
Ternyata kau disini.
Tama yang memakai perlengkapan dokter lengkap dengan masker dan tak ketinggalan kacamata yang menempel di wajahnya tidak dikenali Ariani, ia sendiri terkejut dengan kehadiran Ariani di tempatnya bekerja.
Dibalik maskernya bibir Tama tersenyum, ia tidak menyangka akan bertemu Ariani. Padahal ia berencana pergi ke desa untuk menemuinya, tetapi tak disangka ternyata takdir mempertemukannya. Ariani yang datang dengan sendirinya walaupun dengan situasi berbeda, Ariani membawa anak kecil korban kecelakaan ke rumah sakit tempat Dirga dirawat. Tama telah merencanakan sesuatu.
"Adik manis lain kali hati-hati ya, jangan lari-larian. Setelah ini istirahat ya, sampai lukanya sembuh. Oke?" Tama mengangkat tangannya mengajak anak kecil itu tos tangan. Ariani tersenyum melihat pemandangan itu tapi dalam hati ia merasa tidak asing mendengar suara dokter itu.
"Baik, Om dokter." Gadis kecil itu tersenyum lalu menyambut tangan Tama menepuk tangannya, Tama memang pribadi yang ramah dan menyukai anak kecil sehingga mudah dekat dengan pasiennya.
"Baiklah, jaga dirimu adik manis. Om dokter mau lanjut kerja lagi." Tama mengacungkan ibu jarinya lalu melirik Ariani sekilas kemudian pergi. Tama sengaja bersikap cuek dan tidak mengajak bicara Ariani, bahkan ia juga tidak menceritakan keadaan Dirga pada Ariani.
Setelah semuanya selesai, tidak lama kemudian orang tua korban datang menjemput anaknya. Mereka berterimakasih karena Ariani telah menolong anaknya.
"Terimakasih neng, sudah menolong kami. Semoga Tuhan membalas kebaikan eneng." Ibu si anak memegang tangan Ariani, terlihat matanya berbinar merasa terharu.
"Sama-sama Bu." Ariani membalas dengan senyum tulusnya lalu mereka mengobrol sebentar kemudian mereka pamit pulang padanya. Setelah itu Ariani pergi ke bagian administrasi ingin membayar biaya pengobatan, akan tetapi ternyata biaya pengobatan sudah di bayar.
"Siapa yang membayarnya?" Ariani menggaruk kepalanya berpikir tidak mungkin keluarga korban yang membayarnya karena mereka tahu kalau ia yang akan menanggung biaya pengobatan. Di tengah kebingungannya Ariani bertanya kebagian administrasi, siapa yang telah melunasi biaya pengobatan pengamen cilik itu.
"Iya nona, semua biaya pengobatan sudah dibayar." Ariani tidak mengerti, merasa penasaran siapa yang telah membantunya.
"Orang baik, siapapun dan di manapun kau berada aku berterimakasih karena kau sudah menolong."
Ariani akhirnya pulang karena langit sudah mulai gelap menampakkan warna jingga kemerahan, sebelum itu ia ingin melihat-lihat suasana rumah sakit sengaja bernostalgia, mengenang saat dirinya kecelakaan dan dibawa Dirga ke rumah sakit ini. Ariani kini berada di taman rumah sakit, terdapat beberapa pasien yang sedang mencari udara segar di sana. Pandangan Ariani tertuju pada salah satu pasien yang duduk menyendiri di kursi roda dengan kepala yang diperban dan salah satu kakinya dibalut. Ariani tidak dapat melihat jelas wajah pemuda itu karena pemuda itu tengah menundukkan kepala, tangannya tengah meraih sesuatu di tanah, pemuda itu nampak kesulitan dan Ariani yang melihatnya tidak tega ingin membantunya. Ariani berjalan menghampiri pemuda itu mengambil ponsel milik pemuda itu yang terjatuh.
__ADS_1
"Ini... " Saat Ariani mengulurkan tangannya memberikan ponsel milik pria tersebut seketika Ariani membelalakkan matanya setelah tahu siapa laki-laki yang ada di hadapannya.
"Dirga." Kaki Ariani mundur selangkah merasa terkejut dengan orang yang ditemuinya.
Flashback on
Dirga yang sedang dalam kondisi hati yang tidak baik diajak Tama keluar kamarnya, Tama membawanya ke taman dan dibantu oleh perawat laki-laki yang mendorong kursi rodanya.
"Bawa aku kembali ke kamar, aku tidak mau keluar." Dirga tidak mau menuruti ajakan Tama, ia malas keluar.
"Langit sore hari ini sangat indah, sayang sekali jika dilewatkan. Kau bisa mencari udara segar disini, setidaknya hatimu akan merasa lebih tenang." Dirga diam tidak membantah lagi, menurutnya ucapan Tama ada benarnya, karena sebenarnya ia juga merasa penat terkurung didalam kamar seharian. Tiba-tiba ponsel Tama berdering.
"Aku pergi dulu ya." Tanpa menunggu jawaban Dirga, Tama langsung pergi meninggalkannya sendiri di taman itu.
