
Dirga yang sedang berjalan kaki dari warung Ariani bertolak pulang dengan perasaan lega karena ia bisa mengucapkan kata terimakasih pada orang yang telah menolong dan membantunya sampai ke tempat Tama, baginya kata terimakasih adalah hutang. Apabila mendapat pertolongan haruslah mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah menolong kita, itulah yang diajarkan mendiang ibunya saat ia masih kecil.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan dan menatap geram Dirga,
"beraninya dia mengacaukan ku" Tomi bicara dengan geram dan mengepalkan tangannya.
"sepertinya dia lelaki yang ada digambar ini." dia melihat gambar yang ada di ponsel nya, yang ia potret kemarin. Terlihat foto di ponsel itu Ariani yang sedang berbonceng sepeda dengan seorang pria. Ternyata yang memotret Ariani bersama Dirga adalah Tomi.
......................
Sore hari Dirga yang nampak segar dengan rambutnya yang masih basah sepertinya dia habis mandi, memakai celana pendek hitam dan kaos lengan pendek berwarna putih sedang duduk di kursi teras depan, Tama yang sudah pulang dari aktifitas nya keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat untuk dia dan Dirga.
"Kau jadi pulang besok? " Tama yang memulai obrolan
"iya,.. " jawab Dirga yang kemudian ia menyeruput tehnya.
"Apa kau tidak ingin liburan lebih lama disini?"
"Aku sibuk." jawab Dirga yang di iyakan Tama,mereka menikmati suasana sore yang damai ditemani teh hangat. Mantap sekali.
__ADS_1
"Oya, apa kau sudah bertemu dengan orang yang menolong mengantarkan mu ke puskesmas kemarin?" tanya Tama mengingatkan Dirga untuk berterimakasih dengan orang yang sudah menolongnya.
"Sudah, tadi aku bertemu dengannya saat di pasar. " jawab Dirga.
"Siapa namanya? kau tidak berkenalan dengannya?" tanya Tama penasaran. Dirga hanya menggelengkan kepalanya pertanda menjawab tidak, ia tidak sempat berkenalan dengan Ariani. Entah apa yang sedang ada di pikirannya hanya Dirga yang tahu, tiba-tiba senyum tipis nampak di bibirnya dan Tama melihat senyum itu meskipun nampak samar.
"Kau sedang memikirkan apa hingga tersenyum seperti itu, apa ada yang lucu?" tanya Tama dengan selidik.
"Tidak, tadi aku bertemu kucing manis dan lucu saat di pasar." jawab Dirga menjawab asal dan Tama masih terus memandang nya meminta penjelasan. Kemudian Dirga mencubit lengan Tama.
"Aww... sakit lah..." Tama mengusap usap lengannya kesakitan karena mendadak dicubit oleh Dirga.
"Aneh." Tama menggelengkan kepalanya merasa heran melihat tingkah Dirga yang tiba-tiba berubah.
Malam harinya di rumah Ariani sedang membantu adiknya berkemas menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa besok pagi untuk study tour.
"Jangan lupa bawa kresek hitam." Ariani berkata pada Kirani.
"Untuk apa?" tanya kirani tak mengerti ucapan kakaknya.
__ADS_1
"Untuk berjaga- jaga saja, mana tahu nanti kamu mabok di perjalanan?" Ariani perhatian sekali dengan adiknya dari hal sekecil apapun ia tak ingin adiknya kenapa kenapa, karena Kirani sama dengan dirinya yang belum pernah melakukan perjalanan jauh menggunakan Bis, kunjungan wisata itu sebenarnya cuma berlangsung satu hari pagi berangkat lalu sorenya pulang.
"Jaga dirimu, jangan sampai hilang, jangan jauh dari rombongan." Ariani memeluk adiknya seperti akan berpisah dalam waktu yang sangat lama.
"Iya, kak. Rani akan menjaga diri." Kirani yang membalas pelukan sang kakak, ibunya yang berada di pintu melihat kehangatan kakak beradik yang so sweet itu tersenyum anak-anak nya saling menyayangi satu sama lain.
.
.
.
maaf jika ada typo..
Hai..ini karya pertamaku...
mohon berkomentar dengan bijak... 🙏
pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..
__ADS_1
Terima kasih... 🙏