
"Ariani, sedang apa kau disini?" Bian berdiri di hadapan Ariani, terkejut dengan keberadaan Ariani yang tengah malam hari berdiri diseberang rumah Dirga, apa yang sedang ia lakukan?
Pandangan Ariani mengarah kearah Bian, ia masih mencerna pikirannya, ia menyangka Dirga yang datang tapi ternyata bukan. Bian melihat Ariani yang nampak kacau, dilihatnya mata Ariani yang terlihat sembab dan berkaca-kaca, hatinya merasa terenyuh.
Apa yang sudah terjadi dengannya?
"Saya ingin bertemu Dirga, apa dia ada?" Tangan Ariani menunjuk rumah Dirga. Suaranya pelan namun Bian masih bisa mendengar ucapannya.
"Dirga tidak ada dirumahnya. Dia sedang pergi." Bian menjawab seadanya tidak ada yang ia tutupi namun ia juga tidak menjelaskan secara rinci mengenai kepergian Dirga. Ariani menggenggam jemarinya merasa putus asa, ternyata ia terlambat datang menemui Dirga.
"Jadi, Dirga sudah pergi ya?" Ariani menunduk, rasa sesal muncul didalam dirinya yang telah mengacuhkan Dirga. Ternyata Dirga datang ke halte itu untuk berpamitan padanya sebelum pergi, tapi ia malah mendapati sikap Ariani yang berbeda.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit. Terimakasih sudah memberi tahu saya." Akhirnya Ariani memutuskan untuk pergi setelah tahu orang yang ingin di temuinya tidak berada di tempat. Ariani mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Bian, namun baru beberapa langkah tiba-tiba ia memegang kepalanya yang terasa sakit seperti berputar putar, pandangannya kabur seketika Ariani jatuh pingsan. Bian bergegas menghampiri Ariani yang sudah ambruk.
"Ariani, bangun." Bian menepuk pipi Ariani mencoba menyadarkan Ariani tapi Ariani tidak membuka matanya.
"Bagaimana ini? ini sudah sangat malam. Tidak mungkin aku membawanya masuk ke dalam rumah." Bian berpikir keras, bagaimana cara menyadarkan Ariani yang pingsan sedangkan ia tidak mungkin membawanya kedalam rumah Dirga. Akhirnya Bian membawa Ariani ke klinik 24 jam terdekat. Ia membopong Ariani masuk kedalam mobil.
"Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi antara kau dengan Dirga. Setelah ini, semoga kau mau berbagi cerita denganku." Bian berbicara pada Ariani yang masih memejamkan mata. Hatinya merasa tergelitik ingin tahu masalah apa yang terjadi diantara Ariani dan Dirga, sahabatnya.
Mobil yang dibawa Bian sudah sampai di sebuah klinik, Bian segera memberitahu petugas klinik untuk menangani Ariani. Dilihat nya Ariani yang sedang terbaring di kasur.
"Mengapa belum bangun? Sebenarnya kau pingsan atau tidur?" Bian duduk di kursi di samping ranjang, masih menunggu Ariani siuman. Ia mengambil ponsel di saku celananya kemudian mengambil gambar Ariani yang masih belum sadar dari pingsan.
"Suster, apa dia baik-baik saja? Mengapa dia belum sadar?" Cukup lama ia menunggu hingga rasa khawatir muncul melihat Ariani yang belum sadarkan diri.
"Tunggu saja, mungkin sebentar lagi pasien bangun." Tidak lama setelah ucapan suster, Ariani mengerutkan kelopak matanya pertanda ia sudah siuman. Senyum dibibir Bian merekah, merasa lega Ariani sudah bangun dari pingsannya.
__ADS_1
"Syukurlah akhirnya kau sudah sadar." Ariani melirik ke arah Bian yang berdiri di samping tempat tidur.
"Apa anda yang membawa saya kesini?" Bian menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Ariani.
"Berbaringlah, istirahatkan dirimu." Saat Ariani bergerak ingin bangun Bian mengarahkan Ariani untuk tetap di tempat tidur, dan Ariani menurut. Setelah itu suster datang mengobati luka di wajah Ariani, Bian memperhatikan nya dari jauh.
"Wajahnya lebam, sepertinya ia habis mendapatkan perlakuan kasar." Bian melihat wajah Ariani yang lebam, merasa aneh sebenarnya apa yang terjadi dengan Ariani. Suster menyisir rambut Ariani yang berantakan lalu mengikatnya hingga rambut Ariani terlihat rapi kembali.
"Terimakasih sudah menolong saya, tuan." Bian tersenyum menanggapi ucapan Ariani. Keadaan Ariani sudah merasa baikan, ia akan melanjutkan perjalanan pulang.
"Apa kau sudah lebih baik?" Bian melihat kondisi Ariani, memastikan Ariani sudah baik-baik saja.
