
Dara memperhatikan Ariani dari kejauhan, saat ini cafe sudah sepi dan para karyawan sedang berbenah membereskan ruangan, sebagian lagi terlihat sibuk di bagian dapur. Rasa iba mengingat kejadian yang dialami Ariani tadi siang.
"Seandainya kau tidak melarang ku mengatakan hal ini pada Dirga, aku yakin sudah pasti hari ini juga Bella mendapatkan balasannya." Dara merasa geram, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Bella dengan brutalnya menyakiti Ariani. Ingin sekali ia memberi tahu Dirga tentang kejahatan Bella.
"Ariani, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" Dara menghampiri Ariani menanyakan kondisinya.
"Saya sudah lebih baik. Terimakasih bu Dara, sudah mengobati luka ku yg ini." Ariani menunjuk pelipisnya yang ditempel plester oleh Dara sambil tersenyum, Dara pun tersenyum melihat Ariani yang sudah bisa tersenyum. Sungguh hebat Ariani bisa menutupinya hingga tidak ada yang tahu seberapa sakit luka di hatinya.
"Aku antar kamu pulang ya?" Dara ingin mengantarkan Ariani pulang, salah satu bentuk perhatian darinya untuk Ariani.
"Terimakasih. Tapi lebih baik saya pulang sendiri saja Bu." Ariani tidak bisa menerima ajakan Dara karena ia sendiri ada janji.
"Kau tidak perlu sungkan, kau adalah teman Dirga dan aku juga temannya. Jadi mulai sekarang kita adalah teman, tolong jangan menolak ku." Dara merayu dengan pandangan memohon agar Ariani menerima ajakannya.
Ayolah.
Namun Ariani tetap dengan pendirian nya, menolak ajakan Dara karena ia juga ada janji dengan Ryan.
"Maaf Bu Dara, malam ini saya pulang sendiri saja." Ariani berusaha menolak sehalus mungkin, menghormati kebaikan Dara.
"Baiklah, tapi lain kali kau harus mau. Hati-hati ya." Ariani menganggukkan kepala seiya dengan ucapan Dara dan Ariani pun pulang sendiri berjalan kaki menuju halte tempat biasanya menunggu bis.
Ariani sudah keluar dari area cafe dan berjalan menyusuri trotoar menuju halte yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Diseberang jalan ada sebuah suara decitan ban mobil yang berhenti.
"Hai... " Seseorang yang keluar dari mobil menyapa Ariani membuat Ariani menoleh ke asal suara.
__ADS_1
"Dirga." Suara Ariani pelan, merasa terkejut dengan kehadiran Dirga tanpa memberi tahunya terlebih dulu datang menemuinya. Sudah biasa sih.
Flashback on
Malam ini Dirga akan berangkat ke luar kota menemui ayahnya setelah tadi siang Tama meneleponnya saat ia berada di cafe milik Dara, memberi tahu bahwa kondisi ayahnya yang menurun dan dirawat di rumah sakit.
"Sampai kapan kau terus bersembunyi Dirga, temui Ayahmu. Sebelum terlambat dan kau akan menyesal nanti." Tama mendesak Dirga untuk menemui ayahnya, setidaknya mengobati rasa rindu sang ayah yang ingin bertemu dengan anaknya sekian lama. Kali ini Dirga menuruti ucapan Tama, tidak selamanya ia terus menutup mata dan telinga. Kini bersama Tama, Dirga menuju bandara terbang keluar kota tempat tinggal ayahnya. Tapi sebelum itu, Dirga ingin menemui Ariani terlebih dahulu.
"Berhenti di halte depan." Dirga meminta Tama yang sedang menyetir untuk menghentikan mobilnya di seberang halte dekat cafe milik Dara, ucapan Dirga yang mendadak membuat Tama mengerem mobil mendadak hingga terdengar decitan.
Flashback off
Dirga berjalan menghampiri Ariani dengan cara berjalan yang terlihat gagah ditambah senyumannya yang menawan terpampang diwajahnya, tidak seperti biasanya Ariani melihat Dirga memasang wajah seperti itu, ia terlihat sangat tampan. Seketika Ariani tersihir terus menatap wajah lelaki yang mulai dicintai nya, tetapi setelah mengingat kejadian siang itu Ariani langsung memalingkan pandangannya. Ia bahkan duduk di halte tidak menghiraukan dan tidak menyambut kedatangan Dirga.
"Kau sudah pulang?" Dirga duduk di samping Ariani.
Dirga merasa ada yang berbeda dengan sikap Ariani padanya. Ah, mungkin dia kelelahan karena habis bekerja. Pikirnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Aku akan pergi... " Ucapan Dirga tertahan.
"Pergilah." Ariani memotong ucapan Dirga yang belum selesai.
