
Sinar mentari yang kini berubah berwarna jingga kemerahan di sebelah barat menyambut malam datang dengan hadir nya bulan yang akan menggantikan sinar terang matahari saat siang hari, begitu indah dipandang langit sore itu. Ariani sedang duduk di ruang tamu, ia melihat keluar jendela memandang indahnya pemandangan sore itu sambil menunggu Dirga turun dari kamarnya karena Dirga belum keluar sejak Tama pergi.
"Sudah sore, kenapa Dirga belum juga keluar? Apa dia tidur nyenyak? Aku ingin sekali pulang, aku bosan disini sendiri." Ariani merasa bosan, ia ingin kembali ke cafe. Tapi ia juga tidak enak mengganggu istirahat Dirga, ini semua dia lakukan agar Dirga semakin cepat pulih.
"Aku akan menelponnya." Ariani mengambil ponselnya, ia memilih kontak di layar. Tidak banyak nomor kontak di ponselnya hingga ia dengan cepat menemukan nama Dirga, Ariani lalu menelponnya.
"Ponselnya tidak aktif ." Ariani mendengus kesal saat tahu ponsel Dirga mati, tidak aktif. Ariani pun berdiri dan berjalan menuju lantai atas tempat kamar Dirga, ia sedikit berdebar saat menaiki tangga. Ariani membuang nafasnya mengumpulkan keberaniannya menemui Dirga di kamarnya,ia takut mengganggu istirahat nya kemudian ia berhenti di tengah tangga.
"Nanti dia marah tidak ya aku ke kamarnya?" Ariani merasa tidak enak hati karena sudah lancang, setelah menimbang akhirnya ia menunggu Dirga saja dibawah. Tetapi pintu kamar dibuka Dirga sebelum Ariani turun, Dirga keluar kamarnya membuat Ariani terkejut dan buru-buru berjalan cepat menuruni tangga agar Dirga tidak melihatnya hingga ia melewati satu anak tangga sampai ia terjatuh.
"Aduh." Ariani pun jatuh, ia meringis.
"Ariani, kau kenapa?" Dirga bergegas menghampiri Ariani yang duduk dibawah tangga memegangi kakinya.
"Tadinya aku mau ke atas tetapi setelah melihatmu keluar kamar jadi aku turun dan aku tidak hati-hati membuat ku terjatuh." Ariani berusaha bangkit berdiri tapi kakinya terasa sakit, sepertinya terkilir. Dirga yang melihat Ariani meringis menahan sakit sakit di kakinya menggendongnya menuju kursi diruang tengah, Ariani hanya diam. Dalam hatinya gugup, ia bisa mencium wangi maskulin tubuh Dirga yang habis mandi dengan rambutnya yang masih setengah basah, Dirga terlihat lebih fresh tidak seperti sedang sakit. Ariani pun duduk disofa meluruskan kakinya, Dirga duduk memangku kaki Ariani.
"Kau mau apa?" Ariani menekuk kakinya menjauh.
"Kakimu terkilir, biar aku pijat." Dirga menarik kaki Ariani lagi.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa." Ariani menolaknya, ia malu Dirga menyentuh kakinya.
"Diam, kau jangan keras kepala nanti kakimu bisa bengkak." Dirga memberi tatapan tajam miliknya membuat Ariani tak berkutik, akhirnya Ariani membiarkan Dirga memijat kakinya.
Kau bilang aku keras kepala? seharusnya aku yang mengatakan kata-kata itu padamu.
__ADS_1
Ariani menggerutu dalam hati, Dirga yang tidak sadar bahwa dirinya lah yang lebih keras kepala dibanding Ariani. Ariani mengeratkan tangannya saat Dirga mulai memijat pergelangan kakinya menahan sakit. Dirga melihat ekspresi wajah Ariani menahan sakit saat ia memijat kakinya, ia tersenyum lalu dengan reflek menarik keras pergelangan kaki Ariani hingga Ariani berteriak.
"Aaa.... Sakit!! Dirga apa yang kau lakukan pada kakiku? Bagaimana jika nanti aku tidak bisa jalan?" Wajah Ariani merah matanya berkaca-kaca, ternyata ia benar-benar kesakitan saat Dirga menjahili nya. Ariani menangis membuat Dirga menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku, Aku tidak tahu jika kau merasa sesakit itu. Tapi, coba kau berdiri sekarang." Dirga menyudahi memijit kaki Ariani, Ariani pun mencoba berdiri.
"Apa? Tidak mungkin, pergelangan kakiku sudah tidak begitu sakit sekarang. Bagaimana kau bisa melakukan nya Dirga?" Ariani sudah merasa enakan dengan sakit di kakinya.
