Melupakanmu

Melupakanmu
Ariani Menyerah?


__ADS_3

Dirga mengeratkan rahangnya mendengar pertanyaan Ariani yang seolah menyudutkannya. Dengan mata berkaca-kaca Ariani menunggu jawaban.


"Kau menikah di usia muda karena ingin berbakti pada ayahmu kan, lalu jika seandainya keluargamu tidak mendesakmu untuk menikah apa kamu akan tetap memilihku?" Ariani membuat Dirga terpojok, tidak menyangka Ariani bertanya sejauh itu.


"Tidak penting." Dirga melengos, namun wajahnya terlihat pias mendengar pertanyaan yang iapun belum tentu tahu apa yang harus ia jawab. Kini situasinya berbalik, Ariani mempertanyakan kesungguhan cinta Dirga.


"Jawab saja, itu hanya pertanyaan yang tiba-tiba muncul." Ariani tidak tahu pertanyaan yang menurutnya sederhana itu membuat Dirga tersinggung dan menimbulkan salah paham.


Bukannya Ariani tidak memikirkan alasan Dirga yang tiba-tiba melamarnya untuk menikah, pertanyaan itu muncul dalam benak Ariani apakah Dirga benar-benar mencintainya? Mengapa Dirga tiba-tiba mengajaknya menikah di saat mereka baru menjalin cinta dan sampai akhirnya ia pun tahu alasannya disebabkan karena kondisi kesehatan Galih.


Ariani menyangka Dirga mendekatinya karena tidak punya pilihan lain, lalu jika seandainya Dirga adalah pemuda bebas dengan tuntutan pernikahan akankah ceritanya akan tetap sama, apa mungkin Dirga tetap akan memilih Ariani atau ia akan mencari wanita yang lebih baik dari Ariani untuk dijadikan pendamping hidup. Awal pertemuan mereka yang tidak disengaja yang Ariani pikir hanya kebetulan, tidak ada kesan dan berlalu begitu saja tidak ada cerita tapi siapa sangka ternyata takdir mempertemukan mereka, di kota ini mereka dipertemukan kembali hingga membuat Ariani masuk kedalam cerita kehidupan Dirga.


Dirga belum berkata sepatah katapun, ia hanya berdecak. Sebenarnya ia malas meladeni pertanyaan yang menurutnya tidak penting, Dirga orangnya realistis, menurutnya hal itu tidak perlu Ariani tanyakan karena kenyataannya sekarang mereka sudah menikah untuk apa harus ada pertanyaan seperti ini, disaat suasana hati sedang panas pula.


"Aku sadar, aku berada disini sebagai istri yang bertugas untuk merawatmu, aku tidak lebih baik dari wanita yang kau idamkan." Ucapan Ariani kali ini membuat Dirga kembali menengok ke arahnya, Dirga memicingkan mata dengan ekspresi wajah tidak suka. Ariani menundukkan wajahnya sedikit takut saat Dirga menatapnya cukup lama. Dirga membuang nafas dan menggenggam kuat tongkat bantu jalannya, Ariani merendah diri dan membandingkan status sosial.


"Apa maksudmu?" Dirga menautkan alisnya mulai membaca arah pembicaraan Ariani.


"Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan Tama saat di hotel, aku memakluminya. Aku akan bertahan dengan pernikahan ini untuk bersamamu meskipun kenyataannya kamu memang tidak menginginkannya, maka dari itu ayo kita buat kesepakatan." Ariani mengusap air matanya menahan rasa sakit di hatinya. Ariani mengungkapkan apa yang ia dengar saat Dirga dan Tama membicarakannya dari belakang. Ariani menyangka Dirga menikahinya karena ingin terbebas dari bayang-bayang keinginan ayahnya dan setelah tujuannya tercapai Dirga sengaja membuat Ariani tidak betah lalu berpisah, sesuai dengan yang ia dengar Dirga bersikap semaunya menguji seberapa lama Ariani akan bertahan. Dirga terdiam, ia mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Ternyata dugaannya benar, Ariani mendengar semua ucapannya hari itu. Ada rasa sesal dalam dirinya mengapa ia bisa asal bicara dan itu menyakiti hati Ariani.


Jadi benar kau mendengar semuanya.


Ariani kembali menatap Dirga, sedangkan Dirga masih terlihat datar namun siapa sangka dalam hatinya mulai gusar.


"Saat keadaanmu sudah membaik kau boleh mencari wanita yang lebih baik dariku, biar aku yang akan pergi."

__ADS_1


Seketika air muka Dirga berubah dengan tatapan tajam nan menusuk serta wajahnya berubah merah padam menahan emosi. Ariani menundukkan wajahnya tak berani menatap, Ariani menatap luka di jarinya yang belum ia obati, rasa perihnya bercampur dengan hatinya yang lara.


"Kau ingin membuatku marah ya?!" Suara Dirga mulai membentak.


Beraninya kau ingin pisah dariku!


