
Anak buah Martin yang lewat mendengar percakapan Izam dan Roki yang ingin membantunya. Memberitahukan kepada mereka berdua untuk tidak khawatir kepada ketua mereka karena orang yang datang hanya akan mati sia-sia karena ketua mereja.”Apa yang kamu maksudkan kami tidak perlu menolong Martin?,”kata Roki yang melirik ke anak buah Martin yang membantu mereka.
“Dari pada kalian mengkhawatirkan ketua kami sebaiknya nyawa kalian yang diperhatikan. Jangan membuat ketua kami marah karena kalian tidak menyaingi nyawa yang telah diberikan kepada ketua kami,”kata anak buah yang maju ke depan untuk melawan musuh. “Tunggu apa maksud kamu,”ucap Roki yang tidak paham. Izam yang terdiam dan fokus melindungi Roki yang sedang terluka, tapi dia juga menyempatkan melihat Martin yang sedang bertarung dengan Kros.
“Kamu telah membunuh kawanku akan aku balas kamu,”ucap Kros yang sudah ada dihadapan Martin.”Aku kira tidak ada lagi yang akan datang, ternyata masih ada satu orang lagi,”ucap Ezan.”Kros kenapa kamu mencariku, sementara kamu bisa melarikan diri,”kata Ezan yang sudah disampingnya.
“Kamu kira aku siapa yang akan mundur setelah kawanku tewas,”kata Kros yang setia kawan. Ezan hanya senang melihat musuh yang sangat perduli dengan kawannya.”Aku terima tawaran kamu untuk berduel denganku. Tapi aku peringatkan kamu, jangan sampai kamu menyesal karena ulah kamu sendiri. Karena aku bukan orang yang seharusnya kamu lawan dan kamu bunuh,”kata Ezan yang pada posisi untuk bertarung.
Kros yang mendapatkan tantangan nyawa memulai pertarungan dengan Martin. Satu pukulan dan satu sebilah pedang yang memulai maju terlebih dahulu. Ezan yang menghindar dari satu pukulan sampai tebasan pedang yang diberikan oleh Kros. Ezan yang tidak mau kalah juga memberikan satu serangan dari belakang tapi dihindari oleh Kros yang sudah melihat gerak-gerik Ezan.”Lumayan juga anak ini,”ucap Ezan yang tersenyum.
“ini baru awal jadi kamu harus bersiap untuk kalah,”kata Ezan dari sampingnya. Kros yang tidak menyadari Ezan yang sedang ada disampingnya melontarkan pukulan untuk bertahan tapi dihindari dengan membungkukkan tubuhnya kebelakang. Setelah membungkukkan tubuhnya kebelakang dan dengan lanjutan kaki yang siap menghantam dagu Kros. Tapi Kros yang melihat menghindar dengan mundur beberapa langka dan menghembuskan pedang tepat dihadapan wajah Ezan.
Ezan yang menghindar dari tebasan pedang Kros menendang dia dengan kaki bawah dengan kedua tangan siap menjaga keseimbangan tubuh. Tapi usaha Ezan gagal dengan dilanjutkan dia menggunakan jarum yang selalu dia bawa. Jarum ia lontarkan kepada Kros yang hanya mengenai sedikit dari wajahnya karena meloloskan diri dari tangkisan pedan yang diberikan untuk perlindungan. Ezan tersenyum dan datang menghampiri dengan satai,”Apa kamu tidak ingin menyerah?.”
__ADS_1
“Jangan berharap aku menyerah untuk kawanku yang telah tewas,”kata Kros dengan percaya diri. Ezan yang mengeluarkan sebilah pisau maju dengan cepat untuk memotong leher Kros. Tapi Kros dengan cekatan menghindar setiap hempasan pisau yang mengarah ke arahnya. Tiba-tiba Ezan dibelakang Kros dan berkata,”Sudah waktunya kamu mati disini menyusul kawan kamu yang sudah lebih dulu tewas.”
Kros yang tidak ingin menyerah membalikkan tubuhnya dan siap menghempaskan pedang dihadapan Ezan. Tidak ada angin yang datang atau api, tubuh Kros merasa dicabik-cabik yang membuat dia jatuh lemas dihadapan lawannya.”Kenapa kamu jatuh apa tidak bisa kamu bertarung lagi,”ucap Ezan yang sudah tahu apa yang terjadi dengan tubuh musuhnya.
