
Bella mendatangi tempat kerja Dirga yang sudah satu minggu tidak ditemuinya, ia merasa ada perubahan dari kekasihnya. Dirga yang seolah sudah tidak menunjukkan perhatian padanya menghilang tanpa kabar, di telepon tak diangkat, mengirim pesan pun tak dibalas, jangankan dibalas dibaca pun tidak.
"Dimana Dirga?" Bella datang dengan penampilan yang paripurna membuat pelayan toko pria yang ditanyainya melongo.
Cantiknya...
''Hei, kau dengar tidak. Dimana bos mu?!'' Bella melantangkan suaranya hampir terdengar membentak, membuat pria itu gelagapan. Tapi sebelum si pria itu menjawab Indah datang menghampiri mereka.
''Maaf pak William sedang ada rapat, anda bisa menunggunya disini.'' Indah yang kebetulan berada di sana memberitahu situasi yang terjadi.
''Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga.'' Tanpa aba-aba Bella menerobos masuk hingga lengannya bersenggolan dengan lengan Indah.
''Nona, anda tidak bisa berbuat seperti ini seenaknya. Saya sudah mengatakan kalau pak William Dirga sedang rapat dan tidak boleh diganggu.'' Indah mengejar mencoba memberi peringatan bahwa bosnya memang sedang sibuk.
"Aku kekasihnya, biarkan aku masuk."
Memangnya kenapa kalau kau kekasihnya?
Indah hanya bisa memaki Bella dari dalam hati, ia tahu Bella memang sering datang ke toko menemui Dirga tapi Indah tidak suka dengan sifat Bella yang sombong dan angkuh. Dan pada akhirnya Indah yang kalah, Bella berhasil menerobos masuk ke ruangan Dirga.
Ceklek...
Pintu ruangan dibuka oleh Bella membuat semua orang yang ada di dalamnya menengok, Bella yang tadinya tidak percaya ucapan Indah menjadi kikuk karena Dirga memang sedang ada tamu dan membicarakan pekerjaan. Dilihatnya ekspresi Dirga yang hanya diam melihat kehadirannya dengan tatapan tidak terbaca.
Apa dia marah padaku?
''Ada apa ini?'' Bian yang merasa terganggu menghampiri Bella menanyakan kebisingan yang terjadi, ia merasa geram juga mengapa Bella tiba-tiba datang tanpa permisi mengacaukan rapat.
''Maaf Pak Bian, saya sudah memberitahu nona ini tapi dia tetap menerobos masuk." Indah mengungkap semuanya. Lalu Bian memberi isyarat padanya untuk kembali bekerja kemudian ia menarik tangan Bella menggeretnya menjauhi ruangan.
''Hah, mengganggu saja. Ada perlu apa kau kemari?" Bian mengeluarkan kata-kata sedikit pedas didengar, ia merasa tidak suka dengan kehadiran Bella karena sudah mengganggu pekerjaannya.
"Aku ingin bertemu kekasih ku." Bella melipat kedua lengannya kedepan, menjawab dengan cuek.
"Kau tidak dengar kalau Dirga sedang ada meeting? Maka dari itu silakan kau tunggu dia sampai selesai, bisa?" Bian berlalu begitu saja meninggalkan Bella, ia tidak ingin berlama-lama adu mulut dengannya. Dan akhirnya Bella terpaksa menunggu Dirga menyelesaikan meeting nya. Sambil menunggu Bella keliling melihat isi toko sepatu milik Dirga yang cukup besar dan ramai pengunjung, ia tersenyum miring membayangkan masa depannya dengan Dirga yang cukup cerah.
Jika aku menikah dengannya, hidupku pasti berjalan mulus. Dirga akan memenuhi segala keinginanku.
