Melupakanmu

Melupakanmu
Ryan Mengungkapkan Rahasia Pada Ariani.


__ADS_3

Bella masuk kedalam ruangan Dara, ia menutup pintu dengan keras hingga mengagetkan Dara yang melihat kedatangannya.


"Bella." Dara sedikit terkejut melihat kedatangan Bella yang tidak lama dari Ariani yang baru saja keluar dari ruangannya.


Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Ariani barusan?


"Kau datang kesini sudah lama atau baru sampai?" Dara ingin memastikan apakah Bella menguping pembicaraan mereka.


"Aku baru sampai, aku sengaja datang kemari karena ada pekerjaan dan kebetulan lewat cafe jadi aku sekalian mampir ingin bertemu dengan sahabatku ini." Bella tersenyum seperti tidak mengetahui apapun, ia menghampiri Dara lalu mereka berpelukan seperti biasa, jika para wanita bertemu teman dekat pasti cipika-cipiki.


Syukurlah.


Dara menghela nafas lega sepertinya Bella memang baru sampai dan tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Apa kabarmu? sepertinya akhir-akhir ini kau terlihat sibuk hingga jarang mengabari ku." Dara mencoba mengalihkan perhatian teman dekatnya itu.


"Iya, memang beberapa hari ini aku sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai aku hampir melupakannya. Tidak, untuk yang satu ini aku tidak akan bisa berhenti melupakan dia. Kau tahu maksudku kan?" Bella tersenyum pada Dara yang menganggukkan kepala mengerti maksudnya, Bella sedang membicarakan Dirga.


"Apa kau tidak bosan terus membicarakannya, aku sendiri yang melihatmu seperti itu merasa bosan. Bella, bukalah hatimu untuk pria lain. Kau tidak akan terus menjomblo kan jika nanti Dirga bertemu wanita pilihannya?" Bella yang sengaja memancing Dara dan akhirnya ia berhasil membuat Dara berbicara banyak memintanya menyerah dengan ucapan yang sama. Meminta Bella mundur saja.


"Apa maksudmu? Jangan bilang kau sudah mengetahui siapa wanita yang disukai dan dekat dengan Dirga sekarang?" Dara yang seketika menutup mulutnya ia merasa tersudut dengan tuduhan Bella.


"Bukan itu maksudku, Bella sayang. Aku hanya ingin memberimu pilihan. Sebagai sahabat mu aku ingin melihatmu bahagia, temukan kebahagiaan mu meskipun tidak bersama Dirga." Sebagai sahabat, Dara pun ingin melihat Bella bahagia meskipun tidak harus dengan Dirga.


"Jadi, kau sudah tidak ingin lagi mendukungku mendapatkan Dirga? Sahabat macam apa kau?'' Bella yang sudah terlihat emosi meragukan keberpihakan Dara padanya.

__ADS_1


" Bella, aku mengerti perasaan cintamu pada Dirga yang begitu besar. Tetapi aku merasa prihatin melihatmu yang berjuang sendiri bertahun-tahun hingga sekarang namun tetap tidak ada jawaban darinya. Bukalah mata hatimu Bella, tolong dengarkan aku. Aku berkata seperti itu karena aku peduli padamu, coba renungkan perkataan ku ." Dara masih berusaha menggoyahkan keegoisan Bella yang setegar karang.


"Jika kau ingin melihatku bahagia bantu aku mendapatkan Dirga, maka aku akan bahagia. Jangan memintaku berhenti, aku akan membuktikannya padamu. Dirga akan bertekuk lutut padaku, lihat saja. " Bella pergi meninggalkan Dara yang menggelengkan kepala merasa serba salah bagaimana cara menyadarkannya, Bella yang sangat tergila-gila pada Dirga. Dara tidak mengerti entah apa yang bisa membuat Bella bertahan hingga bertahun-tahun mengejar cinta Dirga, seperti tidak ada laki-laki lain saja.


Di sisi lain Ariani yang sudah pulang dari bekerja sedang berada di halte, ia dan beberapa orang di sana menunggu bis di halte itu. Tidak seperti biasanya, Dirga yang selalu menjemputnya pulang kini absen tidak menjemputnya karena sedang sakit.


"Dirga sedang apa ya? Apa dia sudah tidur?" Ariani memikirkan keadaan Dirga, ia mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan.


(Dirga...)


