
Ariani yang berbaring termenung memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini, harus kemana ia pergi. Harta benda sudah raib diambil pencuri, begitu banyak lika liku kehidupan yang harus lewati, dalam diamnya ia selalu memanjatkan doa semoga selalu diberi pertolongan oleh siapapun, semoga cobaan ini bisa ia hadapi.
"Ariani" Pintu ruangan terbuka dan ia melihat Indah yang datang.
"Indah" Ariani bangun dan duduk tak menyangka temannya telah menemukannya, padahal ia sudah pasrah dengan keadaan jika nanti tidak bisa bertemu dengan Indah. Indah berlari menghambur memeluknya, mereka berpelukan erat sekali, menangis bersama menumpahkan kegalauan mereka, bersyukur akhirnya mereka bisa dipertemukan.
"Indah, aku takut sekali... hiks." Ariani tak bisa menahan kesedihan nya mengingat kejadian yang telah di alaminya.
"Maaf, maafkan aku. Aku terlambat menjemput mu." Indah pun menyesal karena terlambat menjemput Ariani.
"Aku sudah tidak punya apa-apa, pencuri itu mengambil semuanya. Aku takut seandainya kita tidak bisa bertemu lagi, aku harus kemana? huhuhu..." Ariani menumpahkan air matanya, dadanya terasa sesak.
" Aku akan mencarimu walau harus sampai ke lubang semut akan kucari kau sampai ketemu, kau jangan takut lagi, aku sudah disini. hemm... " Indah mencoba menenangkan temannya, mengelus lengan Ariani dan menghapus air matanya.
"Terimakasih sudah menemukanku." Ariani merasa terharu, ia bersyukur memiliki teman yang baik seperti Indah.
"Bagaimana kau bisa sampai sini?" Ariani penasaran dengan cerita Indah bisa menemukannya.
"Panjang ceritanya, nanti akan ku ceritakan. Sekarang ayo kita pulang." Indah mengajak Ariani pulang.
"Tetapi bagaimana dengan pria yang sudah menolongku? Aku harus berpamitan padanya. Dia sedang keluar." Ariani ingin berpamitan dengan Dirga sebelum ia pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Baiklah, kita tunggu dia lalu setelah itu kita pulang." Ariani menganggukkan kepalanya.
Dirga yang sedang berada di kafetaria rumah sakit sudah membelikan beberapa makanan untuk Ariani, ia akan menuju ruangan perawatan. Ditengah perjalanan ada seseorang memanggilnya.
"Dirga." Dirga pun menengok ke asal suara karena merasa namanya dipanggil.
Bella.
"Ternyata benar itu kau, kau sedang apa disini? siapa yang sakit?" Bella yang melihat Dirga berjalan membawa sesuatu lalu memanggilnya, ia sedang berada di rumah sakit yang sama dengan Dirga.
"Teman. Kau sendiri sedang apa disini?" Dirga bertanya balik.
"Ibuku sedang dirawat disini, dia sedang sakit. Penyakitnya kambuh." Dirga yang hanya menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Bella, ia hendak melangkahkan kakinya dan akan pergi meninggalkan Bella tetapi tangannya dicegah Bella.
Dirga menghela nafasnya dan terdiam sejenak, kemudian dia menuruti kemauan Bella untuk menemui Ibu Bella yang sedang dirawat. Dirga menganggap Bella sebagai teman saja tidak lebih meskipun ia tahu Bella mengejarnya sejak lama tetapi apa salahnya memberikan support pada Bella dengan menjenguk ibunya yang sedang sakit, lagipula Bella bukanlah musuhnya.
Akhirnya Dirga dan Bella pergi menuju ruang rawat inap Ibu Bella, sedangkan ditempat yang sama tetapi beda ruangan dua orang gadis masih menunggu kedatangan Dirga. Ariani dan Indah sepertinya sudah terlalu lama menunggu.
"Kita pulang sekarang saja ya?" Indah sudah lelah ingin pulang.
" Apa tidak apa -apa kita pergi begitu saja tanpa ucapan apapun padanya?" Ariani merasa tidak enak hati, jika tidak berpamitan sebelum pergi.
__ADS_1
"Tetapi hari sudah mulai malam dan kita sudah lama menunggunya dan dia masih belum datang, apa mungkin dia sudah pulang?" Indah menambahkan prasangka nya yang belum tentu benar.
"Baiklah, ayo kita pulang." Ariani pun yang melihat Indah sepertinya sudah kelelahan akhirnya menyetujui untuk pergi dan tidak berpamitan pada Dirga, malaikat penolongnya.
Ariani dan Indah keluar dari ruangan itu dan membayar semua administrasi pengobatan rumah sakit, Ariani mengarahkan pandangan nya ke seluruh penjuru berharap ia menemukan sosok yang ia tunggu tetapi tidak juga nampak. Ariani dan Indah akhirnya meninggalkan rumah sakit, mereka pulang dengan naik taksi online. Diperjalanan Ariani terdiam dan berbicara dengan hatinya.
Semoga kelak Tuhan mempertemukan kita lagi, agar aku bisa mengucapkan terimakasih padamu. Maafkan aku yang pergi begitu saja tanpa pamit. Malaikat penolong.
Ariani tersenyum, mengingat kebaikan yang ia terima dari Dirga.
...****************...
.
.
.
Hai... readers, mohon support nya untuk author, klik vote dan like 👍 ya... Author sangat berterima kasih dengan kebaikan readers sudah mau membaca karyaku.
Silahkan kirim komentar yang membangun untuk Author agar bisa lebih baik lagi dalam menulis dan berkarya.
__ADS_1
Terimakasih 💜