
Flashback On.
Galih yang sudah tersadar dari pingsannya sedang diperiksa oleh tim dokter, kondisinya masih perlu perawatan.
"Apa waktuku masih banyak?" Saat tim dokter selesai, Tama menemani Galih.
"Om bicara apa? Jangan begitu Om." Tama menggenggam tangan Galih, menghentikan Galih berpikir pesimis.
"Bukan begitu, aku ingin melihat Dirga menikah. Sebelum pergi." Satu harapan Galih ingin melihat anaknya menikah, ia tersenyum menatap keponakannya yang biasa menjadi gudang informasi. Dulu Galih mencari tahu kabar tentang Dirga pada Tama.
"Kalau begitu Om harus semangat agar bisa melihatnya menikah." Tama memberikan semangat, ia tidak ingin Galih terus memikirkan sakitnya.
"Iya, aku akan bahagia saat melihatnya menikah dan setelah itu Dirga akan menjadi penerus perusahaan ku. Dengan begitu aku akan merasa lega, lebih cepat lebih baik. Bagaimana menurutmu?" Tama merasa terenyuh, Galih begitu berharap banyak pada anaknya. Tapi sayangnya Dirga terlihat cuek tidak cepat mencari pendamping, seperti tidak peduli dengan keinginan ayahnya.
"Ya, semoga Dirga cepat mendapatkan jodohnya." Sebenarnya Tama juga prihatin dengan Dirga yang didesak untuk menikah. Usianya masih terbilang muda untuk menjalani rumah tangga. Belum lagi emosinya yang meledak-ledak, Tama jadi ikut pusing sendiri memikirkannya.
"Memang bagaimana hubungan Dirga dengan kekasihnya, siapa namanya?" Tama tergagap, ternyata Galih percaya dengan ucapannya hari itu. (Saat Ariani datang menjenguk Dirga)
"Ariani." Tama tersenyum kaku, dalam hatinya was-was bagaimana jika Dirga memberitahu kalau itu hanya celetukan Tama saja.
Habis aku jika semua orang tau kalau aku hanya asal bicara.
"Apa dia gadis yang baik?" Galih seperti ingin mengenal siapa Ariani.
"Ariani gadis yang baik, ia dari desa dan keluarganya sederhana. Dia bekerja di toko kue di kota ini." Tama memberikan informasi yang ia tahu.
"Aku tidak mempermasalahkan darimana dia berasal, yang penting dia baik mau menerima kekurangan Dirga. Apa kau tahu cerita bagaimana mereka bisa bertemu?" Bagi Galih yang penting gadis yang baik untuk anaknya.
Benar juga, mengapa aku tidak kepikiran sebelumnya?
Tama baru menyadari mengapa ia tidak mencari tahu jalan cerita pertemuan Ariani dan Dirga, dimana mereka pertama kali bertemu?
"Tama tidak tahu, tapi Dirga pernah datang ke desa tempat Tama tugas. Di desa Ariani tinggal."
Oh, bisa jadi mereka saat itu sudah bertemu. Menarik.
Tama tertawa dalam hati, kali ini sepertinya dugaannya benar. Ia ingat dulu pernah berpapasan dengan Ariani saat ia dan Dirga jalan pagi, apa pada saat itu mereka sudah saling tahu? Tama bergelut dengan pikirannya.
"Jika ada waktu saya ingin bertemu dengannya." Galih menyatakan keinginannya ingin bertemu Ariani.
Flashback Off.
Tama menceritakan kejadian kepada Bian dimana saat itu ia spontan bilang pada keluarganya kalau Ariani dan Dirga berpacaran.
__ADS_1
"Wah, berani betul abang ini. Lalu bagaimana reaksi Dirga, apa dia marah setelah itu?" Bian pun terkejut tak habis pikir seorang dokter Tama bisa berbuat seperti itu, untung Dirga tidak mengamuk.
"Dirga dan Ariani, mereka terlihat lucu saat semua orang menggoda mereka." Pandangan Tama menerawang mengingat kejadian itu dimana ekspresi Dirga dan Ariani sama-sama terkejut saat para orangtua mengira kalau mereka sepasang kekasih.
"Haha... Memang ide gila." Bian tertawa dapat membayangkan jika ia ada di sana.
...
Ariani melewati hari-harinya yang menyedihkan, status hubungannya yang digantung oleh Dirga membuatnya tak semangat menjalani harinya. Ariani sudah tidak lagi mengunjungi rumah Dirga untuk bertemu, biarlah hubungan ini berakhir tanpa kejelasan. Dirga menghilang tanpa kabar seolah memperjelas berakhirnya hubungan ini.
"Ayo kita berangkat." Indah mengajak Ariani keluar, saat ini mereka sedang libur bekerja. Indah memang sengaja ambil libur kerja.
"Kau pergi sendiri, aku disini saja." Ariani masih terlihat rebahan memeluk guling terlihat lesu.
"Ayolah Ariani temani aku, aku yang akan traktir semuanya." Indah yang tahu suasana hati Ariani yang sedang melow mencoba menghiburnya. Hari ini Indah berencana mengajak Ariani jalan-jalan ke mall untuk refreshing sekaligus menonton film yang baru tayang di bioskop.
"Tapi jangan lama-lama ya."
"Iya setelah filmnya selesai kita pulang."
Ariani bangkit lalu bersiap merias diri untuk pergi bersama Indah. Saat mereka menyeberangi jalan menuju halte ternyata di sana ada Bian yang sedang mengendarai mobilnya melihat mereka berdua.
