
Mentari pagi menyapa dengan sinarnya yang ceria, menggantikan malam indah yang terlewatkan. Dirga terbangun dari tidurnya saat sinar mentari menyapu wajahnya melalui celah jendela, ia melirik kearah sofa sudah terlihat kosong pertanda Ariani sudah bangun. Bantal dan selimut yang Ariani pakai sudah terlipat rapi diujung sofa, pandangan Dirga masih tertuju kearah sofa.
Begini sajakah?
Dirga teringat malam pernikahannya yang terlewat begitu saja, tanpa ada obrolan romantis dan canda tawa bersama Ariani. Hambar sekali,
Dirga mengacak rambutnya kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Entahlah apa yang harus ia rasakan sekarang, bahagia kah? Kini Ariani sudah jadi miliknya, namun di balik hati kecilnya masih diselimuti rasa cemburu pada Ryan. Saat Dirga termenung tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Ariani datang, tapi sebelum Ariani masuk Dirga segera menutup matanya dan pura-pura tidur.
Ariani bejalan perlahan menuju tempat tidur melihat Dirga masih terlihat terlelap.
"Dirga." Ariani membangunkan Dirga dengan suara lembut, Dirga diam tak bereaksi. Ariani bergeser mendekat lalu menggoyangkan tangannya di depan wajah Dirga, tak ada gerakan di kelopak matanya. Ariani berdiri membungkukkan badan, menatap wajah suaminya yang damai.
Tampan.
Ariani tersenyum tipis mengagumi wajah suaminya, terpesona dengan ketampanan wajah Dirga saat tertidur. Semakin lama Ariani mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan kecupan di kening Dirga kemudian ia berlalu pergi keluar. Dirga yang sedari tadi berakting pura-pura tidur pun membuka mata, ia membuang nafas lega tangannya sembari meraba keningnya.
"Apa dia memberi morning kiss?" Senyum terukir dari bibirnya.
...
Ariani terlihat sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Ya, pagi ini ia membuat sarapan dengan statusnya sebagai seorang istri. Biasanya Ariani berbagi tugas dengan Indah memasak sarapan di kontrakannya, sekarang ia akan membuatkan sarapan untuk Dirga suaminya. Meskipun Ariani merasa Dirga beranggapan kalau ia menikahinya hanya karena untuk merawatnya namun akan Ariani lakukan dengan cinta, ia tak perduli hubungannya dengan Dirga belum membaik. Ariani akan meluruskan kekeliruan itu dan berharap suatu saat Dirga akan mengerti. Terpenting ia ingin memberikan yang terbaik untuk merawat suaminya hingga sembuh seperti sediakala.
Dirga keluar kamar berjalan menuju meja makan, ia sudah mandi terlihat segar dengan rambutnya yang sedikit basah. Ariani menengok kearahnya, terpana hingga menghentikan sejenak pekerjaannya. Memperhatikan cara Dirga saat berjalan menuju meja makan menggunakan tongkat, ada rasa kikuk dalam diri Ariani. Kini hanya ada ia dan Dirga didalam rumah itu. Rasanya seperti mimpi, sepertinya baru kemarin ia dan Dirga meresmikan hubungan sebagai kekasih namun dengan cepat status itu berubah menjadi suami istri.
"Ehem." Dirga berdeham menyadarkan Ariani dari lamunan, ia sudah duduk di meja makan. Ariani tersadar kemudian segera mengambil sarapan untuk Dirga, saat Dirga mulai menyendok makanannya Ariani masih berdiri.
"Mengapa diam disitu? Cepat makan sarapan mu." ucap Dirga datar.
"Aku belum lapar. Nanti jangan lupa diminum obatnya." Mendengar alasan Ariani, Dirga berhenti mengunyah lalu mengambil minum. Brak! Dirga menaruh gelas dengan kencang membuat Ariani terhentak, Dirga melirik tak suka.
"Makan sekarang." Dirga ucapkan dengan penekanan, Ariani mengkerut takut sepertinya Dirga marah. Ia segera duduk lalu mengambil makanan kedalam piring terus makan. Hening di meja makan itu tidak ada pembicaraan, hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
Dalam diam Dirga sesekali menatap Ariani, ia merasa Ariani seperti memberi jarak dengannya. Ariani balik melirik karena merasa diperhatikan, ia merasa kikuk dengan situasi ini. Ingin sekali memulai obrolan akan tetapi melihat mood Dirga yang sedang tidak bersahabat membuat ia mengurungkannya. Aneh, mengapa mereka tidak memulai obrolan, bukankah masalah akan selesai jika dibicarakan. Sepasang manusia itu bertahan dengan ego mereka sampai menyelesaikan sarapan.
...
Ditempat lain Ryan yang sudah resmi mempersunting Elma, sedang duduk di teras menikmati secangkir kopi buatan istrinya. Menghilangkan lelah setelah menjadi raja dan ratu semalam, pesta pernikahan yang begitu meriah di desa itu dihadiri hampir seluruh undangan. Sangking ramainya Ryan tidak melakukan ritual suami istri di malam pertamanya bersama Elma, mereka tidur karena kelelahan.
Kemana dia?
__ADS_1
Sambil menyesap kopi pikiran Ryan mengingat Ariani yang tidak terlihat datang di pesta pernikahannya.
Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk datang.
Ternyata Ryan menunggu kehadiran Ariani di pesta pernikahannya.
Ariani, jika benar kau tidak pernah menyukaiku seharusnya kau datang. Jangan salahkan aku jika aku merasa kalau kau memang ada rasa padaku.
