
Dirga berada didalam mobilnya, ia akan pulang ke rumahnya setelah seharian bekerja, kondisi jalanan sore hari itu terlihat ramai dan macet membuatnya harus ekstra sabar untuk menahan telinganya mendengar suara klakson yang bersahutan.
" Tumben macet sekali." Dirga yang melajukan mobilnya pelan teratur, ia kemudian melihat kerumunan orang yang sedang memberi pertolongan pada korban kecelakaan.
"Oh... ada yang kecelakaan ternyata, pantas saja macet." Dirga memperhatikan kerumunan itu dan menyipitkan matanya melihat wajah korban kecelakaan itu, ia menghentikan mobilnya dan keluar menuju kerumunan. Dirga terkejut dengan apa yang ditemuinya, korban kecelakaan itu adalah gadis yang pernah ia temui ketika di desa.
Mengapa dia berada disini?
"Tuan, bisakah anda membawanya ke rumah sakit." seseorang membuyarkan keterkejutan nya.
"bawa dia ke mobil." Dirga dengan sigap membopong Ariani ke mobilnya.
Selang beberapa menit kepergian Dirga, Indah pun yang akan menjemput Ariani hampir sampai.
"Bang, bisa cepat lagi gak?" Pinta Indah pada tukang ojeknya. Indah yang terjebak macet pun tiba di halte B tempat Ariani menunggunya, tetapi ia tidak mendapati Ariani disana. Indah mencoba menghubungi Ariani tetapi tidak aktif.
"Ariani, kamu dimana?"Indah mulai merasa khawatir dengan keberadaan temannya.
" Maafkan aku, membuat mu menunggu." Kristal bening menetes di pipinya.
Indah kemudian berjalan menyusuri jalan itu berharap menemukan Ariani, lalu ia melihat kerumunan orang yang sudah akan bubar, salah satunya membawa tas besar.
" Permisi Pak, apa Bapak pernah bertemu orang ini?" Indah menyodorkan ponsel nya dengan foto Ariani.
" Gadis ini, baru saja dibawa ke rumah sakit." Deg... jantung Indah berasa ingin loncat mendengar nya.
"Rumah sakit?" Indah berusaha menyadarkan diri.
__ADS_1
"Iya, dia mengalami kecelakaan.Ini tasnya ketinggalan tidak sempat di bawa pemuda itu."
"Apa?" Indah menutup mulutnya, terkejut dengan yang telah di alami temannya. Ia duduk terkulai kakinya terasa lemas tak bisa menopang memeluk tas besar milik Ariani,jantungnya pun berdetak kencang.
Sementara itu, Dirga sudah sampai di rumah sakit untuk memberikan pertolongan pada Ariani. Ia segera ke dalam dan meminta dokter untuk menangani Ariani.
"Tuan, Pasien ini atas nama siapa?" seorang Suster menanyakan indentitas pasien.
" Saya tidak tau, dia korban tabrak lari." Dirga menjawab apa adanya saja.
"Baiklah, silahkan Tuan ke ruang administrasi." Dirga pun ke tempat yang di beritahukan suster.
Ariani sudah ditangani oleh dokter dan sekarang sudah berada diruang perawatan, Ariani belum sadar dari pingsannya, kepalanya dibalut perban karena benturan saat kecelakaan. Dirga pun datang masuk kedalam ruangan Ariani berada, ia melihat gadis desa itu, dalam hatinya bertanya kenapa bisa berada disini. Kemudian ia duduk menarik kursi dan mendekati ranjang pasien. Memerhatikan setiap sudut wajah Ariani, kening yang tertutup perban, wajah yang pucat dan bibirnya .
"Kenapa kau bisa berada disini?" Dirga berbicara pada Ariani yang belum terbangun.
Ada apa ini?
Dirga melepaskan tangannya lalu duduk mundur kebelakang setelah Ariani memberikan tanda akan bangun dengan mengerjapkan bulu mata lentiknya.
"Mmmh..." suara Ariani menahan sakit dikepalanya, kemudian ia membuka matanya melihat sekeliling nya.
"Apa aku sudah berada di surga?" Ia melihat dinding bercat putih, ada jam dinding, tirai dan televisi yang menempel di dinding.
"Kau masih hidup" sebuah suara mengejutkan nya, Ariani melirik pandangan masih tampak samar di samping tempat tidurnya ada seorang lelaki.
Apa dia malaikat? tetapi wajahnya seperti tidak asing.
__ADS_1
Ariani masih berada dalam fantasinya yang menyangka ia sudah mati, tetapi kemudian ia memegang dadanya dan masih ada detakan disitu, ia pun sadar bahwa ternyata ia masih hidup.
"Syukurlah, terimakasih Tuhan kau masih memberikan aku kesempatan." Ariani kemudian duduk dan mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya.
"Ehemm... Kau sudah sadar, setelah tadi berpikir kalau kau sudah mati." Dirga yang dari tadi melihat tingkah aneh Ariani menggelengkan kepalanya.
Ariani memandang wajah lelaki yang bersamanya itu, ia mengenali wajah itu. Sorot mata tajam, rahang yang tegas dan wajah rupawan.
"Tuan, kau yang menolongku? Kau membawaku kemari?" Ariani tidak menyangka akan bertemu lelaki yang pernah membuatnya kesal, kini menolongnya dan menyelamatkan nyawanya.
"Iya..." Dirga menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Terimakasih Tuan, saya akan membalas kebaikan anda. Suatu saat nanti jika anda membutuhkan bantuan, saya akan membantunya selagi saya bisa." Dirga yang irit bicara itu hanya menganggukkan kepalanya.
.
.
.
maaf jika ada typo..
Hai..ini karya pertamaku...
mohon berkomentar dengan bijak... 🙏
pembaca yang baik hati... jangan lupa like 👍 karyaku ini..
__ADS_1
Terima kasih... 🙏