"Aku belum selesai bicara, loh. Mengapa kau memotong perkataanku?" Ariani diam seribu bahasa dengan menampakkan wajah datar, namun dalam hati ia menjerit.
Sungguh aku tidak sanggup, rasanya ingin lari saja.
__ADS_1
"Ariani, kau kenapa? Lihat aku." Dirga berusaha sabar menghadapi sifat tak biasa yang ditunjukkan Ariani padanya, namun tetap tidak ada perubahan malah Ariani menghindar dengan menggeser duduknya menjauhi Dirga. Tama yang menunggu Dirga didalam mobil memperhatikan interaksi mereka seperti drama sinetron, apa mereka sedang bertengkar?
Dirga menggeser duduknya dekat Ariani lagi dan hening pun terjadi, tak tahan akhirnya ia memegang dagu Ariani dengan salah satu tangannya.
"Lihat aku bila sedang bicara." Dirga menarik dagu Ariani ke arahnya membuat Ariani otomatis menengok menatapnya dan akhirnya wajah mereka bersi tatap, pandangan mereka bertemu. Kening Dirga berkerut melihat plester yang menempel di pelipis Ariani.
"Apa yang terjadi denganmu, mengapa kening mu terluka?" Ariani terperangah, ia lupa mendapatkan luka ini dari Bella. Ia menepis tangan Dirga yang ingin memegang lukanya.
"Hanya kecelakaan kerja, tidak begitu parah." Bohong, Ariani menyembunyikan perbuatan Bella yang menyakitinya. Dirga masih menatap wajah Ariani membaca sorot matanya yang melihat kearah lain, ia tahu Ariani sedang menyembunyikan sesuatu padanya.
"Katakan, aku tahu kau sedang berbohong. Sebelum aku menanyakan nya pada Dara lebih baik kau berkata jujur padaku." Jantung Dirga berdenyut seperti merasakan sakit, apa karena ia melihat Ariani yang terluka. Apa yang sudah terjadi dengannya?
Ariani memalingkan wajahnya kearah lain, kemudian ia berdiri membiarkan Dirga yang masih ingin mendengar kata-kata darinya. Ariani menarik nafas dalam dalam, mengumpulkan keberanian untuk memberi sebuah keputusan.
"Dirga, mulai sekarang jauhi aku, jangan dekati aku. Lebih baik kita menjalani hidup masing-masing, anggap saja kita tidak saling mengenal dan aku hanya orang asing yang hanya singgah di kehidupanmu." Mata Dirga membulat mendengar apa yang baru saja didengar nya, Ariani ingin hubungan mereka berakhir. Dirga berdiri didepan Ariani, ia menatap Ariani dengan dingin. Mata tajam dan wajah yang memerah menahan kegelisahan yang tiba-tiba muncul di dadanya.
"Apa kau yakin dengan semua ucapan mu?" Suara Dirga datar, Dirga menduga Ariani belum bisa membalas perasaannya, ia mengira Ariani masih menaruh harapan kepada Ryan sehingga Ariani memintanya untuk menjauhinya.
Sedangkan Ariani dengan susah payah mengambil nafas yang terasa sakit di tenggorakan, menahan tangisnya. Tidak sanggup menatap raut wajah Dirga yang menatapnya dengan penuh harap.
"Salahmu adalah sudah hadir dalam kehidupan Dirga dan kau salah sudah mengenalnya. Mulai sekarang jauhi Dirga, pergi dari kehidupan nya."
Ucapan Bella membunuh kepercayaan diri Ariani sebagai wanita biasa yang mengharapkan kasih sayang tulus dari seorang Dirga, dengan membandingkan derajat yang jelas terlihat kontras.
Maafkan aku, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita. Kau pantas bersanding dengan wanita yang setara denganmu, daripada aku yang hanya seorang perempuan kampung dan miskin. Semoga kau bahagia hidup bersama wanita yang sederajat dan lebih baik dari aku.
__ADS_1
Mereka bergelut dengan suara hati masing-masing, Dirga meraih kedua pundak Ariani menghadapkan kearahnya, mereka berdiri berhadapan. Dirga menunduk menatap Ariani yang hanya sebatas dadanya. Ariani menatap leher Dirga, ia tidak bisa menatap balik matanya.
"Jawab aku, apa kau tidak bisa melupakan pria itu? Kau masih mengharapkan nya?" Ariani tetap bergeming, tidak berkata-kata. Dirga melepaskan tangannya, ia menghela nafas terlihat kekecewaan di wajahnya. Tidak lama datang sebuah mobil berhenti menepi di halte bis itu, Dirga melihat siapa yang keluar dari mobil itu. Dan ternyata Ryan yang datang muncul keluar dari mobilnya, menjemput Ariani untuk menepati janjinya memberikan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Ryan kemarin.