Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Ikatan Persahabatan


__ADS_3

“Apa mereka sudah pergi,”kata Mark. Martin menoleh kebelakang dengan tajam dengan hawa yang yang begitu dingin dan menakutkan disekelilingnya. “sebaiknya kamu tenangkan diri kamu,”ucap Mark dengan tenang dengan suasana yang ada.


“cari tahu dimana mereka bersembunyi,”kata Martin yang berjalan melewati Mark. Di lorong rumah sakit Martin yang mencoba menenangkan pikirannya, sampai didepan pintu ruangan Ibu dan kedua kakaknya. Martin masuk kedalam melihat kondisi keluarganya yang berbaring tidak berdaya dengan luka yang tidak bisa dibayangkan oleh Martin sebelumnya.


“Jika pak tua itu tidak mencari masalah, mungkin saja Ibu dan kakak sedang di cafe melayani pelanggan,”ucap Martin dengan suara kesal dan pelan.


Suara pintu ruangan terbuka masuklah Mark. Dia berjalan menuju Martin dan memberitahukan lokasi dimana preman itu bersembunyi. “Apa kamu akan pergi sendirian,”ucap Mark. Martin berdiri dan keluar ruangan tanpa menjawab ucapan Mark.”Anak itu,”ucap Mark.


Martin yang sudah mendapatkan lokasi preman pergi ketempat mereka dengan sendiri. Sementara Izam yang sudah tahu lokasi preman itu pergi ketempat mereka untuk menghabisi semua yang ada. Tapi saat Martin sampai di sana para preman sudah habis dengan penuh darah yang berceceran di tanah. Martin yang masuk kedalam gudang melihat Izam bersama temannya yang menghabisi para preman tanpa ampun. Martin terkejut dengan apa yang dia lihat,”Tidak aku sangka kalau dia bos geng SaNaHa.”


Setelah melihat dia pergi menjauh dan menuju rumah sakit untuk menemani Ibu dan kakaknya yang berbaring. Tanpa berkata dan berpikir panjang dia menutup mulut dan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa sampai semua anggota berkumpul kembali.


“Kenapa kamu kembali,”kata Mark. “Apa?,”ucap Martin. “Apa kamu di dahului oleh teman kamu,”ucap Mark. Martin menghela nafas dan duduk di sofa sambil melihat kearah Ibu dan kakaknya yang masih belum sadarkan diri.


“Kapan mereka keluar,”kata Martin. “Jika tidak salah mereka berdua keluar 3 bulan lagi, sedangkan untuk yang satunya akan kembali 1 tahun karena jauh,”ucap Mark.


“Kenapa kamu menayakan itu, tidak seperti biasanya,”kata Mark. “Hanya ingin melanjutkan apa yang belum selesai,”kata Martin.


“Apa kamu sudah menemukan pak tua itu berada,”kata Martin dengan santai. “Sudah,”ucap Mark yang memberikan dokumen kepadanya. Martin mengambil lembaran dokumen dan membacanya dan tersenyum,”Itu pantas untuk pak tua.”


“Bukannya dia tetap ayah kandung kamu,”kata Mark. “Aku tidak pernah mengakuinya sebagai ayahku,”ucap Martin. Mark keluar dari ruangan,”Jika ada apa-apa hubungi aku.”


Suara pintu tertutup dan hanya keheningan yang ada dalam ruangan. Martin yang masih berjaga menuggu Ibu dan kakaknya bangun dari tidurnya. Hingga dokter datang untuk memeriksa pasien. “Sebaiknya kamu istirahat,”kata Izam dari belakang pintu masuk. Martin yang mendengar hanya terdiam melihat ibu dan kakaknya sampai Roki menghampirinya dan memeluknya. “Mereka akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir,”kata Roki yang memeluknya. Martin hanya bisa menerima pelukan Roki tanpa perlawanan sampai Roki dengan sendirinya melepaskannya. “Kenapa kamu bisa ada disini?,”ucap Martin.

__ADS_1


Martin melihat kearah Izam yang memalingkan wajahnya. Martin menghela nafas,”Bagaimana dok, ibu dan kakak saya apa mereka baik-baik saja?.”


“Mereka dalam kondisi pemulihan mungkin besok akan siuman,”ucap Dokter. “Jika tidak ada yang ditanyakan saya akan memeriksa pasien yang lain,”ucap Dokter. “Baik dok, terima kasih,”kata Martin.


“Ayo kita bicara diluar saja,”kata Izam yang berjalan keluar ruangan. Mereka berdua berjalan dibelakang Izam. Sampai diluar Martin berkata,”Apa yang kamu katakan?.”


“Aku terpaksa,”ucap Izam yang menoleh kearah Mizuki yang sudah ada diluar. “Itu bukan salah izam, aku yang memaksa dia untuk memberitahukan kemana aku tidak masuk kelas hari ini,”kata Roki.


