
Awan mendung menyelimuti hidup Ariani, ia mendapat kabar bahwa sang adik meninggal dunia. Alam pun seolah ikut merasakan kesedihannya, langit sore hari itu berselimut mendung disertai gerimis yang turun menyambut Ariani yang kini duduk di depan tanah makam yang masih basah. Ariani yang ditemani Indah berada di makam Kirani yang baru beberapa jam dikebumikan, Ariani tidak dapat menyaksikan wajah sang adik untuk terakhir kalinya karena perjalanan dari kota ke desanya yang cukup jauh membutuhkan waktu berjam-jam, belum lagi ia harus bersabar ketika ditengah perjalanan ia mendapati macet karena perbaikan jalan rusak yang terjadi di daerah yang dilewati sehingga bus yang ia tumpangi tidak dapat sampai tepat pada waktunya. Ariani tidak pulang sendiri, Indah setia menemaninya. Indah yang juga merasa kehilangan dengan kepergian Kirani mengambil cuti di pekerjaannya.
Sesampainya di desa Ariani langsung ke tempat pemakaman Kirani, tapi sebelumnya ia pulang ke rumahnya terlebih dahulu menemui ibunya. Cukup lama Ariani duduk terdiam menatap batu nisan yang terbuat dari kayu balok tertulis nama Kirani.
"Kirani, Kakak sudah datang. Mengapa kamu pergi secepat ini?" Ariani menggenggam tanah kuburan Kirani, ia masih tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana tidak, kemarin ibunya memang memberi kabar bahwa Kirani sakit, tapi Bu Ani (ibu Ariani ) tidak memberitahu seberapa parah sakit Kirani dan paginya Ariani harus menerima kabar duka yang tidak pernah ia bayangkan.
"Maafkan Kakak. Hiks... Kakak tidak ada bersamamu disaat terakhirmu, merawat mu, menjagamu. Bahkan Kakak tidak sempat membawamu pergi berobat disaat kamu kritis. Aku memang tidak berguna!" Setengah berteriak Ariani meluapkan ketidakberdayaan nya, tangannya mengepal memukul tanah. Ia menunduk, sudah mulai terdengar isak tangis di makam itu. Sungguh Ariani sangat terpukul, banyak hal yang belum bisa ia berikan untuk Kirani. Perih, ia tidak sanggup menahan sakitnya kehilangan Kirani yang begitu mendadak.
"Ariani..." Indah yang ada sebelahnya memegang pundak Ariani, mengusapnya pelan menenangkan. Ia berusaha menguatkan Ariani, tetapi ia juga tidak bisa menahan Ariani meluapkan tangisnya. Indah tahu apa yang Ariani rasakan, sehancur apa hatinya saat ini.
"Aku belum sempat membahagiakan nya, mengajaknya jalan-jalan bahkan membawanya berobat ke rumah sakit pun belum kesampaian. Mengapa Dia mengambilnya dari ku? Lalu untuk apa aku pergi jauh ke kota jika akhirnya kirani pergi?" Ariani merasa marah karena tuhan telah memanggil adiknya, ia merasa takdir mempermainkan nya. Bila akhirnya Kirani pergi meninggalkan nya seperti ini, ia tidak akan pergi jauh ke kota meninggalkan keluarganya. Lebih baik ia tetap berada di desa agar bisa merawat adiknya sampai saat terakhirnya, sesalnya.
"Tidak Ariani, jangan bicara seperti itu. Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Ikhlaskan Kirani, Tuhan lebih menyayanginya. Percayalah, pasti akan ada hikmah dibalik semua ini." Indah yang mendengar protes Ariani terhadap ujian yang menimpanya memberi pencerahan agar Ariani tidak merasa semakin terpuruk.
"Lalu bagaimana denganku? Aku harus apa? Kirani sudah pergi, huhuu..." Indah memeluk Ariani, tidak tega juga melihat sahabatnya terus menangis. Dalam tangisnya sangat menyiratkan hatinya yang begitu rapuh.
"Kau wanita kuat, aku yakin kau bisa menghadapi semua ini. Suatu saat nanti kau akan menemukan kebahagiaan, kita hanya perlu bersabar. Akan ada pelangi setelah hujan." Tanpa sadar Indah terkejut dengan ucapannya, ia sendiri tidak menyangka bisa mengeluarkan kata-kata bijak, seperti sedang menggurui saja. Yang penting Ariani berhenti menangis, pikirnya.
Cuaca yang gerimis menjadi semakin deras, dan hujan pun turun hingga membuat baju Ariani dan Indah basah.
"Ayo kita pulang, hari sudah mulai gelap. Ibumu pasti sudah menunggu." Indah mengajak Ariani pulang karena air hujan yang turun sudah mulai deras.
