
Remon yang mulai meraba sampai di pantat membuat Roki lemas tubuhnya. Roki mencoba untuk tetap sadarkan diri dangan usahanya yang terakhir dia berteriak. “Tolong.....tolong,”ucap Roki yang sudah dalam keputusan karena tidak bisa lagi menahan rasa yang dia rasakan. Tapi karena tempat dia berada jauh dari keramaian apa lagi tidak semua siswa mengetahui jalan yang dilalui Roki membuat dia pasrah. “Apa yang kamu lakukan percuma saja tidak ada orang yang akan menolong kamu,”kata Remon yang masih meraba dan hendak memasukkan jarinya ke lubang Roki.
Roki yang tahu kalau dirinya dalam bahaya mecoba berbicara dengan Remon untuk mengalihkan perhatiannya tapi Remon tidak memperdulikan apa yang dikatakan Roki tetap melanjutkan rabaan tubuh Roki yang membuat Remon bergairah. Sampai dimana Roki berkata,” Tidak. Lepaskan aku.”
“Tidak akan aku lepaskan kamu, karena aku masih ingin memeluk mencium dan memasukkannya di dalam kamu,”ucap Remon yang tiba-tiba mencium Roki dan mengulurkan lidahnya kedalam mulut Roki. Roki yang mencoba untuk mendorong Remon agar dia tidak bisa berlama-lama tapi usahanya sia-sia karena tenaga Remon sangat kuat membuat Roki tidak bisa mendorongnya dan tetep mencium Roki dengan nafsunya yang bergairah.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Sementara ditempat lain, Izam yang berangkat menggunakan mobil. Suara mobil berbunyi merdu seperti angin yang berhembus. Izam keluar dari dalam mobil,”Lelahnya,kenapa baru bisa selesai hari ini. Membuat aku capek saja, tapi untung saja bisa selesai tepat waktu.”
Karena harus menyelesaikan beberapa dokumen Izam harus berangkat terlambat dan masuk lewat pintu belakang dengan melompat dinding tembok. Karena dia tidak ingin ketahuan oleh penjaga sekolah karena dia terlambat.
“Apa kamu yakin mau lewat sini,”ucap Mizuki. “Itu karena kalian yang membuat aku harus lewat sini. Lain kalai jika tidak mendesak jangan panggil aku sampai aku lulus. Apa kalian mengerti,”kata Izam yang hendak ingin melompat dinding tembok.
“Baik tuan,”kata Mizuki. Izam yang tidak perduli lagi dengan apa yang dikatakan oleh Mizuki tetap naik ke atas tembok. Tapi tidak disangka dia melihat Roki yang diganggu oleh Remon dengan melecehkannya. “Aku rasa aku bisa meluapkan amarahku pada orang itu,”ucap Izam dengan suara kecil dengan senyum licik. Mizuki yang masih dibawah melihat Izam,”Kasian orang yang dibalik tembok.” Mizuki masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan Izam.
__ADS_1
Izam yang melihat kejadian itu mengambil gambar untuk bukti setelah mendapatkan sedikit bukti barulah dia turun. Izam berjalan menuju Roki dan berkata dari belakang Remon,”Apa aku juga boleh gabung.”
Setelah menghabisi semua orang dibelakang Remon dia memegang bahu Remon,”Aku ras enak jika aku juga ikut bergabung dengan kalian.” Remon menoleh kearah belakang dan terkejut melihat Izam dan beberapa temannya yang berbaring di tanah dengan penuh memar.” Bagaimana kamu bisa tertangkap oleh orang ini?,”kata Izam melihat Roki yang sudah meneteskan air mata karena takut. Roki yang melihat Izam dibelakang Remon tidak berkata apa-apa.
“Bagaimana Remon?,”ucap Izam kepadanya. Remon menghempaskan tangannya kepada Izam yang memegang bahunya. “Bagaimana kamu bisa ada disini,”kata Remon dengan tajam.
“Kenapa apa aku tidak boleh ikut bermain dengan kalian, kayaknya seru juga kalau aku ikut bermain,”kata Izam dengan tajam. Yang kemudian dia menarik tangan Roki menghindar dari Remon. “Kamu tidak apa-apa,”kata Izam sambil memberikan jasnya untuk menutupi tubuhnya.
