Melupakanmu

Melupakanmu
Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

Ariani tersenyum kecut mendengar ucapan Ryan yang menyangka ucapan Tomi hanya sebuah lelucon baginya, membuatnya mengira bahwa ternyata Ryan memang tidak pernah menyukainya. Akhirnya Ariani menyadari bahwa tindakannya selama ini benar, lebih baik ia menyimpan rasa sukanya itu rapat-rapat daripada berterus terang jika kenyataannya tidak sesuai harapan.


Mungkin belum saatnya aku menyatakannya sekarang.


Menyatakan cinta pada seseorang yang kita suka memang harus dibutuhkan keberanian dan kekuatan mental untuk menerima hasil keputusan dari si dia, sedangkan Ariani tidak sanggup untuk melakukannya hingga membiarkan rasa itu ada hingga sampailah lelaki yang dicintainya mengetahui perasaannya dari orang lain.


"Begitu ya. Tetapi bagaimana jika seumpama ucapan kak Tomi itu adalah benar? Apa yang akan kakak lakukan?" Ryan merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Ariani, ia berhenti menyeruput kopinya dan meletakkannya di atas meja.


"Jadi, kau benar-benar menyukaiku?" Ariani gelagapan, secara tidak langsung ia mengungkapkan perasaannya pada Ryan. Namun dengan cepat ia merubah mimik wajahnya.


"Mmm... maksudku ini hanya perumpamaan kak, tidak mungkinkan aku menyukai lelaki yang sudah bertunangan. Hehe..." Ariani berusaha menyangkal, sebenarnya ia pun ingin tahu perasaan Ryan padanya.


"Seandainya kau memang benar menyukaiku, rasanya sulit untuk ku jawab karena aku sudah memiliki kekasih. Tapi, bisa saja aku memutuskan hubungan pertunangan ku dengan Elma. Asalkan kau mau menggantikan posisi Elma di sisiku?" Ariani tersedak saat sedang meminum kopinya, ia terkejut dengan ucapan Ryan padanya.


"Kak Ryan sedang bicara apa? Elma temanku, tidak mungkin aku menyakiti hati temanku." Ariani menolak tawaran Ryan, ia tidak ingin menjadi penyebab perusak hubungan Ryan dan Elma.


"Tapi bagaimana bila aku sekarang mulai menyukaimu? Apa kau mau menerimaku ?" Ryan meraih tangan Ariani dan menggenggamnya, Ariani membulatkan matanya, ia menatap Ryan yang juga menatapnya. Pandangan mereka bertemu.


"Mengapa kakak tiba-tiba mengatakan itu padaku? menginginkanku di sisimu sedangkan kakak masih menjadi tunangan Elma." Ariani melepaskan tangannya dari genggaman Ryan, tidak mengerti apa yang sebenarnya Ryan rencanakan.

__ADS_1


"Jujur sejak mendengar perkataan Tomi, aku menjadi sering memikirkan mu. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa aku merasa tidak suka melihatmu dengan pria lain. Dan Elma, sejak kejadian di cafe itu aku menjadi semakin tahu sifat buruk yang dimilikinya. Aku sudah berusaha menerima kekurangan nya namun semakin aku berusaha untuk mempertahankannya semakin sering perselisihan terjadi diantara kita, rasanya aku ingin menyudahi saja hubunganku dengannya." Ryan mengungkapkan hubungannya bersama Elma yang semakin tidak baik, dan hingga muncul perasaan untuk Ariani yang timbul sejak kejadian Tomi yang mabuk mengatakan bahwa Ariani menyukainya. Ariani bimbang dengan ungkapan Ryan yang baru didengarnya, apakah Ryan benar-benar menyukainya atau hanya sekedar pelarian saja disaat hubungannya dengan Elma yang tidak baik?


Disela pembicaraan mereka tiba-tiba ponsel Ariani berbunyi, Ariani pun mengambil ponselnya dan ternyata Dirga menelepon nya.


"Sebentar ya kak, aku menerima telepon dulu." Ariani pun pergi menjauh setelah meminta izin pada Ryan, dilihatnya layar ponsel dengan foto selfie Dirga sekilas bibirnya tersenyum, ia pun menerima panggilan Dirga.


"Halo. Dirga kau sudah bangun? "


"Iya, aku baru membaca pesan darimu. Apa kau sudah pulang?" Suara Dirga di seberang.


"Iya, aku sudah pulang." Ariani berbohong, namun dari ponsel Dirga mendengar suara berisik dan ada suara musik di tempat Ariani.


