
Bian duduk termangu melihat tingkah aneh Dirga hari ini, saat ditelpon ia mendengar suara lembut Dirga yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Mendengarkannya saja telingaku merasa geli dan sekarang apa yang aku lihat ini nyata?
Mata Bian tertuju pada sosok yang tengah duduk di sofa yang tidak lain adalah Dirga, Dirga sudah terlihat segar setelah dibantu Bian membersihkan diri.
"Kau sedang apa?" Akhirnya Bian bertanya setelah dari tadi memperhatikan Dirga menatap layar ponselnya, Dirga tak menjawab hanya meliriknya sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya lagi.
Benar yang Ariani bilang , ternyata rambutku sudah mulai panjang.
Ternyata Dirga sedang melihat wajahnya dengan kamera handphone, ia masih terpikir apa yang Ariani katakan padanya tadi pagi.
"Panggil tukang cukur kemari." Tiba-tiba Dirga meminta Bian mendatangkan tukang potong rambut ke rumah sakit, seketika Bian mengerutkan keningnya.
"Kau mau potong rambut?" Bian menggeser duduknya dekat Dirga. Dirga mengangguk sambil mengibas-ngibas rambutnya.
"Apa tidak di rumah saja, besok kau sudah dibolehkan pulang kan."
"Hari ini mood ku sedang baik, besok belum tentu aku mau potong rambut." Dirga selesai berkaca lalu menaruh ponselnya di atas meja, ia mengambil tongkat dan berdiri berjalan perlahan menuju tempat tidurnya.
"Baiklah, terserah kau saja." Bian membantunya berdiri. Dirga sudah bisa berjalan perlahan dengan menggunakan tongkat yang menopang satu kakinya yang patah, besok ia sudah diperbolehkan pulang.
....
Ariani termenung memikirkan obrolannya bersama Dara yang membuatnya tidak fokus bekerja, rasanya ia ingin cepat-cepat pulang.
Flashback On
Dara bertukar cerita dengan Ariani mengenai kehidupan yang Ariani jalani di desa selepas ia keluar dari cafe miliknya.
"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu." Dara membawa Ariani di cafe dekat dengan tempat Ariani bekerja, Ariani berhenti menyedot jus alpukat miliknya.
"Apa alasanmu pergi sampai kamu memutuskan tidak kembali, apa ini ada hubungannya dengan Bella?" Dara berbicara dengan mata terus menatap Ariani, sedangkan Ariani menunduk karena ditatap seperti itu.
"Tidak, saya tinggal untuk menemani ibu. Saya tidak ingin beliau kesepian, jadi saya memutuskan untuk tinggal sementara waktu."
__ADS_1
"Kau yakin hanya itu alasanmu?" Memang benar menemani ibunya menjadi alasan Ariani tetapi Dara yakin Ariani menyimpan alasan lain. Ia berharap Ariani mau berkata jujur menyampaikan isi hatinya.
"Bella mencintai Dirga, aku hanya ingin menjaga perasaan nya."
Aku pernah di posisinya.
Kali ini Ariani berkata jujur, tapi masih ada lagi alasan selain itu yaitu menghindari Ryan, tapi ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Dara.
"Kau tahu, banyak kejadian yang terjadi selepas kepergian mu, terutama perubahan sifat Dirga yang banyak berubah. Dia menjalin hubungan dengan Bella, aku pun terkejut dibuatnya padahal aku berharap kau yang bersamanya."
"Itu tidak mungkin, mereka pasangan yang cocok dan serasi." Ariani tersenyum merendah, apalah daya yang dirinya hanya gadis miskin.
Baguslah, berarti usahaku menyatukan mereka tidak sia-sia kan?
"Iya, banyak orang yang menilai mereka pasangan serasi, tapi itu sebelum peristiwa buruk terjadi menimpa Dirga." Ariani diam mendengarkan Dara menyelesaikan ceritanya.
"Dirga mengalami kecelakaan dan salah satu kakinya patah, mungkin bisa dibilang ini adalah ujian baginya. Disaat ia sedang terpuruk seperti ini Bella dengan tega meninggalkannya hanya karena Dirga tidak bisa berjalan normal." Dara menceritakan hal yang sudah Ariani ketahui, namun kalimat terakhir membuat Ariani mengerutkan keningnya.