Remon yang tidak tahu akan seperti ini memberikan serangan terlebih dahulu kepada Izam. Tapi Izam yang tahu kalau Remon akan memberinya serangan terlebih dahulu digagalkan oleh Izam dengan menendang Remon terlebih dahulu sampai dia mundur beberapa langka.
Izam datang menghampiri Remon dan memberikan pukulan di perut kepada Remon. Tapi Remon juga membalas dengan pukulan di wajah mereka yang saling beradu satau sama lain sampai Izam tidak bisa menahan amarahnya memukul Remon sampai dia tidak bisa bergerak. Selesai dengan urusan Remon, Izam menghampiri Roki yang masih dibelakang dia. “Ayo kita pergi ke ruang kesehatan,”kata Izam yang melihat kondisi Roki tidak berdaya. Roki tidak berkata apa-apa sampai dia berkata,”Jika kamu tidak mau apa perlu aku hubungi Marti atau wali kelas kita?.” Roki memegang tangan Izam dan melihat kearahnya,”Jangan...”
“Jika kamu tidak ingin aku menghubungi mereka berdua. Apa kamu mau tetap disini atau mau ikut denganku ke ruang kesehatan,”kata Izam yang melangkah berjalan. Tapi Roki menghentikan Izam dengan menahan tangannya. “Ada apa?,”kata Izam. “Terima kasih telah menolongku... dan tolong rahasiakan semuanya dari Martin,”kata Roki dengan suara pelan.
“Baiklah, jika itu yang kamu mau,”kata Izam. Mereke berdua jalan bersama, tanpa disadari Roki dia sudah didepan ruang kesehatan. Roki yang tidak sadarkan diri karena dia mengikuti Izam.
__ADS_1
“Ayo masuk,”kata Izam. “Kenapa kamu masih diam saja disitu,”ucap Izam lagi. Roki masih tetap terdiam sampai Izam menarik tangan Roki kedalam ruangan yang kebetulan tidak ada pengawas. Izam mencari baju ganti untuk Roki yang sedang duduk di atas kasur.
“Bagaimana kamu bisa ada dibelakang gedung?,”ucap Roki dengan menundukkan kepalanya. “Karena terlambat,”ucap Izam dengan singkat. Roki tersenyum sedikit,”Tidak biasanya kamu terlambat.”
“Itu karena suatu permasalahan yang harus aku selesaikan,”kata Izam yang memberikan baju ganti untuk Roki. Roki mengambil baju yang diberikan Izam dan melepaskan baju yang sudah kotor karena Remon. “Apa kamu yakin tidak apa-apa? Apa perlu minta ijin tidak masuk?,”kata Izam.
“Tidak aku akan tetap masuk kelas agar mereka tidak mengetahui apa yang terjadi denganku. Karena aku tidak mau mereka tahu dengan aku tidak masuk kelas,”kata Roki. “Ayo kita pergi ke kelas sekarang,”katanya lagi.
Mereka keluar ruangan dan menuju ruang kelas diperjalanan menuju ruang kelas mereka saling terdiam tidak lama sampai salah satu dari mereka memulai percakapan sampai didepan kelas. “Kenapa kamu tadi tidak melawan atau berteriak. Jika tidak kenapa kamu tidak menelepon Martin?,”ucap Izam.
“Percuma saja aku berteriak tidak ada yang datang sampai kamu muncul. Untuk ponsel kebetulan tidak bawa,”kata Roki yang masih sedikit takut.
Izam yang melihat Roki tidak berdaya mencoba menghibur dia dengan merangkul dia. Tapi Roki yang takut terkejut dengan rangkulan Izam dan mendorongnya. Kembali Roki mulai takut kembali. Izam yang melihat hanya bisa berkata,”Maaf bukan aku mau melecehkan kamu tapi aku mencoba untuk menenangkan kamu.”
“Aku tahu maksud kamu, tapi aku masih tidak bisa jiak itu laki-laki apa lagi dengan apa yang terjadi barusan,”kata Roki yang kembali menengahi dengan dirinya dan melangkah berjalan. Izam tidak bisa berkata apa-apa sampai mereka berdua sampai di kelas yang sudah ditunggu oleh Martin.
__ADS_1