
Tiga tahun telah berlalalu dimana semua perselisihan telah diselesaikan dan semua kekacauan telah berakkhir. Martin yang bersama dengan Morgan yang kembali dari pulau bunga persik bertemu dengan Meli dan Mela yang bersama dengan Mark.
“Martin,”ucap Meli yang langsung menuju kearah Martin.
“Hai kaka, bagaimana kambarnya,”ucap Martin yang juga mendekat.
“Pasti kamu Morgan kakak Martin,”kata Mela.
“Itu banar, terima kasih telah menjaga adik saya selama saya mencarinya,”kata Morgan yang menundukan kepalannya.
“Untuk apa kamu berterima kasih bukannya kita sekarang sudah menjadi keluarga,”kata Mela.
“Apa dia keponakanku,”ucap Morgan. “Tentu saja, dia Meti,”ucap Mela.
Tidak lama mereka berbincang Izam bersama Bunga datang bersama dan disusul oleh Roki dan Fira. “Kalian ada disini ternyata,”ucpa Roki yang berjalan ke arah mereka.
“Tidak sangka kiti bisa berkumpul bersama seperti ini kembali,”ucap Izam sambil merangkul Bunga.
“Yang sedang berbunga-bunga,”ucap Martin. Saat mereka sedang asik berbincang Mitra dan Eza datang bersama dengan paman Ulta.
“Kalian dari mana,”ucap Morgan kearah mereka bertiga.
“Jalan-jalan apa ada masalah,”ucap Eza.
“Kamu melihat Prisila,”ucap Martin yang tidak melihat dia.
“Prisila sedang membeli es krim untuk Erlan dan Sila bersama dengan Zainab,”kata Mitra.
Semua dengan kondisis yang tenang dan damai setelah apa yang terjadi. Martin, Roki dan Izam yang dulu berpisah kini kembali bertemu setelah apa yang terjadi.
Tapi dengan perubahan dari ketiganya mereka sudah memiliki pasangan hidup yang selalu bersama dengan berbagai pertemuan, penderitaan, perpisahan. Tapi akhirnya mereka bertemu Roki yang bersama deng Fira telah menikah satu tahun yang lalu dan disusul dengan Izam dan Bunga yang sudah bertunangan.
Martin dan Mitra yang sudah menjalin hubungan pernikahan jarak jauh kini bisa bersama kembali. Dengan suasana keluarga yang hangat dengan berkumpulnya orang yang berharga disekeliling mereka.
Saat semua sedang berkumpul mereka bertiga saling berbincang satu sama lain menikmati suasana yang lama tidak bertemu.
“Bagaimana kondisi kamu?,”ucap Izam.
“Kondisiku baik, hanya saja aku akan menjalani hidup yang normal,”kata Martin yang bersandar dikursi. Sampai Erlan dan Sila datang,”Paman Martin.”
__ADS_1
“Sudah beli es krimnya,”ucap Martin.
“Tentu saja, tapi apa yang paman lakukan disini. Dimana kakek Ulta sekarang,”ucap Sila.
“Dia sedang bersama dengan Morgan, kenapa apa ada hal yang ingin kamu tanyakan,”ucap Martin.
“Tidak, tapi kemi berdua ingin bicara dengan paman,”kata Erlan yang melihat sekelilingnya.
“Kita bicara nanti saja bagaimana, jika itu masalah kemarin,”kata Martin.
“Baik paman, jika seperti itu aku pergi menuju paman Morgan ya. Selamant menikmati perpincangannya,”kata Sila.
Erlan dan Sila yang sudah pergi mereka berbincang tentang masa lalu sampai hari menunjukkan sore hari dimana matahari terbenam. Mereka kembali berkumpul dengan yang lain di dalam rumah.”Kalian sudah kembali,”ucap semua orang yang menyambut mereka bertiga.
“Ada apa kamu menuggu kami,”ucap mereka bertiga. Dengan menatap pasangan mereka masing-masing. Nyaman dan damai mereka disambut dengan kehangat yang mereka sudah lupakan karena perselisihan yang terjadi dengan berbagai bencana derita dan musibah.
Tapi pada akhirnya semu telah berakhir dengan pasangan mereka masing-masing perteman yang selalu mereka jaga dengan berbagai lika-liku peristiwa.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Hangat dan nyaman mereka berkumpul di dalam keluarga dan persahabat yang selalu berpisah tanpa mereka sadari karena orang keempat telah berakhir. Dengan kemenangan mereka yang telah memusnahkan semua musuh yang datang dengan berbagai cobaan, perselisihan dan perpisahan. Mereka kembali bertemu kembali dengan tatapan saat mereka belum mengenal rasa benci. Pertemanan yang datang dan pergi tanpa kita sadari akan selalu ada. Sampai dimana mereka akan mengorbankan jiwa mereka hanya untuk kembali bersama dengan kekasih, keluarga, dan sahabat yang mereka sayangi.
