
Hambar, begitulah yang Ariani rasakan hidup bersama Dirga, tinggal dalam satu atap namun sikap Dirga belum ada perubahan, masih menyebalkan dan membuatnya kesal.
Sudah hampir satu bulan pernikahan Ariani masih bertahan menemani Dirga dengan kesabaran yang tidak terbatas, dengan telaten ia merawat suaminya walau harus makan hati, Ariani mencoba menjalaninya meskipun Dirga sengaja membuatnya tidak betah. Bahkan saat ayah Dirga menanyakan kabar Ariani selalu menampilkan senyuman terbaik dan mengatakan aku baik-baik saja, Galih dan Maya sudah kembali ke kota mereka saat kondisi Galih sudah dinyatakan baik.
Galih dan Maya sempat menginap di rumah Dirga walau hanya beberapa hari. Ariani tak merasa kesepian saat Galih dan Maya ada di rumah, karena pada saat itu juga Dirga libur membuat masalah dengannya, dihadapan ayahnya Dirga berlaku baik terhadap Ariani. Kini hanya tinggal mereka berdua dan Ariani harus menambah stok sabar. Tanpa sepengetahuan Dirga, Ariani menangis dikamar mandi melepaskan kekesalan dan kesedihannya yang sudah tidak tertahan. Akan tetapi tanpa sepengetahuan Ariani pula dibalik angkuhnya sikap Dirga, ternyata diam-diam Dirga tidak pernah melepaskan perhatiannya pada Ariani. Seperti saat Ariani terlelap ditengah malam Dirga membetulkan selimut yang jatuh lalu menyelimuti Ariani dari dinginnya malam. Dan pada saat Ariani memasak atau membersihkan rumah Dirga mencuri pandang memperhatikan Ariani yang tengah bekerja, sebenarnya ia tidak tega melihat Ariani kelelahan mengurus rumah sendirian. Namun saat membayangkan kedekatan Ariani dan Ryan rasa cemburu itu muncul menguasai hatinya sehingga ia sengaja membuat Ariani sibuk agar ia bisa menghindarinya.
"Lama sekali." Dirga melihat jam dinding menunggu Ariani pulang. Ariani sedang keluar katanya ingin pergi belanja. Waktu sudah menunjukkan sore hari dan cuaca yang saat siang hari terik berubah menjadi hujan deras sore itu.
"Sebenarnya ia pergi kemana?" Muncul rasa khawatir dalam diri Dirga karena Ariani belum juga pulang ditambah cuaca yang tiba-tiba hujan, Dirga mencoba menghubungi Ariani namun ia mendengar suara dering ponsel Ariani yang tergeletak di meja makan.
"Gadis ceroboh, pergi tidak membawa ponsel." Dirga mengeram kesal.
Sementara Ariani yang terjebak hujan masih berada di minimarket berdiri di pinggiran toko menunggu hujan reda.
"Hujannya deras sekali." Ariani memeluk tubuhnya, mengusap usap lengannya yang tersapu angin bercampur air.
"Apa yang sedang Dirga lakukan ya?" Tiba-tiba Ariani teringat Dirga.
"Kasihan dia sendirian." Ariani termenung memikirkan Dirga yang ia tinggalkan di rumah sendirian. Bagaimana kalau Dirga membutuhkan sesuatu?
"Kenapa aku mengkhawatirkannya? Disini lebih lama setidaknya aku tidak mendengar omelan nya kan." Ariani tersenyum getir.
"Sampai kapan kau terus menyebalkan." Ariani jongkok dengan menopang dagunya, ia mengingat kenangannya bersama Dirga.
"Kemana Dirga yang aku kenal?" Ariani merindukan Dirga yang dulu, yang menatapnya hangat dan bersikap manis yang selalu memberi kejutan meskipun hal kecil namun mampu membuat ia bahagia. Ariani tersenyum membayangkan kembali kenangan indah bersama Dirga, tak terasa ia menitikan air mata.
"Aku tidak membencimu, walaupun kau terus menyakitiku." Ariani menangis mengenang masa indah itu, ia tidak menghiraukan ada orang di sana yang melihatnya menangis, setelah itu Ariani berdiri lalu meninggalkan minimarket menerobos hujan yang masih deras, ia lari sampai halte dekat minimarket dan menunggu taksi.
...
Ceklek! Ariani membuka pintu dengan pelan, ia berjalan mengendap dengan rambut dan pakaian yang basah.
"Baru pulang." Suara Dirga menggema mengagetkan Ariani dan menghentikan langkahnya, Dirga duduk di ruang tengah.
"Iya, maaf tadi hujan dan aku lupa membawa payung." Dirga melihat baju Ariani basah.
"Lain kali kalau pergi ponsel jangan ditinggal." Dirga melempar handuk dan dengan sigap langsung ditangkap Ariani, dari kata-katanya ia mengingatkan Ariani untuk membawa ponsel saat sedang pergi agar ia bisa menghubunginya.
Ariani mengangguk, ia mendengar akan tetapi pikirannya masih mencerna mengapa Dirga menyediakan handuk untuknya.
"Cepat bersihkan badanmu." Dirga kemudian membuka laptop.
__ADS_1
"Cepat kembali, aku lapar." Dirga kembali menghentikan langkah Ariani.
"Baik." Ariani mengerti kemudian menuju kamar untuk membersihkan diri.
"Ternyata ia masih punya rasa peduli." Didalam kamar mandi Ariani memeluk handuk yang Dirga lempar, ia bahagia dengan perhatian kecil yang mungkin tidak sengaja Dirga lakukan tetapi sangat berarti baginya.
...
Ariani sedang memasak untuk makan malam, sedangkan Dirga masih duduk diruang tengah sedang fokus menatap laptop. Ariani yang sedang mengiris bawang sesekali melirik Dirga yang terlihat fokus melihat layar.
