Melupakanmu

Melupakanmu
MENYATAKAN CINTA


__ADS_3

"Kenapa kau keras kepala? Aku sudah bilang aku bisa sendiri." Dirga melihat Ariani terduduk di lantai, ia ingin membantu Ariani untuk bangun tetapi karena geraknya terbatas jadi ia mengurungkannya. Ariani mendongak menatap lelaki tinggi menjulang berdiri di hadapannya, Dirga tidak mengatakan maaf setelah membuatnya terjatuh.


"Kau bisa bangun sendiri kan? Kalo sudah selesai kau boleh pulang." Dirga bicara dengan nada dingin. Setelah mengatakan itu Dirga melangkah menuju tempat tidur, Ariani diam tidak menanggapi sikap cuek Dirga padanya.


Dirga melangkah dengan hati-hati menuju tempat tidur namun setelah beberapa langkah ia merasa ada yang memeluknya dari belakang, kepala Dirga menunduk melihat tangan putih lentik milik Ariani melingkar di perutnya.


"Kau sedang apa Ariani?" Dirga berhenti, terkejut dengan tingkah Ariani yang tiba-tiba memeluknya namun ia juga tidak menolak, membiarkan Ariani memeluknya. Suasana menjadi hening, Ariani memejamkan matanya memeluk Dirga seakan tidak ingin melepaskannya.


"Izinkan aku melakukan tugas ku sebagai kekasihmu, aku ingin membantu menuntun mu berjalan." Ariani bicara memohon dengan menahan tangis. Ia ingin melakukan tugasnya sebagai kekasih Dirga walaupun statusnya hanya kekasih palsu, yang terpenting ia tetap bisa di dekatnya.


Dirga menautkan kedua alisnya, ingin sekali Dirga menggenggam tangan Ariani akan tetapi pikiran jernihnya masih berjalan, Dirga bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Ariani hingga membuat sikapnya tiba-tiba berubah?


"Kemari." Dirga meminta Ariani bergeser ke depan menghadap dirinya. Dirga memandang wanita itu yang tengah menunduk, sesekali Ariani menghapus air matanya.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? Katakan, aku akan mendengarkan." Dirga meraih dagu Ariani sehingga ia bisa menatap jelas wajahnya, terlihat bekas sapuan air mata diwajahnya.


"Maafkan aku, tidak seharusnya aku pergi. Mulai sekarang aku tidak akan meninggalkan mu lagi, tolong jangan usir aku. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu." Ariani kembali memeluk lelaki yang sekarang ia cintai.


Ini semua salahku.


Ariani menyesal telah bertindak bodoh mengorbankan perasaannya demi wanita seperti Bella yang ternyata tidak tulus mencintai Dirga.


Sejenak Dirga membiarkan Ariani memeluknya menumpahkan tangisnya hingga air matanya membekas basah di bajunya, Dirga menghela nafas.


"Mengapa kau berkata seperti itu? Jelaskan padaku." Dirga meraih pundak Ariani melepaskan pelukannya, masih penasaran dengan penjelasan Ariani yang berputar-putar belum sampai ke intinya. Mata mereka saling tatap.


"Aku...aku..." Bola mata Ariani bergerak-gerak, otaknya berpikir mencari kata-kata yang tepat, ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan isi hatinya. Dirga tidak melepaskan tatapannya menunggu jawaban.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan menemanimu meskipun kau dalam keadaan terpuruk sekalipun. Pilihlah aku, aku berjanji tidak akan mengkhianatimu." Ucapan Ariani tertahan, sudah tak bisa dibayangkan secepat apa jantungnya berdetak saat ini. Ariani menarik nafas dalam, memberanikan diri menatap mata tajam Dirga mengungkapkan isi hatinya yang ia pendam..