(Kau sedang apa? )


(Apa sudah tidur? )


Rentetan pesan yang dikirim Ariani untuk Dirga, kini Ariani menunjukkan perhatian padanya.


"Belum di balas, mungkin dia sudah tidur." Ariani menunggu pesan balasan dari Dirga namun sepertinya Dirga belum membaca pesannya. Ariani kemudian memasukkan ponselnya dan melanjutkan menunggu bis datang, tiba-tiba ada sebuah mobil menepi di pinggir jalan dekat halte, Ariani tidak begitu paham dengan pemilik mobil itu yang pasti bukanlah Dirga. Kemudian pemilik mobil itu keluar membuat Ariani terkejut.


"Kak Ryan." Ryan menghampiri Ariani yang duduk mematung tak menyangka dia yang datang.


"Ariani, ayo ikut aku. Aku akan mengantarmu pulang." Ryan mengajak Ariani pulang bersamanya.


"Terimakasih, tetapi saya naik bis saja." Ariani menolak tawaran Ryan, ia takut akan terjadi kesalahpahaman lagi.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, kumohon ikutlah bersamaku." Ariani menatap sorot mata Ryan yang memang terlihat serius.

__ADS_1


"Baiklah." Ariani pun tidak bisa menolak ajakan Ryan yang ingin berbicara sesuatu padanya, di samping itu Ariani juga sedang menyiapkan sesuatu yang ingin di sampaikannya kepada Ryan. Kini Ariani berada dalam satu mobil bersama Ryan, tidak bisa diungkapkan bagaimana perasaannya sekarang karena tengah bersama lelaki yang merupakan cinta pertamanya. Ariani merasa gugup saat Ryan tersenyum melirik kearahnya, namun bukan rasa gugup dan berdebar karena bahagia bisa bersama dengan Ryan. Tetapi Ariani merasa diawasi dan ia merasa sudah menghianati Dirga.


Mengapa aku merasa di awasi dia? Bagaimana jika Dirga tahu aku sedang bersama Kak Ryan?


Ariani merasa Dirga mengawasi nya, yang ada dipikirannya sekarang adalah wajah Dirga dengan sorot matanya yang tajam yang siap menusuknya. Apa karena ia terbiasa pulang bersama Dirga hingga saat bersama lelaki lain ia menjadi merasa asing dan membuat nya tidak nyaman.


Apa yang sedang aku pikirkan? Mengapa Dirga yang ada di otakku sekarang?


Ariani menundukkan kepala, ia menggelengkan kepalanya berusaha membuyarkan nama Dirga di pikirannya. Hingga akhirnya Ryan menepikan mobilnya di sebuah cafe, Ariani pun keluar saat Ryan membukakan pintu untuknya.


"Kita ngopi disini sebentar." Ryan mengajak Ariani masuk kedalam cafe dan memesan kopi untuknya dan juga Ariani. Setelah itu, mereka diam sama-sama membisu. Ariani menunggu Ryan berbicara, sedangkan Ryan masih merangkai kata-kata yang tepat.


"Ariani, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi maaf, bukannya aku lancang atau terlalu percaya diri tetapi aku mendengar ini semua dari Tomi." Ryan ingin membuka sebuah rahasia yang tersimpan rapat.


"Apa? " Ariani masih belum mengerti arah pembicaraan Ryan.


"Tomi bilang kau menyukaiku. Dia berkata bahwa kau menyukai ku sejak masih SMP." Ariani membulatkan matanya, tangannya merasa dingin dan berkeringat. Rahasia yang ia simpan sendiri ternyata ada orang yang mengetahuinya.


Tidak mungkin, bagaimana bisa kak Tomi tahu ?.


"Maafkan aku, aku mendengar rahasia itu dari Tomi yang sedang mabuk saat itu. Tetapi ucapan Tomi itu sangat mengganggu pikiran ku hingga sekarang. Bisa saja Tomi hanya bergurau dengan ucapannya, karena dia sedang mabuk dan sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Iya kan?" Ariani membeku, ia menggigit bibirnya dan ia menundukkan kepalanya.


Lihatlah, dari ucapannya saja sepertinya dia memang tidak menyukai ku, untung saja aku tidak sempat mengatakan cinta padanya.


Ariani sedikit kecewa dengan ucapan Ryan yang terkesan menyangkal ucapan Tomi tentang perasaan Ariani padanya itu tidak benar terjadi.

__ADS_1


__ADS_2