Melupakanmu

Melupakanmu
Ryan Menemui Dirga


__ADS_3

Seorang pria membuka pintu kamar rawat Dirga, ia berjalan perlahan masuk kedalam ruangan yang sudah terlihat remang dengan pencahayaan lampu tidur di samping tempat tidur. Pandangan matanya tertuju pada Dirga yang tengah memejamkan mata seperti sudah terlelap.


Dia sudah tidur.


"Ternyata benar, kau sedang menginap di rumah sakit." Suaranya pelan tidak ingin orang yang tertidur di hadapannya merasa terusik, orang yang menemui Dirga itu adalah Ryan. Setelah mendengar berita yang tidak sengaja ia dengar dari Bella yang bergosip, Ryan mencoba mencari tahu tempat dimana Dirga dirawat. Malam itu Ryan menghampiri Bella dan teman-temannya yang sedang menghabiskan waktu di klab malam.


"Dimana Dirga dirawat?" Ryan mengejutkan Bella, Bella memperhatikan wajah orang yang tidak ia kenal tiba-tiba menanyakan soal Dirga, siapa lelaki ini?


"Kau siapa?" Bella tak serta merta percaya memberikan informasi kepada orang asing didepannya.


"Saya temannya." Bella diam sejenak seperti terpana melihat ketampanan lelaki di depannya.


Lumayan.


Bella memandang wajah Ryan yang menurutnya tampan. Hingga Ryan menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahnya menyadarkan Bella dari kekagumannya. Kemudian Bella memberitahu informasi padanya.


....


Ryan melihat Dirga dari ujung kepala hingga kaki dan kini matanya tertuju pada salah satu kaki Dirga yang dibalut perban mengintip di balik selimut.


Ryan mengepalkan tangannya mengingat kembali buku harian Tomi yang ia baca, ia menerka Tomi yang telah membuat Dirga celaka.


"Aku kemari ingin melihat keadaanmu. Maaf, aku baru mengetahui kabarmu." Dilihatnya Dirga masih memejamkan mata. Ryan memiliki rasa peduli dengan yang Dirga alami, ia tidak merasa dendam dengan apa yang sudah Dirga lakukan padanya hari itu, ia mengakui memang ini adalah kesalahannya.


"Aku datang ingin menceritakan sesuatu yang terjadi antara aku dan Ariani." Meskipun Dirga tertidur dalam hatinya Ryan berharap Dirga dapat mendengarnya.


"Sebenarnya malam itu Ariani akan memberikan jawaban atas pernyataan cintaku padanya, aku tidak tahu ada hubungan apa di antara kalian. Tetapi melihat kedekatan kalian itu cukup mengganggu pikiranku, hingga aku tahu kenyataan kalau Ariani menyukaiku dan saat itu aku berniat merebutnya darimu." Ryan mengungkapkan rasa penasarannya saat itu, apa benar Ariani menyukainya. Dan saat tahu Ariani tengah dekat dengan Dirga timbul rasa cemburu dalam dirinya, ia pun tak mengerti.


"Tapi mungkin aku salah sangka, Ariani menolak perasaanku dengan alasan aku sudah bertunangan." Ryan tersenyum kecut mengingat peristiwa itu, benar dia telah melakukan hal bodoh. Ryan membuang nafas kasar.


"Aku akui, mungkin aku serakah. Aku ingin mendapatkan Ariani tetapi aku juga tidak bisa memutuskan tunangan ku. Pada akhirnya kekasihku mengetahui rencana ku, ia menuduh Ariani lalu merundungnya. Aku minta maaf karena tidak bisa berbuat banyak." Ryan malu menceritakan kebodohannya yang hanya diam tidak ada gerakan membela Ariani saat itu, ia menyesal. Pengecut mungkin itu sebutan yang pantas untuknya.


"Dan sekarang Ariani membenciku, aku terima itu." Ryan menerima jika hal itu terjadi. Ryan masih berdiri mematung melihat mata Dirga yang masih terpejam.


"Pertahankan dia jika kau benar-benar mencintainya, lindungi dia." Ryan sepertinya tidak ingin lagi mengganggu hubungan Dirga dan Ariani, mengejarnya pun percuma karena Tomi juga menyukai Ariani. Ryan memilih persahabatannya utuh daripada hancur karena seorang wanita. Bukan hanya itu, Ryan lebih memikirkan keselamatan Ariani karena ia sudah tahu kejahatan Tomi.


"Satu lagi, aku juga ingin meminta maaf atas perbuatan yang Tomi lakukan padamu. Ku harap kau mau memaafkannya." Ryan menyiratkan permintaan maafnya tentang kejahatan Tomi yang hampir merenggut nyawa Dirga.


Setelah selesai mengungkapkan isi hatinya Ryan pergi meninggalkan Dirga yang diam tak bergerak dengan mata masih terpejam, namun saat pintu itu tertutup Dirga membuka matanya. Ternyata sebenarnya Dirga tidak tidur, diam-diam ia mendengarkan semuanya. Ia mengepalkan tangannya lalu memukul kasur.


....


Ariani berjalan terburu-buru, kini ia sudah berada di rumah sakit ingin menemui Dirga. Ariani mengikuti kata hatinya untuk bertemu karena selama bekerja ia tidak berhenti memikirkan Dirga. Pikirannya ingin segera sampai hingga ia tak sengaja bertabrakan dengan Ryan karena tidak fokus melihat arah depan.

__ADS_1


Bruk...! Ariani terhempas menabrak lelaki yang pernah dicintainya.


"Kak Ryan?" Ariani membelalakkan mata.


"Ariani?" Ryan yang juga terkejut tak menyangka akan bertemu Ariani. Sejenak mereka bersi tatap.