Ryan pun demikian, ia ingin membuktikan dengan hadirnya Ariani berarti Ariani tidak ada perasaan padanya, ia hanya ingin membuktikan bukan hanya pada Elma namun ia ingin mematahkan rasa penasarannya kalau Ariani memang tidak pernah menyukainya. Tetapi tanpa ia tahu Ariani juga menikah di hari yang sama hingga tidak dapat memenuhi undangannya.
...
Ariani tengah mencuci piring, sambil memikirkan rencana memecahkan masalah tidak jelas antara ia dan Dirga.
"Bersiaplah, sepuluh menit lagi kita berangkat." Tiba-tiba Dirga sudah berdiri dibelakangnya.
"Kemana?" Ariani membeku, ia sedikit kaget karena Dirga muncul tiba-tiba.
"Kau lupa ya? Hari ini ibumu akan kembali ke desa."
Astaga, mengapa aku bisa lupa.
"Baik, aku akan bersiap." Ariani bergegas secepat kilat menyelesaikan pekerjaannya kemudian bersiap-siap.
Mengapa dia menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?
Ariani memperhatikan lagi penampilannya dari atas sampai bawah, tidak ada yang salah. Make-up juga tidak menor, sebenarnya apa yang sedang Dirga nilai.
"Apa ada yang salah?" Ariani memberanikan diri bertanya, Dirga memalingkan wajahnya disusul kepalanya menggeleng kemudian ia jalan didepan. Ariani sedikit kesal dengan sikap Dirga yang irit bicara.
Mereka kemudian pergi ke hotel tempat keluarga Ariani menginap dengan di antar sopir Galih. Bu Ani akan kembali pulang ke desa bersama keluarganya.
Tidak ada pembicaraan didalam mobil, meskipun duduk bersampingan pandangan Dirga dan Ariani berlawanan sama-sama melihat keluar jendela. Setibanya di hotel Ariani dan Dirga jalan berdampingan menuju restoran hotel karena mereka sudah ditunggu, Ariani berjalan pelan mengimbangi langkah Dirga yang berjalan dengan tongkat. Ia memasang senyum bahagia. Ya, itu yang harus ia lakukan demi menenangkan hati ibunya agar percaya kalau ia sudah bahagia. Disana juga terlihat Indah dan Tama yang akan mengantar keluarga Ariani, Indah sengaja diberikan cuti selama pernikahan Ariani dan Dirga karena ia orang terdekat Ariani.
"Bagaimana keadaanmu? Apa tuan Dirga memperlakukanmu dengan baik?" Indah dan Ariani duduk dalam satu meja, sedangkan Dirga dengan Tama di meja yang lain.
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah." Indah memikirkan keadaan sahabatnya, karena ia cukup tahu sifat Dirga seperti apa ditambah lagi ia tahu hubungan Ariani belum membaik.
__ADS_1
"Oya, aku lupa bilang padamu. Kemarin hari pernikahan Elma dan Ryan, kau ingat?" Indah membahas pernikahan Ryan.
"Ya, aku ingat. Maaf kau tidak bisa menghadiri pernikahan mereka karena sibuk mengurus pernikahan ku."
"Tidak apa Ariani, justru aku senang karena dua kawan baikku akhirnya menikah. Terutama kau, menikah tiba-tiba." Indah menutup mulutnya menahan tawa.
"Kau ini, aku juga tidak pernah menduga akan menikah secepat ini." Ariani mencolek lengan Indah. "Oya, jika kau bertemu Elma sampaikan maaf ku."
"Tidak perlu, aku dengar mereka akan mengadakan syukuran disini. Mungkin mereka ingin mengundang teman kerja dan teman kuliahnya. Kau akan datang?"
"Aku izin dulu pada suamiku."
"Harus." Indah mengiyakan.
"Indah, bisakah kau merahasiakan pernikahan ku?"
"Kenapa?" Indah tak mengerti mengapa Ariani memintanya merahasiakan pernikahannya.
"Kerena... " Ariani memberi isyarat dengan melirik ke arah Dirga, kemudian Indah mengangguk mengerti maksud Ariani.
"Aku mengerti. Semoga tuan Dirga dapat berjalan seperti dulu, kau harus sabar. Rawat suamimu dengan baik." Indah memeluk Ariani, memberikan semangat. Ariani mengangguk membalas pelukan Indah.
Sementara itu Dirga dan Tama sedang mengobrol membahas kejadian malam pengantin.
"Bagaimana semalam, sudah belah duren?" Tama menggoda Dirga.
"Belah duren dari hongkong." Dirga menjawab dengan mencebikkan bibir.
"Hahaha. Sepertinya Ariani merawatmu dengan baik, kau terlihat ceria hari ini. Kau pasti bahagia dengan pernikahan mu kan?" Tama melihat Dirga berbeda dari biasanya karena mau meladeni candaannya.
"Aku harus jawab apa? Bukankah itu bagian dari rencana mu?"
"Benar juga, aku yang membawa Ariani menemui ayahmu. Benarkan tebakanku, Ariani itu mencintaimu." Tama menepuk dadanya bangga.
"Benarkah? Bisa saja kan ia terpaksa atau punya tujuan lain." Dirga berseloroh.
"Hei, apa kau tidak melihat? Ariani itu gadis baik dan tulus." Tama yakin dengan penilaiannya, akan tetapi Dirga tetap berkilah.
"Kita lihat sampai kapan akan bertahan."
__ADS_1
"Kau jangan macam-macam, atau ... " Tama tidak melanjutkan ucapannya karena Ariani tiba-tiba muncul berdiri di depan.
"Ariani..." Tama melebarkan matanya terkejut, Dirga pun sama terkejut dengan kedatangan Ariani.