
Setelah pelayan pergi mereka berdua melanjutkan pembicaraan.”Hanya menuggu waktu yang tepat untuk mengeluarkan barangnya saja,”kata Bunga yang menyeduh teh pesanan dia. “Hangatnya dan nyaman,”ucap Bunga. Izam yang juga menikmati kopi hitamnya.”Apa kamu meneliti barang baru,”ucap Izam.
“Barang baru yang kamu maksud apa?,”kata Bunga yang tidak paham.”Jangan berbohong atau berpura-pura,”kata Izam.
“Siapa juga yang berbohong atau berpura-pura. Aku tidak tahu apa yang kamu maksudkan,”kata Bunga yang masih menyela.
“Kristal Hitam,”kata Izam dengan dingin.”Kristal Hitam yang memilki racun yang ganas dengan menghancurkan siapa saja yang terkena racun tersebut. Kenapa kamu menyebutkannya?,”kata Bunga.”Bukannya kamu membuat produk itu bukan,”ucap Izam.
Bunga melihat kearahnya dan berbalik melihat keluar jendela,”Apa yang kamu ingin tahu itu bukan produk yang aku ciptakan.”
Izam hanya terdiam sesaat sampai dia berkata,”Jika itu bukan produk kamu, lalu siapa?.”
“Dari mana kamu dapat info itu,”ucap Bunga dengan santai.”Dari Australia,”kata Izam. Bunga menghela nafas,”Itu dari organisasi laut merah yang membuat produk racun dari kristal Hitam.”
“Seberapa bahaya racun itu?,”kata Izam .”Sangat bahaya untuk kalian yang orang biasa akan binasa tanpa jejak,”kata Bunga.”Apa kamu bisa mendapatkan penawar racun itu,”kata Izam.”Tidak,”ucap Bunga melihat kearahnya.
“Kenapa organisasi Laut Merah membuat produk yang sangat berbahaya tersebut, apa yang mereka inginkan dari racun tersebut,”kata Izam.”Jika kamu ingin tahu kenapa kamu tidak mencari tahu saja, dengan kedudukan kamu di organisasi peneliti bukannya itu sangat mudah,”kata Bunga.
“Mudah untuk tewas, iyakan,”ucap Izam menatap Bunga. Bunga hanya tertawa kecil melihat Izam.”Kenapa kamu, minta dipukul,”ucap Izam.”Ayolah aku hanya bercanda, kenapa kamu anggap serius begitu,”kata Bunga.
“Bagimana persiapan yang kamu maksud?,”kata Bunga yang mengalihkan pertanyaan.”Persiapan pelelangan,”ucap Izam dengan santai.”Sebenarnya aku tidak mengerti jalan pikir kamu. Apa yang kamu harapkan dari pulau tersebut,”kata Bunga yang ingin tahu.”Pulau itu memang tidak ada artinya bagiku. Tapi bagiku itu adalah harta yang harus bisa aku dapatkan,”kata Izam.
“Memangnya ada apa di pulau itu,”kata Bunga.”Apa kamu pernah mendengar perangkap harimau,”ucap Izam. Bunga hanya terdiam mendengarnya dan memikirkan apa yang dikatakan Izam sampai dia mendapatkan jalan buntung.”Apa itu perangkap harimau?,”ucap Bunga yang bingung.
__ADS_1
“Sudah aku duga kamu tidak akan tahu,”kata Izam.”Mana aku tahu itu bukan bagian dari organisasiku, kamu tahu sendirikan kalau aku hanya fokus pada tanaman dan organ tubuh dan senjata saja,”kata Bunga.
“Makanya itu aku tidak ingin memberitahu kamu apa itu perangkap Harimau,”ucap Izam.”Kamu menyebalkan, bilang saja aku tidak boleh tahu apa yang kamu rencanakan,”kata Bunga yang kesal dan memalingkan mukanya. Izam menghela nafas dan tidak bisa melihat Bunga bersedih karena ucapan yang dia ucapkan.
“Aku minta maaf janganlah kamu marah,”kata Izam yang berdiri dan duduk disebelahnya.
“Siapa juga yang marah,”kata Bunga yang dingin.”Baiklah aku menyerah aku akan mengatakannya kepada kamu. Tapi rahasiakan dari orang lain ya,”kata Izam. Bunga melihat kearah Izam dengan mata berseri dan menganggukkan kepalanya. “Kamu itu,”kat Izam sambil memukul kecil kepala Bunga.
