
Tak hentinya Dirga memikirkan Ariani, di mall ini tempat dimana dirinya menghabiskan waktu bersama Ariani. Dirga mengenang kebahagiaan saat bersamanya, hatinya berdesir kala mengingat wajah Ariani yang nampak bahagia saat ia membawanya bermain game di zona permainan didalam mall, Dirga saat itu dapat melihat ekspresi ariani tertawa pertama kalinya saat menyemangatinya bermain. Itu merupakan pengalaman pertamanya berkencan dengan seorang gadis, terasa indah dan ingin sekali mengulangnya kembali bersama Ariani.
Dirga menendang ban mobilnya, meluapkan segala emosi yang bersarang di dadanya. Hatinya mulai goyah, niat hati ingin menghapus nama Ariani dari ingatan, namun semakin ia mencoba lupakan semakin ia tak dapat berhenti memikirkannya. Ditambah lagi kala melihat Ryan yang ternyata belum putus dengan Elma, padahal Dirga sudah beranggapan Ryan dan Ariani telah bersatu.
"Sial...!!" Dirga memukul setir.
''Mengapa kau muncul dalam pikiran ku saat aku melihat lelaki itu?" Seperti sudah saling berkaitan, Dirga yang melihat Ryan menjadi mengingat Ariani.
"Mengapa kau lakukan semua ini? Kau memilih pergi tanpa memilih salah satu diantara kita. Apa yang sedang kau rencanakan Ariani." Dirga tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ariani yang tiba-tiba menghilang tanpa memilih Ryan ataupun dirinya. Saat Dirga sudah merasa kalah karena ia pikir Ariani memang tidak pernah menyukainya dan ia mencoba merelakan Ariani untuk bersama Ryan. Tapi ternyata semua dugaannya salah, Ryan masih bersama kekasihnya dan ini artinya lampu hijau menyala untuk dirinya.
"Kau sudah membuatku hampir gila. Jangan harap kau bisa lari dariku, aku tidak peduli dengan apa jawaban mu nanti." Tekad Dirga sudah bulat, ia akan mencari Ariani menanyakan cintanya kembali. Tak peduli dengan jawaban Ariani nanti, menolak atau membalas cintanya, yang sekarang Dirga ingin lakukan adalah bertemu dengannya. Lalu bagaimana dengan Bella?
Dara yang sedang berbelanja di mall tidak sengaja melihat Bella sedang berjalan didepannya dengan menjinjing tas belanjaan yang penuh ditangannya, Dara mempercepat langkahnya menghampiri Bella, ingin berbicara empat mata dengannya. Dara menepuk bahu Bella sengaja mengagetkan nya.
"Hai, Bella." Suara terdengar elegan namun raut wajah terlihat sinis, Dara menyapa temannya. Bella nampak terkejut dengan kehadiran Dara yang ternyata berada di tempat yang sama dengannya. Ia nampak malas bertemu dengan teman lamanya.
"Wah, banyak sekali belanjaan mu. Kau membeli semua ini dengan uangmu?." Dara melipat tangannya melihat barang belanjaan Bella yang banyak, pertanyaannya mengandung sindiran.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, ini semua kekasih ku yang membelikannya." Bella mengipas rambutnya, menyombongkan diri.
"Kekasih yang mana ya?" Dara sengaja menyinggung siapa yang tengah jadi kekasih Bella, karena Bella juga punya banyak teman lelaki.
"Siapa lagi kalau bukan Dirga." Ucap Bella bangga.
"Oya? Aku hampir lupa kalau kalian sudah resmi pacaran." Dara menutup mulutnya pura-pura lupa, Bella menyipitkan matanya tidak suka.
"Apa kau puas, karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?'' Dara menatap Bella dingin, ia menyudutkan Bella karena obsesinya yang sudah tercapai, mulai mengajak perang dengan teman lamanya.
"Dara, kau seperti baru mengenal ku saja. Kau tau aku memang sangat menginginkan Dirga sejak lama dan kau pun tahu berapa banyak usahaku demi mendapatkannya. Kau tidak perlu menanyakannya padaku sebahagia apa hidupku sekarang." Tak perlu diragukan lagi sepuas apa Bella telah mendapatkan obsesinya, Bella sengaja meladeni perdebatan itu untuk membuat telinga Dara panas.
"Haha, kau masih mengingat perbuatan ku pada wanita kampung itu. Apa yang di miliki wanita rendahan itu sampai kau bisa sangat membelanya?" Bella mulai terpancing tak terima dengan keberpihakan Dara pada Ariani, wanita yang menjadi penghalang dalam merebut hati Dirga.
