Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Penawar Racun


__ADS_3

Bunga dan Koto yang menuju ruang penelitian untuk membuat obat penawar dari ulat hitam kuno. Setelah Bunga menerima buku dari Morgan. Koto yang sudah berjalan lebih dahulu menuru ruang penlitain disusul oleh Bunga yang mendapatkan buku dari Morgan. Izam yang datang di belakang hanya melihat mereka, sampai di belakang Morgan.


“Bagaimana kabar Martin?,”ucap Izam dari belakang. Morgan menoleh hanya sebentar dan kemudian melihat dari balik kaca kondisi adiknya.”Seperti yang kamu lihat, kondisi mereka masih sama,”kata Zen yang menjawab.


Izam yang juga menatap dari jauh kondisi ketiga orang yang ada dalam ruangan. “Sebenarnya siapa yang melukai mereka, sampai mereka bisa mendapatkan racun itu,”kata Izam.


“Bukan kamu sudah tahu siapa yang melakukannya,”kata Morgan. Apa kamu menyesal dengan apa yang kamu ucapkan beberapa hari yang lalu,”kata Izam yang menatap ke arah kaca. “Dia tidak akan pernah menyesal dengan apa yang dia katakan,”kata Morgan.


“Dengan kondisi ini apa dia bisa kembali pulih,”ucap Izam.


“Kamu tidak usah khawatir dia akan baik-baik saja jika semua kebenarannya terungkap,”kata Morgan.”Kebenaran yang kalian cari itu apa sebenarnya?,”kata Mizuki yang ada di samping Izam.


“Kebenaran kenapa kenapa aku dan adikku bisa ada di tempat ini,”kata Morgan  yang melihat kebelakang sambil tersenyum.


Izam yang hanya melihat sikap yang diberikan oleh Morgan. Tapi dalam hati dia bertanya,”Apa maksud darai ucapannya?.” Putra yang melihat jam sudah waktunya memeriksa kondisi pasien dia masuk ke dalam untuk melihat kondisi tubuh pasien.”Sebaiknya kita istirahat saja sambil menuggu mereka bangun. Jangan sampai kamu kurang istirahat,”kata Zen yang menepuk bahu Morgan.


“Kamu tidak usah khawatir aku baik-baik saja,”kata Morgan. Zen hanya menghela nafas dengan berfikir,”Ini salahku jika aku bersama mereka saat waktu itu dia tidak akan terluka.”


“Itu bukan salah kamu, ini juga tiba-tiba terjadi,”kata Kokoro dari arah lorong menuju tempat mereka. Zen melirik kearah suara bersama dengan yang lain. “Kokoro, kamu datang,”kata Zen.


“Iya ada urusan aku ke sini, makanya aku mampir sekalian. Bagaimana kondisi mereka?,”kata Kokoro.


“Untuk sekarang seperti yang kamu lihat mereka masih berbaring sedangkan obat penawar sedang dibuat,”kata Zen.”Jadi seperti itu, jangan menyalahkan diri sendiri,”kata Kokoro yang menepuk punggung Zen. Kemudian Kokoro berjala ke arah Morgan dan berbisik,”Adik perempuan kamu.”

__ADS_1


Morgan membuka mata lebar dengan layar ponsel Kokoro di depan dia. Morgan melihatnya,”Bagaimana kondisi mereka?.”


“Untuk sekarang kondisi sudah mulai stabil hanya saja kondisi tubuh dalam pemulihan. Jadi tidak usah khawatir,”kata Kokoro.”Tapi bagaimana mereka bisa terluka apa tukang tipu itu yang membuat  adik perempuan terluka,”kata Morgan.


Kokoro bersandar di kaca di dekatnya sambil berkata,”Itu benar. Tapi bukan dia sudah menikah ya.”


“Itu benar dia sudah menikah... tunggu apa Mark tidak tahu kalau dia menghilang dan sudah tertipu dengan orang lain,”kata Morgan.


“Dia memang tertipu karena kedua orang palsu itu,”kata Kokoro. “Kurasa aku harus berterima kasih dengan Roki yang telah menyelamatkannya,”kata Morgan. Tidak lama dia berkata seperti itu Roki bersama dengan Surya datang darai arah lorong masuk. “Kenapa kalian di sini?,”kata Roki yang menatap mereka semua.


“Kenapa kamu ke sini?,”kata Izam dari samping. “Aku ke sini ingin melihat kondisi Martin, bagaimana kondisinya?,”kata Roki.