"Aku merindukanmu Ariani." Dirga merindukan gadis yang disukainya, lalu mengambil ponsel dari sakunya. Dirga membuka galeri foto dan melihat foto Ariani di layar ponselnya.
"Seandainya kau tahu keadaan ku sekarang, apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Bella lakukan padaku?" Pandangan matanya masih menatap foto Ariani. Dirga tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti jika Ariani bertemu dengannya. Apakah Ariani akan meninggalkannya, mungkinkah ucapan Bella benar?
Dirga menggenggam erat ponselnya kemudian ia memejamkan mata dan melonggarkan genggamannya, ia terlarut dalam lamunan hingga tidak sengaja menjatuhkan ponsel miliknya. Dengan geraknya yang terbatas Dirga kesulitan untuk mengambil ponsel di tanah, ia terus berusaha mencoba meraih ponsel sekuat tenaga akan tetapi tetap saja tangan panjangnya tidak dapat meraihnya. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengambil ponsel itu.
"Ini." Suara seorang wanita yang datang membantu mengambilkan ponsel miliknya.
Flashback Off
Dirga mendongak keatas melihat wanita yang datang padanya dan memanggil namanya.
__ADS_1
Ariani.
Seketika mata tajamnya tak berkedip melihat wanita di hadapannya. Apakah ini mimpi?
"Dirga, itukah kau?" Jantung Ariani serasa ingin loncat bertemu sosok yang ia rindukan, degupan itu semakin cepat saat ia menatap sorot mata tajam itu. Begitupun sama halnya dengan yang Dirga rasakan, dadanya bergemuruh, jantungnya berdegup lebih cepat melihat gadis yang sangat dirindukannya muncul tiba-tiba di hadapannya. Mereka terdiam dengan perasaan masing-masing, mereka saling pandang dengan hati mereka yang berbicara. Tubuh Dirga membeku tidak menjawab ucapan Ariani seolah mulutnya terkunci. Ariani yang merasa Dirga tidak suka dengan kehadirannya terlihat canggung tak berkutik dan itu tak luput dari pandangan Dirga yang terus menatapnya dengan tatapan dingin tak terbaca.
"Kembalikan!" Dirga mengangkat tangannya meminta Ariani mengembalikan ponsel miliknya, Dirga memandang Ariani bagaikan orang asing. Tangan Ariani yang gemetar melihat tatapan dingin itu membuat ponsel terlepas di tangannya, lalu dengan segera ia mengambilnya kemudian memberikan ponsel itu pada Dirga dengan posisi kaki jongkok. Ariani dapat melihat jelas wajah tampan Dirga dengan rambutnya yang mulai tumbuh panjang dan bulu halus di sekitar pipinya.
Apa yang terjadi padamu?
"Apa yang kau lihat?!" Dirga masih berbicara ketus lengkap dengan wajah mode galaknya seperti tidak suka Ariani memperhatikannya. Ariani yang melihat perubahan sikap Dirga diam tak menjawab, ia memang sudah tahu watak asli Dirga yang pemarah. Ariani berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, apakah benar pria di depannya ini adalah Dirga? Apa yang terjadi padanya sampai ia duduk di kursi roda seperti ini?
Ada rasa sedih dalam dirinya melihat pria yang ia sayangi dalam keadaan yang tidak ia sangka, hatinya berdenyut sakit. Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan pertemuan mereka, bibirnya tersenyum karena apa yang ia susun berjalan sesuai rencana.
"Mengapa ini terjadi padamu?" Ariani tak kuasa menahan tangis hingga air mata pun jatuh menetes di pipi, Dirga yang melihat itu mengalihkan pandangannya.
"Pergi kau!" Dirga meminta Ariani pergi, Ariani terperangah tak menyangka Dirga mengusirnya. Tapi Ariani tidak bergerak sedikitpun, ia menunduk lalu menggelengkan kepalanya masih tetap dengan posisi duduk jongkok nya.
"Aku bilang pergi!!" Suara Dirga ngegas membuat tubuh Ariani tersentak, karena kaget Ariani reflek menggenggam tangannya. Dirga membiarkan Ariani memegang tangannya, matanya melihat ke arah tangannya melekat dengan tangan Ariani.
"Dirga... " Ariani ingin mengatakan sesuatu namun tak sempat ia meneruskan ucapannya karena Dirga menarik tangannya dari genggaman Ariani.
"Jika kau tidak mau pergi, biar aku yang pergi." Mendengar kesungguhan Dirga yang tidak menginginkan kehadirannya Ariani pun berdiri lalu mundur, disusul seorang perawat laki-laki datang membawa Dirga pergi dari taman kembali ke kamarnya. Terlihat Ariani tidak melepaskan pandangannya melihat Dirga yang pergi menjauh, sesekali ia mengusap air mata yang menetes di pipinya. Begitupula Dirga yang melirik Ariani dengan sudut matanya saat pergi meninggalkannya di taman.
Mengapa kita dipertemukan di saat keadaan ku seperti ini?
__ADS_1