"Apa? Bella meninggalkan Dirga?" Ariani menggenggam kuat gelas jus nya, Dara mengangguk.
Wanita itu tega sekali.
"Ariani, bolehkah aku memohon padamu." Dara meraih tangan Ariani dengan sorot mata memohon.
"Temui Dirga, berikan semangat padanya. Aku tahu di balik sikapnya yang arogan dan tidak butuh bantuan, sebenarnya ia kesepian."
Flashback off
"Kau memang wanita jahat, bisa-bisanya kau meninggalkannya disaat ia terpuruk. Harusnya kau ada disampingnya, menyemangatinya. Bukankah kau menyukainya sejak lama, lalu mengapa dengan mudahnya kau meninggalkan orang yang lama kau nantikan."
"Aku menyesal sudah mengalah denganmu." Ariani memaki didalam toilet, seolah-olah Bella ada di hadapannya.
....
Hari menunjukkan waktu malam, jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Dirga terlihat gusar seperti sedang menunggu kehadiran seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ariani.
__ADS_1
"Kau lihat apa?" Tama menemaninya karena jam kerjanya sudah selesai, ia menonton televisi sambil memperhatikan Dirga yang sesekali menengok kearah pintu. Dirga menggeleng.
Ini sudah malam, mengapa ia belum datang?
Selang beberapa menit Dirga kembali menengok kearah pintu.
"Kau sedang menunggu seseorang ya? Menunggu siapa?" Tama menanyakan rasa penasarannya.
"Tidak ada." Dirga menjawab singkat, ia kembali menonton tv.
"Yang benar, dari tadi ku perhatikan kau menengok pintu terus. Kau menunggu siapa? Ariani?" Tama seperti paranormal yang bisa menebak isi kepala Dirga.
"Bukan urusanmu." Dirga melengos.
"Kalau iya pun tidak apa-apa. Sudahlah, jangan terus menyembunyikan perasaanmu. Kau sudah dewasa dan berhak memilih. Jika kau mencintainya jangan biarkan ia pergi lagi. Ayahmu sudah bicara kalau ia akan melamar Ariani secepatnya jika kau serius dengannya." Tama memberi sedikit bocoran pembicaraan para orang tua saat mereka pergi meninggalkan Ariani dan Dirga berdua di kamar. Dirga melebarkan bola matanya.
"Apa-apaan tanpa sepengetahuan ku kalian sudah membicarakan hal sejauh itu, lagipula kita tidak pacaran. Kau yang sudah membuat berita bohong itu" Dirga mendengus kesal dengan kejahilan Tama.
"Hahaha, maaf memang aku yang melakukannya dan sayangnya mereka semua percaya dengan ucapan ku. Maka dari itu, mulai sekarang jadikan Ariani kekasihmu yang sesungguhnya." Tama tertawa membayangkan kembali ekspresi Dirga dan Ariani terkaget karena ulahnya.
"Mengapa kau melakukannya, kau bisa saja membuat penyakit ayah kambuh jika ia tahu yang sebenarnya." Dirga merutuki perbuatan Tama, untung saja saat itu Dirga dan Ariani diam mengikuti alur cerita yang Tama buat.
"Aku hanya membantumu. Aku tahu kau sudah lama menunggunya kan? Sekarang dia kembali. Jangan sia-siakan kesempatan itu. Pertahankan dia."
"Ck... Kau bicara seakan-akan mengetahui semuanya." Dirga masih menyangkal.
Dari matamu aku tahu kalau kau menyukai Ariani.
Tama tahu dengan cara Dirga memandang Ariani menyiratkan ketertarikan.
"Terserah, kau yang menentukan pilihanmu. Aku hanya menyarankan jangan sampai kejadian ini terulang lagi." Tama merasa gemas dengan hati Dirga yang keras, lalu ia pergi meninggalkan Dirga yang masih bersembunyi dibalik perasaannya. Dirga menatap punggung Tama yang keluar dari kamar kemudian ia membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya.
Aku memang sengaja mengulur waktu hingga saat itu tiba, tapi aku tidak khawatir Ariani akan meninggalkan ku karena aku sudah mengikatnya.
Masih dengan mata terpejam Dirga tersenyum licik, tujuannya menghukum Ariani ternyata supaya Ariani tidak bisa lari darinya.
__ADS_1