Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Catatan Lama 3


__ADS_3

Ezan dengan angin yang berhembus bersamaan menghilang dihadapan Mitra dan Rong Shi dengan senyuman yang tidak biasa. “Kemana Martin pergi,”kata Rong Shi.”Aku tidak tahu tapi aku rasa dia mencoba menghindar dari sesuatu,”kata Mitra.”Kamu sudah selesai,”ucap Mitra lagi.”Sudah kenapa mau mencarinya lagi,”kata Rong Shi.”Tidak kali ini kita mencari infomasi yang lain berkaitan dengan musuh kita yang baru saja menampakan diri,”kata Mitra.”Apa maksud kamu tentara yang mati tadi,”kata Rong Shi dengan suara kecil. Mitra hanya menganggukan kepalanya sambil menghabiskan teh yang tersisa di cangkirnya.


Rong Shi dan Mitra bergeges pergi dari cafe dimana mereka memesan makanan dan minuman. Tidak tahu kenapa hari itu akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan untuk Ezan yang harus bertarung dengan tentara yang selalu mengikutinya. “Kenapa kalian tidak habis-habisnya,”ucap Ezan. Mereka datang satu persatu menyerang Ezan yang ada dihadapannya. Dengan angin yang berhembus dengan hangat seperti laut Merah yang ingin aku rasakan.


Hantaman dan pukulan jurusan mereka keluarkan untuk mengalahkan Ezan tapi dengan santai hanya bisa menghindar dengan satu jurusan sampai mereka masuk ke dalam perangkap yang mereka buat. Tapi dari mereka ada yang menyadari tersebut menghentikan pertikaian dengan menyuruh mereka mundur. Tapi mereka tidak menghiraukan ucapan teman mereka tetap menyerang Ezan.”Kamu takut dengan satu orang,”ucap tentara satu.


“Bukan itu kalian akan masuk perangkap musuh,”kata tentara tiga.”Tidak ada perangkap disini, kamu mengkhawatirkan yang tidak akan terjadi,”kata tentara dua.”Itu benar mereka tidak akan mempercayai ucapan kamu,”kata Ezan dari belakang tentara tiga. Tentara tiga menghindar dan menyerang sambil bertahan untuk menghindarai apa yang akan terjadi.”Percuma saja kamu menghindar,”kata Ezan.


“Kalian semua sudah masuk dalam formasi yang sudah aku ambil akhli. Selamat menikmati,”kata Ezan yang pergi dari tempat tersebut. “Jangan kabur kamu pengecut,”kata tentara satu. Tapi Ezan tetap pergi menjauh menghiraukan apa yang mereka katakan. Para tentara yang ingin menyusul mereka tidak bisa bergerak,”Apa yang sedang terjadi disini, kenapa aku tidak bisa bergerak.”


“Aku juga,”kata tentara tiga. Sampai tentara itu melihat sekeliling,”Formasi pemakan jiwa.” Semua melihat kearat tentara ketiga,”Apa maksud kamu?.”


“Bukanya formasi itu akan aktif kalau dia yang terjebak tapi kenapa kita yang masuk perangkap,”kata tentara pertama.”Mana aku tahu, cepat buka formasinya agar kita bisa selamt,”kata tentara kedua.”Mustahil tidak bisa dilepaskan formasinya,”kata tentara ketiga yang berwajah pucat.”Jangan bercanda kamu,”kata tentara kedua. Sampai akhir mereka mencoba melepaskan diri tapi semuanya berakhir dengan kematian mereka dengan mengenaskan. Darah yang bercucurkan tubuh yang mengerering hanya terlihat tulang saja mereka mati didalam formasi yang mereka buat.

__ADS_1


“Kasihan sekali mereka tewas karena ulah mereka sendiri,”ucap Ezan yang mencari tempat lain.”Apa masih ada lagi,”kata Ezan yang melihat sekitarnya sambil tersenyum.”Ternyata ada,”kata Ezan yang bahagia pergi menjauh dari keramean. Memancing mereka masuk kedalam perangkap yang sudah disiapkan.”Hai Perak kamu dimana sekarang,”kata Ezan.”Ada apa menghubungiku Bos,”ucap Teri.”Pergilah ketempat yang sudah aku berikan. Ada ikan yang akan datang kesana,”ucap Ezan.


“Aku mengerti Bos,”kata Teri. Di tempat lain di pulau lain kumpulan orang dengan kemampuan yang hebat sedang mengadakan pertemuan jiwa. Martin yang biasanya terdiam merasakan aura yang tidak biasanya datang kepulau.


“Ezan,”ucap Martin.”Ada apa mengubungiku,”kata Ezan yang merasakan kalau ada masalah yang besar akan terjadi.”Pulanglah aku butuh bantuan kamu,”kata Martin yang membuka matanya.”Aku pulang tunggu sebentar,”ucap Ezan yang telah sampai ditempat.


