
Adegan mesra di dapur itupun selesai, Dirga menempelkan keningnya di kepala Ariani setelah melepaskan ciumannya. Mereka mengatur nafas dan menyadarkan kembali pikirannya.
"Lupakan dia." Masih dengan nafas tersengal Dirga meminta Ariani untuk melupakan Ryan, Ariani menundukkan kepalanya.
"Beri aku waktu." Ariani akan berusaha untuk melupakan cinta pertamanya yang sudah lama bersemayam dihatinya, ia pun tidak ingin merana sendiri, mencintai dalam diam melihat Ryan dengan wanita lain. Saat ini ada lelaki baik yang datang padanya, meski awal perjumpaan mereka yang tidak begitu menyenangkan, seiring berjalannya waktu perlahan lelaki itu bisa membuatnya berpaling dan sedikit melupakan Ryan. Sekarang waktunya untuk move on bagi Ariani, bahagia bersama lelaki yang sudah mencuri hatinya. Biarlah perasaannya yang dulu ada untuk Ryan perlahan pudar seiring kebahagiaan yang ia dapat bersama Dirga.
"Terimakasih." Dirga tersenyum mendengar ucapan Ariani, meskipun Dirga belum menyatakan cinta namun Ariani sudah memberikan sinyal baik, Ariani akan menunggu pernyataan cinta Dirga padanya dan begitu pula Dirga. Sudah banyak kejadian yang mereka lalui bersama, Ariani nyaman menjalani hubungan ini meskipun mereka belum resmi sebagai pasangan kekasih.
"Aww... Dirga tanganku sedang luka, jangan terlalu erat." Ariani kesakitan saat Dirga tidak sengaja menggenggam jarinya terlalu erat.
"Maaf aku lupa." Dirga yang lupa dengan jari Ariani yang sedang terluka melepaskan genggamannya, Dirga pergi mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Ariani.
Sebuah mobil masuk ke pelataran rumah Dirga, seorang pria muda dan tampan keluar dari mobil itu. Ia berjalan menuju rumah Dirga dan saat berada di depan pintu pria itu melihat sepasang sepatu berada di luar, menandakan Dirga sedang ada tamu.
"Sepatu siapa ini? " Pria itu melihat sepatu wanita ada di depan pintu.
"Pintunya tidak tertutup, ceroboh sekali anak itu." Pria itu melihat pintu yang tidak tertutup rapat, ia merasa geram dengan kelalaian Dirga, kemudian ia masuk kedalam rumah Dirga. Lelaki itu mengedarkan pandangannya diruang tamu tetapi terlihat sepi, ia tidak mendapati Dirga di sana.
kemana dia?
Pria itu mendengar suara dua orang yang bersumber di dapur, ia menajamkan pendengaran nya lalu ia berjalan dengan mengendap-endap menuju ruang tengah dan berhenti disitu, pria itu semakin bisa mendengar dengan jelas suara yang bisa merusak pendengarannya yang masih jomblo.
"Dirga, apakah itu sakit? perih tidak?." Suara Ariani yang terdengar meringis.
"Tidak, ini hanya sedikit perih tapi cuma sebentar, tahan ya... " Dirga menenangkan Ariani mengobati lukanya. Namun ternyata suara itu ditanggapi berbeda dari pendengaran tamu tak diundang itu.
sedang apa mereka? Beraninya Dirga membawa wanita dan berbuat memalukan di rumahnya. Awas kau, anak nakal.
"Uuwh... perih. Pelan-pelan." Ariani meringis perih saat Dirga membersihkan lukanya dengan antiseptik. Pria itu membulatkan matanya, pikirannya sudah traveling kemana-mana. Kini pikiran negatif memenuhi otaknya.
"Tahan ya, aku akan perlahan. Nanti kau akan nyaman setelah ini tidak akan merasa sakit lagi." Dirga membalut luka Ariani dengan kain kasa dan plester.
__ADS_1
Tidak bisa dibiarkan, akan ku adukan hal ini pada Ayahmu. Agar kau cepat dinikahkan saja daripada berbuat dosa seperti itu, kurang ajar!
Dengan geram lelaki itu menuju dapur ingin menghentikan perbuatan Dirga yang dalam pikirannya sedang berbuat mesum dengan seorang wanita di dapur itu.
"Hentikan! Dirga apa yang kau lakukan?!!" Pria itu berteriak kencang, mengagetkan Ariani dan Dirga yang sedang duduk mengobati luka Ariani. Mereka kompak menengok ke arah pria yang datang tiba-tiba mengagetkan nya.
"Tama." Ternyata pria yang datang ke rumah Dirga adalah Tama.
"Iya, ini aku. Kau sedang apa?" Tama sudah mengecilkan volume suaranya setelah melihat dengan apa yang dilihat nya, ternyata ia sudah salah paham. Tama malu sendiri dengan pikiran kotor yang terlintas di otaknya dan ia telah berpikiran buruk terhadap Dirga dan Ariani.
