang sudah menuggu untuk memulai perkelahian dengan Jendral Grata hanya berkata,”Akhirnya taring kamu muncul juga tua bangka.” Jendral Grata tanpa basa-basi memulai menyerang dia dengan pukulan, tapi pukulan dihadang oleh Martin dengan tangan kosong. Jendral Grata yang sudah memberikan setengah kekuatannya pada tangan masih bisa dihadang oleh Martin.”Siapa kamu?,”ucap Jendral Grata.


Martin bergerak kilat menuju Jendral Grata,”Kamu ingin tahu tapi kamu harus tewas dulu.” Jendral Grata yang tidak bisa merasakan hawa keberadaan Martin terkejut dengan dia ada di samping dia.”Bagaimana kamu bisa memiliki kemampuan itu,”kata Jendral Grata. Martin berjalan dibelakang dia dan berkata,”Kamu hanya perlu memilih dari dua pilihan yang aku buat jika kamu ingin selamat.”


“Yang pertama jadi mata-mata dari organisasi Rose Black dan menjadi anak buahku. Yang kedua kamu harus bunuh diri disini. Pilihlah dengan cermat sebelum mengambil tindakan,”kata Martin.


“Kamu kita aku bodoh. Anak bodoh yang tidka tahu batasan seperti kamu ingin menundukkan kepalaku yang sudah berpengalaman. Jangan berharap,”kata Jendral Grata. “Jadi kamu sudah memutuskan pilihan kamu. Sangat disayangkan harus pergi sekarang,”kata Martin yang menyerang semua anak buah yang ada dengan cepat.


Jendral Grata yang tidak tahu apa yang terjadi melihat semua anak buah yang dia bawa tergeletak semua tak bernyawa. “Siapa dia, aku harus membunuhnya sebelum dia menjadi masalah bagi masa depan,”kata Jendra Grata yang mengeluarkan pedang kebanggaan dirinya.

__ADS_1


Martin tersenyum dengan dingin,”Mau mulai sekarang atau nanti.” Jendral Grata yang mulai menyerang Martin. Suara tebasan pedang yang mengalir melewati celah angin yang berhembus. Martin menghindar seperti dia bernari dengan angin yang bernyanyi.”Apa hanya ini saja kemampuan kamu. Tidak aku sangka kamu sama saja dengan Zimu yang tidak tahu malu,”ucap Martin mengeluarkan tangan kosong untuk memukul dia.


Dengan fisik tubuh yang sudah dikuatkan dengan latihan di gua hitam dia bisa menghantam Jendral Grata dengan satu serangan.”Apa aku terlalu cepat untuk menghabisi dia,”kata Martin yang merasa kesal. Petra melihat dengan matanya merasa terkejut,”Bagaimana dia bisa melakukan itu.” sampai mata mereka saling bertatapan Martin yang melihat Petra tersenyum dan memberikan selembar kertas kepada dia yang dia lemparkan melalui daun yang berjatuhan. Petra yang menyadari kalau dirinya sudah ketahuan mendapatkan kejutan sebuah kertas. Isi pesan adalah Beritahu Bosmu untuk tidak ikut campur, jika tidak ingin hancur organisasi peneliti.


__ADS_2