Namun seketika Bella terdiam teringat ucapan Dara tempo hari yang perlahan-lahan terbukti, apakah Dirga benar mencintainya? Tapi mengapa saat ini hubungan mereka kian hari kian merenggang tanpa sebab. Hari ini Bella menemui Dirga untuk membuktikannya, sekaligus memulai rencana yang sudah ia siapkan.
"Ada apa?" Dirga yang entah sejak kapan datang sudah berdiri dihadapannya yang tentu membuat Bella terkaget.
__ADS_1
"Aku ingin makan siang denganmu, kita sudah lama tidak bertemu. Ayo." Bella memulai rencananya, Dirga melihat jam tangan menunjukkan waktu makan siang.
"Hemm..." Dirga menuruti permintaan Bella karena dirinya juga belum makan, akhirnya mereka pun pergi ke restoran yang Bella tunjuk untuk tempat menyantap makan siang mereka.
"Sayang, apa kau sangat sibuk hingga kau tidak pernah menjawab telepon ku?" Bella memulai pembicaraan mereka di tengah aktifitas makannya, Dirga tak menjawab malah asik sendiri menikmati makanannya.
"Ya, aku sibuk. Ada beberapa hal yang harus aku urus." Setelah menghabiskan makanannya ia baru mengeluarkan suara.
"Apa ini masalah pekerjaan?" Bella menatap Dirga dengan sorot mata selidik, Dirga yang mendapat tatapan seperti itu tahu. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Bella ketahui darinya.
"Habiskan dulu makananmu."
"Suapi aku." Bella meminta Dirga menyuapinya.
Ck... Dengan terpaksa Dirga menuruti kemauan Bella, Dirga mengambil sendok miliknya lalu menyendok makanan di piring Bella. Saat sendok itu tepat didepan mulut Bella, Dirga teringat kembali momen dirinya saat menyuapi Ariani dan itu membuat sendok tertahan masuk ke mulut Bella.
Happ! Tak sabar menunggu mulut Bella maju mengambil suapan Dirga yang tertahan, seketika Dirga tersadar dari lamunannya.
"Makan dari tanganmu ternyata lebih nikmat ya." Bella mengacungkan jempol menampilkan senyuman cerianya, Dirga yang sedang menahan gemuruh didalam hatinya hanya diam tak menanggapi apa-apa.
Setelah selesai menghabiskan waktu menemani Bella jalan-jalan dan shoping, Dirga mengantarnya pulang. Singkat cerita mereka tiba di kediaman Bella, Bella sebenarnya berasal dari keluarga berada tapi masih kalah jika dibandingkan keluarga Dirga dan Tama.
"Ayo masuk."
"Mengapa kau selalu menolak saat aku memintamu datang ke rumahku?" wajah Bella berubah murung.
"Baiklah." Lagi-lagi Dirga mengalah mengikuti keinginan Bella, dibalik itu Bella tersenyum puas karena rencananya pasti akan berhasil.
Dirga masuk kedalam rumah Bella terlihat sepi.
Sepi sekali
"Rumah ini sepi, mana keluargamu? ibumu?" Dirga menanyakan ibu Bella karena ia pernah menjenguknya saat sedang dirawat.
"Ayahku sedang ada tugas di luar kota dan ibu menemani beliau." Bella ke dapur mengambil minuman kaleng dingin beserta camilan nya, lalu ia pergi ke kamarnya. Dirga melihat minuman yang dibawakan Bella untuknya merasa heran mengapa Bella memberikan minuman beralkohol padanya. Tak ambil pusing Dirga meneguk sedikit sambil menunggu Bella, tak lama kemudian Bella keluar dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda. Ia memakai baju rumahan yang terbuka kelewat seksi. Dirga terkejut dengan apa yang ia lihat, tak menyangka Bella tidak ada rasa malu berpakaian seperti itu dihadapannya.
"Apa itu tidak terlalu terbuka?"