Jadi seperti itu wajahmu kalau sedang serius, rahang yang tegas dengan alis hampir menyatu.
Merasa diperhatikan Dirga menengok Ariani, sejurus dengan itu Ariani kembali menunduk melanjutkan aktifitasnya. Lalu Dirga kembali ke pekerjaannya, seperti terpesona dengan ketampanan Dirga, Ariani kembali mencuri pandang menatap suaminya.
Haissh...! Mengapa dia terlihat sangat tampan. Tapi sayang, galak.
Tangan kemana mata kemana, Ariani tidak fokus memotong bawang sampai tidak sengaja mengiris jarinya sendiri. Srett!!
"Aduh!!..." Ariani meringis, mengibaskan jarinya yang teriris pisau.
"Kenapa?"
"Dirga?" Ariani terkejut tiba-tiba Dirga sudah disampingnya.
Apa ini nyata? Dirga, kau bilang kau sudah tidak peduli tapi mengapa kini kau menunjukkan perhatianmu?
Ariani terpaku, ia menatap Dirga yang terlihat khawatir. Ia merasa tersentuh dengan perlakuan Dirga yang lembut.
Ariani terpana dengan perlakuan Dirga hingga akhirnya membuat Dirga tersadar dengan apa yang dilakukannya lalu dengan segera Dirga melepaskan tangan Ariani.
"Cepat obati lukamu." Dirga beranjak pergi meninggalkan Ariani, akan tetapi baru selangkah ia melangkah tiba-tiba Ariani menghambur memeluknya dari belakang.
"Lepaskan." Nada suara Dirga tegas.
"Tolong, biarkan seperti ini." Tangan Ariani melingkar di perut Dirga, ia tidak peduli Dirga akan marah ataupun membentaknya. Ariani menyembunyikan wajahnya di punggung Dirga. Dirga terdiam, ia melihat jari jemari Ariani yang berlumur darah dan juga mengotori bajunya.
"Aku merindukanmu." Suara isak terdengar, Dirga melirik ke arah belakang. Ariani tak bisa menahan kerinduannya, ia menangis.
"Hentikan Ariani." Dirga menggenggam tangan Ariani.
"Maaf, maafkan aku, berapa kali kau memintaku untuk mengatakannya akan aku lakukan asal kau mau memaafkan ku." Dirga menghela nafas mendengar suara tangis Ariani.
__ADS_1
"Ayo kita perbaiki hubungan ini. Jangan membuatku tak betah, sungguh aku tidak sanggup kau mendiamkan ku seperti ini." Ariani semakin terisak, ia tak tahu apa alasan Dirga mendiamkannya begitu lama.
"Katakan apa salahku?" Kini Ariani berdiri menghadap pria yang sering membuatnya menangis, Ariani menatap Dirga masih dengan derai air matanya.
"Kau ingin tahu?" Dirga membalas tatapan Ariani, pandangan mereka beradu.
"Hatimu, aku ragu dengan hatimu." Dirga menunjuk dada Ariani, Ariani tak mengerti mengapa Dirga masih meragukan ketulusannya.
"Aku mencintaimu, apa kau tidak melihat aku hanya datang untukmu?" Ariani menggenggam erat tangan Dirga dan menatapnya sendu.
"Dengan mudahnya kau mengatakan kau mencintaiku, tapi kenyataannya kau mengkhianati ku." Dirga menepis tangan Ariani. Ariani terperangah tak percaya Dirga menuduhnya seperti itu, rasa perih luka di jari sudah tidak ia rasakan yang ada rasa sakit karena orang yang ia cintai meragukan cintanya.
"Tidak, sekalipun aku tidak pernah mengkhianatimu, tidak ada nama lain semenjak aku mencintaimu." Ariani meyakinkan, Dirga tersenyum sinis.
"Sungguh? Lalu apa yang kau lakukan disaat aku tidak ada? Kau menemui Ryan dibelakang ku, kau masih mencintainya?" Dirga mengungkapkan inti masalah yang lama ia simpan.
Ryan?
Seingat Ariani bertemu dengan Ryan itu sudah lama, sebelum mereka menikah.
"Jadi malam itu kamu melihat aku bersamanya?"
"Kenapa? Kau terkejut karena aku tahu semua kebohongan mu." Ada sesuatu yang menyayat hati Ariani, Dirga menuduhnya pembohong. Ariani pergi ke kamar meninggalkan Dirga yang tengah diselimuti kecemburuan.
"Ini, malam itu dia memberikannya padaku." Ariani memberi undangan pernikahan Ryan dan Elma yang ia simpan. Dirga membukanya kemudian ia mengerutkan keningnya.
Mengapa hari pernikahannya bisa sama dengan pernikahan ku dan Ariani?
Ariani melihat ekspresi Dirga dan ia mengerti apa yang Dirga pikirkan.
"Tadinya aku ingin mengajakmu datang bersama, tetapi kau yang mempercepat hari pernikahan kita."
"Mengapa kau tidak memberitahuku?" Dirga menutup kertas undangan dengan bicara tanpa melihat Ariani.
"Kau yang sulit aku dekati, aku tidak berani karena saat itu kau benar-benar berubah."
Ariani kembali menatap Dirga, lalu ia menangkup pipi Dirga dengan kedua tangannya, ia sedikit membelainya berupaya menenangkan hati Dirga, kini mereka saling menatap. Ariani tersenyum seraya menundukkan wajahnya.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan." Sekarang Ariani balik bertanya pada Dirga.
"Terlepas dari keinginan orangtuamu yang ingin melihatmu segera menikah, apakah hidup bersamaku adalah tujuanmu?"
__ADS_1
Bersambung...