
Ariani masih terhanyut dengan kesendiriannya di danau, ia menyendiri duduk di atas sebatang kayu besar yang sengaja dibiarkan tergeletak untuk duduk pengunjung danau. Ariani memikirkan tentang masa depannya. Seakan roda kehidupannya berjalan ditempat, tidak ada yang berubah. Dalam hatinya bertanya apakah ia sudah bahagia menjalani kehidupannya?
"Setidaknya saat ini aku merasa damai berada di sini. Tapi kadang aku juga merindukan teman-teman di sana." Meski ia merasa sudah cukup bahagia menjalani hari-harinya di desa, namun kadang terbesit dalam hatinya ia merindukan menjalani kehidupannya di kota. Rindu melewati suka duka hidup merantau bersama Indah dan juga bekerja bersama teman-temannya di tempat kerja. Bercengkrama saat jam kerja sudah selesai, belum lagi kebaikan Dara yang tiada tara mengayomi semua pegawainya yang membuat dirinya betah bekerja di cafe.
"Aku jadi merindukan mereka kan." Ariani menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi, ia malu sendiri dengan perasaannya yang tiba-tiba menjadi melow mengingat saat-saat indah ketika bekerja di kota. Disaat merasa sudah cukup menumpahkan kegundahan hatinya, Ariani pun meninggalkan danau dan pulang ke rumah. Namun saat ia hendak mengayuh sepedanya ada seseorang memanggilnya dari belakang.
"Ariani." Seorang pria yang memanggilnya, Ariani pun menengok siapa yang memanggilnya.
"Kak Tomi." Ariani sedikit terkejut dengan kehadiran Tomi.
Mengapa dia di sini? Apa dia tidak bekerja?
"Apa kau ingin pulang." Tomi yang datang dengan motornya menghampiri Ariani.
"Iya, aku mau pulang.''
"Bisa temani aku mengobrol sebentar?" Tomi menahan sepeda Ariani dan tak sengaja memegang tangan Ariani, Ariani dibuat terhenyak dan langsung melepaskan tangan dari setir sepedanya.
"Tapi ini sudah mulai gelap.'' Ariani melihat langit sudah mulai menunjukkan warna jingga pertanda malam akan tiba.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting." Tomi membujuk Ariani dengan menatapnya tanpa berkedip, yang di tatap memalingkan wajahnya merasa tidak nyaman. Sebenarnya Ariani sedikit takut bila bertemu Tomi karena ia pernah menolak lamaran Tomi.
"Baiklah, tapi sebentar saja." Ada perlu apa Tomi mengajaknya mengobrol, Ariani terpaksa menuruti Tomi meskipun sebenarnya ia takut Tomi akan berbuat macam-macam padanya, tapi ia juga penasaran apa yang ingin Tomi bicarakan. Dan akhirnya Ariani tidak jadi pulang, mereka duduk di tempat yang sama saat Ariani merenung. Ariani duduk memberi jarak di samping Tomi.
"Pertama, aku turut berdukacita dengan kepergian adikmu, aku tahu kau pasti sangat terpukul kehilangan adikmu." Sebagai awalan Tomi memberikan simpati pada Ariani mengenai kabar kepergian Kirani, ia menoleh memandang wajah wanita disebelahnya.
"Terimakasih." Ariani tidak berani menatap Tomi, ia menundukkan kepala menghindari kontak mata dengannya.
''Ku dengar sekarang kau bekerja di peternakan ayam? Benarkah itu?" Tomi yang punya kaki tangan di desa tidak pernah ketinggalan informasi tentang Ariani, maklum Tomi termasuk orang yang pandai bergaul dan ia pun memiliki banyak teman..
__ADS_1
''Iya." Jawab Ariani singkat, tapi tidak lama kemudian ia mendengar helaan nafas dari mulut Tomi. Dan Ariani pun menoleh melihat ekspresi wajah Tomi yang tersenyum miring.
''Hah...Ariani, seandainya dulu kau mau menikah dengan ku mungkin hidup mu tidak akan seperti ini. Dan kau tidak perlu bersusah payah bekerja keras di tempat seperti itu.'' Ariani terdiam, ia membiarkan Tomi menghina pekerjaannya. Ariani mengepalkan tangan menahan geram dengan sikap Tomi padanya.
Apa dia kemari hanya ingin merendahkan ku?
''Aku beri kesempatan untukmu memikirkannya lagi." Dengan percaya dirinya Tomi memberikan kesempatan Ariani berpikir untuk menerimanya. Sepertinya Tomi sedang melakukan usahanya demi merebut hati Ariani kembali.
Lelaki ini sangat percaya diri sekali, dia pikir aku akan tertarik.
Ariani tidak habis pikir dengan kesombongan Tomi yang kelewat pede.
''Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih dengan niat baikmu, tapi maaf untuk saat ini aku belum terpikirkan untuk menikah." Ariani berusaha menghormati niat baik Tomi yang ingin menikahinya, meskipun ia tidak suka Tomi menyampaikannya dengan merendahkan dirinya. Ariani yang masih menata hatinya memilih sendiri untuk menyembuhkan lukanya.
