
Dirga meraih ponselnya yang ia letakkan di nakas, ia ingin menghubungi Ariani untuk membahas masalah yang terjadi diantara mereka. Menyelesaikan pertikaian di halte itu secara baik-baik dan memperbaiki hubungan mereka, tapi ternyata ponsel Ariani tidak aktif.
"Kemana dia? Harusnya jam segini dia sudah pulang." Dirga mulai gelisah. Ia melihat jam dinding menunjukkan waktu jam pulang kerja Ariani yang sudah lewat. Seakan tak menyerah lebih tepatnya penasaran Dirga mencoba menelepon nya lagi, namun sampai puluhan kali ia berusaha tapi tetap saja sama tidak aktif.
"Arrrgh...! Aku sudah mencoba mengikuti kemauan mu, tapi mengapa kau susah sekali dihubungi. Apa kau marah padaku? Salahku apa coba?" Usahanya tidak menunjukkan hasil membuat Dirga merasa geram karena dirinya telah diabaikan, sampai selimut dan bantal tercecer dilantai menjadi korban kekesalannya. Dirga yang memang sedang sendiri di kamarnya seketika merasa kesepian, ada rasa sesak di dadanya teringat gadis yang telah merenangi relung hatinya belakangan ini. Dirga merindukan Ariani padahal baru satu hari ia tak bertemu dengannya.
"Aku merindukannya." Ditatap nya layar ponsel miliknya kemudian ia membuka galeri foto di ponselnya. Dipandanginya foto ariani yang ia ambil secara diam-diam, semburat senyum terpancar di wajahnya mengingat kembali kebersamaan yang mereka lalui bersama. Walaupun singkat, Dirga merasa banyak cerita yang terjadi saat Ariani ada bersamanya. Dirga membuka lembaran kenangannya bersama Ariani.
POV Dirga
Sungguh perasaan apa ini? Awal perjumpaan kita yang terjadi tanpa sengaja membawaku kedalam jurang cinta. Meskipun tidak ada kesan yang indah saat awal pertemuan itu, tapi satu hal yang membuatku tidak lupa saat aku melihat guratan indah wajahmu di bawah langit malam yang terpancar sinar lampu jalan temaram. Terlihat mempesona hingga mengalihkan pandangan ku.
Ada rasa yang menggelitik hatiku saat ku melihatmu di warung kopi itu, wajah cantikmu terlihat jelas sangat berbeda dari malam itu seolah menyihir ku untuk terus memandangi mu, melihat gerak dan penampilanmu yang sederhana apa adanya membuatku merasa kagum pada seorang wanita untuk pertama kalinya.
Tak ku sangka Tuhan mempertemukan kita kembali, namun lagi-lagi pertemuan kita berakhir secara tidak menyenangkan karena kau pergi tanpa kabar meninggalkanku dan membuatku 'membencimu. Ada rasa bahagia dalam diriku saat tau ternyata kau datang ke kota untuk bekerja, sebuah kesempatan bagiku untuk dapat mencuri pandang melihatmu. Rasa ingin tahu terhadapmu membuat ku memberanikan diri mengikuti mu dan dengan paksa aku membawamu hingga membuat mu merasa takut, maafkan aku sebenarnya ini hanya caraku agar aku dapat lebih mengenalmu. Seiring berjalannya waktu perkenalan kita, perlahan mulai tumbuh rasa nyaman dalam diriku, ada rasa tak ingin jauh darimu namun aku berusaha untuk mengindahkan perasaan ini sampai aku benar-benar yakin bahwa kau juga nyaman bersamaku. Rasa ini semakin menjadi saat kau mencuri ciuman pertamaku, sangat manis dan hampir membuatku gila. Sejak saat itu, telah ku yakinkan hati ini untuk memilikimu.
Taukah kamu, ini adalah sesuatu yang berbeda yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, hatiku yang beku seakan mencair ketika kau hadir dalam kehidupan ku . Melihat senyum manis mu dan matamu yang indah kala membalas tatapan ku mampu membuat debaran di jantung ku, terasa ingin meledak seandainya kau tahu. Sejak saat itu aku berusaha menunjukkan perhatian ku padamu meskipun masih ku sembunyikan perasaan ini darimu, Namun dibalik kebahagiaan ku yang baru pertama kali merasakan indahnya mencintai tak sejalan dengan hatimu. Ternyata ada pria lain yang sudah mengisi ruang hatimu, disitu ada rasa kecewa dan ingin menyerah saja, aku harus bersaing dengan pria dimasa lalumu yang lebih dulu datang dalam kehidupan mu. Aku tak suka saat melihatmu bersamanya dan aku benci kau terus memikirkan nya. Aku mencoba berpaling darimu namun ternyata aku tak bisa, mungkin sudah terlanjur hati ini memilihmu. Dengan segenap keyakinan aku berusaha mengetuk hatimu, meyakinkan mu untuk melihatku.
