
Ariani terkejut dengan aura Dirga yang berbeda, matanya yang tajam tak berkedip menatapnya. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya? Mengapa Dirga menjadi menakutkan seperti itu? Dirga mendorongnya hingga terjerembab di sofa, ia mengunci tangan Ariani dengan satu tangan.
''Dirga, kau mau apa?'' Ariani kini dalam penguasaannya.
''Ssttt... ''Dirga menyuruh Ariani diam ,ia meletakkan jari telunjuknya di bibir Ariani. Dipandanginya wajah cantik alami Ariani, sorot mata yang nampak lelah karena bekerja dengan raut wajah yang sedikit tegang. Yang ditatap hanya bisa diam menyaksikan apa yang sedang dilakukan pria itu padanya.
Ruangan yang remang-remang sepi senyap hanya ada suara gemercik air hujan yang terdengar, cahaya lilin yang menjadi penerang membuat suasana romantis, Dirga yang sedari tadi menahan diri sudah tidak bisa mengendalikannya lagi.
"Ariani..." Suara Dirga bergetar memanggil nama wanita yang dicintainya, ia terlihat mengatur nafasnya.
Aku harus menjawab apa?
Ariani menggigit bibirnya, takut sendiri melihat wajah Dirga sudah merah padam dengan dada naik turun.
Dirga mengusap bibir Ariani dengan jarinya secara lembut membuat gadis itu memejamkan mata dan memalingkan wajahnya. Sentuhan itu membuat jantung Ariani berdebar hebat.
Apa kau akan melakukannya?
Ariani menggeleng, masih berusaha mempertahankan pikiran jernihnya.
Tidak...
Tidak...
Jangan lakukan itu Dirga.
Jangan.
Perasaan Ariani campur aduk, ada ketakutan dalam dirinya. Dirga memang kekasihnya, ia pun mencintainya. Akan tetapi Ariani tidak mungkin memberikan semua yang ia jaga begitu saja. Ariani ingin menyerahkan mahkota yang ia jaga hanya untuk suaminya kelak.
Tatapan Dirga semakin dalam, kemudian ia mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibir Ariani. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya, mungkin benar kata nasehat apabila sepasang manusia berduaan disitu akan ada setan yang menjadi orang ketiga.
Gejolak hati yang ia tahan sudah tidak terkendali, Dirga mencium bibir Ariani menumpahkan rasa yang ia pendam, ia menggigitnya hingga Ariani reflek membuka mulutnya sejurus dengan itu Dirga mulai berani memainkan lidahnya kedalam mulut Ariani. Dari bibir beralih turun ke leher. Ariani dapat merasakan hembusan nafas Dirga yang hangat, Dirga menggigit kecil lehernya.
"Ah..." Des*h*n lepas dari mulut Ariani saat Dirga mengecup lehernya. Tidak hanya itu tangan Dirga mulai tak terkontrol ia menyibak rok Ariani dan mengelus paha mulusnya, mata Ariani terpejam kuat merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Tangan nakal itu kemudian berpindah menyusup kedalam baju Ariani menjelajahi punggung, perut dan pada saat tangannya bergerak ke atas menuju dua buah milik Ariani...
"Dir-ga... Ja-ngan." Dengan nafas tersengal Ariani meminta Dirga untuk berhenti.
"Tolong, jangan lakukan." Suara lembut Ariani memohon, menyadarkan Dirga dari ketidakwarasan dan akhirnya Dirga berhenti melakukan aktivitasnya seraya mengeluarkan tangannya dari balik baju Ariani. Nafas keduanya naik turun.
"Aku memang mencintaimu." Air mata menggenang di bola mata Ariani, ia menatap wajah Dirga yang memerah dengan keringat yang membasahi keningnya. Dirga benar-benar sedang memuncak.
"Tapi aku tidak bisa memberikannya sebelum kita benar-benar sah." Ariani juga terbuai dengan sentuhan lembut Dirga tetapi ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, ia ingat dengan pesan ibunya untuk bisa menjaga diri. Dia memang orang tak punya, tapi setidaknya ia ingin menjaga yang ia punya sampai waktunya tiba.
Astaga, apa yang sudah aku lakukan.
__ADS_1
Kau hampir merusaknya. Bodoh !!
Dirga tersadar memaki dirinya di dalam hati, bisa-bisanya ia bertindak bodoh. Ia melihat Ariani terlihat ketakutan seketika ia melepaskan jeratannya, perlahan Dirga kembali ke kesadarannya.
"Maaf." Dirga membantu Ariani duduk dan merapikan bajunya.
"Maafkan aku tidak bisa mengendalikan diri." Dirga sangat menyesali perbuatannya. Beruntung Ariani menyadarkannya dan kejadian itu tidak berlanjut.
....
Setelah kembali kedalam kesadaran masing-masing keduanya bercengkrama dengan normal kembali di ruangan itu sampai listriknya menyala.
"Ayo kita menikah." Dirga tengah memijit pundak Ariani sebagai bentuk permintaan maafnya.
"Apa?'' Sebenarnya Ariani mendengarnya namun ia ingin memastikan saja.
"Aku akan mengulang ucapanku sekali saja. Ayo kita menikah, menikahlah denganku Ariani." Mendengar itu Ariani tersenyum, tetapi Dirga tidak bisa melihat ekspresinya karena Ariani membelakanginya.
Apa ini artinya Dirga melamar ku?
Ariani berbalik badan menatap wajah Dirga.
"Kenapa diam?" Dirga sedikit gusar menunggu jawaban.
"Aku hanya terkejut, apa aku tidak salah dengar?" Ariani sedikit ragu, bisa saja Dirga hanya bercanda.
