
Suasana taman yang sepi kini terlihat semakin mencekam. Dua wanita yang berteman lama berdiri saling berhadapan, Elma menampakkan wajah penuh amarah dengan tatapan yang siap menghunus Ariani yang terpergok berada di taman bersama Ryan, kekasihnya.
"Jawab aku Ariani. Mengapa kau disini bersama kekasihku! " Ariani masih bungkam, ia masih memegang janjinya untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Ia menengok kearah Ryan yang terdiam melihat Elma memperlakukannya dengan kasar. Mengapa Ryan tidak ada tindakan untuk melerai mereka?
"Apa kau tuli? Kau sudah tertangkap basah disini, apa kau masih ingin menyangkalnya? Kalian sedang berduaan di taman. Padahal kau tahu sendiri kalau Ryan adalah kekasihku dan kau pun menghadiri pertunangan kita hari itu, iya kan?" Elma menangis seperti seorang korban yang ditikung temannya sendiri, Ariani masih diam membiarkan Elma meluapkan emosinya, namun ia merasa geram melihat Ryan yang hanya berdiam diri tak berkutik seperti robot rusak, tidak ada upaya untuk meluruskan kejadian ini.
"Aku tak menyangka kau bisa berbuat seperti ini padaku, aku tahu diam-diam kau sudah lama menyukai Ryan dan kau masih mengejarnya sampai sekarang. Jadi benar, selama ini kau datang dan bekerja di kota ini dengan tujuan agar kau bisa mendekati Ryan. Iya?! " Elma mendorong Ariani hingga tersungkur, dari mana ia mendengar berita bohong itu dan parahnya Elma percaya, ini adalah perbuatan Tomi yang selalu menambahkan cerita tentang Ariani supaya orang menilai buruk terhadap Ariani.
"Tidak, itu tidak benar." Ariani yang semakin terpojok masih berusaha mengelak, Ariani tidak habis pikir darimana Elma mendengar berita bohong seperti itu, siapa yang sudah menyebarkan gosip itu?Kenyataannya Ariani pergi ke kota untuk mengadu nasib mencari pekerjaan demi menyambung hidup keluarganya karena warung kopi dan mie miliknya kebakaran.
Plak... satu lagi tangan melayang mendarat di pipi Ariani hingga di sudut bibirnya mengeluarkan darah, Ariani menahan perih mendapat tamparan yang kedua dari temannya. Dielus lagi pipinya yang terlihat merah, perih yang ia rasakan menjalar hingga ke hati.
"Elma, kendalikan emosimu. Ini semua tidak seperti apa yang kau lihat." Ryan bereaksi, ia menghampiri Elma meraih tangannya dan mencoba menenangkannya. Ariani sudah berkaca-kaca, tapi ia masih berusaha untuk tegar.
"Apa?! Kau ingin membelanya? Kalian semua sudah berani bermain dibelakang ku." Elma menepis tangan Ryan, Elma menyudutkan Ryan membuat Ryan kalah.
"Ryan... Ryan... Ternyata kau tidak lebih dari seorang pecundang, menghadapi dua wanita saja kau tidak mampu. Pengecut!" Tomi memaki Ryan di balik pohon dari kejauhan, merasa geram karena sikap Ryan yang lembek dan tidak tegas. Ryan tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi pertikaian antara Ariani dan Elma.
__ADS_1
"Elma, ini semua tidak benar. Aku... " Ariani pun ingin meluruskan semua tuduhan padanya, namun sepertinya Elma tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
"Kau masih ingin beralasan? Wanita sepertimu memang pandai mencari alasan, mulut manis tetapi dalam hatinya busuk. Kau ingin mengambil kesempatan merebut Ryan, tunangan temanmu sendiri, wanita macam apa kau?" Elma masih tersulut emosi berbicara tanpa arah, intinya merendahkan Ariani. Ariani menggeleng kepala tak percaya, tak menyangka Elma bisa berbicara seperti itu padanya, harus dengan cara apa ia bisa mendinginkan hatinya. Padahal Ariani sudah menganggap hubungan mereka baik-baik saja, Ariani sudah melupakan kejadian yang lalu setelah Elma meminta maaf padanya dan ingin memperbaiki hubungan pertemanan mereka.
"Oh, atau jangan-jangan memang benar kalau kau ini wanita penggoda. Kau merayu banyak lelaki di warung kopi mu, lalu kau bawa keahlian mu itu kemari untuk menggoda tunangan ku." Ariani terperangah tak percaya Elma menuduhnya sebagai wanita penggoda, lalu ia bangkit ingin melihat perlakuan Elma selanjutnya.