Kebencian dalam pertemanan akan selalu ada tapi ada juga kebencian datang karena kita ingin mendukung sahabat kita dari jauh. Perpisahan akan selalu datang dari keluarga yang kita cintai, teman dan kekasih.
Sahabat yang sejatikan selalu ada saat kalian kesusahan, walaupun kalian tahu persahabatan ada saatnya perpisah tanpa ada yang tahu sebab dan akibat yang terjadi. Kenapa kita memiliki sahabat itu penting?Tapi ada juga sahabat yang selalu memanfaatkan kita dalam kondisi sata kita jaya dan saat kita jatuh mereka akan meninggalkannya.
Persahabat dan perselisisihan akan selalu berdampingan dengan seiring waktu berjalan.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
Langit yang indah dimana aku selalu menatap ke langit yang indah dimana hariku akan berjalan dengan damai. Setelah apa yang terjadi Martin yang sedang duduk di teras bersama dengan Erlan dan Sila yang memeriksa kondisi pamannya.”Apa paman tidak merasakan sakit lagi?,”ucap Erlan.
“Tidak hanya saja sedikit merasakan rasa sesak,”ucap Martin. Sampai Mitra datang mendengarnya,”Bagaimana kondisi paman kamu Sila?.”
“Bibi Mitra, sejak kapan disana?,”kata Sila.
“Sejak kalian keluar dari ruangan,”ucap Mitra yang berjalan dibelakang Martin dan kemudian dia merangkulnya dari belakang.
Martin yang memegang tangan Mitra saat dia merangkulnya.”Kamu tidak usah khawatir aku baik saja, yang penting kondisi kamu harus dijaga. Jangan sampai kelelahan, kamu tahukan,”ucap Martin.
__ADS_1
“Aku tahu,”ucap Mitra yang masih merangkulnya.
“Ayolah bibik paman jangan bermesraan di depan kami,”ucap Erlan.
“Kenapa?,”ucap Martin yang merasa senang melihat wajah kedua anak di depannya yang sedang cemburu.
Erlan dan Sila yang merasa kesal langsung meninggalkan mereka berdua yang sedang bermesrahan. Mitra langsung duduk di samping Martin menikmati malam bersama. Tanpa mereka sdarai kalua pembicaraan keduanya di dengar oleh Roki dan Izam dari aula tamu.
“Kapan waktu itu akan tiba?,”ucap Mitra yang bersandar di pelukan Martin.
“Tiga bulan lagi,”ucap Martin.
“Tiga bulan aku bisa bersama dengan kamu, kenapa waktu begitu cepat,”ucap Mitra yang meneteskan air mata.
Izam dan Roki yang mendengarnya terkejut hendak berjalan ke arah mreka yang ada di teras. Tapi paman Ulta dan Morgan menghentikannya.”Kalian ingin kemana,”ucap Prisila dari belakang mereka berdua.
“Kenapa kalian masih santai... apa kalian sudah tahu kalau dia akan pergi,”ucap Roki.
“Itu sudah takdirnya karena sama halnya dengan Ezan yang pergi setelah dia memiliki keturunan. Karena sejak awal mereka berdua tidak akan bisa hidup lama,”ucap Prisila yang sudah tahu semuanya.
“Kalian tahu tapi, kalian tidak ingin mengatakannya. Kenapa?,”ucap Izam.
“Kenapa karena kami ingin dia yang mengatakanny, kami tidak bisa memaksa keinginan dia bukan,”ucap Morgan.
“Apa yang kalian bicarakan,”uca[ Erlan dan Sila yang berjalan ke arah mereka.
“Kamu sudah datang,”ucap Morgan.
“Iya karena tidak ingin melihat kemesraan dua kekasih yang sedang merindu,”ucap Erlan dan Sila yang kemudian memalingkan wajahnya.
“Memang apa yang kalian lihat sampai berwajah seperti itu,”kata Zainab.
“Tidak ada,”ucap mereka berdua.
Roki dan Izam yang terdiam dan terpaku mendengar kalau Martin akan segera pergi. Setelah apa yang dia lakukan demi kami berdua. Dengan hati bertanya,”Kami belum membantu dia, tapi dia sudah mengorbankan semuanya hanya untuk kami. Kenapa dia melakukannya?.”
“Apa yang kalian berdua pikirkan?,”ucap Martin yang bersama dengan Mitra.
“Tidak ada,”ucap Prisila. Roki dan Izam hanya tersenyum melihat mereka berdua dengan wajah yang sudah ditebak oleh Martin. Tapi Martin tetep berpura-pura tidak tahu agar suasana tidak berubah menjadi sedih dengan apa yang akan terjadi tiga bulan lagi. Dimana persahabatan mereka akan meninggalkan luka setelah kepergian Martin karena sudah waktunya dia akan pergi meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
Semua beban pikiran dan pengorbanan yang dia lakukan sudah selesai setelah semua musuh sudah dihabisi dan dibersihkan Martin bisa kembali berkumpul dengan Ezan di lembah segel jiwa ruang dunia.
Tamat