
Suasana dingin menyambut Ezan yang telah mendapatkan firasat buruk pada hari itu. Ezan yang melihat dari kejauhan merasa kalau orang yang dihadapannya bukan orang yang bisa dianggap remeh.”Kasihan sekali dirimu, dibunuh oleh kawan kamu karena membuka mulutmu,”ucap Ezan dengan suara kecil. Ezan melihat kearah Roki, Izam dan yang lain sambil tersenyum dia membuka mulutnya dan berkata,”Jaga diri kalian dengan baik, sampai jumpa dikehidupan selanjutnya.”
Roki yang melihat kearah Martin terkejut dengan kata yang dia ucapkan.”Apa maksudnya? Aku ingin keluar dari sini, aku akan membantu Martin disana biarkan aku kesana,”kata Roki yang mencoba keluar dari kerumunan. “Kalian harus tetep disini,”kata Dave.
Izam yang mencoba keluar dari tempat itu dihadang oleh Reli yang ada ditempat mereka berkumpul ditengah. Izam melihat ke arah Reli dengan tajam,”Kamu juga mau menghalangiku, kamu ingin mati.” Reli hanya memberikan satu petunjuk kearah mereka,”Lihat siapa yang datang, kamu akan paham kenapa kalian harus disini. Jangan membuat kami kesusahan karena ego kalian. Diamlah disini dan tetap hidup ketua kami bisa menghadang yang datang.”
Hingga angin berubah menjadi tidak nyaman semua merasakan sesak di tempat mereka berdiri.”Formasi diaktifkan,”ucap Reli mengangkat tangan. Mitra dan Rong Shi yang dalam keadaan luka yang sudah terkuras jiwanya karena bencana dunia bisa merasakan kalau akan ada bahaya yang datang dan lebih besar. Rong Shi dan Martin saling menatap dan melihat sekitarnya dengan hati yang bertanya-tanya,”Bagaimana anak buah Marti bisa membuat Formasi ini?.”
“Kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka,”kata Rendi dibelakang mereka berdua. Mitra dan Rong Shi terkejut dengan kehadiran bertopeng kuning dibelakang mereka dengan hawa keberadaan sangat sedikit dan mereka berdua tidak menyadari kehadiran bertopeng kuning. “Apa maksud kamu?,”ucap Rong Shi. Rendi menggelengkan kepalanya sambil berkata,”Apa yang ingin kalian ingin ketahui sampai begitunya?.”
“Siapa kamu dan apa hubungan kamu dengan Martin,”ucap Mitra yang ingin tahu. Izam dan Roki yang mencuri informasi dari berkataan mereka juga ingin mengetahunya dan melihat kearah mereka bertiga. “Kalian ternyata kepo juga ya dengan urusan kawan kalian yang satu itu,”ucap Rendi sambil menunjuk kearah Ezan.
“Apa yang ingin kalian ketahui aku tidak bisa mengatakannya, tapi aku bisa memberitahukan kenapa anak buah Martin bisa seperti ini,”kata Rendi.”Apa yang bisa kamu beritahukan kepada kamu semua,”ucap Rong Shi.”Ternyata kalian ingin tahu, mereka adalah anak buah khusus. Berbeda dengan anak buah yang kalian temui mereka yang dibawa oleh Reli adalah anggota khusus yang sudah terlatih untuk menghadapi musuh yang sebenarnya,”kata Rendi menjelaskan sampai tontonan yang ditunggu datang.
__ADS_1
“Sudah tiba ya,”ucap Ezan yang melihat dengan mata berlinang air mata karena lama menuggu.”Apa kamu menuggu diriku lama,”ucap Iron dari belakang Ezan.”Apa kamu kembaran Martin,”kata Bazika. Ezan tersenyum,”Sampai mana kalian mendapatkan informasi.” Ezan dan Martin yang sedang dalam berbagi informasi hanya bisa tersenyum dan berkata sama lain.”Dia bodoh,”ucap Martin yang menutup matanya.”Mau aku bantu,”kata Martin lagi yang sudah membuat belahan jiwanya dan bersembunyi di tempat yang jauh dari formasi untuk melihat pertarungan keduanya.