"Dia bukan wanita rendahan! Asal kau tahu. Meskipun dia wanita kampung tetapi dia tidak melakukan perbuatan yang kampungan seperti kau, dia jauh lebih baik darimu. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Dirga jika ia mengetahui apa yang sudah kamu lakukan padanya." Dara menggertak Bella, mengancamnya akan mengadukan perbuatan jahat Bella terhadap Ariani pada Dirga.
"Silahkan, lakukan apa yang kau inginkan. Aku yakin Dirga pasti lebih percaya padaku, sekarang Dirga sudah mencintaiku. Lihat, apa yang sudah ia berikan padaku." Bella mengangkat tangannya menunjukkan begitu banyak barang belanjaan yang Dirga belikan untuknya, menurutnya ini adalah bukti cinta Dirga padanya.
__ADS_1
"Cih... Dirga memang lelaki mapan dan banyak uang, jadi ia bisa memberikan apa yang kau mau. Tapi apa pernah ia memberikan cintanya padamu? Kita lihat, berapa lama hubunganmu akan bertahan." Dirga memang tidak pernah menolak semua kemauan Bella untuk membelikannya apapun, itu hal mudah baginya. Namun Dara yakin satu hal, sepertinya Dirga belum mencintai Bella.
''Kau." Bella menunjuk wajah Dara bersamaan dengan Dara yang pergi berlalu meninggalkannya dengan senyum mengejek. Bella mengepalkan tangannya karena ia tidak bisa menyangkalnya.
Benar, selama ini Dirga memang selalu menuruti apa kemauanku. Tapi ia belum pernah memberikan tanda cintanya padaku. Apa dia benar-benar mencintaiku?
Kalimat terakhir Dara membuat Bella kena mental, ia mulai ragu dengan kesungguhan Dirga. Selama mereka berpacaran mereka belum pernah berciuman, paling hanya berpelukan saja tidak lebih, dan itu juga Bella yang memulai memeluk Dirga terlebih dulu.
Sedangkan Dirga yang sedang merindukan Ariani mendatangi tempat-tempat yang pernah ia datangi bersama Ariani berharap ia menemukan sosok yang ia cari. Terutama di taman yang merupakan tempat favorit mereka menghabiskan waktu dan disini pula Dirga memberikan ciuman pertama yang ia lakukan pada Ariani secara sadar, meskipun saat itu ia yang tersulut emosi mereka ulang peristiwa yang terjadi dirumahnya untuk menyadarkan Ariani. Dirga memaksa Ariani mengulangi ucapannya, mereka ulang ungkapan cinta Ariani yang pernah diucapkannya untuk Ryan, tetapi sebenarnya Dirga ingin mendengar ungkapan cinta itu yang seolah-olah ditujukan pada dirinya. Hatinya merasa bahagia saat Ariani mengatakannya padahal saat itu ia hanya ingin menunjukkan kebenaran yang terjadi, ia sudah benar-benar jatuh cinta pada Ariani sejak peristiwa Ariani yang mabuk dirumahnya.
"Seandainya kau tahu semua yang aku tunjukkan padamu ini adalah nyata, aku melakukan semua ini hanya padamu." Dirga bukanlah orang yang mudah jatuh cinta dan tidak mudah pula melupakan orang yang dicintainya. Dengan Ariani ia bisa menunjukkan kasih sayangnya, tapi sayang rasa cintanya terhalang oleh hati yang sudah lebih dulu hadir. Ariani lebih dulu mencintai Ryan dan Dirga menjadi yang kedua.
Tak hentinya dirga melakukan pencariannya, bahkan ia rela menunggu berjam-jam berharap Ariani muncul di daerah kontrakan tempat tinggalnya.
''Kemana aku harus mencarimu?" Dirga berdiri mematung di depan gang kontrakan, ia tidak melihat Ariani lalu lalang di sana, apa ia sudah tidak tinggal disini. Pikirnya.
"Sepertinya aku kenal dengan mobil ini." Indah yang sedang berjalan kaki menuju kontrakan melihat mobil terparkir di tepi jalan.
__ADS_1
"Bukankah itu pak William Dirga? Sedang apa ia disini?" Dari jarak hampir mendekati gang kontrakannya ia melihat punggung Dirga berjalan membelakanginya menuju mobilnya lalu pergi, Dirga tidak menyadari tengah di perhatikan karyawan nya. Sedangkan Indah merasa tingkah aneh bosnya mencurigakan, apa yang sedang ia cari?