“Aku tidak tahu kalau kamu mendapatkan musibah,”ucap Roki. “Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Hanya saja aku harus menjaga keluargaku aku juga sudah minta ijin ke wali kelas tidak masuk,”kata Martin yang bingung menjelaskan kepada Roki.


“Seharusnya kamu bilang kepadaku, kenapa kamu bilang kepada orang itu,”kata Roki yang kesal sambil menunjuk kearah Izam. “Tunggu dulu kenapa kamu marah kepadaku,”kata Izam.


“Aku tidak salah apa-apa disini,”ucap Izam. “Dia tahu hanya kebetulan saja, bukan aku yang memberitahu dia,”kata Martin. “Apa itu benar,”kata Roki yang melihat kearah Izam.


Martin tidak berkata apa-apa. “Kamu tidak harus menjawab,”ucap Roki.


“Lain kali aku akan menjelaskannya. Tapi kenapa kamu datang bukannya ini bukan waktunya pulang sekolah,”ucap Martin yang melihat kearah Izam dan Roki.


“Mereka berdua ijin untuk bertemu denganmu,”ucap Mizuki. “Tidak biasanya orang yang rajin minta ijin keluar sekolah hanya untuk ke rumah sakit,”kata Martin.


“Kamu tidak suka kami jangkung kamu,”ucap Roki. “Tidak aku berterima kasih kalau kamu mau melihatku dan keluargaku,”kata Martin yang tersenyum. “Bagimana kalau kita makan dulu, pasti kamu belum makan,”kata Izam. “Boleh kebetulan aku belum makan dari kemarin sudah lapar,”ucap Martin. “Kalau begitu ayo kita cari makan,”ucap Roki yang bersemangat dan menarik Izam dan Martin.


“Kamu juga ikut,”kata Roki yang menoleh kearah Mizuki. Sampai di kantin rumah sakit mereka memesan makan.”Izam siapa dia,”kata Roki yang melihat kearahnya. “Dia Mizuki,”kata Izam dengan singkat.

__ADS_1


“Kamu sudah mengenal dia,”ucap Roki melihat kearah Martin. “Sudah kemarin karena dia yang mengantar Ibu dan kakakku ke rumah sakit,”kata Martin.


“Kenapa kamu melihat ku seperti itu, itu sedikit aneh jika kamu menatapku seperti itu,”kata Mizuki.


“Aku hanya penasaran kamu memiliki aura yang sama dengan Izam,”kata Roki. Izam yang mendengar sedikit terkejut. “Aura apa yang kamu maksud,”kata Izam yang berpura-pura tidak tahu.


“Aura yang negatif dan hawa membunuh disekitar kamu,”kata Martin yang menikmati makanannya. “Iya,”kata Roki. “Mungkin hanya perasaan kamu saja itu,”kata Izam.


“Perasaan bisa menjadi salah satu sifat,”kata Martin. Roki melihat kearah Martin yang menikmati makanannya dengan lahap. “Apa yang kamu ketahui,”ucap Roki melihatnya.


“Apa?,”ucap Martin yang kembali sadar. “Apa kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku,”kata Roki. “Apa yang aku sembunyikan memangnya,”kata Martin yang tidak paham dengan suasana di meja saat itu.


“Tadi kamu mengatakan kalau kami memiliki aura membunuh yang sangat kuat,”ucap Izam.


“Ohh yang itu. Aku kira yang mana,”kata Martin. “Itu karena dia yang selalu takut dengan kamu dia menyimpulkan kalau kamu berbahaya apa lagi dia pernah melihat kamu berantem dengan kakak kelas di gang belakang gedung sekolah beberapa hari yang lalu,”kata Martin menjelaskan.


“Apa benar kamu takut denganku,”ucap Izam melihat kearah Roki.


“Itu benar, tapi dulu. Sekarang tidak karena kamu temanku,”ucap Roki. “Tapi kenapa kamu melihat Mizuki seperti ada sesuatu kamu tadi,”kata Izam.


“Apa?,”ucap Roki yang kembali gelisah. “Jangan..jangan kamu su..,”kata Martin yang belum selesai. “Tidak, aku hanya merasa kalau dia sama dengan kamu Izam itu saja tidak lebih dan tidak ada perasaan apa-apa,”ucap Roki menjelaskan. Martin hanya tersenyum melihat tingkah laku Roki, sampai ponsel Martin berbunyi. “Apa ini dengan Martin?,”kata seorang wanita yang menelepon. “Iya benar. Maaf ini siapa ya?,”kata Martin melihat keluar jendela.


“Kami hanya memberitahukan kalau kakak ada menghilang ,”ucap wanita tersebut. Dengan bersamaan Martin yang melihat keluar jendela melihat preman yang menyamar  dan membawa seorang. Karena ada yang aneh sampai dia diberitahukan kalau kakaknya tidak ada. Martin dengan cepat keluar dari kantin dan menuju jalanan.

__ADS_1


__ADS_2