
Malam ini Ariani sedang mengemas pakaiannya, besok pagi ia akan pergi ke kota. ia sudah mengantongi izin Ibunya.
Flasback on
Ariani dan Ibu berada di ruang tamu rumah mereka. Ariani ingin membicarakan tentang pekerjaan di kota.
"ibu, bolehkah Ariani bekerja Di kota? Indah, mengajak Ariani bekerja disana. katanya sedang ada lowongan pekerjaan, apa ibu mengizinkannya?" Ariani harap harap cemas menanyakan hal itu pada ibunya takut tidak izinkan. Ariani menatap Ibunya dengan pandangan memohon, Ibu terdiam sejenak,. kemudian tersenyum.
"Pergilah, nak. Jika itu yang terbaik menurutmu dan ibu disini akan selalu berdo'a untuk kebaikanmu. Tapi apa kamu sudah tau tempatnya?Bukankah Indah sedang berada di kota? Kau akan berangkat sendiri dari sini?" Ibu bertanya mengenai alamat Indah, khawatir Ariani akan tersesat.
" Indah sudah memberikan alamat pada Ariani, nanti kita bertemu di halte. Indah akan menjemput Ariani." Ariani menjelaskan agar ibunya tidak menghawatirkan nya.
"Baiklah kalau begitu, ibu hanya berpesan kau jaga diri baik - baik ya." Ibu menasehati Ariani untuk menjaga dirinya.
"baik Bu, terimakasih." Ariani memeluk Ibunya, ia lega karena Ibunya memberikan izin padanya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Flashback off
"Semoga dengan aku pergi ke kota nanti akan merubah kehidupan keluargaku menjadi lebih baik." Ariani berdo'a dengan penuh harapan mengadu nasib di kota akan membuat hidupnya menjadi lebih baik lagi.
......................
Di tempat lain, Dirga yang sedang bersama Bian akan pulang setelah melakukan meeting bersama mengenai perusahaan, Bian adalah teman sekaligus manajer toko sepatu yang dimiliki Dirga, Dirga memiliki dua cabang toko sepatu di kota Itu.
__ADS_1
"Jangan lupa pesanan klub C, mereka akan mengambilnya besok." Dirga mengingatkan Bian untuk orderan kliennya.
"beres, semua sudah saya siapkan. Bos." Bian yang menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya.
"Baguslah, ayo." Dirga yang kemudian pergi terlebih dahulu.
"Indah, jangan lupa besok siapkan pesanan yang sudah saya catat ya." Bian bicara pada karyawannya.
"maaf Pak, besok saya cuti. Saya sudah bilang ke Heri."Jawab karyawan.
" Ooh, begitu ya, ya sudah jangan lupa sampaikan pada Heri ya."
" Baik Pak."
Dirga dan Bian pulang bersama kerumah Dirga, mereka melepas lelah setelah bekerja seharian. Bian sering menemani Dirga minum di rumahnya.
" Menikah itu bukan hanya sekedar meresmikan sebuah hubungan, tetapi sejauh mana hubungan itu akan kau pertahankan." Dirga yang tiba-tiba menimpali ucapan Bian, ia merasa dilema tentang keinginan ayahnya yang ingin melihatnya menikah. Bian menautkan kedua alisnya dan menatap wajah Dirga dengan seksama, sepertinya ada yang menggangu pikiran temannya ini. Mengapa tiba-tiba ia membicarakan tentang pernikahan?
"Ada apa Dirga, apa yang sedang mengganggu pikirkanmu? Ceritakan padaku." Bian menggeser duduknya dekat Dirga, siap mendengarkan cerita..
"Ayahku memintaku untuk segera menikah." Dengan pandangan kedepan Dirga membuka ceritanya.
"Baguslah, kau dijodohkan?" Bian menebak - nebak apakah Dirga dijodohkan ayahnya.
__ADS_1
"Tidak, aku yang mencarinya." Dirga melirik dan menjawab dengan malas.
"Itu lebih bagus, jadi kau bisa menikahi wanita pilihanmu." Ucapan monoton Bian.
"Kau ini, dari tadi yang kau ucapkan hanya baguslah baguslah tidak ada kata yang lain?" Dirga mendengus kesal pada Bian dengan ucapannya yang itu itu saja.
"Baiklah, jadi apa kau sudah menemukannya? Wanita yang ingin kau nikahi." Bian yang sudah tahu sifat Dirga yang mudah emosi mencoba menenangkan. Dirga menggelengkan kepalanya, ia memang belum menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya.
"Kau jangan banyak memilih Dirga.Kau tampan, punya pekerjaan bagus, dan juga banyak wanita yang mengejarmu. Pilihlah yang menurutmu pantas atau kau pilih saja Bella, dia sudah lama mengejarmu kan?" Bian memberikan saran, Dirga hanya memicingkan mata mendengarnya. Bukan, tidak semudah itu. Ia bisa memilih wanita manapun yang ia inginkan tetapi apakah hatinya bisa menerimanya. Apakah pernikahan akan berjalan selamanya tanpa ada cinta?
"Kau masih belum mengerti maksudku ternyata. Hentikan membicarakan tentang pernikahan, ini habiskan." Dirga memberikan segelas minuman pada Bian dan menyuruhnya diam menghabiskan minumannya.
.
.
.
maaf jika ada typo..
Hai..ini karya pertamaku...
mohon berkomentar dengan bijak... 🙏
__ADS_1
pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..
Terima kasih... 🙏