“Apa yang kamu berikan kepadaku,”kata Kros yang mencoba berdiri.”Tebaklah sendiri,”kata Ezan yang berjalan melewati Kros yang sudah tidak berdaya.Dalam hati Kros merasa kalau tubuhnya telah diracuni itu yang membuat dia tidak bisa bergerak,”Sejak kapan dia memberiku racun?.”
“Racun apa yang kamu gunakan,”kata Kros yang mencoba bertahan dari racun yang diberikan.”Racun apa,”kata Ezan yang menggelak.”Jangan bohong kamu memberikan aku racun bukan saat kita bertarung tadi,”kata Kros yang memuntahkan darah.
“Aku akan memberitahu kamu, asalkan kamu beritahu aku juga alasan kalian menginginkan nyawaku,”kata Ezan yang duduk jongkok dihadapan Kros yang sudah berbaring lemas.”Untuk apa kamu memberitahukan kamu,”kata Kros sambil melihat kebelakang Ezan yang sudah anak buahnya siap menyerang.”Apa kamu kira dengan anak buah kamu datang mereka bisa membunuhku, jangan terlalu berharap tinggi,”kata Ezan. Ezan yang tahu kalau dirinya diserang saat berbalik, tapi anak buahnya yang ada disekitarnya juga menjaga ketua mereka saat Ezan tidak ingin bertarung dnegan mereka.
“Kalian akan aku bunuh,”ucap mereka sebelum mereka tewas.”Sudah lihat bukan, apa yang terjadi dengan anak buah kamu sekarang. Jawab atau tidak ada dipilihan kamu karena tinggal menuggu waktu mengambil nyawa kamu,”kata Ezan. Kros yang batuk darah lagi tidak bisa berbuat apa-apa sampai dia ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba anak panah menusuk tubuh Kros.
Ezan berdiri dan menunduk untuk menghindar,”Tekanan ini... Reli jaga semua yang masih hidup sekarang.” Reli mendengar teriakan ketuanya dengan bersamaan dengan tekanan yang ada. Reli pergi bersama dengan anak buah yang masih ada membuat formasi pelindung.”Hai kalian anak buah Izam dan Roki yang masih hidup bersembunyilah dibelakang anak buahku. Jika kalian ingin hidup,”kara Reli dengan keras.
__ADS_1
Semua yang mendengar hanya bertanya-tanya,”Apa yang terjadi?.”Anak buah Martin yang bisa merasakan suasana yang ada hanya bisa berkata,”Kalian berkumpullah dengan ketua kalian masing-masing.”
“Apa maksud kamu kami takut dengan mereka,”ucap anak buah Izam.”Bukan takut atau tidak sebentar lagi akan ada musuh yang lebih kuat dari mereka yang akan datang membunuh kita jika tidak membuat pencegahan.”
“Jika memang mereka kuat bukannya seharusnya kita melawan bersama,”kata anak buah Izam yang masih tidak ingin berkumpul dan tetap ingin melawan bersama.”Kata siapa kami akan melawan mereka, yang datang bukanlah lawan yang kami bisa hadapi untuk kita semua makanya kita harus berkumpul pada satu titik, untuk pencegahan,”ucap anak Reli.
Setelah mendengar penjelasan mereka semua berkumpul menjadi satu lingkaran besar. Dengan titik kumpul paling luar adalah anak buah Martin yang dipimpin oleh Reli bagian selanjutnya anak buah Izam dan anak buah Roki setelah itu teman Martin yaitu Roki, Izam dan kawan yang lain.
“Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kita berkumpul menjadi satu lingkaran,”kata Izam.
“Ini untuk pencegahan jika tidak ada yang terluka,”ucap Mitra.”Tapi Martin belum ada disini,”kata Roki yang mencari keberadaan Martin yang masih diluar lingkaran.”Kalian tidak usah khawatir dengan ketua kami, mereka ketua dan wakil atau bawahan kepercayaan setiap wakil bisa menjaga diri mereka sendiri,”kata anak buah Martin yang membuat lingkaran melindungi sahabat ketua.
“Kamu yang anak buah Martin, sebenarnya apa yang terjadi dengan kondisi ini,”kata Izam yang ingin tahu.”Kalian akan tahu siapa yang akan datang dan lebih kuat dari kalian,”ucap anak buah Reli.
__ADS_1
“Apa itu juga termasuk tentara yang awalnya sembunyi dan menginginkan nyawa ketua kalian,”kata Samuel.