“Kamu disini Perak,”kata Ezan.”Iya kenapa Bos mencariku,”kata Teri dari belakang. “Bereskan ikan yang akan datang kesini. Aku ada urusan ingin kembali ke pulau,”kata Ezan.”Saya mengerti Bos,”kata Ezan yang pergi bersama angin. Saat Martin membuka matanya dia mencium bau darah dri berbagai segala arah. Dia melihat kearah Morgan selalu membaca bukunya tapi dia tidak ada. Dia berdiri dan melihat keteras kamar begitu banyak musuh yang masuk dan banyak dari penduduk pulau semua tewas dan ada yang dievakuasi.”Level mereka berbeda,”kata Martin yang menghirup bau darah yang ada.”Darah yang menyebalkan bukan,”ucap Ezan yang datang di teras.


“Aku tahu maksud kamu, mau panggil mereka atau bereskan hanya berdua saja,”kata Ezan. “Bagaimana dengan berdua tapi mereka berdua selalu datang kesini mau bagaimana,”ucap Martin.”Ayolah kenapa kalian berdua datang,”kata Ezan.”Seharusnya aku yang bertanya siapa kamu,”kata Rendi yang menarik Martin tapi ditarik lebih dahulu oleh Ezan.


“Aku bilang lepaskan dia,”kata Remon.”Aku tidak tahu kalau kalian bersaudara tidak mengenal kami berdua,”ucap Martin.”Apa maksud kamu, bukanya kalian sudah bertemu digudang penyimpanan,”kata Martin.”Itu banar,”kat Ezan.”Mustahil kalau kamu putih,”kat Remon.”Jika tidak percaya tidak masalah,”kata Ezan.


“Untuk sementara abaikan yang ada didepan kita lihat yang dibawah,”kata Ezan.”Mau gabung atau mau pergi pilihlah salah satu dari keduanya,”kata Martin. Mereka berdua kakak adik saling melihat satu sama lain,”Kami ikut.”

__ADS_1


“Ayo kita pergi berpencar ya, tidak masalahkan,”kata Ezan.”Tidak,”kata Martin. “Karena ada empat orang pembagiannya adalah beradarkan mata angin saja,”kata Ezan.”Ezan utara, aku  Selatan, Rendi Timur Remon barat. Apa sudah mengerti,”kata Martin.


“Jika begitu aku pergi dulu,”ucap Ezan yang pergi ke utara. “Aku juga pergi juga ahhh,”kata Martin keselatan. Sedangkan kedua kakak tersebut ke timur dan barat pulau. Mereka pergi ketempat yang sudah dibagikan Ezan dan Martin yang menggunakan topeng untuk menyembunyikan identitas mereka. Pergi ketempat yang sudah dibagi,”Ayo bermain kak.” Ezan yang sudah sampai ditempat dimana semua musuh berkumpul.”Siapa disana,”ucap Ali yang menjaga tempat.


“Aku bukan siapa-siapa hanya tamu yang berkunjung,”kata Ezan. Ali yang sedang bertarung melawan musuh yang berbanding jauh dari bawahan yang ada dipulau.”Tapi siapa kamu datang kesini,”kata Ezan.”Seharusnya aku yang bertanya siapa kamu datang kesini,”kata kawan yang belum  berkenalan.


“Dari pada kamu memikirkan diriku kenapa kamu tidak menolong teman kamu yang ada disana,”kata Ezan.”Jadi kamu bukan musuh,”ucap Leri.”Bukanlah untuk apa aku menjadi musuh kamu,”kat Ezan yang masih santai duduk diatas pohon melihat mereka berantem.


Leri pegi menolong Ali yang sedang dalam keadaan terdesak.”Tidak aku sangka aku bertemu salah satu penjaga pulau bunga persik disini,”kata Ezan yang tersenyum.”Apa yang kamu senyumkan,”kata Martin yang ada dibelakangnya.”Bukanya kamu pergi ke selatan kenapa kamu disini,”kata Ezan yang masih menatap kedepan.


“Maunya begitu tapi sudah ada bala bantuan yang datang,”kata Martin.”Jadi begitu, terus mau kemana kita,”ucap Ezan yang binggung.”Bukannya kamu cukup lelah di ikuti dua kelompok dalam satu hari,”kata Martin.


“Tidak juga.... tiga kelompok ya,”kata Ezan yang membenarkan.”Iyalah,”kata Martin menuju kesatu arah diatas pulau.”Formasi penyegel,”kata Ezan. “Bisa,”kata Martin.”Mudah ini,”kata Ezan yang memberikan kertas pengambil segel.”Cepat sekali dirimu kalau mengambil formasi yang laian,”kata Martin.”Tentu saja. Tidak ada kerjaankan aku pergi sekarang,”ucap Ezan.”Ok.. hati-hati dijalan,”kata Ezan yang pergi meninggalkan Martin.

__ADS_1


__ADS_2