
Mereka berdua yang sedang bersantai di ruang jiwa saling melihat apa yang akan terjadi ke depannya.”Apa yang harus kita lakukan setelah itu,”kata Gelap.”Bukanya kita harus mengumpulkan semua yang kita miliki,”kata Putih.
“Jadi akan dimulai lagi,”kata Gelap.”Tentu saja, jika aku mendapatkan tubuhku,”kata Putih.”Tapi bukannya ada yang aneh, kenapa tubuh kamu disegel dan tetap di tubuhku,”ucap Gelap.”Itu juga yang membuat aku bingung. Tapi setelah membaca buku itu. Aku baru saja sadar, kalau musuh yang kita miliki bukan sembarangan orang tapi melainkan musuh dari tempat lain,”kata Putih.
“Jika seperti itu kapan kamu akan kembali ke negara J,”kata Gelap.”Kapan aku bisa kembali, kapan tubuh aku bisa pulih sepenuhnya,”kata Putih.
Angin berhembus sejuk teras kamar Martin yang terbuka membuat dia merasa nyaman untuk tidur. Sedangkan Morgan yang sedang membaca catatan lama milik ayahnya mencari satu demi satu untuk memahaminya. Samapi dia meminta Bram mengambil semua buku yang disimpan di gudang untuk Morgan baca.
Morgan membaca buku yang ada di rumah untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dulu dan sekarang sekalian menemukan obat untuk Martin. Morgan berjalan kearah Martin yang sedang berbaring dan menyentuh dahinya untuk melihat suhu tubuhnya baik-baik saja.
“Kenapa kamu harus terluka,”kata Morgan sambil melihat kearah Martin yang berbaring.”Seharusnya aku yang berbaring bukan kamu. Tapi kenapa kamu harus mengorbankan nyawa kamu demi orang lain,”kata Morgan yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.
“Tuan makanan anda sudah siap,”ucap Bram yang masuk kedalam.”Aku mengerti aku akan turun,”kata Morgan yang berjalan keluar ruangan. Martin yang sudah menuggu Morgan pergi membuka matanya. Dia berjalan darai kasur menuju lukisan yang sudah di pasang. Martin mengambilnya dan melepaskan segel yang ada cahaya yang keluar dari lukisan menampakan wujudnya dengan tubuh yang sama dengan tubuh dirinya. “Sudah ayo kamu keluar,”kata Gelap. Putih keluar dari Jiwa Martin dan masuk kedalam tubuhnya sendiri. Walaupun belum terbiasa dia bisa menggerakkan tubuh yang selama ini disegel.”Apa kamu baik-baik saja,”kata Martin Gelap. “tentu saja,”ucap Martin putih kembarannya. Membuka matanya dan melihat gelap ada disampingnya.”Kita harus putuskan siapa yang ada disini dan diluar,”kata Gelap.
“Kamu saja yang memutuskan,”ucap Putih. Mereka berdua si kembar Martin yang sudah kembali mendapatkan apa yang mereka inginkan untuk melakukan rencana yang sudah disiapkan.”Penghancuran akan dimulai,”kata Martin Putih.
__ADS_1
“Sebelum kamu pergi, bantu aku menyembuhkan lukaku,”kata Gelap.”Jadi aku yang pergi ini,”kata Putih yang bangun dari tempat tidur.”Iya aku masih ingin mengenal kakakku, bukannya kamu sudah mengenalnya,”kata Martin Gelap.
“Ok,”ucap Martin Putih yang melepaskan segel pada diri Martin gelap dan menyembuhkan luka dan memulihkan jiwanya.”Sudah,”kata Putih yang mendengar langkah kaki.”Aku akan pergi sekarang dan panggil aku Ezan mulai sekarang,”kata Ezan kembaran Martin.”Sampai jumpa,”kata Ezan yang pergi.
Sedangkan Martin kembali ketempat tidur untuk tidur kembali tapi karena jiwanya sudah kembali dia masih ingin memulihkan tenaganya dengan tidur untuk beberapa hari. Morgan masuk kedalam dan melihat sekitarnya kalau tidak ada yang berubah.
Tapi Morgan yang merasakan ada yang berbeda dengan apa yang dia rasakan dia berjalan kearah Martin yang masih berbaring ditempat yang sama.”Apa kamu masih tertidur,”kata Morgan.”Kuras aiya,”ucap Morgan yang kembali duduk untuk membaca bukunya.
Sedangkan Ezan kembaran Martin yang sudah pergi ke negara J.”Akhirnya aku bisa menghirup udara yang segar lagi,”kata Ezan.”Lama tidak bertemu tuan muda Ezan,”ucap Mio.”Iya lama, bagaimana kabar kamu”kata Ezan.”Baik hanya saja kamu ingin kembali ke markas atau bertemu dengan kedua kakak anda,”kata Mio.