"Aku sudah terbiasa memakainya didalam rumah, tidak apa-apa kan? Lagipula kau kan kekasihku." Bella duduk di samping dirga lalu menghambur memeluknya. Dirga membeku, otaknya terus mencoba untuk tetap sadar. Kemudian Bella mengambil minumannya, Dirga terkejut melihat Bella yang dengan santainya meminum minuman memabukkan itu.
"Aku pulang." Dirga berdiri beranjak pergi, namun dari belakang Bella memeluknya menahannya untuk pergi.
__ADS_1
"Jangan pergi." Dirga terdiam.
"Aku harus pulang, lepaskan." Dirga mencoba melepas tangan Bella yang erat memeluk perutnya.
"Tidak, kau boleh pulang asalkan... " Bella menarik tangan Dirga untuk berbalik berdiri berhadapan, kemudian ia mengalungkan tangannya di leher Dirga
"Cium aku." Dengan nada nakal Bella ingin Dirga menciumnya.
"Ck... Sudahlah aku harus pulang." Dirga malas meladeni keinginan Bella.
"Ayo lakukan sayang, kita ini kekasih kan? Tapi sampai sekarang kau belum pernah memberikannya padaku, cium aku." Dirga terdiam menatap Bella yang penuh harap mendapatkan apa yang ia inginkan. Benar, selama berpacaran Dirga belum sekalipun memberikan ciumannya hingga akhirnya Bella yang tidak tahu malu menagihnya karena status hubungan mereka yang sudah resmi pacaran.
Dirga menatap Bella dan dibalas olehnya, tangan Dirga menyusuri pipi mulus Bella lalu berhenti di dagu. Dirga mulai memajukan wajahnya dan Bella mulai menutup matanya bersiap menerima Dirga mendaratkan bibirnya.
Akhirnya apa yang aku ragukan tidak terbukti, Dara kau hanya menakutiku kan?
Dalam hati Bella tertawa merasa menang karena semua perkiraan Dara ternyata salah.
Dirga menatap wajah Bella mulai dari mata, hidung lalu turun ke bibir. Hatinya berkecamuk karena sampai sekarang ia masih belum memiliki perasaan cinta untuk Bella dan belum bisa melupakan Ariani wanita yang di cintai nya.
Bibir ini, akankah sama rasanya dengan bibirmu. Ariani?
Dirga bergelut dengan hatinya, tampaknya ia tak rela harus melakukannya jika bukan dengan Ariani. Mengapa jantungnya tidak berdebar saat bersama Bella? Sedangkan bersama Ariani Dirga dibuat frustasi menahan gejolak di hatinya.
"Aku tidak bisa." Dirga melepaskan tangan Bella yang masih bergelayut di lehernya.
"Kenapa?" Bella nampak kecewa, Dirga tidak tergoda olehnya.
"Aku banyak pikiran, aku pergi sekarang." Selangkah Dirga keluar ruangan tapi Bella menghalangi jalannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Bella merentangkan kedua tangannya menahan Dirga pergi.
"Tidak ada."
"Bohong, kau memikirkan pelayan sialan itu kan?" Merasa terusik Dirga menatap tajam Bella, mengapa tiba-tiba Bella menyebut pelayan cafe?
"Kau bicara apa?!" Dirga meyakinkan seseorang yang sedang dibicarakan Bella adalah Ariani, tapi ia masih berusaha menutupinya.
"Dirga, aku tahu kau menyukai wanita kampung yang pernah bekerja di cafe milik dara itu. Iya kan? Kau masih memikirkan wanita sialan itu?" Bella merasa geram karena rencananya gagal, ia merendahkan Ariani di hadapan Dirga.
"Tutup mulutmu!" Dirga meradang, ia tidak terima saat Bella menghina Ariani.
__ADS_1
"Apa yang dimiliki wanita miskin itu sampai kau bisa jatuh cinta pada wanita sepertinya, dia tidak sepadan denganmu. Aku, aku yang lebih pantas untukmu. Kau kekasihku, mulai sekarang lupakan wanita sialan itu!"