
Ariani merasa Dejavu. Ya, sebelumnya Bella pernah menghinanya kalau dia seorang gadis desa miskin yang mencoba merebut Dirga darinya.
''Aku ingin pergi ketempat yang jauh, hingga tidak ada lagi orang yang menindas ku.'' Ariani merasa lelah dengan semua ini, bukan salahnya jika ia bertemu Ryan ataupun Dirga. Tujuan awal Ariani ke kota ingin mencari pekerjaan yang lebih baik demi keluarganya, tapi siapa sangka takdir mempertemukan ia dengan kedua lelaki itu dan terjadilah garis cerita yang rumit.
....
Dirga melihat jam yang menempel di dinding.
''Berapa lama lagi aku menunggunya?'' Dirga menunggu kedatangan Ariani karena sudah berjanji akan menemuinya malam ini. Dirga yang sudah diperbolehkan pulang kini berada di rumahnya, ia ada di kamar lantai bawah. Dirga di kamar itu sementara waktu selama pemulihan kakinya. Ia mengedarkan pandangan melihat setiap sudut ruangan, tiba-tiba senyum terbit dari bibirnya. Dirga ingat dikamar ini ia dan Ariani berciuman dengan bergairah saat Ariani mabuk (baca eps.43).
"Bahkan saat mabuk pun dia menggemaskan." Pipi Dirga bersemu merah membayangkan lagi ciuman pertamanya yang dicuri Ariani dan saat itu Dirga kesal karena ternyata ia salah paham.
"Astaga, mengapa aku mengingatnya." Dirga menepuk keningnya, pikiran mesum berseliweran di kepalanya.
Terbuai dalam kenangan Dirga disadarkan dengan suara ketukan pintu.
"Dirga, apa boleh mama masuk? Mama bawa makanan untukmu." Bu Maya di balik pintu membawa makanan untuk Dirga.
"Masuk." Dirga menjawab singkat.
Bu Maya membuka pintu dengan hati gugup saat masuk kedalam kamar Dirga, ia sedikit takut sesuatu akan melayang mengenainya karena Dirga masih belum bisa menerimanya. Tanpa sepatah kata Maya menaruh nampan di meja samping tempat tidur. Maya melirik Dirga duduk bersandar di tempat tidur sedang memangku laptopnya.
"Makanlah dulu, lalu minum obat." Maya mencoba memberi sedikit perhatian kepada anak sambungnya, tetapi hanya dibalas anggukan kepala Dirga. Dirga terlihat sibuk menatap layar, entah apa yang sebenarnya yang dilakukannya. Memantau pekerjaan atau pura-pura sibuk. Maya berlalu keluar kamar.
Indira, lihatlah anakmu sudah besar. Dia masih seperti Dirga kecil yang aku kenal.
Dibalik pintu Maya tersenyum kecil mengingat sikap Dirga padanya tidak ada yang berubah, dingin dan irit bicara. Saat masih kecil Dirga memberontak tidak menerima kehadiran Maya menjadi ibunya. Dirga selalu bicara keras membentak, melempar yang ia genggam saat Maya mencoba mendekatinya, hingga dewasa Dirga masih tetap sama sulit didekati.
"Kau sudah mengirim makanan untuk Dirga?" Galih duduk di meja makan menunggu Maya.
"Sudah." Maya menarik kursi di sebelah Galih.
"Bagaimana?" Satu pertanyaan Galih mampu dimengerti Maya.
"Dia masih seperti Dirga kecil yang aku kenal, tapi bedanya sekarang ia tidak melempar mainan padaku. Hehe..." Maya terkekeh kecil sambil menggeleng-geleng mengingat galaknya Dirga padanya saat masih kecil.
"Pelan pelan sayang, aku yakin suatu saat Dirga akan mengerti." Galih memegang tangan Maya menenangkannya untuk bersabar lagi mencairkan hati Dirga yang keras, ia tahu pasti ada rasa sedih dalam hati istrinya karena keberadaannya masih diabaikan oleh anak semata wayangnya.
"Iya, semoga saja." Mereka memulai makan malam mereka.
Di tengah aktivitas makannya Galih memandang wajah istrinya, ia teringat pesan terakhir Indira (ibu kandung Dirga).
Seandainya kau tahu keadaan yang sebenarnya, apa kamu akan menerima mamamu, Dirga.
__ADS_1
Flashback On
Kejadian tujuh belas tahun yang lalu, kala itu Indira mengalami kecelakaan dan kondisinya sedang kritis;
''Mas, jika aku pergi maukah kau mengabulkan permintaan ku?" Diruang ICU Galih menggenggam tangan Indira, wajah Indira nampak pucat dan perban melingkar di kepalanya.
"Bertahanlah sayang, kau akan baik-baik saja." Galih memberikan semangat agar Indira bertahan, Indira tersenyum walaupun dengan menahan rasa sakit di kepalanya, ia mengutarakan keinginannya yang terakhir.
"Menikahlah dengan istri korban yang aku tabrak. Kau mau kan?" Galih melonggarkan tangannya, ia berat mengabulkan permintaan istrinya.
"Ku mohon kabulkan permintaanku. Aku telah membuat suami dan anaknya meninggal mas." Isak kecil keluar dari mulut Indira, ia tak kuasa menahan tangis karena telah merenggut 2 nyawa.
"Ini semua sudah takdir Indira. Aku hanya mencintaimu, kau harus yakin kau akan sembuh. Bertahanlah, Dirga anak kita menunggumu pulang."
"Kita punya Dirga mas, sedangkan dia sudah tidak punya siapa-siapa." Air mata membanjiri pipi Indira menyesali peristiwa yang menimpanya.
