
Ariani terkejut melihat kedatangan Tama dan beberapa orang tua berjalan menuju kearahnya.
Siapa mereka?
Ariani membeku saat mata semua orang yang baru sampai itu tertuju padanya, ia merasa minder membandingkan penampilannya dengan orang-orang di hadapannya sekarang. Mereka terlihat elegan dan berwibawa seperti dari kalangan orang berada sedangkan Ariani hanya memakai pakaian biasa untuk bekerja.
Apa mereka keluarga Dirga?
"Dokter." Suara Ariani pelan menyapa Tama, ia berusaha menutupi kegugupannya tetapi wajah paniknya tidak bisa ia sembunyikan.
"Kau ingin menemui Dirga?" Ariani mengangguk dan tersenyum kaku, ia malu karena rencananya diketahui oleh Tama.
"Mengapa di luar saja, apa kau tidak ingin masuk?" Ayah Dirga bersuara dengan menggandeng istrinya, mereka nampak ramah menyapa Ariani.
"Eeu... Saya..."
Aku takut bertemu Dirga.
Seakan lidahnya kelu Ariani tidak bisa berkata kata, tadinya ia takut oleh satu orang yang ingin ditemuinya tapi kini rasa takutnya bertambah setelah kedatangan keluarga Dirga di hadapannya. Lebih tepatnya ia merasa canggung, sepertinya ia datang di waktu yang tidak tepat, tidak seharusnya ia datang di waktu yang bersamaan dengan keluarga Dirga.
"Kalau begitu ayo masuk, jangan takut." Ibu Tama memegang punggung Ariani, Ariani sedikit bingung dengan perlakuan ibu Tama.
Mereka seperti tahu apa yang aku rasakan.
Ariani menoleh kearah Tama meminta penjelasan dengan sorot matanya namun Tama pura-pura tidak mengerti maksud Ariani lalu ia masuk bersama para bapak sedangkan Ariani tertahan diluar bersama bu Maya dan ibu Tama yang memandanginya seperti sedang memperhatikan Ariani dari dekat.
Dokter jangan pergi, tolong aku.
Apa aku kabur saja?
Nyali Ariani menciut ditatap dua wanita yang seumuran ibunya ini.
"Dirga sebenarnya anak baik, hanya saja dia mudah marah. Jangan diambil hati kalau dia sedang marah." Ibu Tama yang sudah mengetahui sifat Dirga mencoba memberi pengertian pada Ariani, Ariani hanya bisa menanggapinya dengan senyum walaupun ia tidak mengerti mengapa ibu Tama tiba-tiba membahas sifat Dirga padanya.
"Ayo temui Dirga." Bu Maya meraih tangan Ariani, Ariani menatap ibu tiri Dirga yang tersenyum ramah padanya. Ada getaran dalam hatinya.
Mereka sepertinya orang baik.
Didalam kamar Dirga masih berbaring menunggu seseorang membantunya membersihkan diri.
"Kemana Bian? tidak biasanya ia terlambat." Dirga menunggu Bian yang biasa membantunya membersihkan badan. Pintu kamar terbuka dan nampak Tama datang bersama paman dan ayahnya, ada rasa bahagia dalam hati Dirga melihat kedatangan pak Galih. Sebagai seorang anak ia baru merasakan perhatian orangtuanya karena sudah lama sekali ia tidak merasakannya.
"Dirga, anakku yang kuat. Mengapa kau tidak mengabari ayah kalau kau kecelakaan?" Pak Galih langsung menghambur memeluk anak semata wayangnya, Dirga membalas pelukan ayahnya erat mengobati rindunya tapi tetap tidak meninggalkan kesan anak tangguh di hadapan ayahnya.
"Maaf, aku hanya tidak ingin membuat ayah khawatir. Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Kakimu patah kau bilang baik-baik saja, makanya kalau berkendara hati-hati jangan mengebut. Memangnya mau kemana sih, aku dengar kau ingin pergi keluar kota. Ingin menemui siapa?" Tama menyela ucapan Dirga yang sok kuat dan tidak butuh bantuan, ia sengaja mengadu pada ayah Dirga karena anaknya sudah menyusahkan nya. Dirga meliriknya sekilas lalu membuang muka.
"Aku ada urusan." Dirga berkilah, Tama mencebikkan bibirnya tak percaya.
"Urusan apa sampai kau harus pergi malam hari, sendiri pula." Dirga diam tak menjawab, ia memutar bola matanya malas berdebat dengan Tama yang pastinya tidak akan berujung. Paman dan ayahnya hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum melihat perdebatan itu.
"Ada seseorang menunggumu di luar, temui dia." Ayah Tama teringat gadis di luar sana yang berdiri didepan pintu, kata Tama itu kekasih Dirga.
"Siapa?"
"Kekasihmu." Ayah Tama menjawab sesuai apa yang ia dengar, Tama dalam hati ingin tertawa karena sebenarnya tadi ia hanya asal bicara.
"Kekasih?" Dirga menautkan kedua alisnya berpikir dalam. Untuk apa Bella datang? Bukankah kemarin mereka baru putus.
"Iya, dia sedang mengobrol bersama bibi dan mama mu." Tambah Galih.
Bella, beraninya kau kembali.
Dirga mengepalkan tangannya kuat mengingat kembali penghinaan Bella padanya.
