
Ulta melihat ke arah Martin dan Morgan yang bertanya dari pihak ayah atau ibu yang menjadi sepupunya. Ulta hanya tersenyum melihat mereka berdua yang sudah besar dan mengetahui kalau dia adalah pamannya.
“Dari pihak ayah,”ucap Ulta.
“Pihak ayah jadi itu kamu paman Ulta, kenapa paman bisa ada di sini. Seharusnya pakam ada di dunia alam semesta,”kata Morgan. Martin yang tidak tahu hanya mendengarkan sampai Mitra datang menghampirinya.
“Kamu baik-baik saja,”ucap Mitra yang langsung menyetuh wajah Martin. “Kamu tidak usah khawatir aku baik saja, karena semua sudah selesai,”ucap Martin yang merasa kalau dirinya sudah bisa untuk tidur beberapa tahun.
Tapi sebelum dia tertidur dia menepuk kakaknya yang sedang berbicara dengan paman Ulta. Morgan langsung menoleh ke arah Martin yang mulai pucat.
“Apa kamu akan tidur lagi?,”ucap Morgan yang tahu kalau kondisi adiknya belum pulih dari semua pertarungan yang menimpanya.
“Apa dia adik kamu,”ucap Ulta. “Iya dia Martin adikku yang berpisah karena ibu menyelamatkan diri saat ada penyerangan,”kata Morgan.
“Martin dia adalah paman Ulta saudara dari ayah,”ucap Morgan.
“Halo paman, saya Martin,”ucap Martin dengan suara rendah.
“Martin kamu sangat hebat, sudah bisa melatih mereka dengan sangat baik,”ucap Ulta.
“Yang melatih mereka tidak hanya diriku tapi masih ada saudara saya yang sudah lama pergi namanya Ezan,”ucap Martin.
“Apa yang kamu maksudkan?,”kata Ulta.
“Itu karena Martin memiliki saudara kembar yang bernama Ezan. Karen dia tidak ingin jiwanya diambil oleh pihak musuh untuk di teliti, maka dia meledakan diri dengan menyegel jiwanya,”ucap Prisila.
“Kamu mangatakan menyegel jiwanya dalam belenggu. Jika seperti itu dia tidak akan bisa berekernasi bukan,”kata Ulta.
“Itu benar, tapi dia memiliki keturunan. Erlan Sila ke sini, bertemu dengan kakak kamu,”ucap Prisila. Erlan dan Sila datang menyapa kakek Ulta dan kedua pamannya. “Mereka berdua,”ucap Ulta.
“Itu benar dia adalah cucuk anda darai Ezan dan saya,”kata Prisila.
“Kamu mengenalkan anak kamu tapi dirimu tidak kamu kenalkan,”kata Martin yang tersenyum.
“Itu benar ibu,”ucap Erlan dan Sila. “Aku belum memperkenalkan dirikah,”ucap Prisila yang tidak sadarkan diri.
“Belum,”ucap semuanya yang mendengarnya. “Maaf aku akan perkenalkan nama say Prisila istri darI Ezan saudara Martin,”ucap Prisila.
__ADS_1
“Tidak aku sangka Ezan yang sudah pergi sudah memiliki Istri tapi kenapa Martin dan Morgan belum memiliki keturunan,”ucap Ulta.
“Biarkan waktu yang mempertemukan,”ucap Martin yang sudah pada tahan dia ingin tidur. Saat semua sedang asik berbicara Prisila yang juga mengobrol dengan Bunga bersama Fira. Karena semua orang berkumpul di pulau bunga persik.
Ulta yang melihat sikap Martin menghampirinya dan menyentuh tangannya. Tapi sebelum dia menyentuh tangannya Martin sudah jatuh lemas Remon dan Rendi yang tahu kondisi Martin langsung cepat membantunya.
“Bunga,”ucap Remon.
Bunga yang sedang asik berbincang dengan teman yang lain dipanggi oleh seorang. Dia melihat ke arah suara dan melihat Martin tidak berdaya,”Apa yang sedang terjadi, bukannya dia baik-baik saja.”
Bunga yang melihat langsung datang bersama dengan yang lain lalu memeriksanya.”Ini,”ucap Bunga.
“Morgan apa kamu tahu apa yang terjadi dengan tubuh Martin kenapa semakin buruk berbeda saat dia terkena racun,”ucap Bunga. Sampai dia memikirkan sesuatu kalau ada yang aneh saat dia memeriksa kondisinya yang sudah stabil tapi ada yang ganjil.
“Apa mungkin dia sudah lama mengalami menurunan saat dia mendatkan racun,”ucap Bunga dengan suara kecil.
“Apa yang kamu katakan tubuh Martin belum bulih dari bencana dunia yang melanda,”kata Morgan.
“Jika memang dia belum pulih kenapa dia memaksa dirinya, apa lagi dia juga bertarung saat terjadi perselisihan, ditambah racun dan sekarang kejadian yang baru saja terjadi. Kamu itu kakaknya atau bukan,”ucap Bunga.
“Kenapa aku yang disalahkan,”ucap Morgan yang memalingkan wajahnya.
“Jika dia sudah di larang dia akan tetap sama untuk melakukannya,”ucap Morgan.