"Aku sedang mampir sebentar bersama teman, dia mengajakku membeli makan." Ariani berasalan, sebenarnya ia takut karena membohongi Dirga. Tetapi ia lebih takut jika berkata jujur bahwa saat ini ia sedang bersama Ryan, pasti Dirga akan marah padanya.


"Benarkah?" Tanya Dirga penuh selidik, tidak semudah itu ia percaya.


"Sudah dulu ya, pesanan nya sudah jadi dan temanku sudah menungguku, kita akan pulang. Nanti aku akan mengabari mu lagi." Ariani menutup panggilan sepihak membuat Dirga mendengus kesal karena panggilannya dimatikan.


Ariani pun kembali ke tempat duduknya, dadanya berdebar dan hatinya merasa tidak enak karena sudah membohongi Dirga.

__ADS_1


"Kak, aku ingin pulang sekarang. Ini sudah terlalu malam." Ariani sudah tidak bisa berpikir, ia pun hampir melupakan pembicaraan nya bersama Ryan.


"Lalu bagaimana dengan jawabanmu?" Ariani terdiam, ia merasa bimbang. Dalam hatinya saat ini bukan hanya ada nama Ryan yang bersemayam tetapi ada satu nama lagi yang sudah mencuri hatinya yaitu Dirga. Meskipun Dirga belum menyatakan cinta padanya, namun Ariani merasa terikat oleh lelaki itu karena Dirga sudah mencuri ciumannya dan Dirga lah yang selalu ada di sampingnya melewati masa sulitnya. Maka dari itu, Ariani bertekad akan menunggu ungkapan cinta Dirga padanya.


"Tolong beri aku waktu untuk berpikir. Aku akan memberikan jawabannya besok." Ariani meminta kelonggaran pada Ryan untuknya berpikir akan memilih siapa.


"Baiklah, ayo kita pulang." Ryan menerima permintaan Ariani untuk berpikir, ia berharap Ariani akan menerimanya.


Dan akhirnya mereka pun meninggalkan cafe, di perjalanan Ryan nampak tersenyum berpikir bahwa Ariani akan menerimanya dan menjadi kekasihnya. Terlihat egois memang, Ryan akan memutuskan hubungannya dengan Elma yang sudah sampai tahap tunangan dan akan menjalin hubungan yang baru dengan Ariani. Sedangkan Ariani saat ini masih bergelut dengan pikirannya siapa lelaki yang akan dipilihnya, hingga mereka pun sampai dan Ryan menepikan mobilnya.


"Terimakasih kak, sudah mengantarkan aku pulang." Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ariani pun membuka pintu mobil namun sebelum ia membuka pintu Ryan memegang tangannya membuat Ariani menengok kearahnya.


"Janji, besok kau akan memberikan jawabanmu untukku."


"Hemm." Ariani menganggukkan kepala memberi kepastian, dia akan menepati janjinya.


"Sebelum kau pergi, aku akan menyatakannya lagi padamu. Ariani, aku menyukaimu." Ryan masih berusaha mengungkapkan perasaannya supaya nanti Ariani mau menerimanya, Ariani tak habis pikir mengapa orang-orang bisa dengan mudahnya menyatakan suka ataupun cinta pada orang yang di sukai nya, tidak seperti dirinya yang lidahnya merasa kelu dan sulit mengungkapkan untuk menyatakan perasaannya. Ariani hanya diam menanggapi ucapan Ryan, ia tidak tahu harus menjawab apa? Hatinya kini bercabang, ia diantara dua pilihan. Ryan menatap Ariani yang terdiam memandangnya, semakin lama Ryan mendekatkan wajahnya pada Ariani. Tiba-tiba sekelebat bayangan senyum Dirga yang pernah ada di mimpinya muncul di hadapannya membuat Ariani tersadar lalu menjauhkan wajahnya saat bibir Ryan yang sudah hampir menempel di bibirnya, Ariani menghindari ciuman yang akan diberikan Ryan padanya.


"Maaf kak, ini sudah malam. Aku pulang ya." Ariani pun bergegas membuka pintu dan keluar. Ia terus berjalan menjauh meninggalkan Ryan yang masih melihat kepergiannya dari dalam mobilnya. Ariani memegang dadanya yang berdebar, ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Seharusnya ia senang karena Ryan sudah menyatakan perasaannya padanya, bukankah inilah waktu yang sudah lama ia tunggu-tunggu? Menjalin hubungan bersama Ryan, lelaki impian yang merupakan cinta pertamanya. Tetapi Dirga kini sudah masuk dalam kehidupannya dan Ariani pun sudah mulai merasakan kenyamanan bersamanya.

__ADS_1


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Ariani mendongakkan kepalanya menatap langit, ia tenggelam dalam kebimbangan.


__ADS_2