"Indah? Anak itu pasti mau pergi shoping. Tapi dia dengan siapa ya?" Bian mengucek matanya memperjelas pandangan siapa wanita yang bersama Indah.
"Bukankah itu Ariani?'' Bian menebak.
...
Indah dan Ariani sampai di sebuah mall besar di kota itu, Indah terlihat antusias karena ia memang jarang mengambil libur kerja. Indah menarik tangan Ariani mengitari mall melihat barang dagangan yang dipajang yang menyejukkan mata. Gerai demi gerai mereka hampiri meskipun hanya sekedar melihat-lihat, setelah itu mereka makan siang di restoran cepat saji. Hati Ariani bergemuruh, ia teringat dulu ia dan Dirga pernah makan disini. Setelah itu Indah mengajak Ariani main di area permainan.
"Tidak usah ya, ayo kita ketempat lain saja." Ariani menolak masuk ke area permainan.
"Memangnya kenapa? Main disini seru loh." Indah langsung menarik tangan Ariani masuk, Ariani hanya bisa pasrah. Ia hanya diam sedangkan Indah terlihat asik bermain.
Dirga, mengapa aku selalu teringat dirimu? Indah membawaku ketempat ini membuat ku teringat kenangan kita.
Ariani menangis saat menonton film, kebetulan film yang mereka tonton film sedih. Ariani bukan menangisi cerita film tetapi ia menangis karena merindukan Dirga. Ariani tidak bisa mengelak meskipun dulu ia pernah sangat menyukai Ryan, tetapi kenangan yang ia lalui bersama Dirga begitu banyak hingga mampu memalingkan hatinya dari Ryan. Dirga orang yang pertama mendapatkan ciuman pertamanya belum lagi kejadian yang mereka lakukan malam itu, sentuhan itu cukup membekas di hati Ariani. Bagaimana bisa ia akan lupa? Itu tidak mudah.
Saat Ariani terlarut dengan kerinduan tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponselnya.
Halo Ariani, apa kau sedang sibuk? (Tama)
"Dokter?" Ariani mengerutkan keningnya, ternyata Tama yang mengirim pesan. Ia berharap pesan itu dari Dirga. Tama yang melihat pesannya terbaca langsung menelepon Ariani, Ariani yang masih di didalam studio keluar menerima panggilan telepon.
__ADS_1
"Halo, dokter."
"Ariani kau sedang apa? apa aku mengganggu?"
"Tidak, saya sedang ada di luar."
"Kamu sedang libur kerja?"
"Iya." Tama sumringah mengetahui Ariani sedang libur kerja, waktunya tepat sekali.
"Apa kau ada waktu? aku ingin bertemu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Tama mengajak Ariani bertemu.
"Apa?" Suara bising di mall membuat Ariani tidak dapat mendengar jelas.
"Sekarang kau dimana?" Tama akan menjemput Ariani, Ariani berpisah dengan Indah sebelumnya ia menceritakan kalau sepupu Dirga akan menjemputnya dan Indah mengerti. Mungkin Ariani ingin menyelesaikan masalah dengan kekasihnya.
Sebelum ketempat yang dituju Tama membawa Ariani ke sebuah butik, ia membelikan pakaian untuk Ariani.
"Ini untuk apa?" Ariani terlihat bingung Tama memberikan satu setel pakaian.
"Pakai saja Ariani, ganti bajumu dengan ini." Tama memberikan baju pilihannya untuk Ariani pakai, Ariani sendiri dalam hati merasa senang dibelikan baju bagus. Tetapi ia berpikir sebenarnya ada hal apa sampai Tama membelikannya pakaian. Setelah itu Tama juga membawa Ariani ke salon untuk menyulap penampilannya, Ariani terpana melihat penampilannya yang berbeda dari biasanya. Didepan cermin Ariani melihat rambutnya yang lurus menjadi bergelombang dibawah, pakaian yang ia kenakan sangat cocok.
Apa ini benar diriku?
Tama tersenyum melihat tingkah Ariani didepan cermin, diakuinya memang kali ini penampilan Ariani lebih cantik.
"Aku ingin mempertemukan mu dengan seseorang." Setelah semua selesai kini mereka berada di mobil, Tama membawa Ariani ketempat yang ingin dituju.
"Siapa?" Ariani sedikit penasaran, ia menebak apa Dirga yang ingin ditemuinya.
Apa mungkin Dirga yang meminta dokter menjemput ku?
Tapi masa iya?
Ariani bergelut dengan hatinya menerka-nerka, Tama seorang dokter yang sibuk menuruti permintaan Dirga. Itu tidak mungkin, pikirnya.
"Nanti kau akan tahu." Pandangan Tama fokus mengemudi namun masih menjawab yang ditanyakan Ariani.
"Ariani, sepertinya beliau akan ada pembicaraan serius denganmu." Tama seperti sudah memprediksi.
"Bicara serius? Maksud dokter apa? Sebenarnya siapa orang yang akan saya temui?" Ariani mulai gugup siapa yang ingin bertemu dengannya, sampai-sampai ia harus berpenampilan seperti ini pula.
"Rahasia, nanti kau juga tahu. Pesanku, kau jawab saja semua pertanyaan sesuai kata hatimu. Kalau hatimu berkata tidak katakan tidak, jangan membohongi hati. Oke." Tama gemas sendiri dengan rasa penasaran Ariani yang tinggi.
__ADS_1
Dokter ini bicara apa? Aku jadi semakin bingung.
Ariani memijit pelipisnya, mengapa Tama tidak berterus terang saja. Ia sampai pusing menebak-nebak siapa yang ingin bertemu dengannya nanti.