Melupakanmu

Melupakanmu
Kau Tidak Pantas


__ADS_3

"Mengapa ini ada di tanganmu?" Si pemilik dompet mengarahkan dompet tepat didepan wajah Ariani. Ketegangan di halte itu semakin menjadi, Ariani semakin tersudut saat si pemilik dompet menginterogasinya, semua mata tertuju oleh situasi di sana merasa penasaran dan ingin tahu alias kepo. Namun ada pula yang nampak cuek tak ingin ikut campur dengan kegaduhan di halte itu. Ariani nampak keringat dingin saat ia tahu Elma dan teman-temannya berdiri mengelilinginya dengan pandangan menghujam, ia berusaha menarik suara ingin membela diri namum baru saja membuka mulutnya tiba-tiba Elma menarik tangannya menjauh dari kerumunan. Elma menatapnya dengan sorot mata tajam tak bersahabat.


"Mengapa kau selalu datang mengganggu hidupku?" Elma mendorong pundak Ariani hingga kaki Ariani sedikit mundur kebelakang, kehadiran Ariani seolah menjadi biang sial untuknya.


"Sudah bagus kau berada di desa, mengapa kau kembali hah?! Apa upah di kandang ayam tidak mencukupi kebutuhanmu lalu kau kembali ke kota ini dengan bekerja beralih menjadi seorang pencuri?!" Elma menuding wajah Ariani lurus dengan telunjuknya, menatapnya dengan penuh kebencian terlihat ia mengeratkan giginya. Elma seperti lupa dengan pertemanannya bersama Ariani saat masih sekolah, kebersamaan yang begitu indah seakan hilang dari ingatan semenjak dalam hatinya muncul kekhawatiran bahwa Ariani akan merebut kekasihnya.


"Tutup mulutmu Elma, aku tidak melakukannya. Bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk mencuri." Ingin sekali Ariani menabok mulut jahat Elma, ia tak habis pikir mengapa Elma selalu berprasangka buruk padanya. Bisa-bisanya Elma percaya dengan tuduhan itu, padahal mereka telah berteman lama.


"Lalu mengapa dompet itu ada di tanganmu?!" Suara Elma membentak hingga Ariani sedikit tersentak kaget.


"Dompet itu jatuh tepat di sebelahku, aku mengambilnya berniat mengembalikannya. Percayalah padaku, kita sudah berteman sejak lama. Aku tidak berbohong, kau pun tahu itu." Ariani berusaha meyakinkan Elma untuk berhenti menuduhnya. Setidaknya mereka pernah berteman, ia yakin Elma pasti sudah tahu dirinya seperti apa.


"Kau mengenalnya El? Apa dia temanmu?" Tiba-tiba kedua teman Elma datang mendengar pembicaraan mereka. Elma terlihat gusar dengan kedatangan temannya yang tiba-tiba, kemudian ia melirik Ariani dengan pandangan sinis. Ariani menatap Elma dengan binar berharap mendapatkan pembelaan tapi apa yang ia dengar tidak sesuai dengan yang ia harapkan.


"Tidak, aku tidak mengenalnya, dia hanya mengaku ngaku saja." Dengan sombongnya Elma tidak menganggap Ariani sebagai temannya, ia memalingkan wajahnya seperti jijik melihat Ariani. Ariani terperangah tak percaya Elma tak menganggapnya sebagai teman, jangankan teman, Elma memandangnya bagaikan orang asing.


Jadi kau sudah tidak menganggapku sebagai temanmu, disaat aku membutuhkan pertolonganmu kau berlagak tidak mengenalku. Tega.


Mata Ariani mulai berkaca-kaca, Elma benar-benar berubah. Merasa semakin terpojok dengan pengakuan Elma, Ariani tetap berusaha tegar mempertahankan bahwa ia tidak bersalah, meskipun hatinya hancur.


"Lalu harus kita apakan wanita ini? Apa perlu kita membawanya ke kantor polisi?" Si pemilik dompet bersuara, mata Ariani membelalak disertai gelengan kepalanya memohon jangan lakukan hal itu.


"Tidak perlu, kalian tunggu disini sebentar." Elma menarik baju Ariani membawanya menjauh lagi, ia tersenyum miring setelah muncul sebuah rencana di kepalanya untuk Ariani.


"Kau boleh pergi." Ariani nampak tersenyum lega, ternyata Elma menyelamatkannya.


"Terimakasih Elma, aku tahu kau memang teman yang baik." Ariani menggenggam tangan Elma ingin berterimakasih namun segera ditepis oleh Elma.


"Cih. Aku belum selesai, kau boleh pergi asalkan kau mau melakukan apa yang aku katakan."

__ADS_1


Apa lagi ini? Ariani tidak mengerti apa lagi yang ingin Elma inginkan darinya.


"Memohonlah, katakan kau menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi, setelah itu aku akan melepaskanmu. Ayo berlutut." Elma melancarkan rencana busuknya.


"Elma, aku tidak mencuri." Ariani menolak, dengan nada pelan tapi sedikit menekan ia meyakinkan Elma kembali untuk percaya padanya.


"Lakukan saja atau aku akan membawamu ke penjara." Elma balik mengancam, benar-benar ingin merendahkan Ariani serendah rendahnya. Ariani menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya dengan kuat menahan rasa sakit di dadanya.


"Aku menyesal, aku tidak akan mengulanginya. Kumohon maafkan aku." Dengan susah payah Ariani menekuk lututnya dan berlutut, Ariani menarik nafas dalam lalu meminta maaf atas perbuatan yang ia sendiri tidak melakukannya.


