
Ariani duduk memeluk lututnya dengan pandangan menghadap keluar jendela kontrakan, hari ini ia akan memberikan jawaban kepada Ryan. Ariani harus memantapkan keputusannya, ia sendiri masih bimbang, ia takut akan salah langkah. Sebenarnya di hatinya masih ada Ryan, tetapi ia tidak ingin menjadi perusak hubungan Ryan dengan Elma, teman sekolahnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku masih menyukainya, tapi aku tidak ingin menjadi seorang penghianat." Ariani dilema, ia seperti berada di sebuah tempat dimana didepannya ada sebuah hutan lebat gelap nan suram yang akan membuatnya tersesat jika ia berjalan maju memasuki hutan itu dan jika ia berjalan mundur dibelakangnya ada jurang yang curam yang bisa saja akan membuatnya terjatuh kedalam jurang itu dan tidak ada yang bisa menolongnya. Gambaran ini sama halnya dengan situasi yang dialami Ariani saat ini, jika ia maju menerima Ryan, pasti akan ada banyak rintangan dan cobaan yang akan di hadapinya karena telah mengorbankan temannya yang tersisihkan, ia juga tidak tahu masa depan hubungan mereka akan seperti apa. Apakah Ryan akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius ataukah hanya main-main saja? Masa depan masih terlihat samar. Jika ia menolak Ryan, Ariani sudah pasti telah membuang kesempatan emas yang ia nantikan selama ini, sama saja ia bunuh diri, membunuh perasaan cintanya yang sudah lama ia simpan tanpa ada seorangpun mengetahuinya.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan? Dari tadi aku mellihatmu asik melamun." Indah menepuk pundak Ariani dan membuatnya tersentak kaget, Indah telah membuyarkan lamunan nya.
"Indah, kau mengagetkan saja. Kau sudah selesai mandi? Aku sedang memikirkan sesuatu." Ariani semakin mengeratkan pelukan pada lututnya. Ia butuh teman curhat, haruskah ia membagi cerita kepada Indah?
"Iya, aku sudah mandi dan wangi. Ceritakan saja apa yang ingin kau katakan padaku, aku akan mendengarkan. Apa ini tentang keluargamu?" Selama ini Ariani memang selalu berbagi cerita tentang keluarganya kepada Indah, tapi tidak dengan masalah percintaan. Ariani sangat tertutup akan hal itu, namun sekarang sepertinya ia sudah tidak sanggup menahannya sendirian, ia ingin berbagi dengan Indah, sahabat terbaiknya.
"Bukan, ini masalah lain. Apa pernah ada seseorang menyatakan cinta padamu?" Ariani melirik Indah, sebenarnya ia malu mengatakannya.
"Tidak, aku bahkan belum pernah merasakan pacaran. Aku terlalu sibuk." Diakui Indah bahwa ia belum pernah menjalin suatu hubungan dengan seorang lelaki, sama halnya dengan Ariani ia terlalu sibuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di desa.
"Ada apa? mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu padaku?" Ariani ragu untuk melanjutkan cerita, apakah Indah bisa membantunya karena Indah sendiri belum berpengalaman mengenai percintaan sepertinya.
"Semalam ada seorang pria yang mengatakan bahwa dia menyukaiku dan dia mengajakku untuk memulai sebuah hubungan." Ariani tertahan. " Apa? Jadi kau ditembak? " Indah memotong pembicaraan Ariani.
__ADS_1
"Hemm, sebenarnya sudah sangat lama aku menantikan ini. Aku menyukai pria itu, tapi... " Ariani terdiam lagi.
"Tapi apa? Baguslah, berarti cintamu selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Pria itu menyukaimu dan dia mengatakan suka padamu." Indah memotong ucapan Ariani yang belum selesai.
"Masalahnya dia sudah memiliki kekasih, bahkan mereka sudah bertunangan. Aku bahagia karena penantian ku selama ini terjawab, tetapi aku tidak ingin menjadi egois menyakiti hati tunangannya yang lebih dulu ada disisinya dan dengan tidak tahu malunya aku menggantikan posisinya. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?" Ariani menggigit bibirnya, Indah menatap Ariani mengerti apa yang sedang dirasakan Ariani sekarang.
"Jadi dia sudah tunangan ya, memang sulit jika aku berada diposisi mu mungkin aku juga akan dilema seperti mu. Tetapi aku akan lebih memilih membiarkan lelaki itu tetap bersama kekasihnya, aku tidak ingin melukai hati sesama wanita. Kau tahu hukum karma kan?" Ariani menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Indah, ia tahu hukum tanam tuai di kehidupan ini. Jangan sampai salah langkah hanya demi mencapai kebahagiaan sendiri kita harus menyakiti orang lain, Ariani tidak ingin seperti itu.
"Ya, kau benar Indah. Aku mengerti, sekarang aku sudah merasa lega berbagi cerita denganmu. Terimakasih sudah mau mendengar keluh kesah ku." Ariani tersenyum menggenggam tangan Indah, ucapan Indah ada benarnya. Ariani akan mempertimbangkan sarannya.
"Apa pria itu Dirga? Orang yang dekat denganmu dan kau sebut namanya akhir-akhir ini? Apa dia orangnya?" Indah memandang Ariani dengan selidik, ia penasaran, rasa ingin tahunya muncul. Dada Ariani berdebar saat Indah menyebut nama Dirga.
"Hei, jawab dulu pertanyaan ku. Aku penasaran tahu..." Indah menyusul Ariani kedalam ruang tengah yang menjadi kamar mereka.
Ditempat lain Dirga dan teman-temannya sedang menikmati sarapan pagi di rumah Dirga.
"Dirga, mengapa tiba-tiba kau diajak bertanding oleh mereka? Beruntung kita datang tepat waktu menolong mu." Bian membuka pembicaraan ditengah aktifitas makan mereka. Untung saja Reno dan Bian datang diwaktu yang tepat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, mereka yang menggangguku bermain yang datang lebih dulu. Si muka tembok itu yang mengajakku bertanding, menjengkelkan sekali." Dirga memaki Tomi yang selalu menjengkelkan setiap bertemu dengannya.
"Sepertinya pria yang mencelakai mu tadi tidak suka padamu, apa kalian saling mengenal? Aku bahkan baru melihat wajahnya." Reno mengingat wajah Tomi yang tersenyum miring setelah menjatuhkan Dirga saat bertanding.
"Aku pernah bertemu dengan nya beberapa kali dan dia selalu membuatku kesal." Dirga tidak menceritakan kejadian sebenarnya awal pertemuannya dengan Tomi di desa Ariani.
"Tapi, aku penasaran. Sebenarnya apa yang kau katakan pada temannya yang berwajah teduh itu. Kalian membicarakan apa?" Bian membicarakan Ryan yang diajak bicara oleh Dirga. Dirga mendengar Bian yang memuji wajah Ryan mengeratkan rahangnya, ia tidak suka. Dirga menaruh gelas yang habis dia minum dengan keras ke meja. Mengagetkan kedua temannya yang sedang asik makan. Ia meninggalkan teman-temannya yang menatap nanar kepergiannya.
"Ada apa dengannya? Apa aku salah bicara? " Bian bengong, apa yang membuat Dirga tiba-tiba pergi.
"Sudahlah, dia memang seperti itu. Yang penting kita habiskan makanan ini. Ayo habiskan." Reno tidak ingin mengambil pusing dengan sikap Dirga yang suasana hatinya cepat berubah ubah.
......................
.
.
__ADS_1
.
Halo semuanya, terimakasih masih setia menunggu update karyaku. Maaf ya, lama... 🙏