
Bazika dan Iron yang terbangun dari mereka terjatuh berkata,”Dua wanita ****** kalian akan mati.”Prisila dan Bunga hanya saling mendang satu sama lain dengan berbagai pikiran yang membuat mereka binggung. Kemudian Bunga melirik ke arah Bazika dan Iron,”Apa yang kalian bicarakan?.”
“Untuk apa kamu berpura-pura tidak tahu kalau kalian memang wanita ******, pengganggu yang harus kami bunuh,”ucap Bazika yang tidak sabaran ingin membunuh mereka berdua.”Tunggu dulau,”ucap Iron yang menahan Bazika.”Kenapa kamu menahanku,”kata Bazika.
“Itu benar kenapa kamu menahan dia, jika ingin selesaikan, selesaikan saja sekarang kenapa harus berkata wanita ******,”kata Prisila yang tidak terima.”Kamu tidak terima,”ucap Bazika.”Jika iya apa ada masalah dengan dirimu yang wanita tidak tahu diri mengatakan kami berdua wanita ******,”kata Prisila.
Beberapa jam kemudian mereka berempat mendpatkan serangan kejutan dari Rio. Prisila yang merasakan hawa serangan yang datang dia menarik Bunga untuk menghindar sampai Bazika dan Iron juga menghidar dari sisa pertarungan Rio dan Remon. Saat bersamaan Bazika yang ingin menerang Prisila juga mendapatkan serangan yang tidak disangka yang membuat dia terpental mundur karena seragan Rio yang gagal mengenai lawanya
“Bagus Lemon,”ucap Prisila yang senang karena Bazika mendapatkan serangan yang tidak terduga dari kawannya sendiri. Bunga yang merasa ada sikap yang aneh dengan Prisila dia berkata,”Apa kamu mengenalnya?.”
“Tidak hanya berterima kasih saja mengurangi setengah dari kemampuan yang dia miliki,”kata Prisila dengan menunjuk ke arah Bazika.”Kamu itu,”ucap Bunga yang menggelengkan kepalanya. Hingga mereka berdua mendapat serangan petir tiba-tiba dari musuh yang masih berdiri. Bunga yang menyadari perubahan yang diberikan musuh bisa menghindar bersama dengan Prisila.
“Biarkan aku yang melawan dia,”ucap Bunga yang maju ke depan.”Ok aku serahkan dia kepada kamu, harus hati-hati ya dengan lawan kamu,”kata Prisila yang juga tidak mau kalah dan menyerang Bazika.
Bunga yang sedang berkelahi dengan Iron mendapatkan serangan dari musuh lain yang lebih rendah. Tapi Bunga yang sudah tahu juga sudah menyiapkan kejutan yang tidak terduga untuk mereka yang datang menyerang tiba-tiba dari belakang. “Jangan berharap kalian bisa lolos dari cengkraman bunga merambat,”kata hari Bunga yang sedang mengawasi pergerakan musuh.
__ADS_1
“Kamu hebat juga untuk pemimpin Organisasi Peneliti bisa bertarung sampai tahap seperti ini,”kata Iron dari samping. Bunga yang menyadari kehadirinya menghindar dan memberikan lemparan pisau kepada Iron. Tapi Iron yang juga melihat pergerakkan Bunga bisa menghindar dengan mudah dan membalas apa yang dia berikan dengan racun yang mematikan.
Bunga yang melihat angin yang berhembus kearahnya membuat formasi pelindung cahaya dari berbagai serangan seperti racun, pedang dan serangan fisik yang lain. Iron yang menyadari kalau lawanya bisa melihat keadaan angin membuat dia gagal menyerang Bunga dengan racun yang sudah disebarkan lewat udara. Tapi dia juga bisa membuat orang disekeliling juga mendapatkan akibatnya. Ezan yang menyadari serbuk racun dai musuh menyuruh Picu untuk menagkis racun tersebut dengan menyebarkan obat penawar.
Setelah memberitahu kepada Picu dia kembali melihat ke arah Roki dan Izam yang juga melihat Bunga sedang bertarung. Hingga Martin dan Ezan mandapatkan firasat buruk kalau ini semua adalah jebakan yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.”Semua anggota apa disini untuk mengepung,”kata Martin.”Tidak hanya yang utama disini, sebagain masih ditempat persembunyian dan mereka yang masih berlatih tidak menghadiri tempat ini,”kata Ezan.
“Aku memiliki firasat buruk, aku harus kembali ke pulau,”ucap Martin yang menghilangkan dengan bersamaan dengan kabut. Morgan yang menyadari kalau Martin kembali ke pulau datang berjalan menuju ke arah Ezan.”Kenapa dia kembali,”kata Morgan. Ezan yang menyembunyikan firasatnya meminta kakaknya untuk kembali ke pulau bersama kak Eza.