Elma tersenyum puas karena rencananya mempermalukan Ariani berhasil. Kedua teman Elma membulatkan mata, tercengang dengan yang dilakukan Ariani.


''Apa harus ia diperlakukan seperti itu?'' Salah seorang teman bertanya pada si pemilik dompet, ia merasa iba melihat Ariani.


"Bagus, sekarang kau boleh pergi.'' Elma menepuk pundak Ariani lalu menyuruhnya pergi. Tapi ternyata Ariani diam ditempat tak bergerak sedikitpun.


''Kenapa? Cepat pergi sana, tunggu apa lagi.'' Elma mengibaskan tangannya mengusir Ariani, akan tetapi Ariani masih mematung, menatap Elma dengan tatapan tak terbaca lalu tersenyum. Senyum yang mengungkapkan kekecewaan.


''Ingat Elma, kau ini wanita berpendidikan tetapi kelakuanmu tidak mencerminkan itu.''


''Kau bicara apa?'' Elma melotot tak terima dengan ucapan Ariani.


''Aku tahu kau melakukan itu padaku karena kau masih belum memaafkan ku tentang hari itu, kau takut aku akan merebut kekasihmu?'' Ariani sendiri merasakan perasaan Elma, ia tahu bagaimana perasaannya jika ia di posisinya. Elma diam.


''Akan ku pastikan itu tidak akan terjadi.'' Ariani meyakinkan Elma, ingin mencoba berdamai dengan temannya.


''Kau bisa berkata seperti itu di depanku, tapi aku ragu kau akan menusukku dari belakang. Ryan itu lelaki sempurna, dia tampan dan dari keluarga berada. Kau tidak akan mungkin menolaknya.''


''Bukankah kalian akan segera menikah, mengapa kau masih mengungkit masa lalu? Kau pikir hanya dia lelaki yang sempurna di dunia ini? aku juga bisa mendapatkan yang seperti itu kalau aku mau.'' Apa belum cukup selama ini Ariani mengasingkan diri demi menghindari bertemu dengan Ryan, tapi kenyataannya sekarang Elma masih terus mengungkitnya. Dasar wanita.

__ADS_1


''Oya? Kau ini sudah miskin tetapi sombong. Buktikan kalau kau bisa mendapatkan lelaki yang lebih hebat dari Ryan.'' Elma terus menyerang Ariani, kedua temannya yang ada di halte saling melirik melihat Elma dan Ariani saling sahut. Mereka tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan karena kebisingan kendaraan yang lumayan ramai.


''Baik, akan ku tunjukkan padamu. Asal kau tahu aku juga sudah punya kekasih.'' Ariani mengaku sudah memiliki kekasih demi meredam kecemburuan Elma.


''Oya? Pria mana yang mau jadi kekasihmu? Apa dia kaya? Tampan? Jangan-jangan kekasihmu itu pria tua dan jelek.'' Elma tergelak dan mengejek.


''Ini bukan masalah harta dan rupa.'' Ariani membela diri.


"Dengar Ariani, hidup ini kejam bukan? Dari dulu hidupmu itu miskin dan tidak berubah sampai sekarang. Cari pria kaya agar bisa mencukupimu. Hidupmu akan terjamin daripada kau melakukan pekerjaan kotor ini."


"Jadi kau masih tidak percaya padaku?!" Ariani sudah mulai kesal Elma tidak mempercayai kejujurannya.


"Kepercayaan ku hilang sejak kau mencoba merebut Ryan dariku. Seharusnya kau tahu diri untuk tidak menunjukkan wajahmu di hadapanku, kau tidak jauh berbeda dengan wanita murahan diluar sana."


"Jaga bicaramu." Ariani mengeratkan giginya, ia tak terima dengan semua karangan Elma.


"Cih. wanita sepertimu memang tidak tahu malu, sudah miskin pendidikan tidak tinggi bahkan pekerjaan pun sulit masih saja sok suci. Bermimpilah mendapatkan pria mapan seperti Ryan. Tidak, kau tidak pantas mendapatkan pria kaya, kecuali pria jelek atau pria tua mungkin mereka lebih pantas denganmu." Elma tergelak puas menghina Ariani.


"Kau pasti iri denganku kan? Sebentar lagi Ryan akan menikahiku, apa mungkin kau bisa mendapatkan lelaki sebaik Ryan? Mungkin saja..." ucapan Elma menggantung.


"Tapi hanya dalam mimpimu." Elma melenggang pergi bersama teman-temannya, meninggalkan Ariani bersama luka hatinya. Ia merasa puas sudah merendahkan Ariani. Ariani hanya bisa diam mengepalkan tangannya tak melawan, mencoba sabar membiarkan Elma menghinanya di jalanan ramai.


Setelah Elma pergi Ariani ambruk duduk di atas trotoar tak menghiraukan orang berlalu lalang melewatinya dan melihatnya bagaikan orang susah, air matanya menetes tak terasa jatuh di pipinya.


Pandangan mata Ariani kosong hingga ia tak fokus melakukan pekerjaannya, kejadian di halte itu membuat Ariani datang terlambat. Untung saja ia tidak kena marah oleh bosnya.


Apa benar aku tidak pantas mendapatkan pria kaya?


Ariani teringat ucapan Elma yang intinya gadis miskin sepertinya tidak pantas mendapatkan pria kaya nan tampan. Seketika Ariani teringat kekasihnya, Dirga. Ia membuka ponsel miliknya membaca pesan masuk dari Dirga, Ariani tersenyum Dirga mengabarkan bahwa ia sudah keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Dirga.


__ADS_2