Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)
Pendekatan 3


__ADS_3

Izam yang merasa senang memiliki teman dan rekan yang bisa mendukung dia dengan berbagai cara. Walaupun Izam sendiri selalu melakukan kesalahan dengan egonya yang selalu berubah-ubah. Dengan hati yang tenang dan damai dia tersenyum karena kepercayaan yang diberikan oleh Mizuki dan Terko yang sudah mati karena dibunuh ternyata masih hidup bersama lagi dengan mereka.


Mizuki dan Terko yang melihat ke arat Izam membuat mereka bertanya.”Apa yang kamu pikirkan sampai melihat kami dengan penuh nafsu dan air mata,”kata Terko.


“Bukan kamu salah bukan penuh nafsu dan air mata tapi penuh kagaira,”kata Mizuki. Izam yang mendengat langsung memalingkan wajahnya dengan tatapan dingin dan acu tak acu pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kamu mau kemana Izam,”kata Terko. Izam hanya mengangkat tangannya tanpa berkata apa-apa. “Mungkin saja dia ingin menenangkan diri,”kata Mizuki.


Izam yang keluar dari ruangan menuju ke halaman dimana anggota semuanya sudah berkurang karena mereka semua sudah dibunuh oleh Organisasi Kegelapan Jiwa karena kesalahan yang aku buat. Izam menghela nafas sampai dia mendapatkan pesan dari nomer yang tidak dikenal.


“Siapa ini apa nomor iseng,”ucap Izam. Sampai Izam membuka pesannya yang memberitahukan kalau jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Izam hanya menatap pesan yang dia dapatkan dengan berbagai pertanyaan,”Siapa yang mengirim pesan dari kata ini dia mengetahui kalau aku dalam kondisi tidak baik. Yang tahu aku dalam kondisi ini adalah dua orang yang sekarang tidak ada disampingku sekarang. Apa ini Martin.”


Izam yang membalas pesannya dengan menyebut nama Martin. Tapi dia tidak membalas pesannya. Hingga seorang bertopeng datang yang menayakan nama Mizuki.”Dimana Mizuki,”ucap topeng kuning.


“Untuk apa kamu mancari Mizuki siapa kamu?,”kata Izam yang waspada dengan Rendi yang menggunakan topeng kuning.


“Berikan ini kepada dia. Bilang saja kalau teman hidup dan matinya memberikan ini. Untuk bantuan,”kata Rendi. Sampai Mizuki keluar karena mendengar suara,”Siapa yang kamu ajak bicara?.” Izam menoleh dan Rendi pergi begitu saja setelah memberikan data yang dibutuhkan untuk pencegahan.


“Ada seorang bertopeng kuning memberikan ini kepada kamu. Topeng kuning?,”kata Mizuki yang bingung.


“Dimana dia sekarang?,”kata Mizuki.”Dia tadi ada di sini dan sekarang sudah pergi,”ucap Izam ke depan dimana dia melihat topeng kuning.


Mizuki yang menerika kertas yang diberikan dan membacanya.”Ini kan,”ucap Mizuki yang kemudian melihat ke arah sekelilingnya.

__ADS_1


“Bos apa yang memberikan ini orang yang menggunakan topeng kuning atau orang lain,”ucap Mizuki.


“Orang bertopeng, kenapa apa dia musuh kamu?,”kata Izam.”Bukan dia bukan musuh. Kurasa dia orang yang aku kenal tapi tidak tahu yang mana. Apa dia memberitahukan namanya,”kata Mizuki.


“Tidak. Dia hanya berkata teman hidup dan mati bersama,”kata Izam. “Teman hidup dan mati bersama,”ucap Mizuki.


“Apa yang sedang kalian berdua lakukan,”ucap Terko dari belakang Mizuki.


“Tidak hanya saja kita mendapatkan bantuan kecil dari seorang,”kata Mizuki. “Apa yang kamu maksudkan?,”kata Izam.


Mizuki memberikan lembaran kertas itu kepada Izam untuk dibaca. Terko yang ingin tahu juga ingin membacanya bersama dengan Izam. Setelah membaca lembaran itu Izam melihat ke arah Mizuki,”Ini apa bisa di percaya?.”


Mizuki tersenyum kepada Izam sampai Terko berkata,”Ini memang bisa dipercaya jika data ini akurat dan tidak ada cela kalau yang memberikan ini akan membuat kita masuk perangkap.”


“Karena yang memberikan ini bisa jadi orang Martin,”kata Mizuki.