__ADS_1


"Dirga... Aku mencintaimu." Tangan Ariani meraih leher Dirga dan menariknya sejajar dengan kepalanya hingga tubuh Dirga sedikit membungkuk kemudian Ariani mencium kening Dirga dengan kaki berjinjit. Ariani menyatakan cintanya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan bahkan ketika ia masih menyukai Ryan pun ia tidak pernah mengungkapkannya. Wajah Dirga bersemu merah, ia tak menyangka Ariani akan mengatakan cinta padanya. Apakah ini berarti hati Ariani sudah terisi oleh namanya?


"Apa yang kau katakan ini benar berasal dari hatimu?" Dirga mencengkram pundak Ariani memastikan, dadanya bergemuruh sebenarnya ia ragu, bisa saja Ariani mengungkapkannya atas dasar rasa kasihan.


"Aku sungguh-sungguh mengatakannya, aku menyayangimu. Lalu bagaimana denganmu?" Dirga terdiam, namun siapa yang tahu di dalam hatinya bagaikan bertabur bunga mekar Dirga bahagia mendengar ungkapan cinta Ariani padanya.


Mengapa kau diam? Apa kau tidak menyukai ku?


Ariani ragu, ia takut Dirga tidak membalas perasaannya.


"Maaf jika aku terlalu percaya diri menyatakan perasaanku padamu lebih dulu, aku hanya ingin kau mengetahuinya. Keputusan tetap ada padamu." Dirga masih diam, Ariani menunduk malu karena Dirga mendiamkannya tanpa jawaban sepatah katapun.


Bodoh, harusnya kau tidak melakukan tindakan memalukan ini Ariani.


Ariani menunduk malu merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, sesekali ia melirik lelaki dihadapannya yang berdiri terpaku tak bergerak seperti patung. Cukup lama Dirga dengan kebisuannya entah apa yang sedang ada dipikirannya, merasa sudah tahu dengan jawabannya Ariani melangkah mundur dan berbalik ingin pergi namun dengan cepat Dirga menarik tangannya hingga Ariani jatuh ke pelukannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Asal kau tahu, kau sudah membuat hidupku kacau setelah kau pergi meninggalkan ku. Kali ini jangan pernah mencoba lari dariku." Dirga memeluk erat wanita yang ia tunggu dan ia cari. Ia sudah bekerja keras mencari Ariani sampai kecelakaan menimpanya, seandainya Ariani tahu hal ini mungkin Ariani akan semakin merasa bersalah. Tetapi Dirga tidak ingin Ariani mengetahuinya, biarkan ini tetap menjadi rahasia.


"Jadi, apakah ini artinya... " Ariani menatap Dirga dengan binar di bola matanya, Dirga tersenyum.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Ariani." Dirga meraih wajah Ariani lalu mengecup keningnya.


"Hiks... Terimakasih." Ariani menangis karena bahagia, Dirga membalas cintanya dan akhirnya mereka menjadi kekasih sungguhan. Mereka berpelukan erat.


Dirga meraih wajah Ariani, jemarinya mengusap lembut pipinya. Ia merapikan rambut Ariani yang terurai menghalangi matanya. Pandangannya beralih menatap bibir ranum Ariani lalu ia mendekatkan wajahnya kemudian ia mengecup bibir Ariani sekali, dua kali dan ketiga kalinya kecupan itu berubah menjadi ciuman, lama bibir Dirga merasai bibir Ariani. Ia tidak bisa memendamnya lagi, kerinduan yang lama ia tahan akhirnya membuncah. Bagai tersengat listrik Ariani memejamkan mata menerima p***tan lembut Dirga sama-sama melepaskan kerinduan mereka. Mereka berciuman cukup lama membuat jantung mereka berpacu seperti sedang berlari. Terbuai dengan kemesraan tangan Dirga mulai menjelajah berpindah memegang tengkuk dan mengusap punggung Ariani hingga ia tak sadar tongkat penyangga kakinya lepas dari keteknya dan membuatnya tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.


"Aaaa...!" Teriakan keduanya serempak terdengar di dalam ruangan itu, Dirga meringis nampak kesakitan. Ariani mencoba menahan berat tubuh Dirga agar tidak jatuh tetapi ia tak cukup kuat hingga ia pun ikut terjatuh tertindih. Mereka jatuh dengan posisi tubuh Dirga menindih Ariani.