Tapi Morgan menola karena dia khawatir dengan Ezan.”Kakak kembalilah pulau membutuhkan kakak, aku takut jika terjadi sesuatu yang tidak kita sangka akan datang dan membuat Martin dan pulau dalam masalah,”kata Ezan melihat ke arah kakaknya.
“Kita tidak membantu Ezan,”kata Eza.”Tidak ada masalah di pulau yang harus kita tangani,”kata Morgan yang meninggalkan tempat bersama dengan Eza. Ezan yang melihat kakaknya pergi dengan Eza hanya bisa menghela nafas.”Sudah waktunya melakukan penyegelan,”kata Ezan.
“Prisila bantu aku menyegel kemampuan mereka dengan kemampuan ilahi sampai ke pulau,”kata Ezan yang bertelepati dengan Prisila. Prisila yang mendapatkan pesan dari Ezan terkejut dan melontarkan jurus terakhir untuk membunuh Bazika dengan seketika.”Apa maksud kamu ingin meninggalkan aku?,”kata Prisila yang menyerang secara babi buta dengan sangat kecam karena kata yang diucapkan oleh Ezan.
“Aku harus melakukannya karena dengan cara ini mereka yang aku sayangi bisa selamat dan hidup dengan baik,”kata Ezan.”Bukannya kamu juga harus ikut bahagia tapi kenapa harus orang lain,”kata Prisila yang sudah menusuk pedang dijantung Bazika dengan kejam.
__ADS_1
“Kamu bagaimana kamu bisa melakukan ini,”ucap Bazika sebelum dia tewas ditangan Prisila dengan aura gelap dan pekat dengan hawa pembunuh disekelilingnya. Anak buah tentara militer yang mendapatkan tekanan dari Prisila tidak bisa bertahan dengan baik dan terluka batin dari serangan yang dikeluarkan oleh Prisila. Sampai Ezan mengatakan,”Kendalikan dirimu?.”
“Bagaimana aku bisa mengendalikan diriku sementara kamu ingin pergi lagi,”kata Prisila yang menteskan air mata. “Maaf aku harus melakukannya, bantu aku menyimpan jiwaku di tempat yang sudah kita janjikan, bukannya anak kita sedang dalam keadaan sehat,”ucap Ezan yang berjalan menuju keramean. Hingga Roki menghentikan Ezan dengan dingin,”Kamu mau kemana?.”
“Untuk apa kamu ingin tahu urusanku. Jika ingin tahu dimana Martin berada dia tidak ada disini dia bersama kakaknya sekarang,”kata Ezan yang melepaskan pegangan tangan Roki. Tapi Izam yang ada didepannya juga menghadang Ezan.”Kamu saudaranya tapi aku tidak pernah bertemu dengan kamu,”kata Izam.”Bertemu atau tidak apa urusannya dengan kalian, tapi kalian masih memiliki utang yang harus kalian bayar bukan kepadaku,”kat Ezan yang mengyingkirkan Izam dihadapannya dengan mendorong dia ke samping. Tapi Izam tidak ingin menyingkir dan tetap berkata,”Jangan berharap bisa kabur jelaskan semuanya?.”
“Aku juga membutuhkan penjelaskan dari kamu,”kata Roki. “Aku selalu bertanya kepada kalian berdua. Kalian sahabat baik atau buruk datang ke hadapan Martin,”kata Ezan.
Roki yang tidak terima hendak ingin menusuk Ezan tapi dihadang oleh Prisila yang sudah sampai disamping Ezan.”Kamu ingin melihat saudara kembar Martin mati?,”ucap Prisila dengan dingin.
“Jika iya apa ada masalah. Karena dia Martin berubah,”kata Roki.”Yang berubah itu kalian bukan Martin. Kalian yang tidak tahu apa-apa menyerang kebarannya. Apa kalian tidak tahu malu,”ucap Prisila yang membela Ezan.
“Biarkan saja mereka jika ingin membunuhku,”kata Ezan yang tahu kalau sebentar lagi dia akan pergi dihapadan mereka berdua.”Lepaskan,”ucap Roki yang menghempaskan tangannya untuk melepaskan diri dari Prisila.
“Tapi bercuma saja jika kalian ingin membunuhku sekarang, bukannya kalian akan rugi dengan musuh yang datang kesini tidak diselesaikan,”kata Ezan.”Apa maksud kamu?,”ucap Izam di depannya.”Kamu akan tahu aku akan mati atau tidak setelah semua ini selesai,”ucap Ezan yang berjalan maju melewati Izam.
__ADS_1