
Bram yang ingin tahu penyebab kematian Ezan mencari tahu dari kedua tuannya. Tapi mereka tidak merespon dengan pertanyaan Bram yang membuat dia juga ikut berduka dalam diam. Sampai dia berjalan keluar dari ruangan untuk menenangkan dirinya. Di tengah perjalan Bram berpapasan dengan Eza. “Apa yang terjadi dengan anda Bram?,”kata Eza yang melihat kebingungan dengan wajah yang diberikan.
Bram melihat ke arah Eza dan dan tersenyum, tanpa berkata apa-apa dia berjalan melewatinya. Eza yang merasa ada yang aneh dengan Bram membuat dia bertanya-tanya,”Apa yang terjadi dengan Bram setelah dia keluar dari ruangan Morgan? Apa terjadi sesuatu kepada dia.”
Eza yang tidak tahu apa yang terjadi berjalan menuju ke ruang Morgan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sampai di depan pintu dia melihat Zen yang ada di ruangan. “Ada perlu apa kamu datang ke sini?,”ucap Zen yang melihat ke arah Eza.
“Untuk apa kamu ingin tahu, aku datang apa tidak bukan urusan kamu bukan,”kata Eza dengan tatapan tajam kepada Zen.”Tidak juga aku hanya ingin tahu saja, kenapa?,”kata Zen. Eza berjalan menuju Morgan yang sedang bersama dengan Martin.”Apa kalian terluka?,”ucap Eza.
“Tidak,”ucap Martin. “Tapi aku melihat Bram seperti sedih. Karena itu aku kira kalian sedang terluka,”ucap Eza mendekat. Martin berdiri dan menyuruh kak Eza untuk mendampingi kakaknya.”Aku keluar dulua,”ucap Martin.
“Ayo kita keluar,”kata Martin kepada Zen. Mereka berdua keluar dari ruangan Morgan yang masih belum bisa menerima telah kehilangan adiknya. “Apa yang ingin kamu ketahui,”ucap Zen yang sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Martin.
“Berapa banyak waktu yang di miliki oleh Ezan di lautan jiwa,”ucap Martin tanpa basa-basi kepada Zen. “Satu bulan mungkin atau tiga minggu,”kata Zen.
“Apa ada cara lain untuk membantu memulihkan jiwa Ezan yang sudah terluka,”kata Martin yang tidak bisa melepaskan kembarannya. Zen hanya menggelengkan kepalanya dan tetap mengikuti Martin yang terhenti melihat ke arah Zen. Martin yang melihat ekspresi wajah Zen hanya bisa menghela nafas panjang dan menyenderkan tubuhnya di dinding didekatnya.
__ADS_1
Martin yang mencoba menahan tangis mencoba untuk tetepa menguatkan hatinya kalau dia akan kehilangan Ezan. “Apa dia akan di lautan jiwa ayah dan ibuku?,”ucap Martin yang tiba-tiba.
Zen yang melewatinya hanya berkata,”Tidak bisa karena jiwanya perlahan sudah menghilang dia tidak akan bisa bersama dengan kedua orang tua yang masih ada sisa jiwa.” Martin mendengar perkataan Zen hanya menudukan kepalanya.”Siapa anak itu dan dimana dia?,”kata Martin yang masih termenung.
“Jika sudah waktunya kamu akan tahu,”kata Zen yang melihat ke arah Martin yang masih termenung.”Aku tahu kalau kamu sedang sedih dan terluka atau kepergian dia. Tapi jika kamu terus seperti itu bukannya akan membuat dia tidak tenang meninggalkan kamu,”kata Zen.
Martin hanya terdiam sampai dia melihat ke lautan jiwa dimana Ezan masih tertidur. Tiba-tiba Martin meneteskan air matanya yang kedua kalinya setelah kepergian ibunya yang telah di bunuh oleh serangan seorang yang belum sampai sekarang belum di ketahui identitasnya. Zen yang melihat hanya bisa menghela nafas sampai dia berkata,” Organisasi Kegelapan Jiwa yang menyerang ibu kamu.”
Martin mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Zen,”Apa yang kamu maksud?.” Zen mengangkat kedua tangannya dan memegang kedua bahu Martin dengan tersenyum dia berkata,”Aku salah ucap.” Sampai Kyoshi berjalan ke arah mereka berdua dengan pikiran,”Apa yang mereka berdua lakukan?.” Karena dia penasaran Kyoshi berhenti ditengah jalan dan melihat mereka berdua yang saling menatap satu sama lain.