"Dirga, kalau kau sedang ada masalah dengan kekasihmu harusnya kalian selesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan membiarkan dia sendirian di luar seperti itu. Kasihan anak orang." Ayah Tama menasehati Dirga, ia juga tidak tega saat melihat Ariani seperti orang kebingungan antara takut dan segan bertemu Dirga.
Mau apa dia datang kemari? Cih, aku sudah tidak sudi bertemu wanita itu.
Ariani.
Dirga melebarkan bola matanya, tak mengira ternyata Ariani yang datang. Ariani sendiri hanya bisa menundukkan kepala saat orang-orang melihat kearahnya, ia terpaksa mengikuti ajakan bu Maya karena ia tidak bisa kabur. Dirga tidak melepaskan pandangannya, ia terus menatap Ariani. Tama yang sedari tadi memperhatikan mata Dirga yang tak berkedip memandang Ariani pun tersenyum.
Menarik.
Sedangkan Ariani tak berkutik, ia hanya bisa pasrah mengikuti alur cerita ini.
Ingin sekali aku pergi dari sini.
Ariani memberanikan diri menegakkan kepalanya menatap Dirga yang duduk bersandar di tempat tidur dan ternyata Dirga juga dari tadi menatapnya, Ariani memaksakan bibirnya tersenyum pada lelaki itu.
"Kenapa kau tidak memberitahu ayah kalau kau sudah punya kekasih?" ucapan pak Galih membuat Ariani tercengang. Dirga yang baru sadar maksud ucapan ayahnya baru mengerti kesalahpahaman ini.
Jadi wanita yang mereka bicarakan adalah Ariani, mereka mengira ariani kekasih ku?
Dirga tak habis pikir bisa-bisanya ayahnya mengira Ariani kekasihnya.
Apa aku tidak salah dengar? Apa maksud ucapan bapak ini? Kekasih?
Ariani diam dengan kebingungannya. Dirga dan Ariani saling melirik satu sama lain, mereka berbicara lewat tatapan mata meminta penjelasan atas perkataan ayah Dirga.
__ADS_1
Apa yang kau katakan pada ayahku? Sorot mata Dirga tajam meminta penjelasan Ariani yang mengaku-ngaku kekasihnya.
Aku tidak tahu... Ariani mengerutkan alisnya sembari menggeleng kepala.
Ada seseorang di sana yang menahan tawanya melihat gerak gerik mereka yang kebingungan sedang mengobrol lewat telepati. Tama orang yang membuat kekisruhan ini terlihat santai menyaksikan drama cinta dalam hati antara Dirga dan Ariani.
Hahaha... Lucu juga melihat mereka kebingungan seperti itu.
Pandangan Dirga beralih melihat Tama yang santai terlihat menggembungkan pipinya menahan tawa, Dirga mulai mengerti ini pasti ulah Tama dibalik semua ini yang sudah membuat berita bohong hingga membuat semua orang percaya.
Awas kau.
"Siapa namamu nak?" Bu Maya menanyakan Ariani.
"Ariani." Ariani mencoba tenang dengan memasang senyum terbaiknya.
"Cantik ya, kamu berasal darimana?" Ibu Tama terkesan dengan kecantikan alami yang Ariani miliki, tidak hanya itu ia bisa menilai sepertinya Ariani merupakan gadis baik-baik.
"Dia dari desa." Dirga menjawab pertanyaan bibinya, Tama mengerutkan keningnya mengapa Dirga bisa tahu asal Ariani.
"Apa yang kau bawa nak? Apa ini untuk Dirga?" Ibu Tama mengambil plastik berisi kotak nasi yang Ariani bawa.
"Dirga, lihatlah apa yang kekasihmu bawa untukmu. Kau belum makan kan? Ayo sarapan dulu." Setelah dilihat isinya adalah bubur buatan Ariani. Dirga menganggukkan kepalanya.
"Ariani, titip Dirga ya. Kami pergi dulu." Tama pergi mengantar keluarganya meninggalkan Ariani dan Dirga berdua di kamar.
Hening, ruangan yang tadinya ramai kini berganti sunyi dan dingin. Ariani memberanikan diri duduk di kursi samping tempat tidur Dirga, ia menggigit bibirnya mengumpulkan keberanian untuk memulai percakapan. Dilihatnya Dirga menatapnya dengan muka juteknya.
Aku harus bicara.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu." Ariani mencoba tersenyum mengajak bicara lelaki di hadapannya. Dirga masih membisu, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Ariani masih berusaha mencairkan hati Dirga yang dingin.
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku tidak mengatakan apapun pada keluargamu, kau jangan salah paham." Ariani membahas kesalahpahaman yang terjadi, nyatanya ia juga terkejut.
"Aku tahu kau sudah bersama Bella, aku kemari hanya ingin melihat keadaanmu." Dirga masih diam seribu bahasa, Ariani merasa Dirga masih belum bisa menerima kehadirannya.
"Jika kau keberatan aku berada di sini, aku akan pergi." Ariani menunduk lalu memundurkan kursi hendak berdiri.
"Mana makanannya." Akhirnya mulut yang terkunci itu terbuka dan mengeluarkan suaranya.
"Iya?" Ariani terperangah akhirnya Dirga mau berbicara dengannya.
"Aku mau makan." Dengan semangat Ariani menyiapkan makanan yang ia masak khusus untuk Dirga.
Tidak apa-apa kalau kau membenciku, asalkan kau masih bisa menghargai apa yang aku lakukan itu sudah cukup membuatku bahagia.
__ADS_1