Melupakanmu

Melupakanmu
Kirani Jatuh Pingsan


__ADS_3

Hari demi hari dilalui Ariani dengan rutinitas yang sama, berjualan mie dan kopi untuk menghidupi keluarganya.Dengan kehidupannya yang berada di pelosok desa, apa lagi yang bisa ia lakukan selain berjualan karena ia tak memiliki keterampilan ataupun keahlian,hanya itu yang dapat ia lakukan. Dengan lelah yang kadang menderanya ia berjuang sendiri dan entah mungkin sampai titik penghabisan perjuangannya, seberapapun hasil yang ia dapat tetap disyukurinya meskipun mungkin tidak bisa mengangkat derajatnya dari pandangan orang yang merendahkan nya.


Ariani yang sudah berada di teras rumahnya hendak berangkat, Tiba-tiba mendengar suara benda jatuh dari dalam rumah.


Bruk...


"Rani..!!!" suara jeritan ibunya mengejutkan Ariani yang langsung berlari kedalam dan membiarkan sepedanya jatuh ke tanah. Ariani membulatkan matanya,dilihat nya Kirani tidak sadarkan diri dengan hidung yang mengeluarkan darah.


"Rani, Rani, bangun.. hiks.. Bu kenapa Rani bisa pingsan?" Ia tidak bisa menahan air matanya melihat adiknya jatuh pingsan tergeletak dengan darah keluar di hidungnya.


"Ibu juga tidak tahu, ibu tadi sedang di kamar lalu saat keluar ibu sudah mendapati Rani pingsan." Ibu pun menangis merasa terkejut melihat putri bungsunya pingsan. Ariani kemudian bergegas keluar dan segera mengayuh sepedanya untuk meminta pertolongan, ia menuju rumah dinas Tama, karena waktu itu masih pagi dan puskesmas belum buka jadi Ariani mendatangi rumah dinas Tama.


tok tok tok.

__ADS_1


Suara pintu diketuk dengan cepat, Tama yang mendengar segera membukakan pintu.


"Iya, ada apa?" Tama melongok keluar.


"Dokter, tolong adik saya. Dokter tolong adik saya hiks...hiks." Suara bergetar Ariani dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia hanya bisa mengulang perkataannya dengan gelisah.


"Tenang nona, tenangkan dirimu, saya akan berusaha semampuku." Tama yang berusaha menenangkan Ariani, ia segera mengambil peralatannya kemudian mereka menuju rumah Ariani.


Tama sudah berada di rumah Ariani sedang memeriksakan Kirani yang berbaring di kasur dan masih belum terbangun dari pingsan nya. Sesekali kening Tama terlihat berkerut saat bertanya dan mendengar cerita Ariani mengenai riwayat sakit yang dialami Kirani.


Seperti ada petir yang menyambar, jantung Ariani berdegup kencang. Ia hanya bisa terdiam, bibirnya bergetar dengan mata berkaca kaca, pandangannya kosong, tubuhnya pun merasa lunglai hingga ia berpegangan pada kursi setelah mendengar berita mengejutkan yang disampaikan dokter Tama.


"ini, berikan saat adik anda sudah sadar." Tama hanya bisa memberikan vitamin dan obat yang bisa meringankan sakit Kirani.

__ADS_1


"Dokter jika saya bawa adik saya ke rumah sakit apa dia akan sembuh?" pertanyaan mengandung keputusasaan terlontar dari mulut Ariani pada Tama yang terdiam saat sedang memasukkan peralatan nya kedalam tas kemudian menatap Ariani sebentar kemudian tersenyum.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien, tetapi Tuhan yang Maha menyembuhkan. Berusaha dan berdo'alah untuk kesembuhan adik anda."Tama dengan kata bijaknya, mencoba memberikan dukungan kepada keluarga pasiennya.


"berikan semangat pada adik anda, jangan biarkan ia bersedih dan berpikir terlalu banyak." sambungnya


"Baiklah, kalau begitu saya pamit pergi ya. Jaga adik anda baik-baik." Tama pamit pulang setelah selesai memeriksa Kirani.


"Terima kasih pak dokter, anda sudah menolong kami". ucap Ariani yang sudah diselimuti rasa khawatir dalam pikirannya..


Setelah kepergian Tama, Ariani menunggu adiknya yang masih belum siuman dikamar, ia termenung memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk biaya adiknya yang pastinya akan menghabiskan uang yang banyak.


"apa yang harus aku lakukan?" Ariani menopang dagunya.

__ADS_1


"Haruskah aku pergi ke kota agar bisa mendapatkan uang yang banyak, supaya Kirani bisa sembuh." air mata menetas di pipinya, Ariani memegang tangan sang adik lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Kakak menyayangi mu, sangat menyayangimu. Apapun akan kakak lakukan demi kesembuhan mu. Bangun Rani...hiks..." Ariani tidak kuat menahan tangisnya yang akhirnya pecah saat memeluk adiknya tersayang.


__ADS_2