“Aduh sakit tahu tidak,”ucap Bunga yang mengelus kepalanya. “Baik cepat ceritakan padaku,”kata Bunga yang penuh dengan semangat.”Perangkap Harimau adalah....,”kata Izam yang terhenti karena dia melihat pemandangan yang tidak asing.”Kenapa kamu diam saja,”kata Bunga yang melihat kearah Izam. Bunga yang melihat kearah lain mengikuti dia melihat ke tempat mata Izam tertuju. Bunga yang melihat hanya berkata,”Bukannya dia teman kamu Martin ya?.”
Izam berdiri dan menghampiri Izam yang bersama dengan seorang yang dia tidak kenal.”Dengan siapa kamu berbicara Martin. Apa dia pacar baru kamu?,”kat Izam yang merangkul Orang yang diajak bicara dengan Martin.
Martin yang melihat Izam,”Lepaskan dia.”
“Kamu itu memang bodoh dan tidak sayang nyawa kamu ya,”ucap bisik Bunga. “Maafkan Izam ya Martin,”Kat Bunga yang duduk didepan dia.”Kenapa kamu meminta maaf kepada orang ini,”ucap Izam yang kesal.”Duduk,”ucap Bunga dengan tajam. Izam hanya mengikuti kata Bunga.”Tidak apa-apa dia memang bodoh,”kata Martin.”Kamu tidak apa-apa,”ucap Martin kepada temannya yang terluka.”Aku tidak apa-apa Bos,”ucap Pram.
“Kenapa kamu membela dia, apa kamu suka dengan Martin,”kata Izam yang tidak terima kerena menghalangi dia melihat muka teman Martin.”Jika kamu membuka kerudung kepalanya dia akan ketakutan dan akan trauma,”ucap Bunga.”Apa maksud kamu?,”kata Izam yang tidak paham dengan apa yang Bunga bicarakan.
“Dia kena racun es hitam dan ular kuno,”ucap Martin dengan suara kecil.”Jika kamu menyentuh dia kamu juga akan tewas. Apa kamu paham sekarang,”kata Martin. “Apa yang kamu maksudkan,”ucap Izam.”Apa yang dia katakan memang benar,”kata Bunga.
“Tapi kenapa kamu membawa teman kamu ke sini,”kata Bunga yang penasaran.”Karena dia ingin melihat dunia luar makanya aku ajak dia keluar,”ucap Martin dengan santai.”Maadkan saya Bos karena saya kamu dalam masalah seperti ini,”kata Prem.
“Tidak ini masalah yang ringan tidak terlalu penting,”kata Martin yang masih santai.”Jika kamu yang kamu katakan itu benar kenapa kamu tidak apa-apa,”kat Izam melihat kearah Martin. “Itu karena dia bisa mengenal jenis racun dengan baik dan obat penawarnya,”kata Lili yang menghampiri mereka berempat.
__ADS_1
“Kenapa kamu kesini,”ucap Martin.”Hanya ingin lihat apa yang kalian berdua lakukan,”kata Lili.”Itu bukan urusan kamu,”ucap Martin kepada Lili.
“Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada teman lama kamu,”kata Lili yang duduk di samping Martin.
“Apa yang kamu katakan tadi,’”kata Bunga yang tidak percaya.”Yang kamu maksud yang mana,”kata Lili untuk memperjelas arah pembicaraan.
“Kata kamu tadi kalau Martin mengerti tentang jenis racun dan bisa membuat obat penawarnya,”kata Bunga.
“Ohh yang itu yang kamu maksudkan,”kata Lili.”Kenapa kamu tidak tanya kepada orang yang didepan kamu sendiri,”ucap Lili.
“Martin,”ucap Izam.”Aku lulusan dokter makanya aku mengenal jenis racun dan bisa membuat penawar racun. Kenapa?,”kata Martin.
“Aku tahu itu kalau kamu lulusan dokter cina. Tapi bagaimana kamu bisa membuat penawar racun dengan tingkat kamu yang seperti ini,”kata Izam yang tidak percaya.
“Jika kamu tidak percaya yang sudah kenapa kamu mengurus-urusan diriku,”kata Martin yang kesal dengan Izam.”Janganlah kalian marah,”kata Lili yang menengahi.
“Siapa juga yang marah ,”kata Izam.”Kamu menyebalkan,”kata Martin yang melihat kearah Lili.
“Kenapa denganku aku hanya ingin tahu saja. Apa tidak boleh,”ucap lili dengan cemberut. “Kalian berdua masih saja sama tidak pernah akur,”kata Prem yang melihat keduanya.
“Siapa kamu,”kata Lili yang melihat kearah orang berkerudung.
“Ini aku Prem, apa kamu tidak ingat dengan senior kamu,”ucap Prem. “Apa senior apa benar itu kamu,”kata Lili yang mendekat, tapi Martin menghalanginya.”Kenapa kamu menghalangiku,”ucap Lili.
__ADS_1