“Apa yang dia katakan memang benar, kita yang teman dan kekasihnya tidak bisa mengalahkan sifat keras kepala Martin,”ucap Remon.
“Dari pada itu bagaimana kondisinya sekarang Bunga,”Kata Izam yang dibelakang.
“Untuk sekarang dia harus beristirahat sampai kondisi tubuhnya pulih untuk beberapa bulan dan seterusnya dia dilarang menggunakan aura jiwanya untuk pemulihan agar tubuhnya benar pulih,”kata Bunga.
Setelah Martin dibawa ke kamar dimana vila bunga persik berada. Semua orang yang ada di pulau merayakan kemenangan dengan tidurnya Martin. Mitra yang darai teras kamar melihat mereka yang sedang bersenang-senang datanglah Morgan.
“Kamu tidak ingin bergabung dengan mereka Martin akan baik saja,”ucap Morgan yang bersama dengan Eza.
Eza datang menghampiri Mitra yang sedang ada di teras mengaja dia berkumpul dengan yang lain. Sedangkan Morgan yang duduk di dekat Martin hanya bisa mengelus dahinya dengan wajah yang tenang tanpa ada rasa gelisah.
“Apa yang kamu pikirkan,”ucap Prisila yang datang bersama dengan kedua anaknya. Erlan dan Sita datang dan langsung duduk di kasur dekat Martin.
__ADS_1
“Apa paman Martin akan baik-baik saja,”ucap Erlan yang tahu kalau kondisinya tidak baik.
“Kamu sama persis dengan Ezan yang tahu tentang medis,”ucap Morgan. “Tentu saja karena dia adalah ayahku,”kata Erlan.
Prisila yang datang duduk di samping Morgan. “Kamu bisa jujur karena aku adalah bagian dari keluarga ini. Apa kamu yakin dengan kondisi Martin akan baik dengan dia istirahat?,”ucap Prisila.
Morgan yang tahu kalau kondisi Martin tidak akan semudah itu kembali apa lagi dia pernah dua kali meledakan jiwanya saat melawan dewa agung dan bencana dunia. Di tambah lagi kondisi dia saat mengendalikan formasi, Morgan yang tidak tahu ingin berkata apa hanya terdiam sampai Prisila berkata.
“Aku tahu kalau kondisi dia tidak akan mudah pulih, tapi mungkin dia akan menjadi manusia bisanya setelah dia bangun,”kata Prisial. Morgan hanya tersenyum melihat Prsila,”Kamu sama persis dengan dia. Khawatir dengan kondisi kembarannya, tapi mau bagaimana lagi dia sudah memilih.”
Erlan dan Sila yang memengan tangan paman Martin masuk ke dalam lautan jiwanya. “Paman apa yang kamu lakukan di sana,”ucap Sila yang berlari ke arah Martin.
Martin yang melihat kedua anak Ezan datang kelautan jiwa miliknya hanya tersenyum.
“Kenapa kalian ke sini, bukannya menikmati suasana malam,”kata Martin.
“Itu banar hanya saja, paman Morgan dan ibu khawatir dengan paman Martin,”ucap Erlan yang berjalan perlahan ke arah Sila dan Martin.
“Mau bagaimana lagi kondisi paman yang sudah mencapai batas untuk istirahat,”kata Martin yang melihat mereka berdua yang tahu kondisi Martin dengan baik.
“Paman itu memang keras kepala ya,”ucap Sila.
“Mau bagaimana untuk mendapatkan kemangan paman harus melakukannya walupun paman harus mengorbankan jiwa paman sendiri,”kata Martin.
“Paman tidak apa-apa menjadi manusia biasa,”ucap Erlan dengan tatapan serius.
Iya paman tahu ada saatnya paman akan berjalan seperti biasanya,”ucap Martin.
Erlan menatap ke arah Sila yang berdekatan dengan Paman Martin.
“Apa kalian ingin menyegel jiwa paman,”ucap Martin yang langsung berbaring.
“Paman tahu yang ingin kami lakukan,”kata Sila yang terkejut bersama dengan Erlan kalua pamannya mengetahui apa yang mereka ingin lakukan.
“Lakukanlah paman sudah siap, tapi paman tidur ya. Paman capek,”ucap Martin dengan santai tertidur di hadapan mereka berdua dilautan jiwa.
Sila dan Erlan hanya melakukan yang terbaik untuk paman Martin agar dia tetap hidup dengan menyegel jiwa yang ada dalam tubuh paman Martin. Sampai selesai Erlan dan Sila langsung berbaring didekat pamannya di kanan dan kirinya. Tubuh mereka yang saling beristirahat setelah menyegel jiwa pamannya. Sementara Prisila dan Morgan yang melihat Erlan dan Sila hanya menghela nafas.
__ADS_1
“Anak kamu?,”ucap Morgan yang tersenyum.
“Mereka sama persis dengan Ezan, sama khawatir dengan Martin,”kata Prisila yang tersenyum. Merlihat Sila dan Erlan yang langsung tertidur di dekat Martin. Mereka berdua langsung meninggalkannnya untuk beristirahat sementara Morgan dan Prisila berjalan melihat mereka yang sedang menikmati malam.