“Untuk sekarang jangan, nanti saja,”kata Ezan.”Kenapa kamu diam saja apa itu benar,”kata Bazika yang merangkul Ezan. “Aku suka dengan dirimu yang seperti ini, membuat aku merasa bersemangat,”ucap Bazika dengan berbisik merdu di telinga Ezan.
“Siapa nama kamu sayang,”kata Bazika yang meraba tubuh Ezan. Ezan yang merasakan hanya bisa terdiam karena melihat aura mata yang tajam yang akan datang kesini jika aku membalas ucapan Bazika.”Dia datang, bersiaplah.. tamatlah dirimu,”ucap Martin yang sedang menuggu badai topan.
Prisila merasakan hawa dingin disekelilingnya saat dia dalam menjalankan tugas mendapatkan hatinya sedang dalam kondisi tidak baik. Membuat dia menggunakan jiwa penglihat yang sudah tersegel pada diri Ezan karena mereka berdua sudah terikat satu jiwa yang sama dalam satu ikatan hidup dan mati. Apa yang mereka rasakan akan bisa tersampaikan walaupun mereka saling berjauhan dan ditempat yang berbeda dipulau dan negara yang berbeda. Mereka akan bisa berhubungan satu sama lain, kerena ikatan jiwa mereka sudat terikat satu sama lain.
“Nona kamu mau kemana,”kata Popo.”Itu benar kamu mau kemana dengan wajah yang tidak enak dipandang saja,”kata Citra.”Mungkin saja dia ingin membunuh wanita ****** yang datang mengganggu Ezan,”kata PaTI.”Diam kalian,”ucpa Prisila yang marah.
“Selesaikan tugas yang ada disini dengan bersih, jangan sampai ada yang terlewatkan. Jika aku kembali belum selesai kalian akan mendapatkan hukuman,”kata Prisila dengan tajam dan ganas serta dingin. Prisila pergi menggunakan portal ruang dimensi untuk sampai ditempan Ezan.”Dia pergi dan kita mendapatkan sisa amarah Nona,”kata Popo.
“Mau bagaimana lagi jika sudah marah Nona tidak bisa dihentikan kecuali oleh Ezan,”kata Citra.”Apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Tapi apa yang terjadi Nons tidak biasanya dia marah seperti itu jika melihat ada wanita lain yang merayu Ezan,”kata Pati.
__ADS_1
“Aku juga ingin tahu, kenapa? Tapi kita harus menyelesaikan tugas ini dulu baru mencari tahu, dari pada nanti dapat hukuman,”kata Citra yang merasa dirinya sudah lelah.
“Aku ingin segera selesai semuanya,”kata Citra yang loyo. “Ok ayo kita selesaikan sebelum nona datang,”kata Popo yang menepuk punggung Citra.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Prisila yang sudah sampai ditempat dimana Ezan berada melihat wanita dibelakang Ezan yang sedang merangkulnya. Prisila dengan wajah dinginnya siap menembakan anak panah es tepat dihadapan wanita yang dibelakang Ezan.”Matilah dirimu,”ucap Prisila yang sudah menarik anak panah dan melepaskan panah es kearah Bazika.
Bazika yang merasakan hawa pembunuh dari orang lain menghindar dari serangan panah yang diberikan. Tapi Bazika yang tidak sadar kalau panah yang diberikan tidak hanya satu melainkan satu ribuh panah yang siap membunuh Bazika.”Sial apa ini semua,”ucap Bazika yang marah dan mengatifkan Api jiwa membara untuk menghancurkan panah seribu yang datang kepadanya.
Prisila turun dari langit dan menepuk tangannya,”Bagus bisa menghindar dan selamat dari panah yang aku berikan. Tidak aku sangka wanita ****** seperti kamu mengganggu kekasihku.”
“Siapa kamu,”kata Bazika dengan dingin tapi anggun.”Siapa aku tidak penting karena kamu akan mati disini sekarang juga,”kata Prisila yang sudah menyiapkan belahan dirinya dibelakang Bazika.”Nikmatilah hadiah kedua yang aku berikan kepada kamu,”kata Prisila yang menatap kearah Ezan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1