"Apakah sakit?" Ariani membantu Dirga bangun, ia merasa khawatir. Takut kakinya yang patah kenapa-kenapa.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Maaf aku terlalu terbawa suasana sampai aku lupa kalau kakiku belum bisa berjalan normal." Dirga tergelak, ia berpindah posisi duduk disebelah Ariani, Dirga menyadari dirinya lupa dengan keadaan kakinya yang masih dalam perawatan. Ariani pun tertawa merasa lucu dengan kejadian yang mereka alami barusan, mereka tertawa bersama menertawai perbuatan mereka.


Dua jiwa yang sedang kasmaran itu saling berpegangan tangan seakan tak ingin berpisah, apalagi si pria yang menggenggam erat tangan kekasihnya seperti tidak ingin melepaskannya. Mata mereka tak pernah jemu memandang satu sama lain, ruangan kamar itu menjadi hening dan hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak. Dirga terus memandang Ariani membuat Ariani tersipu, ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Ariani menyatakan cinta padanya, sesuatu yang tidak pernah ia perkiraan.


"Aku tak menyangka kau seberani ini, seharusnya aku yang menyatakannya padamu." Pernyataan Dirga membuat Ariani sedikit malu, karena dimana-mana pria lah yang harus menyatakan cinta lebih dulu.


"Aku tidak ingin membuang waktu terus menunggu, aku tidak bisa mengetahui sebenarnya kau menyukaiku atau tidak. Meskipun itu cukup mempertaruhkan harga diriku tetapi aku lega bisa mengungkapkannya." Ariani melakukannya karena ia tidak ingin mengulangi kebodohannya memendam perasaan, cukup sekali saja saat menyukai Ryan ia tidak mampu mengungkapkan perasaannya. Kali ini ia tidak ingin kehilangan Dirga.


"Jadi selama ini kau menungguku?" Dirga merasa tersentuh karena diam-diam Ariani menunggunya mengungkapkan cinta, mungkin dia saja yang tidak peka. Ariani mengangguk.


"Jujur aku menunggumu mengungkapkan perasaanmu padaku bahkan saat malam itu aku berharap kau mengatakannya. Sebenarnya saat itu aku bimbang karena kak Ryan menyatakan cinta padaku, tetapi aku menolaknya." Ariani akhirnya mengungkapkan semua kejadian malam itu yang sudah Dirga dengar dari Ryan, ternyata semua yang dikatakan Ryan benar.


"Dan saat itu aku datang ke rumahmu tetapi aku terlambat, kau sudah pergi." Wajah Ariani memerah menahan tangis, seandainya Dirga tahu sekacau apa ia saat itu. Dirga sudah tahu semuanya dari Bian tetapi ia ingin mendengarnya langsung dari Ariani.


"Jika saat itu aku ada, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku ingin meminta maaf dan menyatakan kalau aku menyayangimu. Aku tidak peduli lagi dengan jawabanmu karena aku tahu saat itu kau sedang marah."


"Lalu mengapa kau pergi?"


"Aku pergi karena ingin melihatmu bersama Bella. Tetapi aku salah karena ternyata aku tersiksa saat melihatmu bersamanya." Ariani akui ia merasa cemburu saat ia tahu berita Dirga menjalin hubungan dengan Bella.


"Bodoh, kau tahu itu sangat menyiksaku." Dirga mencubit pipi Ariani, ia tidak pernah mencintai Bella bahkan ia sudah berusaha mencoba mencintainya tetapi ia tidak bisa, hanya Ariani yang ada di hatinya.


"Maaf."


"Berjanjilah, kau tidak akan mengkhianati ku." Dirga menarik tangan Ariani duduk di sampingnya, lalu ia memeluk Ariani.


"Aku janji, tidak akan." Ariani membalas pelukannya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2