"Wanita murahan, lebih baik kau pulang saja sana ke desa. Cari laki-laki yang lebih tampan, yang lebih kaya dari Ryan asal kau jangan mengganggu hubunganku dengan Ryan. J*l*ng."
Plak!.. suara tamparan terdengar lagi, kini Ariani yang balik menampar pipi Elma. Sudah habis kesabaran yang ia pendam, selama ini ia tidak peduli dengan segala tuduhan Elma padanya, tetapi Ariani tidak terima saat Elma mengatainya wanita murahan, hina sekali. Selama ini Ariani menjaga benar harga dirinya, meskipun banyak orang yang merendahkannya karena ia miskin, Ariani masih bisa menerima.Tetapi tidak dengan cemoohan orang yang menuduhnya sebagai wanita murahan, penggoda, Ariani tidak bisa mentolerir nya lagi. Ryan yang melihat Ariani menampar Elma menarik mundur tubuh Elma, berusaha menengahi memisahkan mereka agar tidak terlalu dekat.
"Apa kau sudah puas memakiku? Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya." Ariani membuat Elma dan Ryan bungkam, saatnya ia yang bicara sekarang.
"Kau berbicara seolah semua yang kau katakan itu benar, tanpa ingin mencari tahu terlebih dulu kebenarannya. Kau membuatku menjadi semakin mengerti siapa dirimu yang sebenarnya." Perlakuan Elma yang merendahkan dirinya membuat Ariani bisa menilai siapa Elma yang sebenarnya.
"Kau bilang aku wanita penggoda dan kau mengira bahwa aku pergi ke kota ini hanya karena ingin merebut Ryan darimu? Kau salah besar, untuk apa aku jauh-jauh pergi ke kota ini cuma hanya untuk merebut Ryan darimu, kalau aku mau aku bisa melakukannya saat di desa, aku bisa." Jawaban Ariani menusuk hati Ryan.
"Sayangnya aku tidak pernah ada niatan untuk melakukannya, lagipula benar apa katamu, lelaki di dunia ini bukan dia seorang. Aku bisa mendapatkan yang lebih baik darinya." Ucapan Ariani membuat Ryan sedikit menerka sepertinya Ariani memang tidak menyukainya.
__ADS_1
"Kau... " Elma menunjuk Ariani, ia tidak menyangka Ariani dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ia pasti bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Ryan.
"Kau terlalu berlebihan akan takut kehilangan dia, sehingga kau selalu menilai buruk diriku seolah aku akan merebut Ryan darimu. Tapi maaf aku tidak tertarik untuk merampas nya darimu." Kini Ariani sudah bisa mengambil sikap, setelah beberapa kejadian yang ia alami dan hari ini ia tahu sikap Ryan yang sebenarnya, Ryan yang mempermainkan perasaannya membuat rasa sukanya kepada Ryan perlahan memudar.
"Munafik, aku tahu kau berbohong. Aku tahu kau menyukai Ryan dan kau bersembunyi dibalik perasaanmu. Jawab jujur Ariani." Elma masih tidak percaya dengan semua yang Ariani ungkapkan. Benar, apa yang dituduhkan Elma itu semuanya memang benar, dulu memang Ariani tergila-gila dengan Ryan, tetapi sekarang perasaan itu sudah berbeda.
"Sepertinya kau penasaran sekali ya? Baiklah, aku akan mengatakannya padamu." Ariani tersenyum miring, ia maju mendekati Elma dan memajukan kepalanya hingga mulutnya berada di dekat telinga Elma.
"Dengar baik-baik, aku tidak menyukainya, aku tidak menyukai kekasihmu. Mengerti? Dan mengapa aku bisa berada bersamanya disini, kau tanyakan saja padanya." Ariani berbisik di telinga Elma, mengungkapkan isi hatinya, ia sudah mengambil keputusan. Ariani kemudian menatap Ryan dengan tersenyum getir.
Aku tidak akan menyesali semua keputusan ku, terimakasih sudah mengisi ruang hatiku selama ini.
Ariani melepaskan Ryan, kini ia benar-benar akan melupakan segala kesakitan dan kerinduan yang pernah ia rasakan hanya untuknya.
"Maaf jika aku selalu membuat masalah dalam hubungan kalian, aku akan menghindar bila suatu saat aku tidak sengaja bertemu dengan kalian. Ya, aku akan melakukan nya." Ariani akan memastikan, ia tidak ingin terus terusan menjadi biang masalah dalam hubungan Ryan dan Elma.
Ariani pergi meninggalkan sepasang kekasih yang hampir putus karena dirinya, ia pergi meninggalkan Ryan yang sudah mempermainkan perasaannya. Ariani menarik sebuah senyum di bibirnya, namun siapa yang tahu isi hati Ariani yang sesungguhnya.
__ADS_1