Gadis ku, tak akan kubiarkan kau menangis karena terlalu berharga air matamu menangisi lelaki yang belum tentu mencintaimu. Aku tak sanggup melihat mu terluka dan menangis. Sudahi saja, lupakan dia dan lihatlah aku. Tidakkah kau tau aku yang selalu ada di saat sedihmu? Memelukmu dan membawamu lari melupakan sakit yang kau rasakan.
__ADS_1
"Gadis bodoh, sudah jelas-jelas pria yang kau sukai sudah memiliki wanita lain. Tapi tetap saja kau masih mengharapkan nya? Apa kelebihan yang dimilikinya hingga kau tak bisa berpaling darinya?" Dirga yang sudah tersadar dari lamunannya, merutuki sikap Ariani yang masih saja mengharapkan Ryan( untung saja Ariani tidak mendengarnya). Seperti merasa kalah saing Dirga merasa gemas sendiri karena Ariani yang masih bertahan dan tidak bisa berpaling dari Ryan, apa istimewa nya Ryan dimata Ariani?
"Aku ingin tahu, sehebat apa sih pria yang kau sukai itu." Merasa penasaran membuat Dirga terdorong ingin mencari tahu siapa Ryan, orang yang membuat Ariani tergila-gila.
"Astaga... Hei, mengapa kamarmu berantakan sekali. Kau seperti anak kecil saja main lempar bantal." Tama datang tanpa permisi masuk ke kamar Dirga, ia terkejut melihat kamar Dirga yang berantakan seperti kapal pecah. Dirga yang masih terbawa suasana hatinya yang kesal karena memikirkan Ariani, melirik Tama dengan mata tajamnya.
"Kau mau aku lempar juga?" Dari nada suaranya Dirga sedang tak ingin diganggu.
Tama mengambil bantal yang ada dibawah kakinya lalu melemparkan nya hingga mengenai tubuh Dirga, tapi Dirga yang sedang malas meladeni tidak membalas perbuatan Tama.
Tama yang memang hidup bersama Dirga sejak kecil sudah mengetahui sifat Dirga seperti apa, melihat perbedaan Dirga saat ini ia menerka sepertinya sedang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sebagai orang terdekatnya Tama mencoba memberikan perhatiannya pada Dirga.
"Tidak ada." Dirga masih enggan bercerita.
"Jangan begitu, aku tahu sikapmu berbeda sejak kita datang kemari. Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Ayo katakan saja." Tama terus mendesaknya, ingin sekali mendengar keluh kesah Dirga berbagi cerita dengannya.
"Apa ini mengenai keinginan ayahmu?" Tama membahas persoalan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di lingkungan keluarganya, Dirga masih diam.
"Apa kau sudah menemukan wanita untuk menjadi calon istrimu?" Sepertinya Tama sedang mencari bahan obrolan, arah pembicaraan Tama mulai melenceng. Dirga masih membiarkan Tama berbicara.
__ADS_1
"Kalau kau mau, Aku akan mengenalkan mu dengan beberapa kenalan ku. Nanti aku akan buat kencan buta untukmu lalu setelah itu kau bisa memilih wanita mana yang sesuai dengan tipe mu. Bagaimana, kau mau?" Tiba-tiba Tama menyarankan sebuah ide yang tidak disangka, Tama melihat Dirga yang hingga sampai saat ini masih belum punya kekasih mengemukakan ide gilanya.
"Cih... kau saja sana yang melakukannya, kau pikir aku tidak punya teman wanita." Dirga malas menanggapi ide gila Tama. Selama ini Dirga memang jomblo tapi bukan berarti dia tak laku.
Tama mencebikkan bibir nya karena Dirga tidak setuju dengan rencananya. Sekelebat ingatannya mengingat kembali kejadian saat mereka akan berangkat menuju luar kota, Dirga menemui Ariani sebelum ia pergi.
"Lalu bagaimana dengan ariani, gadis yang pernah aku lihat di rumahmu?" Tiba-tiba Tama menyebut nama Ariani, seketika Dirga menengok ke arahnya. Sebenarnya Tama hanya ingin tahu ekspresi Dirga.
Dia menengok, sepertinya dia tertarik saat aku menyebut nama gadis itu.
"Kau ada masalah dengannya?" Tama sedikit mengulik permasalahan yang terjadi antara Ariani dan Dirga.
"Lalu siapa lelaki yang bersamanya, apa dia pacarnya?" Tama malah membahas Ryan, membuat telinga Dirga panas.
"Berisik. Sudah sana pergi, aku mau tidur." Hati yang sudah mulai dingin kembali memanas mendengar Tama membahas Ryan yang datang mengacaukan perpisahannya dengan Ariani. Dirga menarik selimut sampai menutup ujung kepalanya.
"Kalau kau menyukainya ungkapkan saja, jangan bersembunyi. Diambil orang menyesal kemudian." Tama tergelak saat berjalan keluar kamar, ia puas sudah menjahili Dirga.
...****************...
__ADS_1