“Siapa sih mengganggu saja, abru saja mau membuat komik dapat panggilan,”kata Kyoshi yang mengambil ponselnya di dalam celana. Kyoshi yang melihat layar ponsel dengan nama Maru yang sedang menghubunginya. Mata Kyoshi yang berubah menjadi menegangkan karena panggilan Maru, dia mengangkat panggilanya.
“Ada apa?,”ucap Kyoshi dengan tegas lewat ponsel. “Kabar baru, mereka sudah mendapatkan hati bintang tujuh, pulau kristal biru, pedang kegelapan yang tersegel, satu lagi dua orang akan datang ke negara J,”ucap Maru yang kemudian memutus ponselnya.
Kyoshi yang mendengar menghampiri Zen dengan Martin.”Sampai kapan kamu terus akan menatap tuan kamu?,”ucap Kyoshi dari samping. Zen menoleh ke arah Kyoshi,”Ada apa?.”
__ADS_1
Zen melihat Kyoshi dengan wajah yang tenang dan dingin membuat Zen berpikir,”Pasti ada masalah.” Zen melepaskan bahu Martin dan berjalan menuju Kyoshi setelah sampai disampingnya dia melihat dengan tajam sambil memegang bahu Kyoshi.
“Ayo keluar,”ucap Zen yang berjalan dulu. Kyohsi mengikuti Zen dari belakang dengan tenang sampai di luar bangunan dia baru berkata dengan berpuisi.”Langit indah dengan datangnya musuh, kau pergi meninggalkan luka yang pedih.”
“Iya mereka datang ke negara J dengan dua tangkai elang kegelapan yang akan datang menjemput mereka,”ucap Kyoshi yang juga berkata dengan kata-kata. “Elang putih mana yang memberi kabar duka?,”kata Zen.
“Elang putih saudara kita. Membawa duka dengan hati yang penuh dengan binatang kepala tujuh yang sudah diambil oleh elang kegelapan. Pulau-pulau yang bersinar dengan cahaya kristal berwarna biru yang menyelimuti dunia kini sudah berakhir. Karena mereka telah mengambil jiwa dalam lautan biru tersebut tersebut. andaikan besi panjang dengan noda kegelapan sudah ditangan elang kegelapan. Apakah kita bisa memanggil kakak pertama?,”kata Kyoshi sambil tersenyum.
Zen mendengar tiba-tiba terkejut dan berkata,”Apa kamu serius dengan kamu ucapkan?.” Kyoshi hanya terdiam dan berkata,”Menurut kamu, aku akan bohong.” Zen yang sedang menjernihkan pikirannya sedang melihat apa yang akan terjadi jika barang tersebut sudah diambil oleh pihak musuh.
“Kenapa mereka masih ingin mencari masalah dengan kita, setelah semua yang terjadi,”kata Zen yang tidak bisa diam saja. sampai Kyoshi menepuk punggung Zen,”Tenanglah. Jika kamu kegabah kamu yang akan tertelan oleh mereka. Kita harus berpikir jernih jika sudah seperti ini.”
“Berpikir jernih ya,”ucap Zen yang kembali tenang. Sampai apa yang mereka ucapkan di dengar oleh Martin dari belakang karena merasa curiga dengan sikap mereka yang pergi meninggalkannya sendiri.
Setelah Martin mendengar perkataan mereka membuat dia tambah bingung dengan apa yang mereka obrolkan. Karana Martin tidak paham dia datang menghampiri mereka berdua sampai ada kata yang membuat Martin tidak mengerti. Dengan wajah yang diberikan oleh Zen dengan wajah yang gelisah dan penuh dengan kejutan dari kata yang diberikan oleh Kyoshi. Karena dia ingin tahu apa yang terjadi dia datang kepad mereka berdua berharap bisa mendapatkan jawaban yang bagus.
__ADS_1
“Apa yang sedang kalian bicarakan,”kata Martin dari belakang. Kyoshi dan Zen menoleh ke arah Martin yang berjalan menuju ke arah mereka berdua. Mereka tidak langsung berkata dan melihat ke arah Martin.”Ada apa kamu datang ke sini, apa ada yang ingin kamu tanyakan?,”ucap Zen.