"Ya, saya sudah lebih baik. Kalau begitu saya pamit. Maafkan saya sudah merepotkan anda, tuan." Ariani menundukkan kepala pamit undur diri untuk pergi.
"Tunggu." Suara Bian menghentikan langkah kaki Ariani, Ariani pun menengok kearahnya.
"Saya Bian, saya dan Dirga sudah berteman sejak kami sekolah. Jadi kau jangan khawatir, saya akan mengantarmu pulang sampai rumah. Oke?" Bian yang seperti tahu isi pikiran Ariani memperkenalkan diri memastikan ia tidak akan berbuat macam-macam padanya. Ariani berpikir sebentar menimbang tawaran Bian. Dan akhirnya Ariani pun menerima tawaran Bian untuk mengantarnya pulang, karena sebenarnya ia pun merasa sedikit takut jika harus pulang seorang diri.
Hening terjadi didalam mobil yang ditumpangi Ariani dan Bian, kedua orang asing itu sama-sama canggung.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" Bian memberikan Ariani kesempatan untuk bertanya padanya.
"Iya?" Ariani yang terbangun dari lamunan belum mengerti maksud ucapan Bian.
"Kau boleh bertanya apa yang ingin kau tahu, padaku. Apapun." Bian sedikit memancing Ariani untuk mengungkapkan masalahnya dengan membiarkan Ariani bertanya padanya terlebih dulu.
"Apa kau tahu sebenarnya Dirga pergi kemana?" Ariani tentu tidak ingin melewatkan kesempatan ini, ia bisa bertanya tentang Dirga pada Bian.
__ADS_1
"Dirga pergi ke luar kota, ada masalah yang harus ia selesaikan." Bian menjawabnya dengan lugas.
"Berapa lama? Kapan ia akan kembali?" Bian menengok kearah Ariani, melihat sorot mata Ariani yang sepertinya sangat berharap ingin bertemu Dirga.
"Aku tidak tahu." Ariani terdiam mendengar ucapan Bian.
Dirga, kapan kau akan kembali? Aku takut kita tidak akan bertemu lagi nanti.
Dada Ariani berdebar, tiba-tiba perasaannya merasa tidak enak. Mungkinkah Dirga akan sudi bertemu dengannya? Apakah Dirga mau memaafkannya?
"Ariani, maaf jika aku lancang. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa wajahmu lebam? Apa ada penjahat yang memukulimu ?" Tiba-tiba Bian mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi ia simpan, dengan pandangan ke arah depan Bian tidak ingin melihat raut wajah Ariani, Ariani seketika membeku. Ia menengok kearah Bian sebentar lalu menundukkan kepalanya.
Aku tidak mungkin menceritakan kejadian yang memalukan ini.
Ariani merasa malu jika harus berterus terang, wajah lebam yang ia dapat dari tamparan Elma karena ia dituduh sebagai pelakor adalah sebuah kejadian yang memalukan baginya.
"Ini.. bukan apa-apa, hanya kesalahan kecil." Dengan senyum terpaksa Ariani menutupi rasa sakitnya, tapi jawaban Ariani tidak membuat Bian percaya begitu saja.
Benarkah? Aku tidak yakin dengan ucapannya, sepertinya dia belum mau berterus terang.
Bian menepikan mobil dipinggir jalan, ia sudah sampai mengantarkan pulang Ariani. Ariani hendak membuka pintu mobil tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, ia membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu didalam tasnya. Bian memperhatikan apa yang sedang dilakukan Ariani.
"Tolong berikan ini pada Dirga." Ariani memberikan ponsel miliknya yang dibelikan Dirga, Bian bengong menerima ponsel yang sudah rusak.
"Tolong sampaikan padanya, maaf aku mengembalikannya dalam keadaan rusak" Bian menganggukkan kepala mulai mengerti arah pembicaraan Ariani. Ia menerka sedekat apa hubungan Dirga dan Ariani hingga Dirga memberikan Ariani ponsel. Bian menatap Ariani yang masih duduk di dekatnya, ia memperhatikan Ariani dari wajah, rambut hingga leher. Ia teringat kejadian di rumah Dirga hari itu, saat itu ia melihat leher Ariani yang memerah seperti bekas kecupan.
Sepertinya Dirga memang menyukai gadis ini.
__ADS_1
"Baik, akan ku sampaikan padanya." Bian tersenyum. Ariani keluar dari mobil lalu berjalan menuju kontrakan tempat tinggalnya, ia telah melalui hari yang sungguh berat. Air mata tak hentinya membasahi pipinya, Ariani menangis bukan hanya karena menyesal meninggalkan Dirga, tetapi rasa kecewa yang dalam kepada Ryan yang sudah menghancurkan hatinya.