"Kau sudah pulang, sejak kapan? Mengapa kau tidak mengabariku?" Dirga menghampiri Tama, mereka berjalan menuju ruang tengah. Ariani tidak ikut bergabung dengan mereka, ia melanjutkan pekerjaan memasaknya.
"Aku ingin memberimu kejutan, kudengar kau sedang sakit jadi aku langsung kemari untuk melihat keadaanmu." Tama yang sudah menyelesaikan tugas pelayanan kesehatan di desa Ariani pulang ke kota asalnya, ia sudah bisa bekerja kembali di kota.
"Aku sudah merasa sehat, demamku juga sudah turun." Dirga sudah merasa sehat karena Ariani yang merawatnya. Tiba-tiba Ariani muncul dari dapur membawakan minum, Tama melihat wajah Ariani dengan seksama.
Wajahnya familiar, sepertinya aku pernah bertemu gadis ini. Tapi dimana ya?
"Silakan... " Ariani menaruh nampan di meja, kemudian ia hendak kembali ke dapur namun Tama bersuara.
"Tunggu Nona, aku merasa familiar dengan wajahmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Dirga membeku, ternyata Tama mengenali wajah Ariani.
"Benar Pak dokter, aku dari desa A tempat pak dokter bertugas. Aku pernah membawa adikku berobat ke puskesmas." Tama menganggukkan kepala sudah mengingat nya.
"Iya, aku ingat sekarang. Kau kakaknya Kirani kan? Bagaimana bisa kau ada di Kota ini?" Setahunya, Ariani berjualan kopi dan mie di pasar.
"Aku bekerja disini." Ariani menjawab seperlunya, ia tidak ingin menceritakan kejadian warung kopinya yang terbakar, hatinya merasa sakit bila mengingat nya. Dirga melihat raut wajah Ariani berbeda ketika mendapat pertanyaan seperti itu, ia belum tahu cerita alasan Ariani bekerja di kota.
"Saya permisi dulu ya... " Setelah menjawab pertanyaan Tama, Ariani mengundurkan diri meninggalkan Tama dan Dirga. Kedua pria itu melihat punggung Ariani saat menuju dapur.
"Sejak kapan kau kenal dia?" Kini Tama bertanya kepada Dirga.
__ADS_1
"Dia bekerja di cafe milik temanku, dia yang mengirim makanan untukku. Tentang mengapa aku bisa kenal dengannya, ceritanya panjang nanti akan kuceritakan. Aku mau istirahat." Dirga tidak menceritakan awal mula pertemuan nya dengan Ariani kepada Tama, Lalu Dirga menuju kamarnya disusul Tama mengikutinya dari belakang. Dirga berbaring di tempat tidurnya.
"Dirga, apa kau sudah menghubungi ayahmu?" Tama bersuara saat Dirga baru memejamkan mata.
"Belum." Dirga menjawab dengan menutup mata dan memeluk guling.
"Sudahlah Dirga, kau sudah dewasa. Hadapi masalahmu, jangan bersembunyi dengan keegoisan mu. Ayahmu sedang sakit, beliau pasti merindukanmu. Jenguk beliau, jangan sampai kau menyesal nanti." Tama merasa prihatin dengan hubungan Dirga dengan ayahnya, konflik di masa lalu masih belum terselesaikan. Dirga menutup diri untuk tidak bertemu dengan ayah kandungnya karena menikah dengan wanita lain saat ibunya meninggal. Dirga membuka matanya, ia mengeratkan pelukan pada guling nya.
"Aku akan menemanimu menemui ayahmu, jika kau berubah pikiran." Tama tahu sebenarnya Dirga merindukan ayahnya, orang tua Tama yang selalu berkomunikasi dengan ayah Dirga dan mereka yang tahu kebenarannya namun belum pernah menceritakannya pada Dirga tapi suatu saat akan membukanya.
"Baiklah, aku pulang dulu. Jaga kesehatan mu." Tama menepuk punggung Dirga saat Dirga menyembunyikan wajahnya dibalik guling, lalu ia pergi meninggalkan Dirga di kamarnya.
Tama menuruni tangga, ia menuju dapur dan melihat Ariani sedang menghidangkan masakan buatan nya dimeja makan.
"Wah, sepertinya masakan mu enak." Ariani tersenyum mendapat pujian dari Tama.
"Terimakasih sudah merawat Dirga, aku akan pergi. Apa kau ingin pulang sekarang? Aku akan mengantarmu." Tama berterima kasih karena Ariani merawat Dirga, ia juga menawari Ariani untuk pulang bersamanya.
"Tidak, aku akan menunggu Dirga bangun lalu setelah itu aku akan pulang."Ariani ingin menyelesaikan tugasnya merawat Dirga.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi. Jaga dirimu." Tama yang memiliki sifat ramah.
"Baik, hati-hati pak dokter." Tama keluar meninggalkan rumah Dirga.
Didalam kamar Dirga masih memeluk guling, ia tidak bisa memejamkan matanya memikirkan ucapan Tama.
Ibu... Ayah... Aku merindukan kalian.
Setetes kristal bening menetes diujung matanya.
......................
__ADS_1