__ADS_1
Sementara itu Dirga yang masih berada di luar kota dalam rangka menemui ayahnya yang sedang dirawat. Saat ini ia berada di rumah ayahnya, sedang duduk meminum jus di kamarnya. Ayahnya sengaja membuatkan kamar untuknya meskipun Dirga tidak pernah menempatinya. Dirga mengedarkan pandangan nya melihat setiap sudut kamar yang tertata rapi, tidak banyak barang yang memenuhi kamar bercat putih itu sehingga kamar itu terlihat luas dan bersih, ada satu buah lukisan besar menghiasi dinding kamar dan sebuah bingkai foto yang di letakkan di atas nakas. Dirga mengerutkan keningnya memperhatikan siapa yang ada didalam foto itu, ia bangkit lalu mengambilnya. Ia melihat sepasang suami-istri bersama seorang anak di dalam gambar, ternyata itu adalah foto keluarga Dirga saat orangtuanya menjadi orangtua baru sedangkan Dirga masih bayi. Dirga tidak menyangka ayahnya masih menyimpan foto kenangan ini, padahal ia sudah menikah dengan wanita lain.
Ibu... Dirga menatap wajah ibunya di foto itu, menggendongnya dengan tersenyum manis, terlihat cantik.
"Seandainya ibu masih hidup, apa ibu juga akan memintaku untuk segera menikah?" Seolah mengajak berbicara dengan ibunya, Dirga mengeluhkan permintaan ayahnya yang ia dengar langsung dari mulut ayahnya.
Saat pamannya yang menyampaikannya Dirga tidak terlalu memikirkannya, tapi setelah melihat kondisi ayahnya ia mulai sadar. Ia ingin mewujudkan keinginan ayahnya, setidaknya Dirga ingin menjadi anak yang berbakti.
Flashback on
perdebatan terjadi di kamar rawat inap.
"Aku masih terlalu muda untuk membangun sebuah rumah tangga."
"Itu beda, ayah menikah dengan ibuku karena kalian saling mencintai lalu kalian menikah. Aku?" Dirga menunjuk dirinya yang sampai saat ini masih jomblo.
"Maka dari itu, ayah menyampaikan ini agar kau bisa segera mencari calon menantu untuk ayah. Jika kau sudah menemukan gadis pilihanmu, jangan mengulur waktu. Menikahlah."
Tidak ada lagi kata keluar dari mulutnya, ingin sekali melawan, menolaknya. Tapi ia takut jika tiba-tiba ayahnya terkena serangan jantung. Jadi Dirga hanya menganggukkan kepala saja, mengiyakan supaya ayahnya tenang diam tidak berbicara lagi.
Flashback off
__ADS_1
Dirga merebahkan diri di tempat tidur, sorot matanya yang tajam tak terbaca, suara ayahnya yang mendesaknya untuk menikah muda masih terngiang di telinganya.
Menikahlah...
Jika kau sudah menemukan gadis pilihanmu, jangan mengulur waktu. Menikahlah...
Belum lagi dorongan keluarga Tama yang juga memintanya untuk mewujudkan keinginan Galih.
-Jika kau ingin menunjukkan baktimu pada orang tuamu, maka wujudkan lah keinginannya. (Paman)
-Ayahmu hanya meminta satu permintaan darimu, apa salahnya turuti kemauannya, jika itu adalah permintaan nya yang terakhir kau akan menyesal karena telah mengabaikannya. (Tama)
Dirga menjambak rambutnya, merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Situasi apa ini?" Dirga tidak mengerti mengapa ia bisa menghadapi masalah serumit ini, ia tidak menyangka ayahnya tanpa basa-basi langsung tepat sasaran menyatakan keinginannya pada Dirga untuk menikah padahal mereka baru saja bertemu setelah sekian lama. Sangat ironi, disaat bersamaan Dirga juga sedang merasakan patah hati karena Ariani, gadis yang bisa dibilang tengah dekat dengannya dan yang telah menyentuh hatinya.
Aku hanya memintamu untuk menungguku sampai aku kembali. Tapi mengapa tiba-tiba kau berubah, memintaku untuk menjauhi mu? Kau menyambut kehadiran lelaki itu tanpa mempedulikan keberadaan ku.
Dirga menyayangkan perubahan sikap Ariani padanya, padahal saat itu Dirga datang menemuinya karena ia ingin mengatakan bahwa ia akan pergi dan ia ingin Ariani menunggunya sampai ia kembali dan bila waktunya tiba Dirga akan mengungkapkan perasaannya pada Ariani. Tapi yang ada Ariani tidak mempedulikan nya dan seolah menghindar darinya.
"Ada apa dengan nya?"
__ADS_1
......................