Tidak, aku harus pergi sekarang.


Ariani tersadar lalu bangkit mengambil ancang-ancang untuk pergi, akan tetapi Ryan dengan cepat menahannya.


"Bisa kita bicara."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, masalah kita sudah selesai." Ariani berusaha tegas menolak permintaan Ryan.


"Kau ingin menemui Dirga?"


*Dia tahu darimana?


Ariani diam tak menjawab, ia memalingkan wajahnya saat Ryan menatapnya dalam menunggu jawabannya. Tahu Ariani tidak nyaman ditatap Ryan mengalihkan pandangannya, kemudian ia menarik nafas dan membuangnya kasar.


"Aku minta maaf dengan segala kesalahan yang pernah aku lakukan padamu." Ryan jujur mengakui kesalahannya.


"Aku sudah melupakan kejadian itu, jadi aku mohon untuk tidak mengungkitnya lagi."


Ariani berusaha melepaskan tangan Ryan yang menggenggamnya cukup kuat.


"Kumohon lepaskan aku, aku harus pergi." Ryan melihat wajah Ariani yang memohon, ia langsung melepaskan genggamannya.


"Terimakasih." Ariani menunduk lalu mundur kemudian ia pergi meninggalkan Ryan yang terpaku.


Setelah ia bisa lari akhirnya Ariani masuk kedalam kamar Dirga, ia menyender di pintu mengatur nafasnya yang terengah-engah habis lari, ia tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya. Ariani melihat ruangan yang hanya diterangi cahaya lampu tidur, lalu ia menuju tempat tidur tetapi tidak melihat Dirga disana.


"Kemana dia?" Ariani menuju tempat tidur yang kosong, tidak lama kemudian ia mendengar bunyi benda jatuh dari belakangnya.


"Dirga kau di situ." Saat berbalik Ariani melihat Dirga yang tengah duduk di sofa, Dirga sengaja menjatuhkan tongkat bantu jalannya.


"Mengapa belum tidur?" Ariani mengambil tongkat lalu ikut duduk di sebelah Dirga dengan mengambil jarak. Ariani sedikit terkejut saat melihat ada perubahan dengan tampilan rambut Dirga.


Eh, sudah potong rambut rupanya.


"Kau darimana? Mengapa datang selarut ini?" Seperti biasa Dirga selalu punya pertanyaan sendiri tanpa harus menjawab pertanyaan Ariani terlebih dahulu.


"Aku baru pulang kerja."

__ADS_1


"Apa kau berlari dari tempat kerjamu kesini?" Saat Ariani baru datang Dirga melihat Ariani menyandar pintu dengan nafas terengah-engah, ia menyangka pasti Ariani habis bertemu Ryan.


"Tidak mungkin kan jaraknya jauh, hanya saja tadi aku terburu-buru kesini dan aku lari." Ariani berbohong, padahal ia bertemu Ryan. Orang yang ingin ia hindari.


"Sungguh?" Dirga menengok ke arahnya dengan sorot mata berbicara, awas ya kalau bohong.


Kau pasti bertemu lelaki itu, iya kan?


"Sungguh." Ariani terpaksa berbohong demi Menghindari kemarahan Dirga. Dirga diam tak bereaksi lagi.


"Kau sudah bisa berjalan dengan tongkat ya. Apa ini sulit?" Ariani memberikan tongkat milik Dirga, ia membayangkan Dirga berjalan menggunakan tongkat.


"Hemm... Mulai sekarang aku harus terbiasa melakukannya."


"Besok aku pulang." Dirga memberitahu Ariani tentang kepulangannya.


"Benarkah, syukurlah." Ariani mengembangkan senyum bersyukur dengan kondisi Dirga yang membaik.


"Apa kau akan menemui ku?"


"Untuk apa?" Jawaban Ariani membuat Dirga mendengus.


"Kau lupa dengan kesepakatan kita? Kau jangan coba lari ya!" Dirga menuntut Ariani harus menjalani hukumannya. Ariani tak menjawab, ia malah menatap nanar lelaki di depannya, ada rasa iba melihat lelaki tinggi nan gagah di sebelahnya harus menghadapi cobaan seperti ini. Belum cukup Dirga juga harus menerima hubungannya dengan Bella berakhir.


Dirga sebenarnya kesepian*.


Ucapan Dara terngiang-ngiang di telinganya.


"Kenapa diam?" Dirga yang tadinya menatap layar ponsel menengok ke arahnya, ia merasa aneh dengan tingkah ariani yang tiba-tiba diam.


"Aku akan menyempatkan waktu menemui mu". Ariani menunduk, sebenarnya ia ingin menangis namun ia tahan agar air matanya tidak jatuh. Ariani merasa terenyuh, dibalik sikapnya yang keras ternyata sebenarnya Dirga orang yang kesepian.


"Sudah malam, tidurlah." Ariani menyuruh Dirga untuk tidur, entah memang sudah mengantuk atau apa kali ini Dirga menuruti ucapan Ariani. Dirga menaruh handphonenya.


Dirga bangkit berdiri dengan susah payah berpegangan dengan tongkat, Ariani mendekat ingin membantunya berjalan menuju tempat tidur.


"Biar aku saja." Dirga menolak dibantu. Tapi Ariani tak bergerak tetap memegang tangan Dirga, ia berpegang teguh ingin membantunya.


"Aku bilang biar aku saja, aku bisa sendiri." Dirga mulai meninggikan suaranya.


"Tidak." Ariani menggeleng.


"Minggir!" Dirga ingin berjalan tanpa bantuan Ariani, ia tidak sengaja mencekal genggaman tangan Ariani dengan kuat hingga membuat Ariani terhempas dan jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2