“Orang Martin,”kata Izam yang tidak percaya. Izam menghela nafas dan menatap ke arah mereka berdua yang percaya dengan data dari lembaran kertas yang diberikan oleh bertopeng kuning. “Baiklah aku percaya dengan kalian berdua. Jika tidak masalah dengan data yang diberikan,”ucap Izam.


Di tempat lain Martin yang sudah memberikan pesan kepada Izam untuk tidak khawatir juga menyuruh Rendi untuk memberikan data kepada mereka agar mereka bisa menyiapkan dengan matang pertempurannya.


“Kenapa kamu melamun,”ucap Morgan yang masuk ke dalam kamar Martin. Martin menoleh ke belakang dimana Morgan yang berjalan ke arahnya. Martin hanya tersenyum yang kemudian dia menatap ke arah teras.


Morgan yang berjalan kearahnya hanya bisa melihat Martin memandang teras yang menuju pemandangan luar. Dia menepuk bahu Martin sambil berkata,”Jika ada pikiran kamu bisa berbagi dengan kakak.”

__ADS_1


Martin melihat dengan senyuman yang tidak bisa percaya dengan katak kakaknya.”Untuk apa aku harus berbagi beban dengan kamu. Jika aku bisa menyelesaikan masalahnya sendiri,”kata Martin dengan percaya diri.


“Kamu bisa menyelesaikannya, tapi dengan resiko yang membuat khawatir orang terdekat kamu,”ucap Morgan dengan tatapan tajam.


“Iya..iya maaf,”kata Martin.”Aku tidak lagi memikirkan apa-apa hanya ingin merenung saja. Kakak tidak usah khawatir,”kata Martin lagi.


“Apa itu benar,”ucap Morgan yang masih tidak percaya karena perna dia ditempatkan di amrkas sendirian.”Martin hanya bisa tersenyum,”Iya aku baik saja, jika terjadi apa-apa aku akan bilang. Sementara itu Zen juga mengawasiku bukan,”kata Martin.


~ ~  ~ ~ ~  ~ ~ ~ ~


Roki bersama dengan kedua orang yang selalu bersamanya menuju ke keluarga Brata dengan berbagai rencana yang akan mereka ungkapkan di dalam acara malam ini. Kakek dan Fira yang bersama dengan Roki selalu mendukung rencana Roki yang sudah dia siapkan.


Perjalanan yang panjang menuju ke rumah utama dimana keluarga Brata.  Di tengah malam yang melewati jalan sepi dengan pencahayaan yang masih kurang dengan pohon yang berdiri disepanjang jalan. Mobil melaju ketempat acara.


Sampai waktu yang berjalan menuggu mereka bertiga sampai dilokasi acara dilaksanakan.”Maaf tuan sudah sampai di depan rumah utama,”kata sopir. Sampai mereka dihentikan oleh penjaga gerbang.”Tunjukan kertu undangan anda,”ucap penjaga. Roki mengeluarkan kartu undangannya,”Silakan masuk tuan.” Mobil kembali melaju menuju ke dalam rumah utama yang dimana mobil para tamu undangan sudah hadir.


Kakek keluar yang didampingi dengan Fira bersamanya, Roki yang keluar setelah mereka keluar berdiri dengan percaya diri dia merapikan pakaian yang ia kenakan. “Apa kakek sudah siap, kita masuk sekarang,”ucap Roki dengan santai.


Kakek hanya tersenyum dan Fira yang ada di sampingnya membantunya berjalan karena sudah tua. Roki yang berjalan di dekat kakek  menuju pintu utama dimana para tamu masuk ke dalam. Roki yang merasakan hawa busuk disekeliling rumah utama sudah menyuruh Yamato dan Kim untuk berjala diluar gerbang dan para penjaga yang bisa masuk secara diam-diam untuk memantau pergerakan musuh dengan hati-hati.


Sampai di depan pintu pelayan yang memeriksa kartu undangan dengan ramah berkata,”Maaf bisa tunjukan kartu undangan anda tuan.” Roki memberikan kartu undangannya dan pelayan memeriksanya sampai dia mengembalikan kartu undangannya dan mempersilakan kami bertiga masuk ke dalam.


Roki yang berjalan pelan bersama dengan kakak dan Fira didekatnya masuk ke aula utama tempat acara pesta dilaksanakan. Mereka yang melihat banyak tamu undangan bersama dengan Rere dan suaminya yang sudah datang di acara pesta lebih dahulu.

__ADS_1


“Apa kita perlu menyapa pemilik pesta kek?,”kata Roki yang menatap ke arah kakeknya. Kakek hanya tersenyum sampai paman dan Remon bersama dengan Dayati melihat mereka bertiga.


__ADS_2