"Kumohon ini permintaan ku yang terakhir, nikahi dia mas. Dan itu akan membuat ku tenang."
Setelah mengetahui alasan Indira, Galih menyetujui permintaan terakhir istrinya untuk menikahi Maya istri korban kecelakaan itu. Pernikahan dilakukan beberapa bulan setelah kepergian Indira dan itu membuat Dirga tidak terima, ia membenci ayahnya lebih-lebih Maya yang telah mengambil Galih dari ibunya.
Flashback Off
....
Sementara di sebuah tempat hiburan malam Ryan dan Tomi nampak sedang berpesta bersama teman-temannya, salah satu teman mereka sedang mengadakan pesta ditempat itu.
"Semua sudah siap tinggal menunggu hari H." Pernikahan Ryan dan Elma akan dilaksanakan bulan depan. Bersama keluarganya Ryan menyiapkan segala sesuatunya untuk pernikahannya yang akan dilakukan di desa.
"Aku sudah tidak sabar melihat kalian menikah, pastinya desa kita akan ramai, semua warga akan antusias menghadiri pernikahanmu." Pernikahan Ryan dan Elma digadang-gadang akan menjadi pernikahan megah di desanya, maklum orangtua keduanya merupakan orang kaya di desa A dan pastinya akan menggelar pesta besar.
"Ck... Jangan berlebihan." Ryan nampak risih, jelas sebenarnya Ryan tahu kalau kesempatan Tomi mengejar Ariani terbuka lebar setelah ia menikah.
Selang beberapa menit Elma dan teman-temannya terlihat masuk kedalam kelab.
"Lihat itu calon istrimu datang." Tomi menunjuk Elma dengan hidungnya.
"Elma." Ia melambaikan tangan kearahnya. Elma sumringah menampakkan giginya lalu menuju meja Ryan. Sedangkan wajah Ryan datar melihat kedatangan kekasihnya.
"Kalian kapan datang?"
"Belum lama." Tomi yang menjawab, Elma mengangkat tangannya memanggil pelayan yang membawa nampan lalu mengambil gelas berisi minuman.
"Aku ke toilet sebentar." Kemudian Elma pergi.
__ADS_1
Seseorang berjalan melewati Ryan, sambil mengambil ponsel dari tasnya tanpa sadar wanita itu menjatuhkan dompetnya.
"Nona, kau menjatuhkan dompet mu." Ryan mengambil dan mengembalikannya.
"Oh, terimakasih." Wanita itu tersenyum ramah. Tindakan Ryan ternyata disaksikan teman Elma.
"Wow... Sepasang kekasih menjadi penyelamat dompet hari ini." Salah satunya berceletuk.
"Penyelamat dompet?" Ryan mengerutkan kening, heran.
"Tadi pagi Elma juga menyelamatkan Selly dari pencopet." Ada rasa bangga dalam hati Ryan pada kekasihnya tapi setelah mendengar cerita selanjutnya Ryan nampak menautkan alisnya.
"Iya, sampai-sampai wanita itu mau bertekuk lutut di depan Elma" Selly menambahkan.
"Benarkah? Mengapa sampai bertekuk lutut?" Tomi yang mendengar juga ikut penasaran.
"Aku tidak tahu, kita hanya memperhatikan mereka dari jauh dan Elma terlihat ada pembicaraan dengan pencopet itu." Selly menjelaskan detail kejadian.
....
"Aku dengar kau menyelamatkan Selly dari pencopet, benarkah?" Ryan dan Elma berada didalam mobil mengantar Elma pulang, Elma sedikit terkejut ternyata temannya menceritakan kejadian pagi tadi pada Ryan.
"Iya, apa kau ingin tahu siapa pencopet itu?" Ryan hanya diam.
"Ariani, dia yang mengambil dompet Selly." Elma melirik lelaki disampingnya, ingin tahu ekspresi Ryan. Ternyata benar dugaannya, air muka Ryan berubah saat dia menyebut nama Ariani.
"Kau pasti tidak percaya kan, tapi itu kenyataannya. Dia kembali ke kota ini dan menjadi pencuri." Elma menambahkan cerita yang ia karang.
"Kau jangan asal bicara El, belum tentu yang kau lihat itu benar." Elma mengepalkan tangannya tidak suka Ryan membela Ariani.
"Itu benar Ryan, aku melihat dengan mata kepalaku dompet Selly ada di tangannya."
"Jadi itu benar kalau Ariani yang berlutut didepan mu? Apa kau yang menyuruhnya?!" Sedikit mustahil tapi Ryan penasaran, apakah benar Elma melakukan itu pada Ariani.
"Iya." Mendengar pengakuan Elma, Ryan menggelengkan kepala merasa geram, tak habis pikir Elma tega melakukan hal itu pada Ariani. Ya, dia memang ingin mempermalukannya.
"Kamu sangat keterlaluan. Ariani itu temanmu dan kalian dulu begitu akrab. Jangan hanya karena satu kesalahan dan kesalahpahaman membuatmu terus membencinya." Ryan memukul setir menumpahkan kekecewaan.
"Kau terus saja membelanya." Elma tak terima.
"Kalau kau ingin menyalahkan, salahkan aku jangan salahkan dia. Aku yang sudah membuat masalah."
"Pernikahan kita sudah dekat, mulai sekarang tolong lupakan semuanya dan kita bisa hidup tenang. Berdamailah dengan Ariani." Pinta Ryan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan bisa tenang sebelum aku melihat Ariani menikah dengan pria lain." Ryan diam hanya memijat pelipisnya menghadapi kerasnya hati Elma yang tidak mau mengalah.
Bersambung...