''Kenapa? Apa kau masih mengharapakan Ryan? Kau tahu kan Ryan akan menikah dengan Elma? '' Tomi merasa tidak terima, ini kedua kalinya Ariani menolak untuk menikah dengannya. Ia merasa usahanya dalam mendapatkan Ariani masih gagal, padahal inilah kesempatannya menaklukkan hati Ariani. Berita Ryan dan Elma yang akan segera menikah telah terdengar di penjuru desa.
''Bukankah dulu kau begitu mencintainya? Ada apa denganmu Ariani, mengapa kau bisa terlihat biasa saja mendengar berita itu?'' Tomi tak percaya dengan tanggapan Ariani yang seolah terlihat masa bodoh.
Ariani sudah tidak kaget dengan pernyataan Tomi karena Tomi dan Ryan adalah dua sahabat dekat dan mereka pasti pernah membicarakan nya. Ariani sendiri mendengar langsung dari Ryan bahwa Tomi secara tidak sadar membuka rahasia pada Ryan ketika ia mabuk dan ini adalah titik masalah yg terjadi diantara Ariani dan Ryan. Seandainya rahasia Ariani tidak terbongkar mungkin akan lain ceritanya.
Aku tidak pernah mengatakan aku mencintainya pada siapapun, itu semua hanya tuduhan mu. Kau yang membuat cerita hingga masalah ini terjadi.
Ariani hanya bisa merutuki perbuatan tomi dalam hati, ia tidak ingin menyalahkannya meskipun ia merasa geram karena semua ini adalah ulah Tomi yang tidak bisa mengontrol mulutnya hingga Ryan percaya.
''Setiap orang memiliki mimpi, namun ketika mimpi itu tidak bisa menjadi nyata biarkan itu tetap menjadi mimpi.''
Dulu aku pernah bermimpi ingin menikah dengannya, tapi aku tidak bisa memaksakan ketika takdir yang berbicara.
Ariani sudah mengikhlaskan hatinya melihat Ryan dengan wanita lain.
__ADS_1
''Jadi kau sedang mengejar mimpi mu yang lain? Apa kau sudah punya mimpi baru?'' Tomi mencoba mencari tahu apa yang menjadi tujuan Ariani.
''Jika sudah tidak ada lagi yang dibicarakan aku pulang Kak, ibuku pasti sudah menunggu.'' Ariani sudah merasa tidak nyaman dengan obrolan mereka, ia menghindari keingintahuan Tomi pada dirinya.
''Tunggu.'' Tomi mencekal tangan Ariani menahannya pergi. Kemudian ia mengeluarkan ponsel di sakunya ingin menunjukkan sesuatu pada Ariani.
''Apa kau ingat dengan pria ini?''
Dirga...
Ariani mengerutkan kening saat melihat layar ponsel Tomi yang memperlihatkan foto dirinya dan Dirga yang sedang berboncengan sepeda saat pertama kali bertemu.
''Kenapa, kau terkejut? Aku yang mengambil foto ini, sangat romantis kan?'' Ariani masih menatap layar ponsel. Senyum tipis terukir di bibirnya dan itu tidak lepas dari perhatian Tomi. Tomi bisa menilai sesuatu dari ekspresi Ariani.
''Jadi benar, pria ini yang membuatmu berpindah ke lain hati hingga kau menolak Ryan?'' Setelah tersadar Ariani mengembalikan ponsel kepada Tomi.
Itu bukan urusanmu.
''Sejauh mana kau mengikuti ku?'' Ariani baru menyadari Tomi mengetahui semua tentang dirinya tanpa celah, seperti detektif ia mengetahui semua tentangnya.
''Mengapa kau baru menanyakan hal itu? Aku tahu semuanya Ariani. Halte, taman, semuanya. Kau menolak Ryan karena kau menyukai pria kota itu iya?'' Jadi ternyata Tomi juga sudah mengetahui kedekatan Ariani dan Dirga, dan saat peristiwa di halte itu Tomi juga berada di sana membuntuti Ryan lalu melihat drama di halte itu.
''Dia bukan siapa-siapa. Lagipula jika memang aku menyukainya aku tidak mungkin berada di sini." Ariani menampik semua tudingan Tomi tentang perasaannya pada Dirga.
''Baguslah, lagipula sepertinya dia memang tidak menyukaimu, aku pernah melihat dia berpelukan mesra dengan seorang wanita. Kalau kau tak percaya tanyakan saja Ryan, dia pun tahu.'' Dan setelah mengatakan itu Tomi pergi meninggalkan Ariani yang berdiri mematung.
''Apakah wanita yang dimaksud adalah Bella? Jika itu benar, ini berarti mereka sudah berpacaran. Itu artinya Dirga sudah bahagia bersama Bella.'' Ariani menduga Dirga sudah membuka hatinya untuk Bella dan mereka berpacaran setelah kepergiannya ke desa.
''Bukankah ini tujuanku pergi menjauh, untuk melihat dia berbahagia. Tapi mengapa dadaku merasa sesak ya?'' Ariani merasa lega mendengar kabar Dirga yang baik-baik saja dan bahagia menjalani hidupnya, tetapi mengapa dalam hatinya ia merasa ada rasa sakit yang entah ia pun tidak tahu penyebabnya.
__ADS_1