Dirga mencengkram pundak Ariani dengan satu tangannya, Ariani sedikit meringis karena Dirga menekannya.


"Apa kau sedang mengarang cerita sampai kau melupakan semua yang pernah kau ucapkan padaku? Kau ingat?!" Dirga tak habis pikir dengan jalan pikiran Ariani, apakah Ariani lupa saat mereka saling membalas ungkapan cinta yang dulu mereka ucapkan.


"Kau yang membuatku berpikir jauh dengan sikapmu, kau berubah seperti bukan yang aku kenal, kau anggap aku ini apa?" Ariani mulai terisak seraya menepis tangan Dirga dari pundaknya, entah datang darimana keberanian Ariani bisa mengungkapkan isi hatinya, ada kalimat kekecewaan di sana membayangkan sikap Dirga yang tidak sehangat seperti awal-awal kedekatan mereka.


"Mungkin ini semua salahku, seharusnya aku menanyakannya padamu lebih dulu sebelum aku memutuskannya. Sedari awal kau tidak menginginkan pernikahan ini kan, maka dari itu aku akan menuruti kemauan mu." Dirga kembali bereaksi, ia mencengkram kuat lengan Ariani lalu mendorong Ariani hingga terjatuh kebelakang hingga terduduk di lantai. Dirga benar-benar marah, Ariani mengelus sikunya yang terbentur lantai.


"Lakukan apapun sesukamu dan bicara pada ayahku, tapi jangan mengarang cerita dengan semua prasangka mu terhadap ku yang belum tentu benar. Kau yang menginginkannya, bukan aku." Dirga bicara dengan nada tenang, tidak meledak-ledak seperti sebelumnya. Dari sini ia menyimpulkan sepertinya Ariani menyerah dan ingin berpisah.


"Jangan beri pertanyaan yang tidak mungkin ku jawab. Kau benar, semua yang aku lakukan ini demi ayahku." Dengan suara bergetar Dirga bicara, Dirga mengungkit janji yang pernah Ariani katakan saat ia masih dirawat di rumah sakit, bukankah Ariani yang menginginkan bersamanya? Ariani seperti melupakan kenangan yang sudah mereka lewati bersama.


"Satu lagi, jangan mengatur ku." Dirga memberi peringatan pada Ariani yang dengan seenaknya menyuruhnya mencari wanita lain.


Astaga... Apa yang sudah aku lakukan.


Ariani tersadar, sepertinya ia sudah keterlaluan dan menyinggung perasaan Dirga, kemudian ia bangkit sembari menyapu air matanya. Ariani mendekat ingin meraih tangan Dirga namun Dirga menghindar. Nafas Dirga naik turun menahan sesak dan sakit di pangkal tenggorokannya kemudian ia pergi meninggalkan Ariani yang ingin menahannya namun Dirga terlanjur pergi dan menutup pintu kamar dengan keras. Brakk!!


Kini Ariani seorang diri di ruangan itu, ia berjalan lunglai menyeret kakinya lalu duduk di sofa. Ariani menengok ke arah dapur melihat bahan masakan masih tergeletak di meja.

__ADS_1


"Hiks... " Ariani menundukkan kepala menatap luka di jarinya kemudian menggenggamnya lalu menempelkan tangan di keningnya, ia menangisi apa yang baru saja terjadi.


"Maaf, tidak seharusnya aku melakukannya." Ariani menjambak rambutnya, menyesal telah membuat masalah menjadi semakin rumit.


....


Sementara itu di tempat kerjanya Indah kedatangan Tomi yang datang sendirian. Tomi sengaja datang ke toko besar milik Dirga ingin berbelanja. Indah menyadari ada Tomi ia pun menghampiri Tomi yang sedang melihat-lihat sepatu yang terpajang di lemari kaca.


"Mau aku pilihkan?" Suara Indah mengagetkan Tomi, Tomi menengok ke asal suara lalu tersenyum.


"Aku ingin sepatu untuk aku pakai ke pesta." Tomi mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. Indah membantu Tomi memilihkan sepatu.


"Aku pikir ini cocok." Tomi setuju dengan sepatu pilihan Indah.


"Iya, ini bagus untuk ke pesta dan dipakai ke kantor pun cocok." Indah bangga karena Tomi suka dengan pilihannya.


"Memangnya kau ingin datang ke acara pesta siapa? Teman kantor?" Indah penasaran bertanya.


"Aku lupa mengabarimu, Ryan dan Elma akan mengadakan resepsi minggu depan." Tomi memberikan undangan resepsi pernikahan Ryan dan Elma untuk teman-temannya di kota.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan memberitahu Ariani." Indah antusias.


"Tentu, kau harus mengajaknya." Tomi keceplosan.


"Apa?" Indah mengerutkan keningnya, mengapa Tomi terlihat semangat saat ia menyebut nama Ariani.

__ADS_1


"Mmm...maksudku kalian harus datang." Tomi menggaruk kepalanya yang tidak gatal mengalihkan kecurigaan Indah.


Bersambung...


__ADS_2