“Aku akan pergi sekarang, lakukan tugas yang telah diberikan,”ucap Ezan. Mio pergi meninggalkan Ezan sendirian. Ezan yang berjalan pergi ke markas preman selatan. Tapi hal yang tidak terduga Ezan bertemu dengan anak buah Izam yang sedang berkeliling. Karena Ezan tidak ada urusan dengan mereka hanya melewat begitu saja sedangkan anak buah Izam juga pergi begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa. Sampai Ezan melihat Izam bersama dengan seorang gadis,”Bunga.”
Ezan yang awalnya tidak ingin menghampirinya tiba-tiba dari belakang dia mendengar suara langkah kaki yang membuat dia menoleh kebelakang.”Martin,”ucap Roki yang terkejut.”Hai, Roki lama tidak bertemu ya,”kata Ezan. Roki yang melihat langsung memeluknya didepan umum sambil menangis.”Kemana saja kamu kenapa kamu baru muncul,”kata Roki yang gembira tapi juga sedih.
Sedangkan Izam dan Bunga yang melihat juga merasa terkejut dan berjalan menuju kearah mereka berdua.”Bagaimana kabar kamu,”ucap Izam. “Aku baik saja. tapi Roki bisa tidak kamu lepaskan pelukan kamu,”kata Ezan.
__ADS_1
“Tentu saja,”kata Roki yang merangkulnya.”Ayo kita makan bersama karena kita sudah berkumpul lagi,”kata Roki yang bahagia. Roki menarik Martin untuk duduk,”Apa yang ingin kamu pesan?.” Ezan hanya menundukkan kelapanya sampai dia berkata,”Kamu sudah menemukan dalang darai perselisihan kita.”
Semuanya kembali terdiam,”Apa yang kamu maksudkan?.”Aku hanya bertanya apa sudah bertemu dengan orang yang membuat kita menjadi musuh,”kata Ezan.”Kenapa kamu bertanya seperti itu setelah kita lama tidak bertemu,”ucap Roki yang mulai gelisah.
“Apa yang salah dengan ucapanku,”kat Ezan.”Apa yang kamu katakan tidak ada yang salah. Tapi bukannya kamu harus menjelaskan apa yang terjadi dengan anak buah kamu yeng menyerang markasku,”kata Izam. “Apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti. Anak buahku menyerang markas kamu sementara aku baru saja balik darai negara K,”kata Ezan.
“Apa kamu berpura-pura bodoh dengan apa yang kamu katakan,”ucap Izam yang tidak percaya.”Tunggu ayolah kalian berdua jangan bahas ini lagi. Kitakan sedang dalam reuni,”kata Rok yang menengahi.”Untuk apa kamu menengahi kami,”kata Ezan yang berubah sikap.
Roki berdiri dan berkata,”Kenapa kamu berubah Martin. Aku kecewa dengan kamu.” Ezan hanya tersenyum melihatnya,”Kecewa karena aku. Utang sudah aku lunasi apa lagi yang perlu aku khawatirkan sudah berakhir saat kamu egois karena kamu mementingkan diri kamu sendiri.”
“Apa maksud kamu,”ucap Roki.”Tidak ada,”ucap Ezan.”Aku tunggu kamu di tempat kita mulai berselisih,”ucap Ezan yang berdiri.”Jadi ini adalah keputusan yang kamu pilih,”kata Izam.”Tidak juga hanya saja aku merasa ada yang harus kamu khawatir dari pada diriku,”kata Ezan yang hendak berjalan pergi menjauh dari mereka bertiga.
“Tidak aku sangka kalau perubahan teman kalian sangat mengerikan,”kata Bunga.”Apa yang sebenarnya yang dialami oleh Martin saat dia di negara K,”kata Roki.”Aku tidak tahu tapi aku harus menerima tawaran yang diberikan kepadaku,”ucap Izam.”Jangan apa kamu serius melakukannya,”kata Roki. Roki berdiri bersama dengan Bunga,”Aku pergi dulu.”
“Kamu mau pergi kemana,”kata Roki.”Ketempat yang membuat pikiranku tenang,”ucap Izam.”Lain kali kita bertemu lagi ya,”ucap Izam lagi. Mereka berpisah satu sama lain.”Bukannya ada yang aneh dengan teman kamu Martin,”kata Bunga.”Jadi kamu menyadarinya. Dia seperti khawatir akan sesuatu,”kata Izam yang tadi memperhatikan Martin.
__ADS_1
Di tempat lain Ezan yang sedang berjalan berhenti di gang yang sepi menyambut tentara yang sudah memantau dia dari jauh.”Sampai kapan kalian akan terus mengikutiku,”kata Ezan.”Tidak aku sangka kamu bisa tahu kehadiran kami,”kata tentara.”Apa yang ingin kalian inginkan dariku,”kata Ezan.”Apa yang aku inginkan adalah nyawa kamu,”ucap tentara yang sudah mulai menyerang terlebih dahulu.