Ariani menatap bola mata hitam lelaki dihadapannya, sepertinya yang dikatakannya serius.
"Aku hanya ingin kau memikirkan matang matang, hubungan kita baru saja dimulai Dirga." Ariani menggenggam tangan Dirga mencoba menenangkan Dirga untuk menerima perkataannya.
"Tadi kau bilang kau mencintaiku."
"Iya, tapi tidak secepat itu kita melangkah, kita belum mengenal satu sama lain dan kita belum mengenalkan kedua keluarga." Air muka Dirga mulai berubah, tidak suka dengan alasan Ariani yang menurutnya terlalu berbelit-belit.
"Kalau begitu secepatnya aku akan menemui ibumu."
"Jangan." Ariani langsung menyangkal. "Aku malu." Gumam Ariani namun masih terdengar telinga Dirga. Siapa sangka ucapannya itu membuat Dirga menunjukkan reaksi berbeda.
''Malu?'' Dirga menautkan kedua alisnya
"Kau malu melihat keadaanku?" Dirga melepaskan tangannya dari genggaman Ariani. Dirga mengira Ariani malu dengan kondisinya sekarang.
"Bukan begitu." Ariani mulai panik.
"Aku mendengarnya Ariani. Kau malu ya, karena aku tidak berjalan normal." Suara Dirga datar namun menusuk, tatapannya pun sudah berbeda.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah berjanji padaku, bahkan suaramu masih terdengar jelas di telingaku." Ia mulai ragu apakah yang diucapkan Ariani saat itu tulus?
"Lalu, jika keadaanku tidak berubah, apa kau akan meninggalkanku?'' Sebenarnya Dirga sudah yakin bahwa ia akan pulih dengan cepat, tapi kini tiba-tiba ia pesimis karena khawatir Ariani akan meninggalkannya.
"Tidak Dirga, bukan seperti itu maksudku." Ariani menggeleng.
Kau keliru menilai ucapan ku.
Dirga melengos tak menghiraukan ucapan Ariani, ia diam dengan rasa kecewa didalam hatinya.
Atau kau masih memikirkan pria itu? Dalam hatimu, apa kau belum bisa melupakannya?
"Kau masih memikirkan pria itu?" Dirga melirik Ariani dengan sudut matanya dengan ekspresinya yang datar.
Mengapa kau bisa berpikir sejauh itu? Ariani terperangah tak mengira Dirga berpikiran seperti itu.
"Maksudmu kak Ryan?"
Cih... aku benci kau menyebut namanya.
"Pulanglah, aku mau tidur." Dirga mengambil tongkat lalu bangkit berdiri.
"Tunggu, ayo kita selesaikan masalah kita. Kumohon dengarkan aku." Satu masalah belum selesai Dirga sudah meragukan ketulusan cintanya. Ariani bangkit meraih tangan Dirga menahannya pergi, namun Dirga yang sudah terbakar api cemburu melepas genggamannya kemudian pergi meninggalkan Ariani yang diam mematung melihat kepergiannya, Ariani menunduk tak menyangka sebuah kalimat bisa menjadi sebuah masalah besar.
Apa ada yang salah dengan perkataan ku?
Ariani takut Dirga marah karena tersinggung dengan ucapannya, kondisinya saat ini membuat Dirga lebih sensitif sepertinya. Padahal yang sebenarnya adalah Ariani malu dengan keadaan dirinya, ia takut Dirga yang akan malu mendapatkan gadis sepertinya.
''Aku sudah terbiasa di caci dan direndahkan, tapi aku tak ingin kau ikut merasakan apa yang aku alami." Ia takut orang-orang akan mencaci Dirga karena menikahinya yang miskin, Ariani tidak ingin Dirga dianggap tidak beruntung karena memilihnya. Sudah cukup dia saja yang merasakan sakitnya di hina dan ditindas karena miskin.
"Apa kau masih belum mempercayaiku." Ariani terkejut saat Dirga masih membahas Ryan.
"Tidakkah kau melihat aku datang hanya untuk menemui mu." Ariani berdiri didepan pintu kamar yang tertutup rapat, Dirga mendiamkannya.
...
Ariani menangis di tengah malam, pikiran itu mengganggunya sampai ia tidak bisa tidur. Ariani pulang dengan menggunakan taksi, Dirga memesan taksi untuk Ariani pulang. Meskipun pertemuan mereka berakhir dengan tidak menyenangkan tetapi Dirga cukup bertanggungjawab karena tidak menelantarkannya.
"Hiks..." Ariani menangis dengan membekap mulutnya agar tidak mengganggu tidur Indah, tapi ternyata tangisannya masih bisa terdengar ditelinga Indah yang terbangun ingin mengambil minum.
Ada apa dengannya? Indah di balik sekat mendengar isak Ariani, mereka tidur terpisah karena sebelumnya Ariani bilang ingin tidur sendiri di ruang depan.
Apa yang terjadi dengannya sampai ia menangis seperti itu? Indah baru menemukan Ariani sesedih ini, jika masalah keluarga biasanya Ariani selalu bercerita padanya.
Apa dia bertengkar dengan kekasihnya? Indah menggelengkan kepala, baru saja kemarin ia melihat Ariani begitu bahagia menceritakan hubungan percintaannya dengan Dirga tapi sekarang ia melihat Ariani menangis dan Indah menebak pasti sedang ada masalah dalam hubungan percintaannya. Indah terjaga mendengar Ariani menangis sampai ia tidak mendengar tangisnya lagi, mungkin Ariani sudah lelah menangis lalu tertidur.
__ADS_1
Bersambung...