"Rahasia, asal kau tahu selain tampan aku juga bisa melakukan apapun yang semua orang belum tentu bisa melakukannya." Jawab Dirga yang merasa bangga, menyombongkan diri didepan Ariani. Dirga kemudian berlalu meninggalkan Ariani ke dapur, ia melihat makanan terhidang di meja makan.
"Ini semua kau yang memasaknya?" Ariani menganggukkan kepalanya setelah menyusul Dirga ke meja makan, Dirga merasa takjub dengan semua yang dilakukan Ariani. Bisa dibilang Ariani merupakan tipe idealnya untuk dijadikan istrinya, Ariani bisa melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik.
"Dirga, aku akan kembali ke cafe. Bu Dara pasti sedang menunggu." Ariani ingin kembali ke cafe, melanjutkan pekerjaannya. Dirga yang sedang makan berhenti dari makannya.
"Aku akan mengantar mu." Dirga hendak berdiri ingin mengantar Ariani ke cafe.
"Aku pergi ya, jaga kesehatan mu." Ariani pun berpamitan menatap Dirga dan dibalas Dirga yang juga menatapnya, menganggukkan kepalanya tidak ada ucapan lagi dari mulutnya. Ariani pun pergi meninggalkan Dirga sendirian dirumahnya, dalam hatinya ia tidak tega meninggalkan Dirga yang sedang sakit.
Mengapa aku merasa berat meninggalkan nya sendiri? Rasanya aku ingin tinggal disana merawat nya, ini semua karena perbuatanku. Aku harus bertanggung jawab kan?.
Ariani yang sedang dalam perjalanan menuju cafe masih memikirkan Dirga, karena Dirga hanya tinggal sendiri dirumahnya dan tidak ada yang merawat nya. Dan tanpa terasa ia sudah sampai dicafe Dara.
"Ariani kau dicari Ibu Dara, dia meminta mu untuk keruangan nya." ucap salah satu pegawai cafe.
"Baik".Ariani pun bergegas keruangan Dara dan benar saja disana Dara memang sudah menunggunya, ingin mendengar cerita.
__ADS_1
" Kau sudah kembali, bagaimana dengan keadaan Dirga? Apa kau merawat nya dengan baik?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Dara yang memang penasaran dengan hubungan Ariani dan Dirga, tetapi sebelum Ariani menjawab pertanyaan Dara, Bella tiba-tiba datang ingin masuk keruangan Dara. Bella sudah berada didepan pintu ingin masuk namun pintu tidak tertutup rapat. Bella berhenti disitu mendengar percakapan Dara dan Ariani.
"Keadaannya sudah mulai membaik, meskipun badannya masih sedikit panas." Ariani menjelaskan keadaan Dirga yang sudah baikan, Dara melihat jari tangan Ariani yang di plester.
"Jarimu kenapa? Apa Dirga melakukan sesuatu padamu?" Ariani menggelengkan kepalanya dan menutupi jarinya yang terluka.
"Tidak, jari saya teriris pisau saat saya sedang memasak." Ariani berkata jujur, namun ia jadi teringat kejadian saat ia teriris pisau itu. Wajahnya memerah.
"Apa kau memasakkan makanan untuknya?" Dara melebarkan matanya, ia menutup mulut dengan tangannya. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Ariani hanya menganggukkan kepalanya.
Es kutub itu sudah mencair.
"Ariani, bisa kita bicara lebih serius. Ada suatu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Ada hubungan apa antara kamu dengan Dirga?" Ariani terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu, ia menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, dibilang teman tapi mesra, dibilang pacaran tapi Dirga belum menyatakan cinta padanya. Hubungan macam apa ini?
"Tolong jawab pertanyaan ku, anggap saja aku sebagai temanmu, bukan atasanmu. Kau jangan takut aku pandai menyimpan rahasia, jadi ada hubungan apa diantara kalian berdua?" Dara tersenyum membujuk Ariani untuk menjawab pertanyaannya, ia tidak tahu di luar Bella semakin menajamkan pendengarannya.
Apa? Jadi Dirga sudah menemukan wanita pilihannya?
Bella mengepalkan tangannya, ia tidak terima dengan apa yang sudah didengarnya.
"Kita hanya teman." Ariani pun menjawab dengan pandangan kebawah, Dara menghampiri Ariani. Ia memegang pundak Ariani.
"Baiklah, terimakasih kau sudah merawat Dirga." Dara merasa Ariani belum ingin jujur padanya dan menganggap Ariani masih malu mengatakan hubungannya dengan Dirga.
"Saya permisi." Ariani pun pergi keluar meninggalkan Dara. Bella pun berjalan menjauhi pintu ruangan Dara, ia berpapasan dengan Ariani yang keluar dari ruangan Dara. Ia melihat wajah Ariani dan akan mengingatnya dalam ingatannya.
__ADS_1
...----------------...