“Kamu bisa melihatnya dari kaca itu,”kata Izam melirik ke arah kaca ruang dimana Martin di rawat. Roki berjalan ke arah Morgan yang ada di depan ruang Martin.”Apa kamu baik-baik saja?,”kata Roki.”Kamu tidak usah khawatir aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu sendiri?,”kata Morgan yang mencoba tersenyum.


“Aku tidak berpura-pura, dan satu lagi terima kasih kamu telah menjaga dan menolong adik perempuanku,”kata Morgan. Roki melihat ke arah Morgan dengan tatapan bingung yang kemudian Kokoro yang ada di samping menepuk bahu Roki. Roki menoleh ke arah Kokoro dan melihat ke layar ponselnya. Roki hanya tersenyum dan berkata,”Bukan dia juga temanku yang sudah aku anggap kakakku juga. Jadi tidak usah khawatir, aku akan menjaga mereka.”


Izam yang melihat hanya menebak saja kalau yang mereka bicarakan adalah kakak perempuan dari Martin. Setelah berbincang dengan Roki Morgan merasakan sesuatu firasat kalau pulau bunga persik di serang. Morgan menutup mata sejenak dan melihat dengan penglihatan  dunia bagaimana kondisi pulau bunga persik.


Morgan yang sudah terhubung dengan pulau bunga persik sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Morgan membuka mata dia dan menghela nafsa sambil melihat ke arah depan dimana adiknya sedang berbaring.


“Kamu harus bangun segera ya,”kata Morgan. Kokoro yang merasakan perubahan dari sikap Morgan bertanya,”Apa terjadi sesuatu?.”


“Tidak ada,”kata Morgan yang berjalan ke arah Zen. “Jaga mereka berdua dengan baik,”kata Morgan yang sudah berbisik di sampingnya.

__ADS_1


“Kamu mau kemana?,”kata Zen yang melihat dari sikapnya yang aneh.”Bukan tadi kamu suruh aku istirahat sekalian aku ingin mencari minum,”kata Morgan.


Morgan berjalan tapi di ikuti oleh Zen yang merasakan keanehan yang diberikan oleh Morgan.”Kamu tidak usah mengikutiku, aku butuh sendiri. Kamu jaga mereka yang di dalam sana saja,”kata Morgan.


“Apa kamu yakin tidak usah dikawal,”kata Zen yang masih khawatir.”Iya,”ucap Morgan yang berjalan santai agar tidak ketahuan. Tapi Kokoro yang merasakan keanehan ini membuat dia gelisah dan mengikutinya dari belakang.


Morgan yang merasakan kalau dirinya di ikuti berjalan dipersimpangan dan langsung menggunakan portal ruang untuk sampai di pulau bunga persik. Kokoro yang berjalan melewati persimpangan yang di lewati Morgan hanya menghela nafas.


“Dia menghilang, pasti terjadi sesuatu,”kata Kokoro yang kemudian berjalan masuk. Di lorong menuju ruangan Kyoshi yang sudah ada Koto di depan. Kokoro berjalan ke arah Koto dan menepuknya.


“Apa berhasil membuat obat penawarnya?,”kata Kokoro. Koto melirik ke arah suara dan berkata,”Sudah sekarang Bunga membantu mereka untuk meminum obat penawarnya.”


“Baguslah, jika Martin bangun bilang ya. Kalau kakaknya menyembunyikan sesuatu,”kata Kokoro yang kemudian menghilang.


Koto hanya menghela nafas sampai Roki melihat Kokoro pergi membuat dia penasaran.”Kemana dia pergi?,”kata Roki.


“Siapa yang kamu maksudkan?,”kata Koto.”Saudara kamu,”ucap Roki.”Ada urusan dia pergi,”kata Koto. Zen yang melihat ke belang tidak melihat Morgan kembali karena sudah satu jam berlalu. “Kamu tidak usah mencarinya dia sudah pergi,”kata Koto yang masih menatap ke dalam ruangan kaca.


Zen melihat ke arah Koto dan menghampirinya.”Apa yang kamu katakan?,”kata Zen. “Seperti yang aku katakan dia pergi,”kata Koto.


“Tidak mungkin, apa terjadi sesuatu padanya,”kata Zen yang hendak menyusul dia. Tapi di hentikan oleh Koto,”Tidak usah di cari, bukannya kamu mendapatkan pesan dari dia bukan, sebelum dia pergi.”


“Apa yang kamu katakan benar aku di suruh dia untuk menjada mereka berdua. Tapi bagaimana dengan dia jika terjadi sesuatu,”kata Zen yang merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2